KompasPasang Surut Menuju Armada Kelas Dunia

Pasang Surut Menuju Armada Kelas Dunia

Kekuatan maritim kita sejak zaman Kerajaan Nusantara hingga zaman modern Republik Indonesia mengalami pasang surut yang ekstrem. Pernah jaya sebagai "bangsa maritim", pernah pula mengalami kemunduran. Perairan Nusantara, dan jalur pelayaran dari India hingga China, bahkan dulu pernah diperebutkan kekuatan dunia untuk menguasai komoditas utama, yakni rempah-rempah.

Keberhasilan kapal Borobudur—replika kapal abad ke-9 yang dibuat berdasarkan gambar relief di Candi Borobudur—berlayar sampai Ghana di Afrika Barat jelas membuktikan kehebatan leluhur kita. Namun, jangan lupa, kita pernah surut kejayaan maritimnya setelah perjanjian VOC-Mataram tahun 1705 yang melarang pelaut Jawa berlayar ke wilayah timur serta melepas kota-kota pelabuhan di pantai utara Jawa.

Secara kemiliteran, tercatat pada tahun 1521 armada laut Kerajaan Demak melancarkan serangan ke basis kekuasaan Eropa di Asia Tenggara, yakni Portugis di Malaka. Armada kapal Demak dengan Panji Kupu Tarung berhadapan dengan armada Portugis dan serdadu Portugis di Bandar Malaka. Ketika itu terjadi koalisi pelaut Jawa, Malaka, dan Tionghoa.

Keberadaan meriam merupakan senjata strategis semasa itu dalam menentukan hasil akhir pertempuran pada abad ke-16.

Pramoedya Ananta Toer dalam roman sejarah Arus Balik menulis, para pelaut Jawa menantang Feranggi atau Portugis yang disebut sebagai lelananging jagad,atau pria penakluk dunia. Meriam Portugis ternyata mengalahkan meriam-meriam buatan Jawa.

Kompas/Retno Bintarti
Kapal Borobudur "Samudera Raksa" tiba di Pelabuhan Tema, Accra, Ghana, Februari 2004, setelah menempuh perjalanan sekitar enam bulan. Kapal kayu ini merupakan replika dari relief kapal di Candi Borobudur.

Berselang lima abad kemudian, perebutan pengaruh di lautan Nusantara dan Asia Tenggara kembali memanas. Angkatan Laut Amerika Serikat diketahui sudah lama memiliki beberapa titik pangkalan perbekalan bagi armada mereka di perairan Asia Tenggara. Kehadiran mereka menguat lagi beberapa tahun terakhir seiring dengan memanasnya situasi sengketa teritorial di Laut China Selatan.

Rusia pun sempat dirumorkan siap membuka kembali pangkalan Angkatan Laut Rusia di Vietnam yang pernah dibuka semasa Perang Dingin, walau kemudian dibantah pada tahun lalu. Pada saat sama, Angkatan Laut China membangun pulau buatan dan pangkalan perbekalan militer di Nan Hai-Laut Selatan, sebutan mereka untuk Laut China Selatan yang sebagian di antaranya dinamakan Indonesia sebagai Laut Natuna Utara.

India pun tidak ketinggalan menerapkan kebijakan Act East sebagai tindak lanjut Politik Look East. Sepanjang tahun 2017, India meningkatkan kerja sama strategis dengan Amerika Serikat, Australia, dan Jepang. Pangkalan laut India di Kepulauan Nikobar dan Andaman menjadi pusat perluasan operasi armada India di Asia Tenggara, Asia Timur, dan Pasifik.

Dari sisi teknologi militer, Amerika Serikat kini mengembangkan litorral combat ship (LCS), kapal perang yang didesain khusus untuk beroperasi dan bisa bermanuver lincah di perairan dangkal dekat pesisir, seperti perairan di Asia Tenggara.

Reuters/China Stringer Network
Kapal induk China, Liaoning, berlayar bersama kapal-kapal eskortanya dalam sebuah latihan di Laut China Selatan, Desember 2016.

