Bakteri Kebal Obat pada Ayam dan Ancaman Pandemi Baru

Investigasi Kompas bekerja sama dengan World Animal Protection, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, dan Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies mengungkap kemunculan bakteri kebal antibiotik pada rantai pangan ayam broiler.

Bakteri kebal antibiotik ditemukan pada sampel daging dan sekum ayam di sejumlah rumah potong hewan unggas serta gerai penjualan produk pangan hewani. Pemberian antibiotik secara masif dan tidak tepat di peternakan ayam broiler diduga menjadi pemicu munculnya resistansi antibiotik pada rantai pangan ayam broiler.

Investigasi Kompas bekerja sama dengan World Animal Protection, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, dan Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies mengungkap kemunculan bakteri kebal antibiotik pada rantai pangan ayam broiler. Sementara penelusuran Kompas di sejumlah peternakan ayam broiler di Jawa Barat dan Banten sepanjang Mei  hingga awal Juni lalu menemukan peternak plasma dengan sokongan perusahaan peternakan besar sebagai inti terbiasa menggunakan antibiotik dalam jumlah besar dan tidak tepat.

KOMPAS/FAJAR RAMADHAN
Beberapa peternak sedang memasukkan Day Old Chick (DOC) ke dalam kandang peternakan ayam pedaging di daerah Kabupaten Bandung, Jawa Barat pada Kamis (27/5/2021).

Hasil riset Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies (CIVAS) sepanjang November 2020 hingga Januari 2021 mengonfirmasi temuan terjadinya resistensi antibiotik pada rantai pangan ayam broiler. Dalam risetnya, CIVAS meneliti 120 sampel yang terdiri dari 30 sampel sekum atau bagian usus ayam broiler dari rumah potong hewan unggas (RPH-U), 30 sampel karkas dari RPH-U, dan 60 karkas beku dari gerai penjualan yang terafiliasi dengan perusahaan peternakan besar.

Untuk menguji resistansi antibiotik dalam riset ini digunakan bakteri Escherichia coli (E.coli). Selain mudah ditemukan dan ada di mana-mana, E.coli juga merupakan bakteri yang digunakan dalam program surveilans serta pemantauan atau monitoring kejadian resistensi antibiotik.

Hasil pengujian di laboratorium Balai Besar Penelitian Veteriner menemukan isolat E.coli pada sampel sekum di RPH-U ternyata sudah kebal dengan lima jenis antibiotik, yaitu antibiotik meropenem sebanyak 67 persen (14 sampel), sulfametoksazol 48 persen (10 sampel), colistin 33 persen (7 sampel), siprofloksasin 24 persen (5 sampel), dan kloramfenikol 5 persen (1 sampel).

Dari 30 sampel karkas segar RPHU, E. coli ditemukan pada 20 sampel dan berdasarkan uji kepekaan antibiotik, ternyata kebal terhadap colistin 60 persen (12 sampel), sulfametoksazol 45 persen (9 sampel), siprofloksasin 20 persen (4 sampel), dan kloramfenikol 10 persen (2 sampel). Adapun dari total 60 sampel karkas beku di tujuh gerai, 22 sampel di antaranya berbakteri E. coli dan 59 persen sampel (13 sampel) kebal terhadap colistin, 45 persen sampel (10) kebal sulfametoksazol, 18 persen sampel (7) kebal siprofloksasin, dan 9 persen sampel (2) kebal kloramfenikol. Tidak ditemukan bakteri resisten meropenem di karkas beku gerai.

kejadian antimicrobacterial resistence (AMR), yang di dalamnya termasuk resistensi antibiotik pada peternakan, memang dipicu penggunaan antibiotik yang berlebih oleh peternak unggas

Temuan bakteri kebal antibiotik dalam rantai pangan ayam broiler ini sebenarnya cukup mengkhawatirkan mengingat daging ayam adalah sumber utama protein hewani bagi masyarakat Indonesia. ”Karena nanti dampaknya, kalau kita mengonsumsi produk yang mengandung bakteri resisten, ya tentu kalau kita jatuh sakit karena bakteri resisten itu, tidak ada antibiotik yang bisa digunakan,” ujar Ketua Badan Pengurus CIVAS drh Tri Satya Putri Naipospos, PhD.

