Batik Merah Jambi Sang Penggoda

Temuan kain-kain batik berwarna merah di tepian Sungai Batanghari telah menggoda perhatian para bangsawan kolonial. Mereka terpincut akan keindahan setiap detailnya. Kelak terungkap, motif dan warnanya menyiratkan akulturasi budaya.

Pada awal abad ke-20, saat singgah di sebuah kampung di seberang Sungai Batanghari dan mendapati kain-kain nan indah, sejumlah peneliti pun bertanya-tanya. Dari mana datangnya batik yang didominasi paduan warna merah itu?

Merah tua dan muda berpadu anggun di atas dasaran hitam, terkadang dasaran biru tua dan cokelat. Motif dan ragam hiasnya tampak detail mengisi sutra nan lembut. Penelusuran pun mulai dilakukan.

kompas/totok wijayanto
Kain-kain batik Jambi berbagai motif yang didominasi warna merah saat dipakai para tamu dalam sebuah acara di Balai Sidang, Senayan, Jakarta, Rabu (15/6/2016).

Dalam catatan khusus Djambi, J Tideman dan FL Sigar menuliskan, di antara batik-batik bercorak kuning kecokelatan dengan urat-urat cokelat muda, dan corak keemasan di atas latar biru tua hampir hitam, tampaklah batik-batik berwarna merah yang sangat menarik perhatian. Meliputi batik sarung, selendang, hingga penutup kepala. Ada pula kerajinan benang emas dan tenun ikat. Semuanya begitu mengundang perhatian dan kekaguman.

”Di Kampoeng Tengah, di tepi kiri Batanghari ada 20-an perempuan membatik,” demikian catatan Tideman dalam dokumen kolonial Koninklijke Vereeniging Koloniaal Instituut Amsterdam Mededeeling No.XLII Tahun 1938.

Kampoeng Tengah yang disebut itu hingga kini dikenal sebagai Kampung Tengah dan sentra kerajinan batik Kota Jambi. Kawasannya sendiri lebih dikenal dengan nama Seberang Kota Jambi (Sekoja).

Wisatawan yang hendak singgah cukup menyeberang Sungai Batanghari menggunakan jasa perahu (ketek). Setibanya di seberang tampaklah rumah-rumah panggung kuno dengan arsitektur akulturasi Melayu, Tionghoa, dan Arab. Di dalam rumah-rumah tua itulah usaha batik berdenyut.

Berdasarkan buku Motif Batik Jambi yang ditulis sejumlah budayawan (2012), batik Jambi yang pertama kali dikenal pada abad ke-17 merupakan kain khusus yang dipakai keluarga Sultan Jambi. Warna merah telah menjadi identitas batik Jambi kala itu, seperti disebut dalam mingguan kolonial Timur dan Barat Nomor 52 Tahun 1929 dan Nomor 2 Tahun 1930.

Tideman menelusuri datangnya warna merah. ”Kami mempertimbangkan kemungkinan asal mula batik (berwarna merah) dari Kampoeng Tengah itu sendiri dikecualikan”. Maksudnya, mereka menduga kain-kain itu memang telah ada sebelumnya. Bisa jadi karena maraknya perdagangan internasional yang melintasi Jambi kala itu. Pedagang asal India kerap singgah membawa bahan tekstil dan beras.

Selain warna merah, motif patola banyak dibuat pembatik Jambi masa itu, seperti disebutkan Benny Gratha dalam bukunya Pengaruh Islam pada Batik. Orang Jambi menyebutnya pantola, wastra impor dari India yang menjadi sumber inspirasi ragam hias pada kain panjang. Motifnya berupa kisi-kisi yang diisi bunga bersudut delapan di bagian dalamnya dengan bentuk menyerupai bunga keranjang atau chhabdi bhat.

Chhabdi bhat merupakan salah satu ragam hias tradisional patola berupa bunga lotus delapan kelopak dengan kuncup dan bunga-bunga yang memancar keluar serta daun-daun melengkung yang melingkari desain tersebut.

Kain-kain dengan motif dan corak tersebut banyak dimiliki para perajin di Sekoja secara turun-temurun. ”Ini warisan dari nenek kepada ibu, lalu kepada saya,” ujar Siti Hajir (48), generasi ketiga pembatik di kawasan Sekoja, Rabu (11/11/2020).

kompas/irma tambunan
Siti Hajir, pelestari usaha batik di Kelurahan Jelmu, Kota Jambi, Rabu (4/11/2020).