China pun mengembangkan kapal induk baru untuk beroperasi di wilayah Asia Tenggara. Demikian pula Rusia meningkatkan kemampuan Armada Pasifik di Vladivostok. Terakhir pada akhir 2017, Rusia mengirim gugus tugas kapal perusak Admiral Panteleyev dan kapal logistik ke Tanjung Priok dan satuan udara bomber strategis ke Pulau Biak di Provinsi Papua.

Adapun Perancis sebagai salah satu negara Big Five di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) secara teratur menjadikan Pelabuhan Jakarta sebagai titik rendesvouz. Mantan Atase Pertahanan Perancis di Jakarta, Kolonel (Purn) Jean Rocher, mengatakan, armada Perancis di Mayotte, Kaledonia Baru, dan Tahiti secara rutin mengadakan muhibah di Asia Tenggara dan Indonesia menjadi titik sentral kunjungan armada mereka.

Kelahiran TNI AL

TNI AL memiliki perjalanan sejarah yang unik di masa awal kelahirannya sebagai Badan Keamanan Rakyat (BKR) Laut yang berdiri pada 10 September 1945, atau tak sampai sebulan sejak Proklamasi 17 Agustus 1945. Sejarawan Pusat Sejarah Militer Belanda (NIMH), Anselm van der Piet, dalam kesempatan percakapan di Den Haag, Belanda, beberapa waktu lalu, menceritakan, sebelum pecah Perang Pasifik, para pemuda Indonesia banyak yang sudah mendapat pendidikan sekolah pelayaran, seperti di Makassar, Sulawesi Selatan.

Selain itu, ada pula yang langsung mendaftar sebagai personel Angkatan Laut Kerajaan Belanda, Koninklijk Marine (KM). Beberapa dari personel KM tersebut turut dalam pemberontakan Kapal Tujuh Provinsi (De Zeven Provincien) tahun 1933 dan kelak dicatat sebagai bagian dari perjuangan perintis kemerdekaan Republik Indonesia.

Menjadi pelaut memang menjadi daya tarik sendiri bagi para pemuda kala itu. Ada ungkapan terkenal ”Join the Navy and See the World” (bergabunglah dengan angkatan laut dan lihatlah dunia). Semangat untuk membuka wawasan, bertualang, dan menjelajahi dunia adalah sifat khas dari organisasi angkatan laut. Itulah sebabnya ada sejumlah pelaut pemuda Indonesia dari beberapa daerah yang tergabung dalam KM yang menjadi bagian dari pertahanan laut kepulauan Nusantara pada tahun 1942.

Kompas/Ansel Da Lopez
Para taruna TNI AL tengah mendengarkan arahan di geladak KRI Dewaruci dalam praktik pelayaran astronomi ke Jepang, 11 Juni 1981.

Tercatat ada sekitar 200 pelaut Indonesia yang gugur dalam armada gabungan Amerika, Inggris, Belanda, dan Australia (ABDA) dalam Pertempuran Laut Jawa (Battle of Java Sea) pada 27 Februari-1 Maret 1942 di perairan utara Surabaya dan Teluk Banten. Pada peringatan 70 Tahun Pertempuran Laut Jawa, Direktur OGS (Oorlog Graven Stichting/organisasi makam perang Belanda) Indonesia Pieter Steinmeijer menceritakan adanya keterlibatan pelaut-pelaut Indonesia dalam perang laut penting pada masa awal Perang Pasifik itu. Dalam dinding peringatan di makam militer Belanda Kembang Kuning, Surabaya, terpampang 200 nama pelaut Indonesia yang menjadi pelaut KM.

Menurut Anselm van der Piet, pertempuran Laut Jawa adalah salah satu pertempuran laut terbesar dalam babak pembuka Perang Pasifik. Pertempuran itu membuka jalan invasi pasukan kekaisaran Jepang mendarat dan menguasai sasaran utama perang Jepang, yakni menguasai Hindia Belanda yang kaya sumber daya alam.

