Sejarah Panjang Candi Borobudur yang Tersakiti

Candi Borobudur sudah "tersakiti" sejak pertama kali ditemukan kembali dan dipugar. Sampai saat ini, Candi Borobudur terus "tersakiti" oleh bom, permen karet, gesekan kaki jutaan turis, sampai perilaku turis yang memanjat ke stupa.

Dibangun dan dikenal sebagai mahakarya bangsa dari Wangsa Syailendra, Candi Borobudur di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, tidak melulu melalui masa dipuja dan dikagumi. Persentuhannya dengan manusia, sejak sebelum tahun 1900 hingga sekarang, telah membuat candi ini melalui sejarah panjang ”tersakiti” karena beragam aksi perusakan dalam beragam variasi.

Berdasarkan pada banyak buku referensi, termasuk di dalamnya buku Trilogi I 100 Tahun Pascapemugaran Candi Borobudur, Menyelamatkan Kembali Candi Borobudur dari Balai Konservasi Borobudur, pada tahun 1814 keberadaan Candi Borobudur baru diketahui oleh Letnan Gubernur Jenderal Sir Thomas Stamford Raffles. Ini diketahuinya dari laporan seseorang yang didapatkannya dalam perjalanan dinasnya ke Semarang. Candi itu diketahui berada di Bumisegoro, Kabupaten Magelang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Pelajar membersihkan Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, dalam kegiatan peringatan Hari Purbakala, Jumat (14/6/2019). Peringatan Hari Purbakala digelar setiap untuk mengenang cikal bakal Dinas Purbakala yang awalnya didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda dengan Oudheidkundig Dienst pada 14 Juni 1913. Kegiatan tersebut juga dilaksanakan untuk meningkatkan kepedulian generasi muda dalam merawat warisan budaya.

Raffles yang memiliki minat besar pada peninggalan kuno masa lalu menunjuk Cornelius, perwira Belanda yang berpengalaman dalam peninggalan kuno di Jawa, untuk membersihkan, memunculkan kembali Candi Borobudur yang ketika itu menyerupai sebuah bukit yang tertutup semak belukar dan pohon-pohon. Sekalipun berhasil memperlihatkan candi, kegiatan pembersihan tersebut menjadi awal gangguan terhadap Candi Borobudur. Ketika itu, banyak warga mulai berani mengambil batu candi dan memanfaatkannya sebagai bahan bangunan rumah mereka.

Pembersihan dan pembenahan kemudian dilanjutkan oleh Residen Kedu Hartmann sampai dengan tahun 1835. Di era Hartmann itulah pemerintah Hindia Belanda melakukan promosi dan publikasi sehingga nama Candi Borobudur mulai terangkat di mata dunia. Banyak orang, dari berbagai kalangan, mulai melihat dan menilai candi tersebut. Bahkan, di tahun 1882, muncul usulan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk merobohkan Candi Borobudur dan menyimpan kepingan batu dengan relief di museum. Namun, usulan itu ditolak.

ARSIP BALAI KONSERVASI BOROBUDUR
Saat pertama ditemukan, puncak stupa utama Candi Borobudur, pernah dimanfaatkan sebagai kafe, atau kedai tempat minum kopi oleh warga Belanda.

Dibukanya Candi Borobudur kepada khalayak ramai secara otomatis juga makin membuka akses bagi siapa saja untuk merusak candi. Pada masa itu dilakukan observasi dan dokumentasi yang dilakukan sembarangan, dengan meninggalkan kaidah arkeologi. Stupa induk pernah dibongkar paksa hanya demi alasan untuk mengetahui benda penting apa yang ada di dalamnya.

Perilaku seenaknya juga terus berlangsung. Bahkan, di puncak stupa induk pernah dibangun selter, yang kemudian menjadi gardu pandang sekaligus tempat nongkrong untuk minum kopi.