Penggunaan antibiotik berlebih

Tri mengatakan, kejadian antimicrobacterial resistence (AMR), yang di dalamnya termasuk resistensi antibiotik pada peternakan, memang dipicu penggunaan antibiotik yang berlebih oleh peternak unggas. ” Kalau saya bilang terjadi di sini juga yang namanya overuse juga. Karena selama puluhan tahun kita terbiasa dengan penggunaan antibiotik pemacu pertumbuhan itu, antibiotic growth promoter (AGP) ya,” katanya.

Melalui Permentan Nomor 14/2017 tentang Klasifikasi Obat Hewan, sejak 1 Januari 2018 pemerintah melarang penggunaan AGP dalam pakan. Larangan ini bagian dari kampanye pencegahan terjadinya AMR. Namun karena peternak menganggap antibiotik harus dipakai demi menjaga pertumbuhan ayam broiler, mereka pun menyiasati larangan penggunaan AGP dengan tetap menggunakan antibiotik dengan alasan sebagai pencegah penyakit.

Peternak beralasan penggunaan antibiotik tersebut untuk pencegahan penyakit (profilaksis)

Peternak menggunakan antibiotik saat ayam dalam kondisi sehat. Antibiotik digunakan bukan untuk keperluan terapi atau pengobatan penyakit ayam, dan diberikan dalam jumlah besar dengan dosis yang kontinu setiap siklus panen (28-35 hari). Peternak beralasan penggunaan antibiotik tersebut untuk pencegahan penyakit (profilaksis).  Kondisi ini menjadi pemicu terjadinya resistensi antibiotik pada rantai pangan ayam broiler.

Waktu pemberian antibiotik sangat variatif. Para peternak di Kabupaten Bandung, misalnya, memberikan antibiotik sebagai pencegahan sejak ayam berusia 2-4 hari. Sementara peternak di Subang memberikan antibiotik sejak ayam berusia 8-10 hari.

Praktik ini, misalnya dilakukan SU, salah satu kepala kandang peternakan di Subang, Jawa Barat, pada Senin (24/5/2021). Peternakan ini merupakan plasma dari PT Japfa Comfeed. Antibiotik diberikan saat ayam menginjak usia 2-5 hari. Jenis antibiotik yang digunakan biasanya adalah antibiotik golongan Quinolon seperti Oxaldin yang mengandung Ofloxacin.

KOMPAS/FAJAR RAMADHAN
Peternak di Kabupaten Bandung, Jawa Barat terlihat menuangkan cairan antibiotik ke dalam tempat minum ayam broiler pada Jumat (28/5/2021).

Alasannya untuk mencegah ayam supaya tidak terpapar penyakit. Dalam praktiknya, antibiotik ini dicampurkan dengan minuman dengan perbandingan 1:2. Proses pemberiannya menggunakan alat pencampur obat, dosatron. ”Rata-rata pakai, jaga-jaga saja,” ungkap SU.

Antibiotik ini didapatkan SU langsung dari technical service (TS) PT Japfa Comfeed sebagai perusahaan inti. TS berperan seperti tenaga pemasar obat dari perusahaan inti untuk dijual kepada peternak plasma. Paket obat-obatan biasa diterima bersamaan dengan sarana produksi ternak lainnya sebelum day old chicken datang.

Jumat (28/5/2021) pagi, Kompas sempat mengamati langsung pemberian antibiotik oleh UD, pemilik peternakan di Bandung, Jawa Barat, yang merupakan peternakan plasma dari PT Charoen Pokphand Indonesia. Hari itu adalah hari ke-2 DOC masuk ke kandang UD.  Jumlahnya sekitar 6.000 ekor.

