KompasPasang Surut Menuju Armada Kelas Dunia

Pasang Surut Menuju Armada Kelas Dunia

Kekuatan maritim kita sejak zaman Kerajaan Nusantara hingga zaman modern Republik Indonesia mengalami pasang surut yang ekstrem. Pernah jaya sebagai "bangsa maritim", pernah pula mengalami kemunduran. Perairan Nusantara, dan jalur pelayaran dari India hingga China, bahkan dulu pernah diperebutkan kekuatan dunia untuk menguasai komoditas utama, yakni rempah-rempah.

Keberhasilan kapal Borobudur—replika kapal abad ke-9 yang dibuat berdasarkan gambar relief di Candi Borobudur—berlayar sampai Ghana di Afrika Barat jelas membuktikan kehebatan leluhur kita. Namun, jangan lupa, kita pernah surut kejayaan maritimnya setelah perjanjian VOC-Mataram tahun 1705 yang melarang pelaut Jawa berlayar ke wilayah timur serta melepas kota-kota pelabuhan di pantai utara Jawa.

Secara kemiliteran, tercatat pada tahun 1521 armada laut Kerajaan Demak melancarkan serangan ke basis kekuasaan Eropa di Asia Tenggara, yakni Portugis di Malaka. Armada kapal Demak dengan Panji Kupu Tarung berhadapan dengan armada Portugis dan serdadu Portugis di Bandar Malaka. Ketika itu terjadi koalisi pelaut Jawa, Malaka, dan Tionghoa.

Keberadaan meriam merupakan senjata strategis semasa itu dalam menentukan hasil akhir pertempuran pada abad ke-16.

Pramoedya Ananta Toer dalam roman sejarah Arus Balik menulis, para pelaut Jawa menantang Feranggi atau Portugis yang disebut sebagai lelananging jagad,atau pria penakluk dunia. Meriam Portugis ternyata mengalahkan meriam-meriam buatan Jawa.

Kompas/Retno Bintarti
Kapal Borobudur "Samudera Raksa" tiba di Pelabuhan Tema, Accra, Ghana, Februari 2004, setelah menempuh perjalanan sekitar enam bulan. Kapal kayu ini merupakan replika dari relief kapal di Candi Borobudur.

Berselang lima abad kemudian, perebutan pengaruh di lautan Nusantara dan Asia Tenggara kembali memanas. Angkatan Laut Amerika Serikat diketahui sudah lama memiliki beberapa titik pangkalan perbekalan bagi armada mereka di perairan Asia Tenggara. Kehadiran mereka menguat lagi beberapa tahun terakhir seiring dengan memanasnya situasi sengketa teritorial di Laut China Selatan.

Rusia pun sempat dirumorkan siap membuka kembali pangkalan Angkatan Laut Rusia di Vietnam yang pernah dibuka semasa Perang Dingin, walau kemudian dibantah pada tahun lalu. Pada saat sama, Angkatan Laut China membangun pulau buatan dan pangkalan perbekalan militer di Nan Hai-Laut Selatan, sebutan mereka untuk Laut China Selatan yang sebagian di antaranya dinamakan Indonesia sebagai Laut Natuna Utara.

India pun tidak ketinggalan menerapkan kebijakan Act East sebagai tindak lanjut Politik Look East. Sepanjang tahun 2017, India meningkatkan kerja sama strategis dengan Amerika Serikat, Australia, dan Jepang. Pangkalan laut India di Kepulauan Nikobar dan Andaman menjadi pusat perluasan operasi armada India di Asia Tenggara, Asia Timur, dan Pasifik.

Dari sisi teknologi militer, Amerika Serikat kini mengembangkan litorral combat ship (LCS), kapal perang yang didesain khusus untuk beroperasi dan bisa bermanuver lincah di perairan dangkal dekat pesisir, seperti perairan di Asia Tenggara.

Reuters/China Stringer Network
Kapal induk China, Liaoning, berlayar bersama kapal-kapal eskortanya dalam sebuah latihan di Laut China Selatan, Desember 2016.

China pun mengembangkan kapal induk baru untuk beroperasi di wilayah Asia Tenggara. Demikian pula Rusia meningkatkan kemampuan Armada Pasifik di Vladivostok. Terakhir pada akhir 2017, Rusia mengirim gugus tugas kapal perusak Admiral Panteleyev dan kapal logistik ke Tanjung Priok dan satuan udara bomber strategis ke Pulau Biak di Provinsi Papua.

Adapun Perancis sebagai salah satu negara Big Five di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) secara teratur menjadikan Pelabuhan Jakarta sebagai titik rendesvouz. Mantan Atase Pertahanan Perancis di Jakarta, Kolonel (Purn) Jean Rocher, mengatakan, armada Perancis di Mayotte, Kaledonia Baru, dan Tahiti secara rutin mengadakan muhibah di Asia Tenggara dan Indonesia menjadi titik sentral kunjungan armada mereka.

Anda Sudah Membaca Sebagian dari Konten Ini

Untuk dapat mengakses keseluruhan konten ini, Anda harus berlangganan salah satu paket di Gerai Kompas atau login jika sudah berlangganan. Bagi pengguna baru, daftar dan dapatkan akses bebas ke semua Berita Bebas Akses

Kerabat Kerja

Penulis
Iwan Santosa
Fotografer
Hendra A Setyawan Bahana Patria Gupta Subur TjahjonoAnton Wisnu NugrohoAgus SupartoRene PattiradjawaneKartono RyadiDudi SudibyoEdna Caroline Pattisina C Wahyu Haryo PS HamzirwanRaditya HelabumiDody Wisnu PribadiCokorda YudistiraChina Stringer NetworkRetno BintartiAnsel Da Lopez Piet Warbung
Paralaks
Toto Sihono
Penyelaras Bahasa
Adi Wiyanto
Infografik
Novan NugrahadiAndri Reno Susetyo
Desainer dan Pengembang
Vandi VicarioElga Yuda Pranata
Produser
Dahono FitriantoPrasetyo Eko Prihananto