Bagaimana “Kompas” Mengukur Indeks Pengendalian Covid-19?

Indonesia mendapat rapor buruk dalam mengendalikan pandemi Covid-19 dari sejumlah lembaga internasional. Meski perlahan, perbaikan demi perbaikan terus diupayakan secara bersama-sama agar angka kematian selama pandemi tidak terus bertambah.

Nikkei Asia dalam rilis Covid-19 Recovery Index per 31 Agustus 2021 menempatkan Indonesia di urutan ke-92 dari 120-an negara dalam hal pemulihan dari pandemi. Posisi ini naik dibandingkan laporan per 7 Juli 2021 di mana Indonesia di urutan ke-110. Skor pemulihan naik dari 31 ke 44.

Dalam versi Covid Resilience Ranking oleh Bloomberg per Agustus 2021, Indonesia di urutan ke-51 dari 53 negara dengan skor 44,6. Posisi ini naik dibandingkan bulan Juli yang berada di urutan paling buntut dengan skor 40,2.

Sedangkan dalam laporan The Economist mengenai Global Normalcy Index per 1 Juli 2021, yang mengukur tentang seberapa jauh suatu negara sudah kembali ke kehidupan “normal”, posisi Indonesia berada di peringkat ke-40 dari 50 negara dengan skor 58,3. Artinya, Indonesia masih jauh dari kondisi normal.

KOMPAS/FAJAR RAMADHAN
Para pasien Covid-19 yang menjalani isolasi di Rumah Sakit Darurat Covid-19 Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Utara, melakukan senam bersama, Senin (7/6/2021). Kompas melakukan pengukuran untuk melihat arah dan kecepatan pengendalian Covid-19 di Indonesia.

Kompas sejak pertengahan Juli 2021, di saat Indonesia mengalami puncak lonjakan kasus Covid-19, melakukan pengukuran yang menghasilkan indeks untuk melihat arah dan kecepatan pengendalian Covid-19 pada level provinsi.

Dalam delapan minggu pengukuran, perbaikan pengendalian semakin terlihat. Di awal pengukuran, periode 12-19 Juli 2021, skor indeks yang dinamakan Indeks Pengendalian Covid-19 (IPC-19) Kompas ini secara nasional berada di angka yang cukup rendah, yaitu 40 (skala 0-100).

Arah pengendalian sudah positif, namun kecepatannya lambat. Selama lima minggu pertama pengukuran, skor hanya naik sebanyak 6 poin, artinya naik 1,2 poin per minggu. Baru pada minggu ke-6 dan seterusnya kenaikan skor cukup besar, yaitu 5-7 poin  per minggu.

Hingga minggu kedelapan, per 6 September 2021, skor indeks nasional mencapai angka 69. Dapat dikatakan bahwa situasi sudah kembali seperti saat sebelum gelombang kedua terjadi. Sebanyak 16 provinsi meraih skor di atas rata-rata nasional.

Pengukuran dilakukan secara periodik mingguan, dengan rentang waktu dari hari Selasa pekan sebelumnya sampai hari Senin pekan berjalan. Indeks ini diharapkan dapat memberi arah upaya pengendalian Covid-19 di Indonesia, sebagai tolak ukur dari kebijakan pemerintah dan penerapannya di tingkat provinsi.

Bagi masyarakat, indeks dapat dipakai untuk memonitor kondisi pandemi dan tingkat pengendalian pandemi di provinsi dia tinggal. Sedangkan bagi pemerintah, indeks bisa digunakan untuk menentukan daerah mana yang perlu mendapat prioritas penanganan dan pencegahan agar kondisi di daerah tersebut bisa cepat ditangani, serta mengantisipasi kemungkinan terburuk dengan lebih cepat.

Indeks Pengendalian Covid-19 ini mengukur output dari kebijakan pemerintah dalam mengendalikan pandemi dengan melihat dua aspek, yaitu manajemen infeksi dan manajemen pengobatan. Setiap aspek memiliki masing-masing tiga indikator yang menggambarkan indikator kesehatan, perlindungan, dan akses layanan kesehatan.