Tidak hanya perilaku manusia, kerusakan bangunan juga dipicu oleh faktor lingkungan, yaitu air dan sinar matahari. Dua hal inilah yang memicu pertumbuhan organisme yang makin mempercepat pelapukan batuan.

Kompas/Pat Hendratno
Candi Borobudur tertimpa musibah lagi. Minggu sore (3/2/1985) stupa induk bangunan kuno dari abad ke IX itu rusak disambar petir. Dua pekan sebelumnya sembilan stupa dan dua arca Buddha rontok kena ledakan bom.

Melihat kerusakan yang demikian parah, pemerintah Hindia Belanda pun akhirnya memutuskan untuk melakukan pemugaran. Pemugaran I yang berlangsung 1907-1911 ini dipimpin oleh Theodore van Erp.

Dukut Santoso, Kepala Balai Konservasi Peninggalan Borobudur tahun 1999-2006, dalam tulisannya di buku Trilogi I 100 Tahun Pascapemugaran Candi Borobudur menuturkan, pascapemugaran I, candi ini semakin ramai dikunjungi wisatawan. Ketika itu candi sudah tampak berdiri lengkap, dengan bagian puncak stupa induk telah dilengkapi chattra, ornamen tertinggi pada candi Buddha. Pemasangan chattra dimaksud untuk menambah keindahan saat candi ini difoto.

Kompas/ Julius Pourwanto
Candi Borobudur minta perhatian lagi setelah empat tahun selesai renovasi, diperindah dengan taman bunga dan penangkal petir dipucuknya, 20 Februari 1987. Namun, jumlah pengunjung di bawah target membuat ketersediaan dana perawatan menjadi mengkhawatirkan.

Namun, pemugaran ini belum sempurna. Banyak bagian terpantau masih dalam kondisi miring dan sebagian melesak. Sebanyak 24 gapura mendesak untuk diperbaiki, dan bagian pagar langkan yang belum terpasang sempurna. Oleh karena itulah Pemerintah Indonesia kemudian memutuskan dilaksanakannya pemugaran kedua, yang berlangsung selama 10 tahun, yakni pada 1973 hingga 1983. Hal ini semakin mempercantik dan memperkokoh bangunan candi.

Bom dan pengunjung

”Gangguan” terhadap Candi Borobudur pun tidak berlalu dan tidak terlekang waktu. Tanggal 21 Januari 1985, hanya berselang sekitar dua tahun setelah pemugaran II, ”gangguan” terdahsyat pun terjadi, Candi Borobudur dibom.

Sekalipun belum ditetapkan warisan budaya dunia, kejadian tersebut tentu saja mengguncang masyarakat luas.

Kompas/Julius Pourwanto
Menteri Pendidikan Muangthai Chuan Leek Pai dan Putri Subradradis Diskul, Dekan Fakultas Arkeologi Universitas Silperkron, Bangkok, didampingi Prof Dr Soekmono, hari Jumat, 25 Januari 1985 meninjau kondisi Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah, setelah terjadi ledakan pada hari Senin, 21 Januari 1985 dini hari. Ledakan bom mengakibatkan beberapa arca dan stupa rusak. Tampak Menteri Pendidikan Muangthai bersama rombongan mengamati patung Budha yang remuk terkena bom waktu.

 

”Saya tidak tahu harus omong apa lagi. Kita semua harus malu peristiwa ini bisa terjadi,” ujar Soekmono, arkeologi sekaligus pimpinan proyek pemugaran II Candi Borobudur (Kompas, 1985).

Aksi teror bom itu terjadi di lantai 8-10 Candi Borobudur. Sebanyak 13 bom telah diletakkan oleh pelaku teror, sembilan di antaranya meledak dan empat di antaranya tidak. Berdasarkan data dari Balai Konservasi Borobudur (BKB), ledakan yang demikian eksplosif tersebut merusak sembilan stupa, yakni bentuk kerusakan tersebut terdiri dari 631 balok batu stupa runtuh, 243 balok batu pecah, dan 155 balok gempil. Enam balok batu di antaranya bahkan terdata hancur.