KOMPAS/FAJAR RAMADHAN
Antibiotik merek Baytril yang mengandung antibiotik Enrofloxacin ditemukan di peternakan ayam broiler milik U di Bandung, Jawa Barat, Jumat (28/5/2021). Antibiotik ini digunakan untuk pencegahan penyakit pada ayam berusia 2-4 hari.

Ada dua metode pemberian antibiotik yang dilakukan UD. Pertama, UD menuangkan 16 mililiter obat Baytril yang mengandung antibiotik Enrofloxacin pada sebuah ember yang berisi 30 liter air. Air dalam ember tersebut kemudian dibagi secara merata pada belasan tempat minum ayam portabel.

Selanjutnya, UD kembali mencampurkan 16 mililiter antibiotik dan air ke dalam sebuah gayung. Air bercampur antibiotik tersebut kemudian dituangkan ke dalam 18 tempat minum ayam permanen yang tersebar di dalam kandangnya.

”Perbandingannya kalau vitamin 1:2. Kalau antibiotik 0,2 per liter air,” katanya.

UD beralasan, pemberian antibiotik golongan Quinolon pada ayam usia 2-4 hari ini adalah untuk mencegah timbulnya penyakit di pencernaan ayam. Jika pencernaan ayam lancar, nafsu makan ayam terjaga. Dengan demikian, pertumbuhan ayam semakin cepat.

”Kalau misal ayam kecil udah sakit ya ke depannya gimana. Lebih parah lagi. Intinya, pencegahan itu lebih baik daripada pengobatan,” ungkapnya.

Pemberian antibiotik di kandang UD juga dapat diberikan saat ayam menginjak usia 12-15 hari. Jenis antibiotik yang diberikan pun berbeda. Pada usia ini antibiotik yang biasa diberikan adalah Cosumix (sulphachloropyridazine  + trimethoprim) atau Doxisol (doksisiklin hiklat + colistin sulfat).

KOMPAS/ADITYA DIVERANTA
Kemasan antibiotik yang dibeli dari sebuah toko obat hewan di Parung, Bogor, Jawa Barat, Kamis (27/5/2021). Terdapat peringatan bertuliskan “obat hanya untuk hewan, harus dengan resep dokter hewan”.

Sejumlah peternak di Bogor, Jawa Barat, memakai antibiotik Doxerin+ yang berkandungan doksisiklin dan eritromisin, serta obat Enromas yang berkandungan enrofloksasin sebagai upaya pemeliharaan saat usia ayam masih kurang dari sepekan. Penggunaan ini antara lain ditemukan di kandang milik PT TJG, Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, serta kandang GKF di Dramaga, Bogor.

Antibiotik juga diberikan untuk memicu pertumbuhan ayam pada pekan pertama.

DD, penanggung jawab kandang di Ciseeng, Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, menjadwalkan pemberian Doxerin+ pada ayam usia satu hingga empat hari. Pemberian itu dilakukan tanpa pertimbangan apakah ayam sedang sakit atau tidak pada pekan pertama. Pemberian Doxerin+ kemudian lanjut pada pekan kedua dengan jadwal yang sama, yakni empat hari berturut-turut.

DD menyebut alasan pemberian obat itu sebagai upaya pencegahan penyakit, terutama yang berkaitan dengan saluran pernapasan. Antibiotik juga diberikan untuk memicu pertumbuhan ayam pada pekan pertama.

KOMPAS/FAJAR RAMADHAN
Ribuan DOC tersebar di kandang tertutup (clouse house) milik salah satu peternak ayam broiler di Kabupaten Subang, Jawa barat pada Senin (24/5/2021).

HD, pegawai kandang, menyebut pemberian antibiotik sebagai pencegahan itu lebih mudah daripada mengobati saat sudah sakit. ”Kalau kami ngasih obat itu pas sudah ada gejala, enggak bakalan bisa sembuh. Justru malah lebih baik dari awal, buat pencegahannya dulu. Nanti kalau sakit, dosisnya ditambah lagi,” ujarnya.