Ia kemudian menunjukkan dua helai kain batik yang berusia lebih dari 100 tahun. Warna-warnanya masih awet. Kainnya pun terasa lembut saat disentuh. Pada hamparan salah satu kain, tampak bertebaran bunga-bunga delapan kelopak.

Siti Hajir bercerita, dirinya dan anak-anak pembatik lainnya sudah belajar menorehkan lilin pada kain panjang sejak kecil. ”Saya sudah membantu ibu membatik pada usia tujuh tahun,” ujarnya.

Mengenai warna merah pada batik Jambi, Azmiah (55), pemilik usaha Kreasi Batik Asmah, menyebutkan, hal itu didasari pengaruh akulturasi yang begitu kuat di kawasan Sekoja. Akulturasi itu tidak hanya tecermin pada motif dan warna kain batik, tetapi juga pada arsitektur rumah.

Sekoja sejak dulu dihuni oleh etnis Melayu dan pendatang asal Timur Tengah. Pada akhir abad ke-19, masuk pula etnis Tionghoa. Mereka memilih tinggal di Seberang demi alasan keamanan karena di Kota Jambi terjadi pertempuran hebat dengan penjajah kolonial.

arsip kitlv
Suasana kampung Olak Kemang di tepi Sungai Batanghari, pada tahun 1920. Kampung ini merupakan salah satu kampung batik di Jambi.

Orang-orang pasar, begitu orang Melayu menyebut kelompok etnis Tionghoa di Kampung Sungai Asam, kemudian bermigrasi ke seberang Sungai Batanghari yang pada waktu itu masih berupa hutan. Mereka membentuk hunian baru pecinan yang tersebar dari Kampung Ulu Gedong, Kampung Tengah, Kampung Jelmu, hingga Kampung Mundung Laut.

Orang-orang Melayu menempati Kampung Olak Kemang, Kampung Tahtul Yaman, hingga Kampung Tanjung Johor. Sejumlah pendatang Arab yang hendak menyiarkan agama, masuk ke Kampung Arab Melayu.

Kain-kain yang awalnya terinspirasi oleh motif dan warna cerah dari India, bisa jadi kemudian mendapat tambahan pengaruh dari budaya Tionghoa yang akrab dengan warna merah. Tidak hanya itu, Azmiah pun mendapati ada pula motif tulisan Arab pada sejumlah kain batik. ”Batik Jambi akhirnya menjadi potret akulturasi budaya,” kata Azmiah.

kompas/irma tambunan
Batik Jambi menampakkan pengaruh dari berbagai budaya, seperti India, Timur Tengah, dan China.

Membentuk identitas

BM Goslings menyebutkan, warna merah telah membentuk identitas batik Jambi. Rasa ketertarikan yang besar kemudian mendorongnya menelusuri keistimewaan Batik Jambi. Ia lalu mengulasnya panjang lebar hingga 11 halaman dalam majalah Nederlandsch-Indie Oud & Nieuw tahun 1931.

Goslings bercerita, seorang bangsawan bernama HIC Petri memiliki 15 helai kain batik yang sangat indah yang dibelinya dari Kampoeng Tengah yang terletak di seberang Sungai Batanghari, Jambi.

”Batik-batik ini, dengan pola yang sangat luar biasa, sebagian besar berwarna merah, tampak kontras dari latarnya yang berwarna hitam kelam. Ada lagi selendang yang indah, tampak dikerjakan dengan rumit dan halus, juga didominasi merah pada hitam dan dengan sedikit biru.”

cd veth/arsip kitlv
Sungai Batanghari dengan rumah-rumah di tepiannya pada tahun 1877-1879.

Warna merah pada kain itu disebut kudu-jirek. Disebut begitu karena warna merahnya diperoleh dari rebusan akar mengkudu (Morinda umbellata) dan kulit kayu jirek (Symplocos fasciculata) yang berfungsi sebagai fiksatif (zat pengawet atau penstabil).

Pewarna tersebut tidak cukup digunakan dengan cara biasa, yakni sebagai larutan pencelup karena tidak akan menempel di kapas, melainkan harus digosokkan ke kapas dengan tangan. Goslings memperkirakan nama kudu-jirek yang dimaksud adalah mengkudu yang memang digunakan untuk pewarnaan benang tenun.

Sementara penerapan warna merah dan biru ke hitam pada batik juga melibatkan lebih banyak usaha, perawatan, dan waktu. Untuk pewarnaan merah membutuhkan perawatan berhari-hari dibandingkan dengan pengolahan sederhana kain masa kini.

