Alutsista: Apakah V-22 Osprey Cocok untuk Indonesia?

Setelah era helikopter angkut raksasa Mi-6 di tahun 1960-an yang mampu mengangkut 90 orang, Indonesia belum pernah lagi mengoperasikan helikopter angkut berat. Kabar baik beredar awal Juli 2020 ketika pemerintah Amerika Serikat mengizinkan penjualan delapan unit pesawat tilt-rotor V–22 Osprey yang di dunia hanya dioperasikan oleh  militer Amerika Serikat dan Pasukan Bela Diri Jepang.

Jika pembelian pesawat itu terlaksana, apakah pesawat ini bakal cocok untuk dioperasikan di wilayah Indonesia?

“MV–22 Osprey ini mengisi celah antara helikopter (rotor wing) dan pesawat fixed wing. Dia bisa tinggal landas secara vertikal seperti helikopter sesuai kondisi medan di Indonesia dan memiliki jarak jangkauan terbang yang jauh seperti pesawat fixed wing. Tidak semua wilayah bisa dijangkau pesawat karena keterbatasan landasan, ini bisa dilayani Osprey,” kata pengamat dirgantara dan mantan Pemimpin Redaksi Majalah Angkasa Dudi Sudibyo.

Dari segi teknologi, V–22 Osprey yang menggunakan mesin buatan Rolls Royce dan dibuat pabrikan Bell-Boeing pun tidak akan menyulitkan pihak Indonesia. Menurut Dudi Sudibyo, para teknisi dirgantara sipil dan militer di Indonesia sudah terbiasa dalam hal perawatan produk mesin Rolls Royce dan beragam pesawat produksi Bell dan juga Boeing Industry.

Radius terbang V–22 Osprey yang mencapai 426 mil laut atau dalam garis lurus sejauh 852 mil laut atau sekitar 1.500 kilometer. V–22 Osprey bisa terbang dari Jakarta langsung ke Langsa di Aceh, atau dari Jakarta ke Tarakan di Kalimantan Utara.

Demikian pula jarak dari Jakarta ke lokasi bencana seperti di Luwu Utara bisa dijangkau langsung ke lokasi dengan sekali penerbangan. “Semisal dalam kasus bencana di Luwu, korban bisa diterbangkan langsung ke RSPAD di Jakarta kalau menggunakan pesawat jenis Osprey,” kata KSAD Jenderal (TNI) Andika Perkasa ketika ditemui, Selasa (22/7) di Mabes Angkatan Darat di Jakarta.

Osprey juga memiliki kecepatan mencapai 500 kilometer per jam. Daya angkut saat tinggal landas 23,8 ton dan mampu membawa 24 prajurit bersenjata lengkap. Bandingkan misalnya dengan helikopter Mi-6 yang pernah dioperasikan TNI AU tahun 1960-an yang mampu mengangkut 70–90 penumpang, kecepatan maksimum 300 kilometer per jam dan daya angkut 12 ton.

Osprey efektif dalam misi SAR dan tempur karena kemampuan tinggal landas secara vertikal ketimbang helikopter dan pesawat lain.

Anggota Komisi I DPR yang membidangi pertahanan, Willy Aditya yang dihubungi terkait rencana pengadaan alutsista baru V–22 Osprey mengatakan, kemampuan teknis Osprey memang sesuai dengan kebutuhan operasional militer di Indonesia.

“Uni Emirat Arab pun setuju ikut operasi koalisi melawan ISIS di Irak setelah mengetahui adanya pengoperasian Osprey dalam operasi militer ketika itu. Osprey efektif dalam misi SAR dan tempur karena kemampuan tinggal landas secara vertikal ketimbang helikopter dan pesawat lain. Tapi harus dipertimbangkan apakah sudah sesuai dengan doktrin kita yang tidak mengedepankan ofensif aktif. Selain itu pembelian Alutsista harus didasari kebijakan umum pertahanan negara yang masih digodog Kementerian Pertahanan. Pengadaan alutsista di masa pandemi ini harus dipertimbangkan masak-masak,” kata Willy Aditya.

Kompas/Iwan Setiyawan
Pesawat jenis V-22 Osprey milik Angkatan Laut Amerika Serikat dikerahkan dalam misi kemanusiaan pasca bencana Topan Haiyan di Tacloban, Filipina, November 2013.

Penjualan V – 22 Osprey tersebut menggunakan mekanisme G to G atau antar pemerintah. Pinjaman yang ditawarkan adalah pinjaman lunak antar negara sehingga tidak melibatkan agen atau perantara dan jenis alutsista yang ditawarkan merupakan produk baru dengan kelengkapan penuh.

Andika meyakini, keberadaan Osprey dan juga drone – pesawat nirawak – akan sangat membantu kebutuhan operasional TNI AD dalam misi milter dan operasi militer selain perang (OMSP).

Andika mengingatkan, dalam pengadaan helikopter serbu AH -64 Apache, itu dibeli dengan mekanisme G to G sehingga helikopter yang didapatkan merupakan produk baru dengan kelengkapan penuh. Direktorat Penerbangan Angkatan Darat (Penerbad) saat ini mengoperasikan sejumlah helikopter dan pesawat untuk mendukung operasional TNI AD.

“Itu helikopter yang memiliki kelengkapan sehingga mampu terbang malam. Heli kita yang lain seperi Mi-17 dan Mi-35 serta helikopter Bell yang baru pun belum dilengkapi kemampuan terbang malam. Padahal helikopter militer harus siap operasional dalam segala keadaan,” kata Andika.