Berangkat dari kesadaran akan nilai strategis penguasaan lautan dan juga geostrategis Indonesia, sejak awal kelahirannya, TNI AL membangun kekuatan dari segala sumber daya yang ada. Kapal-kapal kayu eks masa pendudukan Jepang. Dinas Penerangan TNI AL (Dispenal) yang menerbitkan buku Sejarah Perkembangan Alutsista TNI AL 1945 -1965 pada 2017 menuliskan kelahiran Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) di Lawang, Jawa Timur, yang diresmikan Presiden Soekarno tanggal 19 Juli 1946.

ALRI segera membentuk unit tugas seperti Corps Armada sebagai kekuatan di laut, Corps Mariniers sebagai kekuatan tempur di darat, Corps MSC-Maschine Stoom Dienst-atau Dinas Mesin Uap, Corps Polisi Tentara Laut, Corps Kesehatan, dan sebagainya. ALRI terlibat dalam berbagai pertempuran darat di Surabaya, Semarang, Bandung, Palembang, dan Medan dalam kurun 1945-1947.

Admiral Inspection

Prajurit TNI AL berdiri di atas kapal perang dalam Admiral Inspection yang dilakukan terkait serah terima jabatan Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur di Makoarmatim, Surabaya, Rabu (24/2/2010).
Kompas/Raditya Helabumi

Latihan Multilateral Komodo 2016

Kapal Perang TNI AL, KRI Sultan Iskandar Muda, lego jangkar di perairan Teluk Bayur, Kota Padang, Sumatera Barat, Selasa (12/4/2016), sebagai bagian dari persiapan Latihan Multilateral Komodo 2016 yang melibatkan 59 kapal dari berbagai negara.
Kompas/Hamzirwan

Adapun di palagan laut, ALRI menggelar sejumlah operasi lintas laut, seperti ke Kalimantan, Sulawesi, dan kemenangan pertama pertempuran laut dalam Operasi Lintas Laut Jawa-Bali yang digelar Pasukan M di Selat Bali pada April tahun 1946. Pasukan tersebut dikirim menyeberangi laut untuk memperkuat pasukan Ciung Wanara di bawah pimpinan Letkol I Gusti Ngurah Rai dalam melawan penjajah.

Masih menurut buku yang disusun Dispenal tersebut, kekuatan laut ALRI semasa itu mengandalkan kapal coaster, atau kapal kayu yang digunakan patroli pantai peninggalan militer Jepang; kapal pendarat pasukan LCVP Daihatsu; kapal tunda (tugboat); dan kapal layar yang sebagian menggunakan motor mekanis. Kekuatan ALRI terjepit pada awal 1946 dengan penerapan blokade laut oleh pihak Belanda. Setelah Agresi I Belanda, 21 Juli 1947, sebagian besar kekuatan laut ALRI dihancurkan Belanda. Siasat dilakukan, dipilih untuk membeli kapal-kapal cepat untuk menembus blokade Belanda.

Sumber: buku Armada Republik Indonesia Ksatria Pengawal Samudera dan Perekat Nusantara
Kapal patroli PP-02, salah satu hibah kapal dari Belanda kepada ALRI pada 1951, setelah Belanda mengakui kedaulatan RI.
Sumber: buku Armada Republik Indonesia Ksatria Pengawal Samudera dan Perekat Nusantara
Upacara serah terima kapal perang dari AL Kerajaan Belanda (Koninklijk Marine) kepada ALRI dalam sebuah upacara di Pangkalan Ujung, Surabaya, 1949.

Salah satu legenda yang lahir adalah Mayor Laut John Lie dengan kapal cepat The Outlaw yang berulang kali menembus blokade Belanda di Selat Malaka untuk menyelundupkan senjata bagi Republik Indonesia. Sejarawan M Nursam dalam buku Memenuhi Panggilan Ibu Pertiwi: Biografi Laksamana Muda John Lie mencatat, jaringan intelijen yang dibangun John Lie bersama para pejuang ALRI dari Thailand, Malaya, Singapura, dan Filipina berperan penting dalam mendukung perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Setelah Konferensi Meja Bundar dan pengakuan kedaulatan pada 27 Desember 1949, perdamaian Indonesia-Belanda terwujud. Berbagai aset militer Belanda, termasuk Koninlijk Marine (KM), banyak yang dihibahkan kepada ALRI yang masa itu disebut ALRIS atau Angkatan Laut Republik Indonesia Serikat. Kekuatan ALRI yang tersisa waktu itu hanya dua kapal cepat yang berpangkalan di Aceh.