Kompas/Djoko Poernomo
Hanya sehari setelah ledakan bom waktu merusakkan sembilan stupa dan beberapa patung di Candi Borobudur (Jawa Tengah) para petugas purbakala langsung berusaha memperbaiki, 22 Januari 1985. Sesudah diteliti lebih cermat,kerusakan akibat ledakan di Borobudur bisa ditangani lebih singkat dari dugaan semula.

Ledakan juga merusak sembilan arca Buddha dengan rata-rata kerusakan terjadi pada bagian kaki, tangan, dan perut. Kerusakan terparah terjadi pada arca Buddha di teras tingkat III di lantai 10. Arca tersebut pecah hingga 67 bagian dan ada bagian-bagian yang hancur serta hilang, tidak ditemukan.

Dua pelaku peledakan berhasil dibekuk dan dijatuhi hukuman, tetapi seorang lagi, yang diduga sebagai dalang peledakan, hingga saat ini belum terungkap dan tertangkap.

Segala kerusakan akibat bom bisa diperbaiki dalam jangka waktu empat bulan. Aksi peledakan yang dipicu oleh teroris dengan pemahaman radikal hanya terjadi satu hari, tetapi perusakan dalam berbagai bentuk dengan berbagai alasannya terus terjadi hingga kini.

Kompas/Priyombodo
Seorang turis asing berusaha mengambil gambar stupa patung Buddha di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Rabu (22/7/2009). Perilaku turis yang memanjat  batu candi sering berdampak pada kerusakan bagian Candi Borobudur.

Salah seorang teknisi konservasi dari BKB, Basuki, mengatakan, perilaku pengunjung juga sering membahayakan keutuhan candi.

Seorang pengunjung, misalnya, pernah menaiki pagar langkan dan menyebabkan satu batu antefik yang memiliki berat sekitar 30 kilogram dan terpasang pada ketinggian 1,5 meter dari lantai jatuh.

”Waktu itu terdengar suara berdebam keras, dan ketika saya pergi untuk melihat, batu tersebut sudah jatuh dan ada bagian yang pecah berserak di lantai,” ujarnya. Saat kejadian, Basuki sedang bertugas berkeliling di bangunan candi.

Kompas/Priyombodo
Seorang anak warga negara asing yang berkunjung ke Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, bersama orang tuanya berpose untuk difoto di dekat salah satu stupa, Rabu (22/7/2009). Kebiasaan turis memanjat stupa berkontribusi terhadap kerusakan Candi Borobudur.

Lain waktu, seorang pengunjung juga pernah ada yang naik ke atas stupa. Ingin bergaya saat difoto sambil menyentuh bagian atas stupa, dia justru menyenggol dan membuat bagian puncak stupa jatuh.

Seorang pengunjung lain juga pernah mencoba difoto di atas pagar langkan. Dalam upaya menaiki pagar tersebut, batu yang dinaiki di bagian bawahnya akhirnya pecah. Dalam pengamatan di lapangan, Januari lalu, garis retakan masih terlihat jelas pada batuan yang pecah tersebut.

Kepala salah seorang pengunjung yang masih balita terjepit dalam lubang stupa yang berukuran 30 x 30 sentimeter. Demi keselamatan pengunjung, akhirnya petugas BKB terpaksa ikut ”merusak”, mengikis batuan, agar kepala anak balita tersebut bisa dikeluarkan.

Dokumentasi Balai Konservasi Borobudur
Bekas coretan dengan menggunakan cat semprot turut merusak dan mengotori badan Candi Borobudur.

Candi Borobudur juga terancam oleh aksi vandalisme yang dilakukan pengunjung dengan mencoret-coret batuan menggunakan cat semprot.

Tidak hanya dalam hal perusakan batuan, pengunjung, dengan segala perilakunya, juga berkontribusi pada persoalan sampah di kawasan Candi Borobudur. Masalah sampah termasuk perilaku pengunjung yang tak terkendali saat membuangnya. Hal ini sangat terasa saat musim liburan, seperti saat libur Lebaran dan liburan anak sekolah.

