Dari Melasti Sampai Nyepi di Bali

Perayaan Nyepi di Bali didahului berbagai upacara keagamaan dan adat, seperti Melasti dan Ogoh-ogoh. Namun, tahun ini, perayaan itu bakal berbeda karena ada bayang-bayang ancaman Covid-19.

Meskipun umat Hindu Bali memiliki puluhan hari raya, hanya Nyepi atau Tahun Baru Saka yang menjadi satu-satunya hari raya yang masuk dalam kalender atau tanggal merah nasional. Dalam hari raya Nyepi, Bali menjadi satu-satunya pulau yang menyatakan tutup dalam waktu 24 jam selama pelaksanaan ”caturbratha” penyepian.

Selama 24 jam mulai pukul 06.00 Wita hingga pukul 06.00 Wita hari berikutnya. Semua mati. Semua sepi. Tanpa jaringan internet, tanpa siaran radio dan televisi, tutup gerbang penerbangan dan pelabuhan. Bali tutup dulu sejenak. Hening dan sunyi.

Kompas/Ayu Sulistyowati
Seluruh jalanan di Pulau Bali sepi pada hari raya Nyepi menyambut tahun baru caka 1937, Sabtu (21/3/2015). Selama 24 jam, umat Hindu Bali melaksanakan ajaran caturbrata (amati geni, amati lelanguan, amati lelungan, dan amati karya). Tidak seorang pun boleh berpergian tanpa seijin pecalang, petugas keamanan adat setempat. Sebuah ogoh-ogoh masih dibiarkan tidak dibakar di pinggir jalan depan Banjar Kancil, Kerobokan, Kabupaten Badung setelah di arak berkeliling desa oleh para pemuda di malam menjelang penyepian.

Pergantian tahun Saka (Isakawarsa) dirayakan dengan hening setahun sekali yang jatuh pada sehari setelah tilem (bulan gelap) kesanga, penanggalan satu sasih kedasa. Ketika itu, umat Hindu Bali melaksanakan caturbratha penyepian. Umat berpuasa bekerja (amati karya), tidak menyalakan api atau listrik (amati geni), tidak mencari hiburan (amati lelanguan), dan berpuasa bepergian (amati lelungan). Penyucian buana alir (manusia) dan buana agung (alam dan seluruh isinya). Meditasi umat bersama-sama alam seisinya.

Ida Resi Bujangga Waisnawa Oka Widnyana Waskita Sari menyebutnya fokus sentral dari tradisi Nyepi adalah kedalaman kontemplatif. Pada kedalaman kontemplatif tersebut, manusia berusaha memahami ”goa hatinya”, yang dipercayai sebagai tempat bersemayamnya Brahman (Tuhan) di dalam diri sendiri.

Prosesi menuju penyucian manusia serta alam seisinya ini dimulai sepekan sebelumnya. Umat menggelar upacara Melasti, Pecaruan Tawur Agung, hingga mengarak obor dan ogoh-ogoh.

 

Melasti, ”mereresik” ke sumber air

Sebelum Nyepi berlangsung sepekan sampai tiga harinya, umat Hindu Bali menggelar upacara Melasti. Biasa disebut juga dengan upacara Melis atau Mekiyis.

Puluhan umat sesuai jadwal masing-masing pura beriringan bersama menuju sumber air seperti laut, sungai, danau, atau sumber air terdekat lainnya. Mereka membawa serta sesaji sebagai simbol Trimurti (Dewa Wisnu, Siwa, Brahma). Begitu pula membawa Pretima (patung simbol yang disakralkan) bisa masing-masing pura desa yang diletakkan di dalam tandu atau biasa orang Bali menyebutnya joli/jempana. Bisa pula patung itu di-”suwun” (dibawa di atas kepala sebagai rasa hormat).