Kapal RI Malahayati di Pulau Ular

Kapal perang berpeluru kendali KRI Malahayati melepaskan beberapa salvo roket Bofors ke Pulau Ular di Selat Sunda, dalam rangkaian peringatan HUT ke-36 ABRI, 5 Oktober 1981, di Pelabuhan Cigading, Cilegon, Banten.
Kompas/Dudy Sudibyo

Pihak Belanda pun pada tahun 1950 menghibahkan empat korvet modern yang dinamakan RI Radjawali, RI Banteng, RI Pati Unus, dan RI Hang Tuah, beberapa kapal patroli pelabuhan, kapal angkut, dan kapal pendarat pasukan serta kapal pemburu torpedo, torpedo jager, yang dinamakan RI Gadjah Mada pada tahun 1951. ALRI juga membeli sejumlah kapal dari Jerman Barat, termasuk kapal latih legendaris KRI Dewaruci.

SUMBER: buku SEJARAH PERKEMBANGAN ALUTSISTA TNI AL 1945-1965
Kapal RI Hang Tuah, salah satu kapal yang diserahkan dari Belanda kepada Indonesia pada tahun 1950, menjadi salah satu kapal perang generasi pertama ALRI.

Modernisasi ALRI terus dilakukan, terutama menjelang kampanye perebutan Irian Barat dan Konfrontasi Dwikora Ganyang Malaysia. Bung Karno berhasil mendapatkan berbagai arsenal utama, seperti kapal penjelajah ringan (light cruiser) kelas Sverldlov RI Irian 201 yang pada zamannya adalah kapal perang terbesar di wilayah Asia Tenggara.

Selain itu juga didatangkan 12 kapal selam kelas Whiskey (salah satunya, KRI Pasopati, kini dijadikan museum di Monumen Kapal Selam di pusat kota Surabaya), armada udara bomber Tu-16 KS, beserta peluru kendali Kennel yang disebut-sebut dapat membelah kapal induk Belanda Karel Doorman yang ditempatkan di Irian.

ALRI juga mendapatkan beberapa kapal perusak kelas Skoryy, kapal fregat kelas Riga, dan perahu rudal kelas Komar. Dengan segala peralatan utama sistem persenjataan tersebut, ALRI sempat menjadi AL terbesar di kawasan Asia Tenggara saat itu.

Kepala Staf TNI AL Laksamana TNI Ade Supandi mengatakan, pada era 1960-an itu, RI bahkan memiliki tiga armada kapal perang, yang dibagi berdasarkan kemampuan kapal dan lingkup tugasnya. Tiga armada itu adalah Armada Siaga, Armada Nusantara, dan Armada Samudra. Ketika itu kekuatan kapal perang RI mencapai 162 unit.

Menurut Ade, Armada Siaga adalah kapal-kapal yang siap beroperasi di pangkalan-pangkalan. Armada Nusantara adalah satuan kapal untuk berpatroli menjaga perairan Nusantara, dan Armada Samudra adalah satuan kapal yang diproyeksikan beroperasi di perairan di luar wilayah Indonesia atau bersifat ”Ocean Going”

Komandan Satgas Kapal Selam ALRI ketika itu, Laksamana Muda RP Poernomo, dalam pertemuan dengan Kompas tahun 2013 mengakui sempat ada personel kapal selam Indonesia yang merupakan anggota militer Uni Soviet. Keberadaan personel Soviet sebagai kombatan di pihak Indonesia merupakan hal menarik karena semasa Perang Dingin, Uni Soviet hanya memberikan penasihat militer bagi negara sahabat mereka.