Dari hasil wawancara dan peliputan Kompas, Juli 2010, perilaku pengunjung sungguh luar biasa jorok. Botol-botol plastik minuman berserakan di lorong, atau diletakkan begitu saja, ”bersanding” dengan arca Sang Buddha, dan banyak puntung rokok diselipkan di batuan candi.

Dokumentasi Balai Konservasi Borobudur
Seorang petugas kebersihan Candi Borobudur mengambil bekas permen karet dari badan candi. Kebiasaan buruk pengunjung dalam membuang sampah turut merusak badan candi.

Kepala Seksi Konservasi BKB Yudi Suhartono mengatakan, pengunjung memang memiliki kecenderungan membuang sampah apa saja seenaknya saat berjalan-jalan di sepanjang lorong candi.

”Ada pengunjung yang seenaknya membuang biji jambu. Kami pernah menemukannya di sela-sela batuan candi, dan ketika itu biji tersebut sudah mulai tumbuh,” ujarnya.

Rohmat (37), petugas kebersihan di Candi Borobudur, mengatakan, musim liburan memang selalu identik dengan musim ”panen” sampah. Selama menjalankan tugas shift siang, mulai pukul 12.00-17.00, jika pada hari biasa hanya terkumpul satu gerobak sampah, pada saat sekarang dia bisa mengumpulkan hingga empat gerobak sampah. Satu gerobak berkapasitas 0,49 meter kubik.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Rombongan wisatawan asing asal China mengunjungi Candi Borobudur di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Jumat (31/1/2020). Banyaknya wisatawan yang mengunjungi Candi Borobudur juga berdampak pada banyaknya sampah di sekitar candi

”Sampah yang cukup banyak saya temukan, baik di tempat sampah maupun yang tercecer dibuang sembarangan, adalah kantong plastik, puntung rokok, botol minuman, dan popok bayi,” ujarnya.

General Manager Taman Wisata Candi Borobudur I Gusti Putu Ngurah Sedana mengatakan, pihaknya selalu melakukan pemeriksaan terhadap barang bawaan pengunjung. Makanan adalah barang yang tidak diizinkan dibawa, dan barang lain yang tidak diperlukan, seperti cat semprot, dipastikan akan disita oleh petugas. Namun, pemeriksaan dan penyitaan barang tidak bisa dilakukan optimal karena makanan, seperti permen karet, seringkali sudah ada dalam mulut pengunjung.

”Kami juga tidak bisa menyita barang-barang ketika barang-barang tersebut berukuran kecil dan hanya disimpan pengunjung di saku baju atau celananya,” ujarnya.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Umat Budha aliran Mahayana yg tergabung dalam majelis Mahayana Buddhis Indonesia melakukan namaskara mengelilingi Candi Mendut, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Rabu (15/5/2019). Ibadah itu merupakan bagian dari rangkaian menyambut Hari Waisak 2563 BE. Umat Buddha sering memberi contoh perilaku yang tepat di Candi Borobudur dan tidak menambah kerusakan candi.

Lingkungan dirusak

Candi Borobudur adalah candi Buddha yang dibangun di kawasan perbukitan. Mengacu dari hasil penelitian, kondisi lingkungan geografis candi ini saat dibangun adalah berupa lingkungan danau dengan beberapa aliran sungai bermuara di dalamnya (Penggarus Aktivitas Gunungapi Kuarter terhadap Perubahan Lingkungan Danau di Daerah Borobudur dan sekitarnya, H Murwanto, 1996).