HM, pegawai di kandang GKF, Dramaga, Bogor, memberikan antibiotik Enromas yang berkandungan enrofloksasin pada ayam usia hari ketujuh. Antibiotik ini diberikan selama empat hari berturut-turut dengan dicampur pada air minum ayam. Selain itu, ada antibiotik lain yang berlabel ”AGP starter” yang dia dapatkan dari situs jual-beli daring.

Penggunaan AGP yang sejatinya telah dilarang pemerintah itu juga dia gunakan secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan mitra integrator

HM menyampaikan penggunaan sejumlah antibiotik itu untuk menghindari penyakit serta menambah pertumbuhan ayam. Penggunaan AGP yang sejatinya telah dilarang pemerintah itu juga dia gunakan secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan mitra integrator. HM bercerita sekilas kalau AGP starter yang dia gunakan membuat ayam lebih cepat gemuk dalam kurun pertumbuhan 30-35 hari.

Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Muhammad Munawaroh mengakui pemberian antibiotik kepada hewan ternak yang tidak sakit bisa menyebabkan munculnya bakteri resisten. ”Itu yang sekarang tidak boleh karena antibiotik itu benar-benar hanya diberikan apabila hewannya sakit. Itu yang bisa juga menyebabkan resistensi,” ucap Munawaroh, Jumat (21/5/2021) di Jakarta.

Sementara Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, yang juga guru besar ilmu mikrobiologi klinik Universitas Indonesia, Amin Soebandrio, menyoroti temuan E. coli yang sudah kebal dengan antibiotik colistin dalam riset CIVAS. Menurut Amin, colistin menjadi tumpuan harapan pasien yang sakit akibat infeksi bakteri E. coli, Klebsiella pneumoniae, atau Acinetobacter baumannii, yang hampir mengalami situasi pandrug-resistant atau nyaris tidak mempan oleh bermacam antibiotik.

”Colistin resminya di Indonesia belum dipakai. Jadi, di rumah sakit itu kalau mau pakai colistin sebetulnya harus minta izin khusus,” ucap Amin menggambarkan seberapa ketatnya pemakaian antibiotik itu. Pemakaian colistin betul-betul dihindari selama bakteri masih bisa diatasi dengan antibiotik lain.

Ketua Komite Pengendalian Resistensi Antimikrobial (KPRA) Hari Paraton mengatakan, rumah sakit di Indonesia akan memesan ke Singapura jika membutuhkan colistin. Obat ini tidak tersedia di Indonesia karena efek sampingnya, salah satunya memicu gagal ginjal.

Pemerintah baru secara resmi melarang penggunaan colistin pada hewan sejak Juli 2020

Karena itu, colistin hanya dipakai jika pasien sudah menghadapi situasi antara hidup dan mati. ”Mereka sudah ketemu yang resisten sama colistin. Nah, kalau dia nanti bakterinya nyebrang ke manusia, mau dikasih apa lagi?” ujar Hari.

Pemerintah baru secara resmi melarang penggunaan colistin pada hewan sejak Juli 2020. Namun di lapangan, colistin masih dijual secara bebas, terutama secara daring. Peternak juga masih ada yang menggunakan antibiotik ini.

KOMPAS/FAJAR RAMADHAN
Sejumlah anak buah kandang sedang memanen ayam pedaging di salah satu peternakan di daerah Kabupaten Bogor, Jawa Tengah pada Kamis (20/5/2021).

Kepala kandang peternakan ayam broiler di Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, SN mengaku memberikan antibiotik merek Colamox sejak anak ayam berusia 1 hingga 4 hari. Colamox diketahui mengandung amoksisilin dan colistin. Meski tidak sakit, SN tetap memberikan antibiotik ke anak ayam. Ia biasa menggunakan 4-5 bungkus Colamox per seribu ekor ayam. Satu bungkus berbobot 100 gram.

Terkait penggunaan antibiotik, Vice President Poultry Production dan Animal Health PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk Jusmeinidar Jusran menegaskan, obat keras tersebut hanya untuk pengobatan, bukan bagian dari program pemeliharaan ayam. ”Antibiotik itu terapi. Bila ayam sakit, maka diberikan obat,” ujarnya. Meskipun dari temuan di lapangan, peternak plasma CPI di Subang, Sukabumi, dan Kabupaten Bandung menggunakan antibiotik bukan pada saat ayam sakit.