Barisan ini bisa saja panjang berjalan kaki bersama menuju sumber air dengan mengenakan pakaian adat warna putih sebagai pilihan, simbol bersih dan suci. Jika jauh dari sumber air, umat diperkenankan bersama menaiki kendaraan pribadi hingga truk. Gamelan pun mengiringi sepanjang perjalanan berangkat dan pulang.

Kompas/Ayu Sulistyowati
Ratusan warga Desa Kerobokan, Kabupaten Badung, Bali, Kamis (18/7/2019), menuju Pantai Petitenget untuk upacara melasti. Melasti merupakan salah satu upacara menyucikan Bethara di pura-pura. Pantai masih menjadi tempat untuk upacara Hindu Bali. Namun belakangan pantai Bali memiliki isu lingkungan seperti intrusi air laut hingga sampah plastik melukai hewan laut dalam.

Mengapa pergi ke sumber air? Karena air atau tirta dipercaya mampu menghanyutkan segala yang kotor. ”Nganyudang malaning gumi ngamit tirta amertha”, yaitu menghilangakan segala kotoran kehidupan dan mengambil air dari laut, sungai, danau, serta sumber air lainnya. Hal ini adalah simbol penyucian diri dan batin dengan memohon dari Pemberi Sumber Kehidupan, Ida Sang Hyang Widi Wasa.

Di pantai itulah segala prosesi berjalan sebagai puncak Melasti dipimpin oleh Ida Pedanda atau Sri Empu. Upacara mengaturkan bakti kepada Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Baruna atau dewa laut. Selanjutnya, ratusan umat duduk di pantai, bersembahyang bersama agar selamat dan dilancarkan menjalankan caturbratha Nyepi. Genta berbunyi tanda khusyuk bersama. Selesai bersembahyang, umat mendapatkan percikan air suci oleh para pemangku.

Kompas/Ayu Sulistyowati
Ribuan umat Hindu di Bali berjalan kaki memenuhi jalan di Kerobokan, Kabupaten Badung, Bali, menuju Pantai Petitenget, Sabtu (25/3/2017), untuk prosesi Melasti. Ini satu prosesi yang dijalankan sebelum Hari Raya Nyepi. Mereka bersama mengiringi pretima (simbol dewa-dewa) untuk disucikan di pantai.

Kemudian, mereka menyentuhkan benda yang disakralkan tersebut dengan air laut. Begitu pula para umat berdiri turun ke laut, beriringan melintasi ombak agar terpercik airnya dan kembali pulang bersama diiringi gamelan.

Munculnya ogoh-ogoh
Satu hari sebelum hari raya Nyepi, upacara Tawur Agung Kesanga digelar. Upacara Tawur Agung ini digelar pagi hari di sejumlah perempatan tertentu, sesuai kesepakatan kabupaten/kota serta desa masing-masing. Tawur Kesanga bertujuan menyucikan alam semesta dan semua isinya agar harmonis menyambut tahun baru.

Kompas/Ayu Sulistyowati
Dua ogoh-ogoh selesai dikerjakan pemuda di Banjar Kancil, Kerobokan, Kuta Utara, Kabupaten Badung, Senin (7/3). Keduanya siap diarak berkeliling desa setempat pada Selasa (8/3) malam ini menjelang hari catur brata penyepian keesokan harinya dan hampir serentak dengan sekitar 4.500 ogoh-ogoh se-Bali. Ogoh-ogoh merupakan simbol kejahatan yang harus dilawan saat Nyepi dan biasanya diwujudkan dengan boneka raksasa.

Di Kota Denpasar, upacara Tawur Agung Kesanga digelar di lapangan Puputan Badung, dekat dengan perempatan patung Catur Muka atau di nol kilometer Denpasar. Persembahyangan diikuti masyarakat dari 35 desa pekraman (adat) di Kota Denpasar dan pejabat di Pemerintah Kota Denpasar yang dipimpin oleh enam Ida Pedanda.