Indikator dalam aspek manajemen infeksi yaitu kasus terkonfirmasi, angka kepositifan (positivity rate), dan persentase yang sudah menerima vaksin lengkap. Indikator-indikator ini menggambarkan output dari upaya dalam mencegah infeksi meluas di masyarakat. Jika manjemen infeksi baik, maka kasus terkonfirmasi dan angka kepositifan akan rendah. Artinya, masyarakat terlindungi dari bahaya virus. Perlindungan juga dilihat dari pemberian vaksin ke masyarakat.

Sedangkan indikator dalam aspek manajemen pengobatan yaitu angka kesembuhan, angka kematian, dan tingkat keterisian tempat tidur di RS untuk pasien Covid-19. Indikator-indikator ini menggambarkan output dari upaya dalam menyelamatkan nyawa orang yang terinfeksi. Pasien Covid-19 diupayakan segera sembuh dan mendapat perawatan yang baik. Jika manajemen pengobatan baik, angka kematian akan rendah.

Indikator-indikator ini terpilih berdasarkan uji keandalan dan kesahihan dari sekian banyak indikator terkait kasus Covid-19 yang secara berkala dipublikasikan oleh lembaga pemerintahan resmi, seperti Kementerian Kesehatan dan Satgas Covid-19.

.

Dengan menganalisis dua aspek manajemen, indeks ini selain memotret aspek mana yang menjadi kelemahan yang harus segera diperbaiki pemerintah provinsi, juga menangkap pola pergerakan pengendalian di setiap provinsi dalam kuadran. Dari analisis kuadran diketahui provinsi mana yang pengendaliannya bagus dalam kedua aspek, hanya bagus dalam satu aspek, atau buruk dalam kedua aspek.

Analisis kuadran bertujuan untuk memetakan posisi dari masing-masing provinsi dan melihat lebih detail permasalahan yang dihadapinya. Kebijakan dan tindakan yang perlu dilakukan untuk daerah yang membutuhkan penanganan infeksi tentu berbeda dengan yang membutuhkan penanganan pengobatan.

Setiap provinsi memiliki pola perkembangan dan waktu yang dibutuhkan untuk pengendalian yang berbeda satu dengan yang lainnya. Terdapat dua pola pergerakan yang terbentuk dalam proses pengendalian.

Pola pertama adalah tren pengendalian yang terus meningkat sejak awal, tetapi kecepatannya berbeda-beda, ada yang cepat atau sebaliknya. Tren peningkatan yang berlangsung cepat ditunjukkan antara lain oleh DKI Jakarta, Banten, Maluku, Maluku Utara, dan Papua Barat yang telah mencapai skor 80 ke atas. Daerah-daerah ini berada di kuadran yang pengendaliannya bagus dalam kedua aspek.

Sedangkan pola kedua adalah tren penurunan di tengah periode pengukuran sampai ada titik balik untuk naik kembali. Penurunan bisa terjadi dalam waktu yang tidak terlalu lama, kurang dari empat minggu, seperti yang terjadi di Sumatera Barat, Bali, dan Papua.

Tetapi, ada pula penurunan yang terjadi dalam waktu agak lama, lebih dari empat minggu, seperti yang ditunjukkan oleh Sumatera Utara, Lampung, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, dan Aceh. Bahkan, Aceh mengalami penurunan skor berkepanjangan hingga minggu ke-7 pengukuran. Aceh berada di kuadran yang pengendaliannya buruk dalam kedua aspek sejak minggu ke-4 hingga minggu ke-8.

DOKUMEN POLRESTA BANDA ACEH
Proses pemakaman jenazah pasien Covid-19 di Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh, Juni 2020. Aceh menjadi daerah dengan skor pengendalian Covid-19 terendah di Indonesia.

Jawa-Bali

Berdasar indeks ini, ketujuh provinsi di Jawa dan Bali relatif melakukan upaya pengendalian Covid-19 secara signifikan selama dua bulan terakhir.