Keterangan resmi dari PT Japfa Comfeed diterima Kompas secara tertulis pada Selasa (6/7/2021). Selama ini, PT Japfa Comfeed menyatakan telah menerapkan metode Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH) dan menerapkan sistem keamanan pangan berstandar internasional. Mereka juga melakukan pengujian mikroba dan residu antibiotik pada daging ayam secara rutin untuk memenuhi persyaratan SNI.

PT Japfa Comfeed sepakat antibiotik tidak sepatutnya diberikan kepada ayam untuk keperluan profilaksis, tetapi untuk pengobatan. Pemberian antibiotik di peternakan plasma mereka pada 3 hari pertama didasari pada temuan infeksi bakteri pada sejumlah DOC di peternakan. Antibiotik diberikan untuk mencegah penularan infeksi ke DOC lainnya.

Sejauh ini PT Japfa mengklaim telah menerapkan tata laksana budidaya di kandang-kandang peternakan mitra. Dalam pelaksanaannya, para pengelola peternakan selalu didampingi oleh petugas lapangan perusahaan.

penemuan bakteri resisten dalam produk ayam broiler ini seharusnya tidak boleh terjadi

Sebagai bentuk komitmen dari pencegahan AMR di industri peternakan, PT Japfa Comfeed telah melakukan sejumlah langkah pencegahan. Selain menerapkan tata laksana pemeliharaan sesuai standar, perusahaan juga menerapkan sistem biosecurity, melakukan vaksinasi, dan berupaya menghindari penggunaan antibiotik.

Kesejahteraan hewan

Manajer Kampanye Peternakan World Animal Protector (WAP) Rully Prayoga menyatakan, penemuan bakteri resisten dalam produk ayam broiler ini seharusnya tidak boleh terjadi. terlebih bakteri resisten ini ditemukan pada produk ayam yang memiliki Nomor Kesehatan Veteriner (NKV).

”NKV ini sekarang sedang digembar-gemborkan pemerintah sebagai bentuk kontrol keamanan produk pangan,” katanya.

Menurut Rully, praktik pemberian antibiotik di peternakan ayam broiler sebetulnya bisa dihindari asalkan peternak mau mengedepankan kesejahteraan hewan. Kondisi kandang yang tidak kondusif membuat hewan ternak rentan terserang penyakit.

Salah satu yang hal yang cukup sederhana, misalnya ketersediaan lampu penerangan di dalam kandang. Penerangan yang tidak memadai dapat membuat kondisi kandang menjadi lembab sehingga menyuburkan tumbuhnya bakteri. Antibiotik kemudian dianggap sebagai senjata pamungkas.

”Coba bayangkan saja. Kondisi sekam dasar kandang yang sangat basah, lembab, kotoran ada di mana-mana, dan penerangan sangat minim. Jadi bakteri ya enak banget di situ,” katanya.

KOMPAS/FAJAR RAMADHAN
Salah satu kandang peternakan ayam broiler di Kabupaten Bandung, Jawa Barat menggunakan kayu bakar sebagai penghangat, seperti terlihat pada Kamis (27/5/2021).

Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi menilai temuan bakteri resistan antibiotik pada daging ayam broiler menjadi penanda bahwa ada risiko kesehatan bagi konsumen. Begitu pula dengan temuan bakteri resistan daging ayam broiler yang memiliki Nomor Kontrol Veteriner (NKV) dari pemerintah.

“Kami melihat regulasi yang ada saat ini belum cukup efektif membuat satu rantai pasok pangan daging ayam yang aman dari fenomena AMR itu. Kami berharap pemerintah sebagai regulator dapat mengintensifkan pengawasan aspek higiene pada sistem rantai produksi pangan tersebut sehingga tidak membahayakan konsumen,” jelasnya.