Kompas/Edna Caroline Pattisina
Kapal Selam TNI Angkatan Laut, yang berkali-kali digunakan dalam misi rahasia. KRI 401 Tjakra, tengah latihan bersama dengan helikopter TNI AL di Jawa Timur tahun 2008.

Yang menarik, Bung Karno juga mendapatkan bantuan dari Presiden AS John F Kennedy berupa kapal-kapal angkut eks Perang Dunia II yang digunakan dalam pendaratan Normandia, dan armada pesawat angkut C-130 Hercules. ALRI juga mendapat pesawat antikapal selam, yakni Fairrey Gannet buatan Inggris. Pembelian pesawat Gannet dari Inggris membuat Belanda sebagai sesama anggota NATO marah dan mengajukan protes.

Salah satu pesawat berbaling-baling ganda koaksial yang berbentuk unik ini sekarang masih dipajang menjadi monumen statis di kompleks Pangkalan Udara TNI AL Juanda di Sidoarjo, Jawa Timur, dekat dengan Terminal 2 Bandara Juanda.

Berubah drastis

Situasi berubah drastis setelah pergolakan politik dalam negeri tahun 1965. Kekacauan politik tersebut berimbas pada kekuatan ALRI. Kapal perang terbesar dalam sejarah Indonesia, yakni RI Irian 201, nyaris telantar dan akhirnya dibesituakan tahun 1971.

Kekuatan maritim Indonesia nyaris mati suri hingga Operasi Seroja tahun 1975 ke Timor Timur. Kekuatan Korps Marinir TNI AL, yang sebelumnya disebut Korps Komando Operasi ALRI, menjadi ujung tombak pendaratan ke Timor Timur.

Seiring perubahan haluan politik dalam negeri, pengadaan alutsista pun bergeser dari tadinya bersumber dari negara-negara Pakta Warsawa atau Blok Timur ke negara-negara anggota NATO alias Blok Barat. Khusus di TNI AL, pada dekade 1970-an ini ditandai dengan pembelian empat kapal fregat kelas Claud Jones bekas pakai AL AS.

Kapal-kapal perang yang dibuat pada dekade 1950-an itu kemudian resmi berdinas di TNI AL dengan nama KRI Samadikun (eks USS John R Perry), KRI Wolter Monginsidi (eks USS Claud Jones), KRI Martadinata (eks USS Charles Berry), dan KRI I Gusti Ngurah Rai (eks USS McMorris). Kapal-kapal ini bertugas di TNI AL pada tahun 1999-2003.

Kompas/Piet Warbung
Kapal Perang KRI Samadikun adalah salah satu kapal fregat kelas Claud Jones bekas pakai AL Amerika Serikat yang dibeli RI pada era 1970-an. Tampak upacara penyambutan KRI Samadikun di Indonesia, 23 Mei 1973.

Modernisasi alutsista dilanjutkan pada era 1980-an dengan pengadaan sejumlah kapal perang berupa korvet dan fregat. Awal 1980-an, modernisasi dilakukan dengan membeli kapal perang bekas AL Inggris atau Royal Navy.

Tepatnya pada 1984, tiga kapal fregat kelas Tribal eks Royal Navy itu mulai dibeli. Kapal yang dibeli Indonesia adalah eks HMS Gurkha (kemudian menjadi KRI Wilhelmus Zakarias Yohannes), HMS Tartar (menjadi KRI Hasanuddin), dan HMS Zulu (menjadi KRI Martha Christina Tiahahu). Kapal-kapal yang dibangun tahun 1960 itu diperlengkapi helikopter Westland Wasp untuk operasi antikapal selam.