Usainya, tirta suci pun dibagikan kepada seluruh warga melalui banjar-banjar. Tirta ini dipakai untuk upacara Tawur Kesanga di lingkungan desa adat masing-masing. Biasanya hampir berbarengan dengan kembalinya pretima atau benda sakral kembali ke pura atau tempat masing-masing setelah menginap di Pura Desa Adat masing-masing seusai upacara Melasti.

Prosesi dilanjutkan dengan pengrupukan (rangkaian penutup jelang Nyepi keesokan paginya). Pengrupukan ini sore hari, pada pergantian sore ke malam (sandikala), yang biasanya dimeriahkan dengan mengarak obor serta membunyikan kentongan keliling desa adat masing-masing oleh pemuda-pemudi serta anak-anak.

Kompas/Ayu Sulistyowati
Ribuan warga Denpasar, termasuk wisatawan asing tumpah ruah di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, Rabu (29/3/2006) malam, menyaksikan pawai ratusan ogoh-ogoh. Berbagai bentuk, ukuran , dan variasi warna ditampilkan oleh para pemuda dan anak-anak berasal dari berbagai banjar. Pawai ini merupakan tradisi masyarakat Bali di malam hari menjelang Hari Raya Nyepi keesokannya. Salah satu ogoh-ogoh raksasa yang menjadi perhatian ribuan masyarakat.

Memedi memedi megedi uli dini delod pasih ngoyong”. Mereka melagukannya sepanjang mengarak obor dan bunyikan kentongan. Intinya nyanyian itu mengusir para raksasa jahat untuk tidak mengganggu kekhusyukan umat.

Nah, ogoh-ogoh menjadi tradisi tambahan sejak tahun 1980-an mendampingi obor serta kentongan. Ogoh-ogoh dianggap simbol kejahatan atau perwujudan dari nyanyian tersebut yang disamakan dengan rupa raksasa. Karena itu, bentuk ogoh-ogoh biasanya berukuran besar dan tinggi bisa lebih dari 2 meter. Pemuda menandu wujud-wujudan buta raksasa ini diarak ramai-ramai dari sandikala sampai menjelang tengah malam.

Ogoh-ogoh merupakan patung berujud buta atau raksasa yang bermuka seram dan marah, mata melotot, gigi tajam, mulut menganga seperti ingin menerkam hingga biasanya berambut gondrong. Simbol ini bertujuan agar selama Nyepi, umat tidak diganggu roh-roh jahat. Karena itu, seusai diarak, biasanya dibakar di perempatan, bersamaan dimatikannya obor.

Kompas/Ayu Sulistyowati
Putu Marmar Herayukti dan temannya, warga Banjar Gemeh, Kota Denpasar, Bali, Sabtu (25/3/2017) sore, tengah menyelesaikan raksasa ogoh-ogoh setinggi 5,5 meter di bale banjar. Raksasa ini berbahan baku ramah lingkungan. Mereka meninggalkan bahan styrofoam yang sempat dipakai beberapa tahun lalu dan ternyata merusak alam. Ogoh-ogoh diarak malam menjelang perayaan Nyepi di masing-masing desa se-Bali sebagai simbol kejahatan sebelum melaksanakan catur berata bagi umat Hindu Bali.

Almarhum Wayan Candra, ahli pembuat ogoh-ogoh dari Sanggar Seni Gases, Denpasar, pertama kali memopulerkan ogoh-ogoh menggunakan bahan styrofoam. Ketika itu tahun 1990-an, ia menonjolkan kreativitas. Karena ogoh-ogoh, meski tradisi baru menjelang Nyepi, para pemuda Bali mampu menyalurkan kreativitas, inovasi. Sekarang sanggar ini pun masih menerima pesanan pembuatan ogoh-ogoh, terutama bagian wajah buta.

Harga di pasar lokal sekitar Rp 200.000 untuk ukuran kecil atau hanya wajah buta, sampai jutaan rupiah untuk ukuran besar dan lengkap. Harga ini bergantung pada tema dan tinggi ogoh-ogoh yang dipesan. Semakin rumit dan tinggi, harga pun semakin mahal.

