Kembalinya ”Si Anak Hilang”

Setelah menanti lama hingga empat tahun, 1.500 benda bersejarah yang hilang dijarah pada masa kolonial akhirnya kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi.

Kembalinya koleksi-koleksi masterpiece berupa tekstil, wayang kulit, wayang golek, mata uang, model perahu, litografi, foto, perhiasan, dan senjata tentu akan membawa warna baru, terutama dengan narasi-narasi dan sejarah di baliknya yang luar biasa.

Akhir tahun lalu, Pemerintah Indonesia melalui BUMN logistik PT Bhanda Ghara Reksa membawa pulang ribuan koleksi benda bersejarah Indonesia dari Museum Nusantara Delft, Belanda. Koleksi-koleksi itu tiba di Museum Nasional, Jakarta, pada 23 Desember 2019.

Pengembalian ribuan benda bersejarah ini menyusul terjadinya krisis keuangan di internal Museum Nusantara Delft, sekaligus upaya baru museum tersebut untuk mengukuhkan ulang identitas mereka. Terlepas dari itu, beberapa tahun terakhir muncul kesadaran dari museum-museum di Eropa untuk mengembalikan benda-benda budaya hasil jarahan perang ke negara asalnya.

Salah satu koleksi istimewa yang dipulangkan ke Indonesia adalah model perahu padewakang dari Sulawesi Selatan yang menjadi cikal bakal pinisi. Tak seperti miniatur kapal pada umumnya, ukuran model padewakang relatif besar dengan panjang lebih dari 2 meter dengan menampilkan pernak-pernik kapal yang detail.

Selain itu, ada pula koleksi masterpiece berupa keris Bugis buatan tahun 1900-an yang terbuat dari emas. Sebagai simbolisasi pengembalian benda-benda bersejarah Indonesia ke tempat asalnya, Perdana Menteri Belanda Mark Rutte menyerahkan keris tersebut kepada Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta, 23 November 2019.

Penantian panjang

Benar-benar sebuah penantian panjang. Sejak Oktober 2015, Pemerintah Belanda bernegosiasi dengan Pemerintah Indonesia untuk mengembalikan 1.500 benda bersejarah itu. Namun, proses repatriasi ini amat pelik mengingat ada perbedaan regulasi di antara kedua negara.

Tawaran dari Belanda tak serta-merta disepakati dengan menerima semua koleksi yang disodorkan. Sebagai negara penerima, Indonesia berhak memilih benda-benda koleksi yang terkait dengan kepentingan dalam negeri, terutama untuk menambah kualitas koleksi Museum Nasional.

Untuk itulah, Pemerintah Indonesia mengirimkan tim khusus dari berbagai macam disiplin ilmu, mulai dari pengelola museum, sejarawan, hingga arkeolog, untuk melihat dan meneliti satu per satu koleksi-koleksi tersebut.

Semua benda yang telah dipilih harus melalui proses appraisal atau penaksiran oleh ahli untuk memastikan nilai asuransi yang harus dikenakan terhadap benda-benda itu. Nilai taksiran terhadap 1.500 koleksi museum itu mencapai 1,1 juta euro atau Rp 17,1 miliar.

START: PAYWALL
END: PAYWALL

Kerabat Kerja

Penulis: Aloysius Budi Kurniawan | Fotografer: Aloysius Budi Kurniawan, Indira Permanasari, Ichwan Susanto | Videografer: Alberdi Ditto | Video editor: Antonius Sunardi, Vincentzo Joski | Pengolah foto: Toto Sihono | Penyelaras bahasa: Priskilia Bintang Sitompul | Produser: Sri Rejeki | Desainer & Pengembang: Ria Chandra, Rino Dwi Cahyo, Frans Yakobus Suryapradipta, Yosef Yudha Wijaya, Deny Ramanda

Suka dengan tulisan yang Anda baca?

Nikmati tulisan lainnya dalam rubrik Tutur Visual di bawah ini.