Peresmian KRI WZ Yohannes Masuk Dalam Jajaran Armada RI Kawasan Timur

Upacara peresmian masuknya fregat kelas Tribal atau Tipe 81 eks AL Kerajaan Inggris, KRI Wilhelmus Zakarias Yohannes, dalam jajaran Armada RI Kawasan Timur (Armatim), yang berlangsung di Tanjung Priok, Jumat, 7 Maret 1986.
Kompas/Dudi Sudibyo

Inspeksi

KSAL Laksamana Madya R Kasenda hari Jumat (11/7/1986) pagi terbang menggunakan helikopter Westland Wasp dari geladak kapal perang KRI Hasanuddin (333) usai menginspeksi kapal yang baru tiba dari Inggris, itu, di Samudera Pura, Tanjung Priok, Jakarta. Kapal ini adalah kapal fregat kelas Tribal bekas milik AL Kerajaan Inggris, HMS Tartar, yang dibeli TNI AL.
Kompas/Kartono Ryadi

Semasa masih menjadi bagian Royal Navy, kapal-kapal perang ini menjadi bagian dari armada pertahanan Kepulauan Inggris semasa Perang Falkland atau Perang Malvinas. Kapal-kapal tersebut digunakan TNI AL sejak tahun 1984 hingga tahun 1999.

Salah satu pengadaan kapal perang paling besar pada periode ini adalah pembelian enam kapal fregat kelas Van Speijk eks AL Kerajaan Belanda pada periode 1986-1989. Kapal-kapal ini kemudian diberi nama KRI Ahmad Yani (nomor lambung 351), KRI Slamet Riyadi (352), KRI Yos Sudarso (353), KRI Oswald Siahaan (354), KRI Abdul Halim Perdanakusuma (355), dan KRI Karel Satsuit Tubun (356). Mereka masih menjadi salah satu tulang punggung kekuatan TNI AL hingga saat ini.

Kompas/Rene Pattiradjawane
KSAL Laksamana TNI R Kasenda (duduk) dengan cermat mendengarkan penjelasan Komandan KRI Oswald Siahaan Letnan Kolonel Laut (P) Abu Hanifah H, di ruang radar kapal fregat yang baru tiba di Indonesia tersebut, 9 Februari 1989. KRI Oswald Siahaan adalah salah satu kapal fregat kelas Van Speijk eks AL Kerajaan Belanda yang sudah berusia sekitar 25 tahun pada saat dibeli TNI AL. Namun, peralatan yang dimilikinya sangat canggih.

Lalu, pada tahun 1992, dibeli 39 kapal perang bekas eks Jerman Timur senilai 442 juta dollar AS. Armada kapal yang dibeli adalah kapal penyapu ranjau kelas Kondor sebanyak 9 unit, kapal pendarat Frosch sebanyak 14 unit, dan 16 kapal korvet Parchim.

KSAL Laksamana Ade Supandi mengenang masa-masa saat ia masuk dalam tim penjemputan kapal-kapal Van Speijk dari Belanda dan kapal-kapal Parchim dari Jerman. Kapal-kapal itu dilayarkan langsung dari negara asalnya ke Indonesia. Saat menjemput Van Speijk, kata Ade, sekali penjemputan dua kapal dibawa bersama-sama.

”Saat membawa KRI Nuku, kami terjebak badai besar di Biscay. Tinggi ombak mencapai 10-12 meter. Kami sampai harus kembali ke Brest (Perancis) selama dua minggu, menunggu badai reda,” ujar Ade.

Pada masa pemerintahan Presiden Megawati dicoba dilakukan modernisasi yang lalu di zaman pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mulai dirancang minimum essential forces tahun 2010 yang ditujukan membangun kesiapan kekuatan TNI Angkatan Laut dalam kurun hingga tahun 2019 dan tahun 2025.

Pada periode inilah, TNI AL mulai membeli kapal-kapal perang utama dengan desain terkini yang dipesan di sejumlah galangan kapal luar negeri dan sebagian mulai dibangun di dalam negeri.

Dari Proyek Ship Integrated Geometrical Modularity Approach (SIGMA), yang dikerjakan PT PAL bersama galangan kapal Damen Schelde Naval Shipbuilding asal Belanda, dihasilkan dua kelas kapal perang, yakni kapal korvet kelas Diponegoro (desain SIGMA 9113) dan kapal fregat (perusak kawal rudal/PKR) kelas RE Martadinata (desain SIGMA 10514) yang lebih besar.