Dalam kesempatan terpisah, Panglima TNI Marsekal (TNI) Hadi Tjahjanto mengatakan, keberadaan helikopter angkut dan pesawat angkut merupakan kebutuhan penting dan mendesak dalam modernisasi alutsista TNI dewasa ini.

Di dunia, hanya beberapa jenis pesawat yang memiliki kemampuan teknis operasional seperti helikopter—tinggal landas vertikal dengan tubuh (fuselage) pesawat terbang. Salah satunya adalah MV-22 Osprey buatan pabrikan Boeing, Amerika Serikat, yang menggunakan mesin tilt-rotor.

AFP PHOTO/TED ALJIBE
Pesawat V-22 Osprey milik Angkatan Laut AS mendarat di Bandara Internasional Manila, Filipina, 17 November 2015.

Mesin tilt-rotor membuat Osprey bisa tinggal landas vertikal dengan posisi mesin vertikal seperti laiknya helikopter, lalu setelah mencapai ketinggian operasi, posisi mesin berputar mendatar sehingga memberikan daya dorong ke belakang seperti pesawat bermesin baling-baling pada umumnya.

Pesawat Osprey dengan kemampuan helikopter tersebut memang cocok dioperasikan dalam medan yang terbatas dengan keterbatasan untuk operasional pesawat fixed wing dengan kemampuan short take off and landing (STOL) sekalipun. Hal ini dipandang cocok dengan kondisi Indonesia di mana banyak daerah tidak memiliki landasan untuk pesawat biasa.

Jika pembelian itu terlaksana, akan mendukung operasi ke daerah yang tak terjangkau pesawat biasa itu, dengan kecepatan dan daya angkut lebih besar dari helikopter. Dari sisi Boeing, pembelian ini akan menjadi kemenangan karena perusahaan yang berbasis di Seatle, Washington, ini mengalami berbagai kemalangan dalam beberapa tahun terakhir setelah pesawat paling populernya, B737 Max, dilarang terbang menyusul kecelakaan beruntun. Bukan hanya itu, juga pada industri pertahanan AS.

Kelemahan dari pesawat itu adalah harganya yang relatif mahal. Satu pesawat itu harganya sekitar 75 juta dollar AS. Selain itu, masalah realibilitas juga sering menjadi sorotan, dengan beberapa kali kecelakaan terjadi terhadap pesawat ini. V-22 juga salah satu pesawat yang membutuhkan perawatan intensif dan mahal.

Dari rilis Kementerian Luar Negeri AS, disebut pembelian itu mencakup pesawat dan semua pendukungnya, termasuk pelatihan, persenjataan, serta suku cadang. Pembelian itu meliputi: 24 mesin AE 1107C Rolls Royce; 20 radar AN/AAQ-27 Forward Looking InfraRed; 20 Sistem Peringatan Rudal AN/AAR-47; 20 penerima peringatan radar AN/APR-39; 20 sistem dispenser antiserangan AN/ALE-47; dan 20 Sistem Identifikasi Teman atau Musuh (IFF) AN/APX-117.

Juga dibeli 20 AN/APN-194 Radar Altimeter; 20 AN/ARN-147 VHF Omni Directional Range (VOR) Instrument Landing System (ILS) Sistem Navigasi Suar; 40 ARC-210 629F-23 Radio Multi-Band (Non-COMSEC); 20 AN/ASN-163 Receiver (MAGR) Miniatur Airborne Global Positioning System (GPS); 20 Sistem Navigasi Lintas Udara Taktis AN/ARN-153; 20 Sistem Penghindaran Tabrakan Lalu Lintas (TCAS II); 20 senapan mesin M-240-D 7,64 mm; dan 20 senapan mesin GAU-21.

AFP/Daphné BENOIT
Seorang marinir AS menjaga senapan mesin yang terletak di bagian ekor pesawat V-22 Osprey Korps Marinir AS di Al-Qaim, Irak, 9 Februari 2019.

Tak ketinggalan dalam pembelian itu Sistem Perencanaan Misi Gabungan (JMPS) dengan komponen perencanaan unik; publikasi dan dokumentasi teknis; suku cadang pesawat terbang dan suku cadang perbaikan; perbaikan dan pengembalian; layanan feri; dukungan tanker; peralatan pendukung dan uji; pelatihan dan personel peralatan pelatihan; perangkat lunak, logistik, dan layanan dukungan teknis; serta elemen pendukung teknis dan program lainnya.

Apakah pesawat itu cocok untuk digunakan di Indonesia? Apa pun pesawat angkut yang dipilih TNI untuk mendukung operasional, termasuk Osprey, tentu diharapkan dapat digunakan sebaik mungkin sesuai dengan kebutuhan Indonesia.

Kerabat Kerja

Penulis: Iwan Santosa | Fotografer: Iwan Setiyawan | Infografik: Tiurma | Kover: AP Photo/Kyodo News/Japan Out, Reuters/Kevin Lamarque | Produser: Prasetyo Eko P | Desainer & Pengembang: Ria Chandra, Rino Dwi Cahyo, Frans Yakobus Suryapradipta, Yosef Yudha Wijaya, Deny Ramanda

Suka dengan tulisan yang Anda baca?

Nikmati tulisan lainnya dalam rubrik Tutur Visual di bawah ini.