WHO menyebut resistensi antimikroba (AMR) sebagai salah satu dari 10 besar ancaman kesehatan masyarakat global yang dihadapi umat manusia

Secara terpisah Ketua Umum Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Singgih Januratmoko mengakui, kesadaran peternak unggas soal bahaya AMR baru muncul sekitar tahun 2018, tepatnya setelah ada sosialisasi terkait risiko bakteri resistan antibiotik dari Kementerian Pertanian. Hingga 2021 pun, pemahaman terhadap risiko tersebut belum seragam di kalangan peternak.

Pandemi baru

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut resistensi antimikroba (AMR) sebagai salah satu dari 10 besar ancaman kesehatan masyarakat global yang dihadapi umat manusia. Penyalahgunaan dan penggunaan antimikroba yang berlebihan adalah pendorong utama dalam pengembangan patogen yang resistan terhadap obat.

Resistansi antimikroba menjadi ancaman pandemi berikutnya yang bakal dihadapi umat manusia. Menurut WHO, selain kematian dan kecacatan, penyakit berkepanjangan yang mengakibatkan lama rawat inap di rumah sakit, kebutuhan akan obat-obatan yang lebih mahal, dan tantangan keuangan menjadi ancaman bagi yang terkena dampak pandemi resistansi antimikroba. Tanpa antimikroba yang efektif, keberhasilan pengobatan modern dalam mengobati infeksi, termasuk selama operasi besar dan kemoterapi kanker, akan berisiko tinggi.

Meskipun potensi bencana kesehatan akibat kuman kebal obat diyakini tidak secepat virus korona baru memicu pandemi Covid-19, tetapi jika pengendalian resistansi hanya setengah hati, pandemi baru bisa saja tidak bisa dicegah lagi.

mulai 2050 diperkirakan 10 juta nyawa melayang per tahun akibat beragam penyakit yang dipicu resistansi antimikroba.

Bakteri yang sudah mampu menumbangkan antibiotik bakal tak terbendung dalam menyebarkan sifat cerdasnya menangkal obat ke lebih banyak bakteri, termasuk bakteri patogen atau penyebab penyakit pada manusia.

Laporan tim tinjaun resistansi antimikroba bentukan Pemerintah Inggris yang dipimpin ekonom Jim O’Neill menjadi acuan global untuk meningkatkan kesadaran dan mendorong aksi nyata negara-negara mengendalikan kekebalan mikroba terhadap obat. Berdasarkan laporan yang dirilis 2016 itu, mulai 2050 diperkirakan 10 juta nyawa melayang per tahun akibat beragam penyakit yang dipicu resistansi antimikroba.

”Bisa lebih cepat lho,” ucap Prof Amin Soebandrio. Saat laporan diterbitkan, tim  O’Neill memperkirakan resistansi sudah mengakibatkan 700.000 kematian per tahun di dunia.

KOMPAS/ADITYA DIVERANTA
Suasana kandang ayam pedaging di Ciseeng, Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (18/5/2021).

”Bakteri ini lebih pintar daripada kita. Kita mengembangkan antibiotika 20 tahun, dia hanya dalam dua tahun sudah bisa jadi resisten,” kata Amin.

Menurut Hari Paraton, saking lambatnya, penemuan antibiotik baru bahkan bisa dikatakan belum ada di masa sekarang. Jika ada antibiotik bernama baru, kemungkinan itu hanya modifikasi dari antibiotik yang sudah ditemukan sebelumnya.

penyakit-penyakit infeksi yang saat ini relatif mudah disembuhkan bisa menjelma menjadi pembawa ajal di masa depan.

Hari menganalogikan penemuan antibiotik model baru ibarat peluncuran seri baru mobil. Varian mobilnya sama, hanya berbeda tipenya, ada yang G ada yang E. ”Misalkan meropenen, ada sebagian strukturnya diubah menjadi imipenem, ada yang menjadi doripenem. Tapi intinya sama. Begitu dia resisten sama penem, semua penem ternyata ikut resisten,” ujarnya.