Awalnya, ogoh-ogoh menggunakan kerangka dari anyaman bambu, dibalut dengan kertas bekas semen lalu dicat warna-warni. Kini, kerangka itu bergeser ke styrofoam untuk memudahkan orang berkreasi. Namun, menurut Candra, pergeseran bahan baku itu karena sejumlah ogoh-ogoh sempat kerasukan roh yang menjadikannya benar-benar hidup. ”Badan ogoh-ogoh kosong karena terbuat dari anyaman sehingga memberi peluang roh datang untuk mengisinya. Kalau memakai styrofoam, badannya padat,” katanya.

Karena itu, ogoh-ogoh harus dimantrai dengan baik agar setelah diarak dengan baik tak akan mengganggu siapa pun. Kini, sebagian ogoh-ogoh tidak lagi dibakar, tetapi justru dijual dan mulai dilombakan karena memiliki nilai seni. Peminatnya seperti perhotelan dan wisatawan.

Kompas/Ayu Sulistyowati
Nyoman Putra Wiryawan memperlihatkan ogoh-ogoh mini buatannya, di Jalan Sumatera, Denpasar, Jumat (2/3/2012). Ia bersama anaknya, warga Denpasar, berkreasi membuat ogoh-ogoh mini menjelang Hari Raya Nyepi 23 Maret mendatang. Ogoh-ogoh mini yang biasanya berbentuk raksasa mulai digemari dan dicari anak-anak mulai taman kanak-kanak. Ia pun kebanjiran pesanan karena harganya pun terjangkau mulai Rp 150.000 dengan ukuran tinggi mulai 50 sentimeter hingga Rp 650.000 setinggi satu meter. Bagi umat Hindu Bali, ogoh-ogoh menjadi simbol kejahatan dan mentradisi untuk diarak berkeliling sehari menjelang Nyepi.

Persiapan ogoh-ogoh ini hampir sebulan, mulai dai penentuan tema, kerangka, hingga finalisasi. Para pemuda menggarapnya bersama-sama di banjar masing-masing. Para pemain gamelan sebagai musik pengiring pun ikut berlatih seiring pembuatan ogoh-ogoh. Menyama braya, ngayah, membuatnya. Dananya pun diambil dari kas pemuda setempat serta meminta tambahan dari donatur, warga setempat. Satu ogoh-ogoh biayanya bisa mencapai jutaan rupiah, tergantung bahan serta ukuran. Semakin besar dan tinggi, tentunya semakin memakan banyak bahan baku.

Pedanda Hindu Bali serta masyarakat mengatakan mengarak ogoh-ogoh adalah tradisi baru. Bahkan, almarhum Ida Pedanda Tianyar Sebali pernah menegaskan, hal itu tidak ada hubungannya dengan Nyepi. Bahkan, pada masa lalu, tradisi sehari sebelum Nyepi atau yang disebut pengrupukan hanya mengarak obor berkeliling desa oleh anak-anak serta pemuda warga setempat.

Hari arak-arakan itu bagaikan hari yang dinanti bersukacita mengarak ogoh-ogoh yang cenik (kecil) sampai yang mokoh (besar) bagai raksasa. Seiring waktu, inovasi pun bagai dipertaruhkan antarpemuda banjar. Ogoh-ogoh seakan ajang pamer kretivitas. Karena itu, beberapa daerah melombakannya. Semakin kreatif dan semakin kekinian. Apalagi, jika ogoh-ogoh itu bisa bergerak naik-turun, berputar, dihiasi lampu kelap-kelip.

Namun, perkembangan zaman menuntut tidak hanya kreatif, tetapi juga inovatif dengan tetap menjaga hijaunya alam. Pembuatan ogoh-ogoh pun kembali menggunakan rangka-rangka bambu dan rangkaian penutup kertas bekas koran atau kertas semen. Propaganda pengurangan menggunakan styrofoam terus didengungkan sekitar lima tahun terakhir.

