Anjing Kintamani dan Pengakuan Dunia

Dari sebuah desa di lembah Gunung Batur di Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, lahir anjing trah yang sejajar dengan anjing ras lainnya di dunia. Badannya tegap, berbulu lebat, dengan mata oval seperti kacang almond.

Anjing yang populer disebut anjing Kintamani Bali ini setara dengan anjing chow chow dari China, anjing samoyed dari Rusia, dan anjing akita inu dari Jepang.

Desa Sukawana, terutama di Banjar Paketan, dianggap sebagai daerah asal-usul sang anjing yang penampilannya mirip serigala ini.

 

 

Penampilannya yang berbeda dari anjing-anjing asli lainnya disebut-sebut merupakan hasil persilangan antara anjing geladak dan anjing chow chow yang dibawa saudagar dari China pada masa kerajaan Bali kuno.

Hasil penelitian DNA anjing Kintamani menunjukkan hewan ini tergolong anjing kuno (ancient dog), yakni anjing lokal yang telah kehilangan keragaman genetikanya.

Hasil penelitian lain menunjukkan temuan menarik, yakni adanya kemiripan antara anjing Kintamani dan dingo, anjing liar di Australia.

afp/william west
Dingo Discovery and Research Centre yang didirikan Lyn Watson di pinggiran Negara Bagian Victoria, Australia. Melalui pemeriksaan DNA, dipastikan dingo merupakan keturunan anjing asli Australia yang datang dari Asia sekitar 5.000 tahun lalu itu.

Desa Sukawana yang berjarak 70 kilometer dari Denpasar ini dikelilingi kawasan perbukitan. Selain berada di lembah Gunung Batur, desa ini juga dibatasi dengan Bukit Penulisan.

Kondisi alam yang demikian diperkirakan menghalangi anjing Kintamani untuk kawin dengan anjing lain dari luar Desa Sukawana. Jadilah anjing Kintamani yang cenderung seragam sejak dulu hingga sekarang.

 

 

”Anjing ini disebut anjing Kintamani karena ditemukan di kawasan Kintamani, tepatnya di Desa Sukawana. Secara fenotipe, penampilan anjing-anjing ini mirip, yakni berbulu lebat atau gembrong,” kata peneliti anjing Kintamani Bali dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana (Unud), Denpasar, Ketut Puja, yang juga Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Bali.

Sebelum disebut anjing Kintamani, anjing ini lebih populer dijuluki anjing gembrong lantaran bulunya yang lebat.

Ihwal bulu yang lebat ini diperkirakan sebagai hasil adaptasi terhadap kondisi cuaca setempat yang dingin, yakni untuk mempertahankan suhu tubuh agar tetap hangat. Kintamani berada di dataran tinggi, sekitar 1.700 meter di atas permukaan laut.

Anjing Kintamani Bali kemudian diakui sebagai anjing trah dunia pada 20 Februari 2019 oleh Federasi Kinologi Internasional (Federation Cynologique Internationale/FCI), yakni organisasi internasional yang menaungi organisasi anjing trah dunia.

Anjing Kintamani kini sejajar dengan anjing trah dunia lainnya, seperti chow chow, akita inu, dan samoyed.

Beranak di goa

Anjing Kintamani bertubuh sedang dengan tinggi berkisar 45-55 sentimeter. Penelitian fenologi memasukkannya ke kelompok anjing pekerja.

Anjing ini juga loyal alias setia kepada pemiliknya, seperti disebutkan peneliti anjing Kintamani, Pudji Rahardjo, dalam tulisannya, ”Sekilas tentang Pengalaman Pribadi dalam Sejarah dan Perkembangan Anjing Kintamani Bali” (2003).

Seperti ditunjukkan Monik, anjing Kintamani milik Made Kari (50), warga Banjar Paketan, Desa Sukawana. Saat Kari duduk, Monik dan beberapa anjing gembrong lainnya tampak berbaring tidak jauh dari Kari.

 

 

Anjing-anjing itu tampak tenang, tetapi tetap memperlihatkan sikap siaga dan awas dalam menjaga Kari dan rumahnya. Kari kemudian mengelus-elus Monik sambil menerangkan perihal anjing berbulu putih yang tingginya selutut pemiliknya itu.

Dengan bulu putih yang cukup lebat, terutama di bagian leher, serta tatapan mata berwarna kecoklatan yang menyorot tajam, Monik sekilas terlihat seperti serigala berbulu putih.

Secara umum, anjing Kintamani Bali memiliki bentuk kepala bagian atas yang lebar dengan dahi datar dan moncong yang proporsional.

Telinganya tebal dengan bentuk menyerupai huruf V terbalik. Matanya berbentuk lonjong seperti almond dengan bola mata berwarna coklat.

 

 

Menurut Puja, anjing Kintamani termasuk jenis anjing yang tangkas dan mudah dilatih. Anjing ini juga dikenal memiliki sifat pemberani dan waspada, dengan rasa curiga yang cukup tinggi. Sejauh ini, warga setempat memelihara anjing Kintamani secara tradisional.

Mereka melepasliarkan anjing-anjing, tetapi tetap menjaga mereka agar tidak meninggalkan rumah terlalu jauh sehingga anjing-anjing itu tidak tercampur lalu kawin dengan anjing liar. Warga yang mengembangbiakkan anjing Kintamani menggabungkan diri dalam kelompok usaha Sari Kembang.

Anjing Kintamani beranak di lubang atau goa kecil. Salah satunya terdapat di pematang kebun labu siam yang berada di belakang rumah Made Kari. Dari dalam goa kecil itu kemudian bermunculan empat anak anjing yang disebut konyong.