Dari seluruh provinsi se Jawa-Bali, DKI Jakarta menjadi daerah dengan perbaikan pengendalian Covid-19 paling signifikan. Secara umum skor pengendalian ini meningkat lebih dari 100 persen dari 45 poin ke 91 poin. Artinya, situasi pengendalian Covid-19 di Jakarta kini telah dua kali lebih baik dibanding dua bulan lalu.

Keberhasilan pengendalian Covid-19 di DKI Jakarta ini meluber hingga daerah sekitarnya. Banten sebagai tetangga juga turut mengalami perbaikan fantastis dengan kenaikan skor, dari 32 poin ke 82 poin. Selain menjadi provinsi kedua setelah DKI Jakarta dengan nilai skor pengendalian terbaik, kenaikan skor sebesar 50 poin ini menjadi yang tertinggi jika dibandingkan dengan provinsi lain se-Indonesia.

Selaras dengan Banten, Jawa Barat yang berbatasan langsung dengan DKI Jakarta juga ikut mengalami perbaikan pengendalian pandemi. Berada di posisi ke tiga dengan skor 76 poin, provinsi ini mampu meningkatkan skor sebanyak dua kali lipat dari 38 poin. Tren positif ini sebagian besar didorong oleh peningkatan dalam hal manajemen infeksi di mana skor berhasil ditingkatkan dari 25 poin ke 43 poin.

Sayangnya, meski telah mengalami perbaikan, situasi Covid-19 di Jawa bagian tengah hingga Bali masih belum sebaik Jawa di belahan barat. Masih ada daerah yang skornya lebih rendah atau sama dengan skor rata-rata nasional, yaitu Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali.

Kompas/P Raditya Mahendra Yasa
Tabung oksigen yang saat ini sebagai salah satu kebutuhan darurat bagi pasien Covid-19 saat akan diisi ulang di halaman Balai Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (6/8/2021). Meski mengalami perbaikan, situasi Covid-19 di Jawa bagian tengah hingga Bali masih belum sebaik Jawa di belahan barat

Luar Jawa-Bali

Perbaikan pengendalian Covid-19 di luar Pulau Jawa dan Bali bergerak linier dengan kondisi di Jawa dan Bali dalam beberapa pekan terakhir. Daerah-daerah di Pulau Sumatera hingga Papua sebagian besar berhasil mencatatkan perbaikan dalam pengendalian Covid-19 dibandingkan kondisi pandemi akibat gelombang kedua pada Juli 2021 lalu.

Berdasarkan penghitungan indeks per 6 September 2021, sebanyak 12 dari 27 provinsi di luar Jawa-Bali telah berhasil mencatatkan skor pengendalian di atas rata-rata Nasional sebesar 69. Artinya daerah-daerah ini telah mencatatkan kondisi pengendalian yang lebih baik dibandingkan provinsi lainnya di Indonesia.

Provinsi Maluku Utara menjadi daerah dengan skor indeks tertinggi (82) untuk daerah di luar Jawa-Bali. Daerah ini memperoleh skor yang relatif baik pada aspek manajemen infeksi maupun manajemen pengobatan. Padahal, jika dibandingkan tujuh pekan sebelumnya atau pada saat Indonesia berhadapan dengan tingginya laju penambahan kasus, Maluku Utara adalah satu dari 11 provinsi di luar Jawa-Bali yang mengalami perburukan dan berada di bawah rata-rata skor Nasional.

Secara keseluruhan, pengendalian Covid-19 di luar Jawa-Bali dapat dilihat berdasarkan empat klasifikasi. Pertama, daerah yang konsisten mencatatkan perbaikan pengendalian Covid-19. Selama delapan pekan terakhir, hanya tiga provinsi di luar Jawa-Bali yang konsisten menunjukkan perbaikan, yakni Bengkulu, Kepulauan Riau, dan Papua Barat. Ketiga provinsi ini juga mencatatkan skor di atas rata-rata nasional.