Banyak cara mati

Hari menjelaskan, pandemi akibat mikroba resisten—jika nanti benar terjadi—bakalan berbeda, dan mungkin tidak sedahsyat pandemi Covid-19. Pandemi yang sekarang diakibatkan satu penyakit, tetapi pandemi akibat mikroba kebal obat dipicu beragam penyakit. Celakanya, penyakit-penyakit infeksi yang saat ini relatif mudah disembuhkan bisa menjelma menjadi pembawa ajal di masa depan.

”Kalau Covid-19 kan satu penyakit, tapi nanti kalau bakteri resistan, itu sakit tenggorokan, mati. Sakit infeksi saluran kencing, mati. Jadi matinya itu banyak cara,” tutur Hari.

KOMPAS/FAJAR RAMADHAN
Penampakan ayam di salah satu kandang peternakan yang menggunakan sistem kandang terbuka (close house) di daerah Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (20/5/2021).

Amin mengingatkan, resistansi antimikroba tidak hanya membebani sektor kesehatan, tetapi juga ekonomi. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan terancam makin kewalahan jika ”ramalan 2050” terwujud. Pada 2050, negara-negara di dunia diprediksi menggelontorkan Rp 100 triliun dollar AS (sekitar Rp 1,4 juta triliun atau Rp 1,4 kuintiliun dengan kurs Rp 14.000 per dollar AS) akibat resistansi antimikroba.

Jamak dilakukan peternak

Di kalangan peternak ayam broiler, penggunaan antibiotik sebagai bentuk pencegahan penyakit hampir tidak dapat dihindarkan. Praktik ini jamak dilakukan oleh peternak mandiri sampai peternak yang bermitra dengan perusahaan besar sekalipun.

NN, salah satu anak buah kandang peternakan mandiri di Kabupaten Bogor, memberikan antibiotik hingga usia ayam maksimal 23 hari. Sementara proses panen ayam di kandangnya biasanya dilakukan pada hari ke-28 hingga hari ke-30. Di gudang peternakan itu ditemukan obat Sulfabac yang memiliki kandungan antibiotik Sulfadiazine dan Trimethropin.

NN menyadari pemberian antibiotik yang semakin mendekati masa panen dapat berdampak tidak baik bagi konsumen. Antibiotik pertama diberikan NN pada saat ayam berusia 2-3 hari. Hal ini dilakukan selama tiga hari berturut-turut. Praktik yang sama kembali dilakukan setiap minggu hingga usia ayam mencapai 23 hari.

”Karena itu kan bahan kimia agak tinggi juga. Makanya obat-obatan direhat sampai umur 21-23 hari. Nanti hari ke-25, 26, 27 kan udah bersih dikonsumsi sama manusia,” ujarnya, Jumat (21/5/2021).

KOMPAS/ADITYA DIVERANTA
Bangkai ayam pedaging terkapar di dalam sebuah kandang di wilayah Ciseeng, Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (18/5/2021).

Sementara SO, Kepala Kandang Peternakan Plasma PT Charoen Pokphand Indonesia yang berlokasi di Subang, Jawa Barat, juga biasa memberikan antibiotik pada saat ayam berusia 8-10 hari. Pada Senin (24/5/2021), Kompas juga menemukan obat Cosumix yang memiliki komposisi antibiotik sulphachloropyridazine dan trimethoprim di kandang SO.

Meski pemberian dilakukan pada minggu ke-2 masuknya DOC, SO tetap beralasan hal itu untuk pencegahan penyakit. Padahal, SO mengaku mengetahui adanya ancaman bakteri resisten di balik pemberian antibiotik yang tidak bijak.

Menyadari dampak negatif

ED, pemilik peternakan ayam broiler di Sukabumi, Jawa Barat, menyadari dampak negatif penggunaan antibiotik yang tidak bijak di peternakan. Sebagai seorang ibu, dia ingin agar ibu-ibu lain dapat menyediakan makanan yang menyehatkan bagi anak-anaknya. Dia menganggap pemberian antibiotik secara berlebihan dapat menyisakan zat kimia berbahaya dalam produk ayam.