Hipotesis tentang terdapatnya lingkungan danau pertama kali dikemukakan oleh seorang arsitek seniman Belanda, WOJ Nieuwenkamp, dalam Algemeens handelblad, koran berpengaruh di Belanda yang terbit pada tahun 1828-1970. Dalam tulisannya berjudul Het Borobudur Meer disebutkan bahwa Candi Borobudur merupakan perwujudan ceplok bunga teratai yang mengapung di tengah-tengah telaga. Hipotesis ini juga didukung oleh sejumlah ahli geologi, antara lain Van Bemmelen. Dalam bukunya, De geologiche Geschiedenis van Indonesie, terbitan tahun 1952, Van Bemmelen menyebutkan bahwa di daerah Kedu Selatan dulu pernah terbentuk danau yang sangat luas, yang pembentukannya dipicu oleh letusan Merapi yang sangat kuat di tahun 1006 Masehi.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Wisatawan menggunakan gawai untuk merekam pemandangan lanskap Candi Borobudur yang diterangi cahaya matahari pertama pada tahun 2020 di obyek wisata Punthuk Setumbu, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Rabu (1/1/2020). Kawasan Candi Borobudur terletak di lembah dan dikelilingi pegunungan dan perbukitan dan di sekeliling candi diduga adalah danau.

Jejak, bekas kawasan danau tersebut adalah bagian dari sejarah Candi Borobudur. Namun, di masa kini, jejak itu nyaris tak terlihat lagi.

Peneliti danau purba dari BKB, Yenny Supandi, mengatakan, sebanyak 98 bangunan baru saat ini berdiri di atas lokasi bekas danau purba Borobudur. Bangunan-bangunan baru tersebut terpantau berdiri selama rentang waktu 2014-2019. Lebih dari 50 persen dari 98 bangunan tersebut adalah bangunan komersial, seperti hotel/penginapan, restoran, homestay, dan termasuk pula di dalamnya ada bangunan balai ekonomi desa (balkondes), bentukan dari salah satu badan usaha milik negara. Luas lahan yang dipakai sebagai lokasi pembangunan 98 bangunan baru tersebut terdata mencapai 17,64 hektar.

Berdirinya bangunan-bangunan tersebut, menurut Yenny, secara otomatis menutup gambaran dari konsep kosmologi yang diterapkan pada struktur bangunan dan penentuan lanskap atau lokasi berdirinya Candi Borobudur.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Jembatan di atas Sungai Elo yang merupakan bagian dari rute lari Borobudur Marathon 2019 powered by Bank Jateng, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Kamis (14/11/2019). Banyak sungai besar di sekeliling Candi Borobudur, sehingga mendukung konsep kosmologi Buddhis yang mengibaratkan candi tersebut sebagai Meru atau gunung penghubung antara surga dan dunia.

Mengacu pada konsep kosmologi Buddhis, Candi Borobudur diibaratkan sebagai Meru atau gunung yang menjadi penghubung antara surga dan dunia. Gunung ini berdiri di lokasi yang dikelilingi oleh gunung-gunung, laut, dan sungai-sungai besar.

Dengan pertimbangan itulah Candi Borobudur dibangun di lokasinya saat ini, dengan posisi dikelilingi bukit, gunung, dan pegunungan, yaitu Gunung Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, Sindoro, Tidar, dan Pegunungan Menoreh. Di kawasan tersebut juga mengalir air dari sungai-sungai besar, seperti Sungai Elo, Progo, Sileng, dan danau purba Borobudur.

Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 58 Tahun 2014 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Borobudur dan Sekitarnya, kawasan danau purba tersebut sebenarnya termasuk dalam kawasan yang dilindungi, yakni pemanfaatan lahannya diatur dan tidak boleh ada bangunan berdiri di atasnya. Selain itu, kawasan danau purba juga dianggap penting dijaga karena menjadi komponen penting dalam sejarah pembangunan Candi Borobudur, sebagai situs peninggalan agama Buddha dan warisan budaya dunia.