Sama seperti Maluku Utara, ketiga daerah ini juga sempat mengalami perburukan kondisi pengendalian Covid-19 pada Juli lalu. Namun, secara perlahan daerah-daerah ini berhasil menunjukkan perbaikan dalam berbagai indikator seperti laju penambahan kasus, angka kematian, hingga kesembuhan.

Klasifikasi kedua adalah daerah-daerah yang mencatatkan perbaikan pengendalian secara tidak konsisten. Artinya, pada suatu waktu pengendalian pandemi mengalami stagnasi, bahkan perburukan dibandingkan pekan sebelumnya. Kondisi ini dialami oleh sebagian besar (17 provinsi) daerah-daerah di luar Jawa-Bali.

Selama delapan pekan terakhir, stagnasi pernah dialami oleh Sumatera Selatan, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, dan Maluku Utara. Laju perbaikan pengendalian pada keempat wilayah ini sempat terhenti meskipun tidak mengalami perburukan.

Kondisi ini menegaskan bahwa di tengah perbaikan pengendalian, perburukan masih sangat mungkin terjadi pada setiap aspek dan indikator. Oleh sebab itu, setiap daerah tidak boleh lengah di tengah perbaikan yang berhasil dicapai.

Di tengah membaiknya kondisi sebagian daerah, perhatian khusus perlu diberikan pada daerah-daerah lainnya di luar Jawa-Bali yang masuk pada klasifikasi ketiga, yakni daerah yang mengalami gelombang naik-turun perbaikan pengendalian Covid-19 selama delapan pekan terakhir.

Ada enam provinsi yang masuk kategori ini, yakni Bangka Belitung, Riau, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Tenggara. Artinya, daerah-daerah ini masih belum menunjukkan konsistensi dalam mengendalikan pandemi.

Dari keenam wilayah ini, gelombang naik-turun yang cukup signifikan dialami oleh wilayah Kalimantan Utara. Daerah ini pernah mengalami perburukan pengendalian pandemi pada pekan ketiga Juli yang ditandai penurunan skor indeks dari 53 menjadi 47. Perbaikan pengendalian berhasil dicapai pada pekan berikutnya dan kembali memburuk pada pekan pertama Agustus.

Kategori terakhir adalah daerah yang mengalami tren perburukan pengendalian pandemi. Aceh menjadi satu-satunya provinsi yang masuk kategori ini. Selama tujuh pekan, skor indeks pengendalian Covid-19 di Aceh selalu mengalami perburukan, yakni dari 55 pada 19 Juli 2021 menjadi 29 pada 30 Agustus 2021.

Harapan perbaikan mulai tampak dengan kenaikan skor indeks untuk pertama kalinya pada 6 September 2021 lalu. Namun, dengan raihan skor 37, Aceh masih menjadi daerah dengan skor pengendalian Covid-19 terendah di Indonesia, baik pada aspek manajemen infeksi maupun pengobatan.

Pengendalian yang sudah lebih baik di Jawa-Bali, terutama DKI Jakarta, tidak bisa menjadi kesimpulan bahwa pandemi di Indonesia sudah terkendali dengan baik. Pengendalian masih harus ditingkatkan di banyak daerah, terutama di luar Jawa-Bali. Kewaspadaan dan antisipasi harus terus dilakukan agar virus yang bersirkulasi di luar Jawa-Bali tidak terbawa masuk ke Jawa-Bali untuk mencegah lonjakan kasus kembali terjadi. (LITBANG KOMPAS)

Kerabat Kerja

Penulis: Gianie, Reza Felix Citra, Rangga Eka Sakti, Dedy Afrianto | Infografik: Reza Felix Citra, Tiurma, Litbang Kompas | Foto: Fajar Ramadhan, Raditya Mahendra Yasa | Produser: Gianie, Prasetyo Eko Prihananto | Desainer & Pengembang: Ria Chandra, Rino Dwi Cahyo, Frans Yakobus Suryapradipta, Yosef Yudha Wijaya

Suka dengan tulisan yang Anda baca?

Nikmati tulisan lainnya dalam rubrik Tutur Visual di bawah ini.