Dalam tulisannya, ia menyebutkan batik-batik Jambi yang berwarna merah telah hidup sejak 50 tahun sebelumnya. Bahkan, mungkin jauh lebih lama lagi. Batik merah telah lama dikenakan para sultan di Jambi sehingga tidak heran batik disebut-sebut sebagai barang mewah.

Kolonial Institut Valkenkunde Nomor 556 Tahun 1923 menyebutkan, selain batik, Jambi juga telah mengenal benang emas dan tenun ikat. Salah satu kain yang dimiliki bangsawan setempat bermotif bunga mekar yang tampak seperti bintang bertaburan dengan warna biru muda dan putih dalam petak bersulam emas.

Orientalis asal Dublin, William Marsden, penulis buku The History of Sumatera (1783) mendata cukup banyak bahan pewarna alam menyebar di Sumatera bagian tengah. Beberapa di antaranya bahkan belum diketahui manfaatnya oleh para ahli botani.

Salah satunya mengkudu yang menjadi sumber warna merah. Bagian yang dimanfaatkan adalah kulit luar akar yang kemudian dikeringkan, ditumbuk, dan direbus dalam air. Ada lagi kayu secang (Caesalpinia sappan) atau sapang. Kulit kayu secang direndam kemudian direbus. Untuk menyempurnakan pewarnaan, dapat digunakan tawas saat perebusan.

Kayu merah digunakan untuk memberi warna coklat. Kesumba (Carthamus tinctorius) untuk pewarnaan kuning kunyit. Akar pohon campada atau cempedak (Artocarpus integrifolia) untuk menghasilkan kuning dengan cara akar dipotong kecil-kecil dan direbus.

Nila (Indigofera tinctoria) sebagai bahan pokok pewarnaan biru. Batang dan rantingnya direndam selama beberapa hari lalu direbus dan dicampurkan dengan sedikit cunam (bubuk kapur dari cangkang kerang) dan daun paku sabah (sejenis pakis) untuk menyempurnakan warnanya. Bahan dikeringkan dan siap digunakan dalam bentuk cair.

Tarum akar, yang merupakan ciri khas wilayah ini, sama sekali belum diketahui ahli botani sewaktu Marsden menunjukkan daunnya ke Inggris awal tahun 1780. Tanaman ini merambat. Panjang daunnya tidak sampai lima inci, tipis, berwarna hijau tua, dan ketika mengering akan berubah menjadi kebiruan. Warna itulah yang dimanfaatkan sebagai pewarna.

Seingat Siti Hajir, pewarnaan yang dilakukan oleh mendiang ibu dan neneknya dapat memakan waktu yang panjang untuk menghasilkan selembar batik. Bisa satu bulan lamanya.

”Untuk satu warna merah saja, bisa memakan satu minggu, lalu membubuhkan warna biru memakan waktu lagi satu minggu. Begitu pula untuk penambahan warna lainnya,” jelasnya.

Caranya, bahan pewarna alam direbus hingga airnya mengental. Setelah itu, pada saat suhu air suam kuku, kain direndam seharian. Malamnya dijemur. Keesokan paginya direndam kembali dan malamnya dijemur kembali. Begitu seterusnya selama lima atau enam hari, jadilah warna merah yang anggun.

”Coba bedakan hasilnya. Warna merahnya tidak memudar hingga kini. Padahal, sudah berusia ratusan tahun,” sebutnya.

Selain mengkudu, ia pun menyebut jernang sebagai pewarna merah. Namun, saat ini bahan tersebut makin sulit didapatkan.

Ia pun masih mempertahankan bahan pewarna alam seperti rebusan jengkol dan serbuk kayu bulian untuk menghasilkan warna coklat muda dan coklat pada kain batiknya. Untuk warna krem, digunakan rebusan daun jambu dan warna kuning dari rebusan nangka.

Menurut Siti Hajir, meskipun membutuhkan proses lebih panjang, harga kain batik dengan pewarna alam jauh lebih tinggi. Selain limbahnya ramah lingkungan, bahan alam itu memberi kesan lebih elegan dan mahal pada batik. ”Selisihnya bisa Rp 100.000 hingga Rp 200.000 dibandingkan batik dengan pewarna kimia,” kata Siti.