”Sebagai ibu yang banyak anak tentu anak saya ingin sehat kalau makan daging,” ujarnya.

Namun kondisi genetis ayam broiler yang terus berkembang membuatnya tidak bisa lepas dari praktik ini. Dia mengaku tetap memberikan antibiotik dengan dosis yang terbatas, yakni pada ayam usia 4-6 hari. Dengan catatan ayam menunjukkan indikasi penyakit.

”Kalau ayam tidak sakit kenapa harus dikasih antibiotik?” katanya.

Kompas/Priyombodo
Warga berbelanja daging ayam di Pasar Tebet, Jakarta Selatan, Senin (3/5/2021).

Meski ancaman resistansi bakteri terhadap antibiotik masih sulit terukur tingkat kegawatannya, Muhammad Munawaroh menjelaskan, resistansi bisa terjadi apabila penggunaan obat tidak sesuai dosis, baik berlebihan maupun terlalu sedikit. Dengan pemberian antibiotik yang tidak sesuai dosis, ada kemungkinan bakteri itu justru bermutasi dan akhirnya menjadi resistan.

Seperti halnya pandemi Covid-19 yang menuntut masyarakat menerapkan protokol kesehatan, protokol kesehatan di peternakan pun bisa dilakukan

Munawaroh menyebut pemberian antibiotik sejatinya hanya dilakukan saat hewan sakit. ”Jadi begini. Informasi yang harus sampai ke masyarakat peternak itu, penggunaan antibiotik ya hanya pada saat hewan sakit. Tidak bisa hewan tidak sakit lalu dikasih antibiotik. Kemudian, perlu juga disosialisasikan kepada masyarakat, peternak sebaiknya mengobati hewan itu setelah tahu jenis bakterinya apa. Tidak main generalisasi. Sakitnya apa pun, obatnya ini. Nah ini yang tidak dilakukan oleh peternak,” katanya.

KOMPAS/FAJAR RAMADHAN
Penampakan salah satu kandang peternakan ayam pedaging di Kabupaten Bogor, Jawa Barat yang menerapkan standar biosecurity.

National Technical Advisor dari Food and Agriculture Organization Emergency Centre for Transboundary Animal Diseases (FAO ECTAD), Alfred Kompudu, mengatakan, risiko penyakit dapat dikurangi dengan cara menerapkan biosecurity kandang. Hal ini paling esensial untuk mengubah perilaku peternak.

Seperti halnya pandemi Covid-19 yang menuntut masyarakat menerapkan protokol kesehatan, protokol kesehatan di peternakan pun bisa dilakukan. Sebagai contoh, peternakan tidak bisa sembarangan dimasuki oleh manusia. Anak buah kandang sekalipun harus menaati protokol biosecurity sebelum masuk ke kandang, misalnya harus mandi dan mengganti alas kaki.

Pada 2015, kami sempat mendampingi peternak untuk menerapkan biosecurity 3 zona selama lebih kurang dua tahun. kurang ”Hasilnya sangat bagus. Dia bisa menurunkan penggunaan antibiotik sampai 40 persen. Ayamnya sehat,” katanya.

 

 

Kerabat Kerja

Penulis: Khaerudin, Johanes Galuh Bimantara, Fajar Ramadhan, Aditya Diveranta | Penyelaras Bahasa: Lucia Dwi Puspita Sari | Fotografer: Fajar Ramadhan, Aditya Diveranta, Priyombodo, Johanes Galuh Bimantara | Infografis: Tiurma Clara Jessica, Ningsiawati, Hans Kristian, Pandu Lazuardy | Produser: Sarie Febriane | Desainer & Pengembang: Ria Chandra, Rino Dwi Cahyo, Frans Yakobus Suryapradipta, Yosef Yudha Wijaya, Deny Ramanda

Suka dengan tulisan yang Anda baca?

Nikmati tulisan lainnya dalam rubrik Tutur Visual di bawah ini.