Kompas/Regina Rukmorini
Seorang wisatawan berfoto di depan gerbang, saat penutupan zona I Candi Borobudur, Senin (16/3/2020). Candi Borobudur ditutup untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Penutupan wisata   

Aturan ataupun teori tentang perlindungan cagar budaya memang sebatas hanya menjadi tulisan. Dengan begitu, banyaknya rencana pembangunan dari pemerintah dan penetapan Candi Borobudur sebagai destinasi wisata super prioritas membuat aksi ”perusakan” pada batuan dan lingkungan menjadi hal yang tak terelakkan terjadi pada kawasan candi.

Kepala BKB Tri Hartono mengatakan, perilaku pengunjung yang sulit dikendalikan memang menjadi ”ancaman” tersendiri bagi kelestarian batu candi.

KOMPAS/REGINA RUKMORIN
Pijakan kaki dari ribuan pengunjung yang datang setiap hari ke Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, memicu terjadinya keausan batuan. Untuk meminimalisir dampak kerusakan dan keausan batuan candi, dalam waktu dekat, batu di bagian tangga akan dilapisi kayu.

”Padahal, kita bertanggung jawab untuk menjaga Candi Borobudur ini bisa tetap tegak berdiri setidaknya seribu tahun lagi,” ujarnya.

Mempertimbangkan hal itu, Tri mengatakan, pihaknya sempat melakukan pembatasan pengunjung dengan melarang wisatawan naik ke lantai 8-10. BKB pun juga mengusulkan kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menutup bangunan Candi Borobudur bagi kunjungan wisatawan pada 18 April mendatang. Hari itu dimaksudkan sebagai hari libur untuk candi.

Namun, mendadak, Candi Borobudur bisa mendapatkan hari libur lebih panjang dari rencana. Wabah coronavirus disease 2019 (Covid-19) yang melanda seluruh dunia memaksa semua orang, semua obyek, termasuk candi, harus mengambil jeda dari keriuhan aktivitas rutin.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Juru rawat membersihkan kerak lumut di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Kamis (13/2/2020). Mulai hari itu kunjungan wisatawan Candi Borobudur dibatasi hanya boleh sampai lantai delapan dan tidak boleh mencapai lantai sembilan dan sepuluh. Pembatasan dilakukan hingga waktu yang belum ditentukan untuk mengurangi dampak kerusakan candi itu akibat kunjungan wisatawan yang pernah mencapai angka empat juta wisatawan dalam setahun.

Penutupan Candi Borobudur yang sudah dilakukan sejak 16 Maret dan terus diperpanjang hingga batas waktu yang tidak ditentukan memberikan waktu panjang untuk beragam upaya perbaikan, menyembuhkan berbagai kerusakan dan kotoran yang melekat di bangunan candi.

Berdasarkan hasil penelitian yang terangkum dalam tulisan dalam buku 100 Tahun Pascapemugaran Candi Borobudur Trilogi I Menyelamatkan Candi Borobudur, keutuhan dan kelestarian bangunan Candi Borobudur justru lebih terjaga saat candi ini masih tertutup gundukan tanah dan semak. Di sisi lain, bahaya kerusakan batuan pun bisa dikurangi ketika candi ini ditutup dan tidak dikunjungi di tengah wabah Covid-19.

Lalu bagaimana solusi untuk menjaga Candi Borobudur di masa sekarang? Mudah-mudahan tidak dengan kembali ke gundukan tanah, atau menunggu wabah penyakit melanda lagi. Semoga.

 

START: PAYWALL
END: PAYWALL

Kerabat Kerja

Penulis: Regina Rukmorini | Fotografer: Regina Rukmorini, Ferganata Indra Riatmoko, Julius Pourwanto, Djoko Poernomo, Ferganata Indra Riatmoko, Pat Hendratno, Priyombodo | Pengolah Foto dan Animator: Toto Sihono | Penyelaras Bahasa: FX Sukoto | Produser: Emilius Caesar Alexey | Desainer & Pengembang: Ria Chandra, Rino Dwi Cahyo, Frans Yakobus Suryapradipta, Yosef Yudha Wijaya

Suka dengan tulisan yang Anda baca?

Nikmati tulisan lainnya dalam rubrik Tutur Visual di bawah ini.