Tiga ekor di antaranya berbulu putih dan seekor lainnya berbulu campuran, coklat dan putih. Kari menyebutkan, harga anak anjing Kintamani itu mencapai Rp 1 juta per ekor.

 

 

Pengakuan

Upaya memasukkan anjing Kintamani Bali ke daftar anjing ras dunia harus melalui jalan yang panjang. Prosesnya dirintis sejak 1980-an melalui kontes dan pameran anjing Kintamani, seperti diungkapkan Wakil Ketua PDHI Bali I Ketut Gede Nata Kesuma.

Kontes dan pameran anjing Kintamani digelar pertama kali oleh Program Studi Kedokteran Hewan Unud bekerja sama dengan PDHI Cabang Bali di Kampus Unud, Denpasar, Bali, pada November 1985.

 

 

Kegiatan ini juga didukung oleh Komisi Anjing Kintamani Bali yang bernaung di bawah Perkumpulan Kinologi Indonesia (Perkin).

Hal ini juga terungkap dalam tulisan ”Perjalanan Anjing Bali hingga Terbentuknya Pantrab dan Perkin Komisi Anjing Bali” karya Mas Djoko Rudiyanto dalam Buku Panduan Kontes dan Pameran Anjing Kintamani Bali Tahun 2003.

Pada 2006, dalam Rapat Kerja Nasional Ke-2 Perkin, anjing berbulu gembrong dari lembah Gunung Batur ini secara resmi diberi nama anjing Kintamani Bali.

 

 

Perkin juga memutuskan anjing Kintamani Bali sebagai anjing trah pertama Indonesia (Nata Kesuma, 2006). Anjing ini kemudian menjadi maskot fauna Kabupaten Bangli.

Setelah serangkaian upaya, barulah pada Februari 2019 dunia mengakui anjing Kintamani sebagai anjing trah dunia. Surat persetujuan FCI yang menerangkan anjing Kintamani sebagai anjing ras asli Indonesia diserahkan oleh Ketua Umum Indonesia Kennel Klub (IKK) Benny Kwok kepada Gubernur Bali I Wayan Koster di Denpasar, Bali, Sabtu (13/4/2019).

Ancaman rabies

Proses mendapatkan pengakuan dari FCI ini membutuhkan waktu 20 tahun dengan melibatkan banyak pihak, termasuk kalangan ahli, seperti disebutkan Benny Kwok. Pengakuan FCI terhadap anjing Kintamani sebagai anjing ras Indonesia dari Bali dinilai sebagai prestasi, seperti disampaikan Gubernur Bali I Wayan Koster.

 

 

”Pemerintah Provinsi Bali bertanggung jawab dan wajib melindungi dan melestarikan keberadaan anjing Kintamani Bali,” kata Koster.

Terpisah, Perbekel (Kepala Desa) Sukawana Ketut Nonog menyatakan bangga dan bahagia atas pengakuan dunia terhadap keberadaan anjing Kintamani Bali dari Desa Sukawana sebagai salah satu anjing ras dunia.

Nonog berharap pengakuan dan penghargaan dari kalangan dunia itu juga disambut pemerintah daerah dengan lebih memperhatikan upaya pelestarian anjing lokal Bali, khususnya anjing Kintamani, dan upaya meningkatkan kesejahteraan warga desa, termasuk peternak anjing di Desa Sukawana.

kompas/cokorda yudistira
Federasi Kinologi Internasional (FCI) mengakui anjing Kintamani Bali sebagai anjing ras asli Indonesia. Masyarakat di Bali menyebutnya dengan nama anjing gembrong karena berbulu panjang dan lebat.

”Saya berharap pemerintah jikalau ingin mengorbitkan dan melestarikan anjing Kintamani juga agar memperhatikan masyarakat di desa (Sukawana) ini,” ujar Nonog.

Sayangnya, pengakuan atas keberadaan anjing Kintamani Bali sebagai anjing ras asli Indonesia dari Bali masih dibayangi tantangan, yakni belum terbebasnya Bali dari ancaman rabies.

Nata Kesuma mengatakan, kondisi Bali yang masih belum bebas dari penyakit rabies menjadi kendala dalam upaya menduniakan anjing Kintamani Bali.

 

 

Target Pemerintah Provinsi Bali untuk bebas rabies pada 2020 tampaknya masih sulit tercapai. Tahun 2018, tercatat ada empat orang meninggal positif klinis rabies.

Status bebas rabies didapat jika di suatu daerah dalam dua tahun berturut-turut tidak ditemukan kasus rabies, baik pada manusia maupun hewan.

Pada awal 2019, dari sembilan kabupaten/kota, tiga kabupaten masih masuk zona merah rabies, yakni Kabupaten Buleleng, Karangasem, dan Bangli (Kompas, 5/1/2019).

START: PAYWALL
END: PAYWALL

Kerabat Kerja

Penulis: Cokorda Yudistira | Fotografer: Cokorda Yudistira, Ingki Rinaldi | Infografis: Tiurma Clara Jessica | Animator: Toto Sihono | Penyelaras bahasa: Priskilia Bintang Sitompul | Produser: Sri Rejeki | Desainer & Pengembang: Ria Chandra, Rino Dwi Cahyo, Frans Yakobus Suryapradipta, Yosef Yudha Wijaya, Deny Ramanda

Suka dengan tulisan yang Anda baca?

Nikmati tulisan lainnya dalam rubrik Tutur Visual di bawah ini.