Kompas/Dudi Sudibyo
Kapal selam baru TNI AL, KRI Cakra (401), ditinjau Presiden Soeharto dan Ibu Negara Tien Soeharto di Pelabuhan Container Nusantara III Tanjung Priok, Jakarta, 10 Februari 1982.
Kompas/Subur Tjahjono
Presiden Megawati Soekarnoputri (tengah) didampingi KSAL Laksamana Bernard Kent Sondakh (kedua dari kiri) berada di geladak KRI Tanjung Kambani untuk menyaksikan manuver kapal-kapal perang TNI AL dalam latihan tempur bersandi "Pengendalian Laut (Dalla) 2002" di perairan sekitar Kepulauan Karimunjawa, Jawa Tengah, Minggu (25/8/2002) pagi.
Kompas/Anton Wisnu Nugroho
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan sejumlah menteri serta para perwira tinggi TNI meninjau wilayah perbatasan laut Indonesia-Malaysia dari anjungan KRI Karel Satsuit Tubun, Senin (7/3/2005).
Istana Presiden/Agus Suparto
Presiden Joko Widodo (Jokowi) Kamis (23/6/2016) meninjau secara langsung kondisi perairan Natuna di Kepulauan Riau dengan menggunakan KRI Imam Bonjol-383 didampingi Panglima TNI, KSAL dan para menteri.

Empat kapal korvet kelas Diponegoro telah bertugas saat ini adalah KRI Diponegoro (365), KRI Sultan Hasanuddin (366), KRI Sultan Iskandar Muda (367), dan KRI Frans Kaisiepo (368). Sementara dari fregat kelas Martadinata, baru dua kapal yang bertugas, yakni KRI RE Martadinata (331) dan KRI I Gusti Ngurah Rai (332) yang baru saja diresmikan pada 10 Januari 2018. Ini adalah kapal perang ketiga di jajaran TNI AL yang diberi nama KRI I Gusti Ngurah Rai setelah pertama pada era 1960 dan kedua pada era 1970-an.

Selain itu, TNI AL juga memesan kapal landing patform dock dari DaeSun Shipbuilding, Korea Selatan, yang sebagian juga dibangun di dalam negeri bersama PT PAL. Kapal-kapal yang juga bisa menjadi pusat komando di laut ini kemudian dinamakan kapal kelas Makassar, terdiri dari KRI Makassar (590), KRI Surabaya (591), dan kapal kelas Banjarmasin yang lebih panjang, yaitu KRI Banjarmasin (592) dan KRI Banda Aceh (593). Bahkan, PT PAL sudah mengekspor kapal sejenis untuk Angkatan Laut Filipina.

Kemudian, dibeli tiga korvet buatan Inggris yang dipesan Angkatan Laut Brunei dari kelas Nakhoda Ragam, yakni KRI Bung Tomo (357), KRI John Lie (358), dan KRI Usman Harun (359). Sementara kapal selam terbaru hasil kerja sama Indonesia-Korea Selatan adalah KRI Nagapasa (403), menambah kekuatan kapal selam lama, yakni KRI Cakra (401) dan KRI Nanggala (402).

Sumber: Armada Republik Indonesia: Ksatria Pengawal Samudera dan Perekat Nusantara, 2017
Sumber: Armada Republik Indonesia: Ksatria Pengawal Samudera dan Perekat Nusantara, 2017
Sumber: Armada Republik Indonesia: Ksatria Pengawal Samudera dan Perekat Nusantara, 2017
Sumber: Armada Republik Indonesia: Ksatria Pengawal Samudera dan Perekat Nusantara, 2017
Sumber: Armada Republik Indonesia: Ksatria Pengawal Samudera dan Perekat Nusantara, 2017
Sumber: Armada Republik Indonesia: Ksatria Pengawal Samudera dan Perekat Nusantara, 2017
Sumber: Armada Republik Indonesia: Ksatria Pengawal Samudera dan Perekat Nusantara, 2017
Sumber: Armada Republik Indonesia: Ksatria Pengawal Samudera dan Perekat Nusantara, 2017
Sumber: Armada Republik Indonesia: Ksatria Pengawal Samudera dan Perekat Nusantara, 2017

Setelah Nagapasa, juga sedang dibangun sejumlah kapal selam kelas Changbogo. Berbagai galangan kapal dalam negeri juga membangun puluhan kapal patroli cepat yang dipersenjatai rudal C 705 buatan China yang merupakan pengembangan berbasis rudal Exocet buatan Perancis yang sukses digunakan dalam Perang Falkland 1982.