Antoni Budiman (44) dan istrinya, Rohani (44), pemilik usaha batik Al-Fath, juga masih menyimpan puluhan lembar batik lawas warisan orangtua mereka. Motif dan warnanya, meskipun tak serupa, sama istimewanya. Hingga kini, ketika produksi batik massal kian berkembang, para perajin batik tradisi di Jambi masih bertahan mempertahankan keaslian.

kompas/irma tambunan
Antoni Budiman dan Rohani, pemilik usaha kreasi batik Jambi “Al-Fath” di Kelurahan Tanjung Pinang, Kecamatan Jambi Timur, Kota Jambi, Jumat (2/6/2017).

Dalam hal pewarnaan, ia memanfaatkan rebusan serbuk kayu bulian, kayu nangka, kayu sepang, kulit kayu manis, dan nila. Sesekali Antoni menyambangi Museum Negeri Jambi dan desa-desa pedalaman untuk menginventarisasi batik motif lawas.

Hasil inventarisasinya diterapkan untuk produksi batik Al-Fath, seperti motif tampuk manggis, durian pecah, daun keladi, angso duo, batanghari, dan kapal sanggat. Motif-motif itu terus bereformasi dan berbaur dengan motif lainnya demi terciptanya ragam hias.

Sementara Azmiah mengingat, untuk mendapatkan tanaman penghasil warna merah ala jambi, yakni dari bahan jernang dan kayu secang, ia kerap diajak keluar masuk hutan oleh ibunya, almarhumah Asmah.

Semasa Azmiah kecil, di sekitar rumah tinggalnya di kawasan Seberang masih dikelilingi rimba. Sangat mudah mendapatkan tanaman yang dibutuhkan untuk sumber pewarnaan. Sebut saja kayu bulian, kulit lempato, kulit kayu marelang, getah kayu tunjung, atau kayu jelawe. Belakangan ini, untuk mendapatkan sumber-sumber pewarna alam tersebut sulit sekali, harus ke hutan yang jauh di pedalaman.

kompas/totok wijayanto
Azmiah membatik di bengkel kerjanya di Jambi, Rabu (8/6/2016).

Bangkit kembali

Seiring kekalahan Sultan Jambi pada awal abad ke-20 Masehi, redup pula batik. Kerajinan itu lambat laun hanya tinggal nama. Resep membuat pewarna merah pun terkubur bersama ahlinya.

Setelah lama meredup, batik Jambi dihidupkan kembali pada 1980-an. Para istri gubernur pada era itu, yakni Sri Soedewi Maschun Sofwan dan Lily Abdurrahman Sayoeti, mendatangkan perajin batik dari Yogyakarta dan melatih kaum perempuan di kawasan Seberang.

Butuh perjuangan untuk mengumpulkan semua kekayaan warna alam batik Jambi. Hampir satu abad tradisi kerajinan tangan itu tenggelam bersama kekalahan Sultan Jambi. Meski sekarang batik kembali populer di Jambi, tradisi pewarnaannya tak lagi sama. Pewarnaan yang bertumpu pada ragam tanaman lokal kini nyaris punah.

 

Tradisi membatik memang hidup kembali, lengkap dengan kekhasan motif, seperti angso duo, tampuk manggis, kapal sanggat, kuau berhias, batanghari, antelas (tanaman), awan berarak, candi muaro jambi, pucuk rebung, dan riang-riang. Beragam pelatihan dan program pemberdayaan berhasil menghidupkan kembali tradisi itu.

Namun, hampir semua perajin muda telah benar-benar beradaptasi dengan pewarnaan kimia. Tinggal segelintir perajin yang mencoba bertahan dengan tradisi yang diwarisinya. Butuh perhatian, upaya, dan tekad kuat untuk mengembalikan tradisi pewarnaan alam itu untuk melengkapi kembalinya tradisi batik (merah) Jambi.

START: PAYWALL
END: PAYWALL

Kerabat Kerja

Penulis: Irma Tambunan | Fotografer: Irma Tambunan, Totok Wijayanto, Nasrul Thaha | Videografer: Irma Tambunan | Olah foto: Arjendro Darpito | Infografik dan foto 360: Pandu Lazuardi P | Ilustrasi kover: Cahyo Heryunanto | Video editor: Antonius Sunardi | Penyelaras bahasa: Wiwien Mindrasari | Produser: Sri Rejeki | Desainer & Pengembang: Ria Chandra, Rino Dwi Cahyo, Frans Yakobus Suryapradipta, Yosef Yudha Wijaya, Deny Ramanda

Suka dengan tulisan yang Anda baca?

Nikmati tulisan lainnya dalam rubrik Tutur Visual di bawah ini.