Yang menarik, kapal perang Indonesia sebagian di antaranya dapat menjadi platform penembakan rudal Yakhont buatan Rusia yang memiliki jangkauan hingga 300 kilometer. Rudal tersebut digunakan dalam perang di Suriah dan hanya Indonesia dan Suriah yang menjadi operator rudal Yakhont di luar Rusia. Awal Januari 2018, sejumlah helikopter antikapal selam baru, yakni AS-565 Panther, juga memperkuat TNI AL. Saat ini, lebih dari 100 kapal dari berbagai jenis sudah dimiliki TNI AL untuk menjadi bagian dari strategi membangun Indonesia sebagai poros maritim dunia.

Menghadapi tantangan ke depan, Laksamana Ade Supandi mengatakan, kekuatan Armada RI nantinya akan dibagi dalam tiga armada berdasarkan wilayah operasi, yakni Armada Barat, Armada Tengah, dan Armada Timur. Saat ini, TNI AL baru memiliki dua armada, yakni Armada Barat dan Armada Timur.

Sumber: Armada Republik Indonesia: Ksatria Pengawal Samudera dan Perekat Nusantara, 2017

Penggagalan Pembajakan

Personel TNI AL di atas geladak KRI Untung Suropati-372 memperlihatkan sembilan pembajak KM Hai Soon 12 saat akan merapat di Dermaga Ujung Komando Armada RI Kawasan Timur, Surabaya, Selasa (10/5/2016).
Kompas/Bahana Patria Gupta

Penembakan Rudal Yakhont

Kepal perang KRI Oswald Siahaan-354 menembakkan peluru kendali Yakhont buatan Rusia dengan sasaran eks KRI Teluk Bayur-502 yang berjarak sekitar 250 kilometer di perairan Samudra Hindia, Rabu (20/4/2011). Rudal tersebut memiliki kecepatan terbang lebih dari Mach 2 dengan jangkauan tembak 300 kilometer.
Kompas/Hendra A Setyawan

Upacara Tradisi Pengukuhan Nama KRI I Gusti Ngurah Rai-332

Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto (kanan) menerima penghormatan dari prajurit sebelum meninjau KRI I Gusti Ngurah Rai-332 di dermaga Pelabuhan Benoa, Denpasar, Bali, Rabu (10/1/2018). KRI I Gusti Ngurah Rai-332 adalah kapal perang terbaru TNI yang diproduksi perusahaan perkapalan asal Belanda, Damen Schelde Naval Shipbuilding, bekerja sama dengan PT PAL Indonesia.
Kompas/Cokorda Yudistira

Kerabat Kerja

Penulis: Iwan Santosa | Fotografer: Hendra A Setyawan, Bahana Patria Gupta, Subur Tjahjono, Anton Wisnu Nugroho, Agus Suparto, Rene Pattiradjawane, Kartono Ryadi, Dudi Sudibyo, Edna Caroline Pattisina, C Wahyu Haryo PS, Hamzirwan, Raditya Helabumi, Dody Wisnu Pribadi, Cokorda Yudistira, China Stringer Network, Retno Bintarti, Ansel Da Lopez, Piet Warbung | Paralaks: Toto Sihono | Penyelaras Bahasa: Adi Wiyanto | Infografik: Novan Nugrahadi, Andri Reno Susetyo | Desainer dan Pengembang: Vandi Vicario, Elga Yuda Pranata | Produser: Dahono Fitrianto, Prasetyo Eko Prihananto

Suka dengan tulisan yang Anda baca?

Nikmati tulisan lainnya dalam rubrik Tutur Visual di bawah ini.