Kompas/Ayu Sulistyowati
Dua ogoh-ogoh selesai dikerjakan pemuda di Banjar Kancil, Kerobokan, Kuta Utara, Kabupaten Badung, Senin (7/3/2012). Keduanya siap diarak berkeliling desa setempat pada Selasa (8/3) malam ini menjelang hari catur brata penyepian keesokan harinya dan hampir serentak dengan sekitar 4.500 ogoh-ogoh se-Bali. Ogoh-ogoh merupakan simbol kejahatan yang harus dilawan saat Nyepi dan biasanya diwujudkan dengan boneka raksasa.

Putu Marmar Herayukti (37), salah satu pemuda dari Banjar Gemeh, Kota Denpasar, memelopori pemanfaatan ulatan (rangkaian) bilah bambu sebagai ganti styrofoam untuk ogoh-ogoh. ”Memang tidak mudah, tetapi harus. Selain untuk kebaikan alam, juga menjadi bagian dari menjaga tradisi keterampilan mengulat (merangkai) bambu menjadi bentuk raksasa yang bernilai seni. Leluhur menggunakan ini, sayang jika punah hanya karena memakai styrofoam yang lebih mudah dibentuk. Jika pembakaran menyebabkan polusi yang merusak alam, apalah artinya prosesi Nyepi,” kata Marmar serius.

Karena itu, Marmar tak putus-putus mengajak teman-temannya untuk beralih ke bahan baku ogoh-ogoh yang lebih ramah lingkungan. Tak mencemari, tidak mahal, berbudaya, dan memiliki nilai seni tinggi.

Upaya ”rayuan” Marmar menjadi virus kebaikan yang menyebar menjadi kesadaran pemuda lainnya di Bali. Mereka pun lambat laun mengganti bahan baku ogoh-ogoh ke ramah lingkungan.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali I Gusti Ngurah Sudiana sepakat dan setuju pembuatan ogoh-ogoh kembali memanfaatkan bahan ramah lingkungan. Ia pun terus mengimbau masyarakat agar menggunakan bahan baku seperti bambu serta bahan ramah lainnya.

Kompas/Ayu Sulistyowati
Ogoh-ogoh dari Banjar Praja Sari, Kota Denpasar, Bali, Selasa (5/3/2019), siap untuk diarak. Arak-arakan ribuan ogoh-ogoh sebagai simbol keserakahan berbentuk raksasa dilaksanakan Rabu (6/3/2019) malam, menjelang perayaan catur bratha Nyepi bagi umat Hindu Bali. Pemerintah setempat mengharuskan ogoh-ogoh dibuat dari bahan alami dan kertas, atau bahan daur ulang agar ramah lingkungan.

Nyepi, lanjut Sudiana, menjadi lebih bermakna jika seluruh rangkaian prosesi menjelang perayaannya benar-benar menghargai alam. ”Lingkungan bersih dan keseimbangan alam terjaga,” ujarnya. Bagian dari mitigasi bencana alam.

Malam pengrupukan, ratusan sampai ribuan ogoh-ogoh se-Bali diarak bersamaan pada malam pengrupukan itu. Seru dan lumayan bisa menjadi tontonan wisata jika dikemas dengan apik oleh para pelaku pariwisata.

Seiring waktu, hampir lima tahun terakhir, hotel-hotel atau travel agen membanderolnya sebagai paket wisata. Mereka menawarkan paket tiga hari dua malam dengan harga diskon tertentu mendapatkan tontonan atraksi ogoh-ogoh hingga kudapan karena tidak diperkenankan keluar hotel pula selama Nyepi berlangsung. Ketahuan jalan-jalan, bisa ditangkap polisi dan pecalang (petugas keamanan khas Bali). Bisa menginap di bui sampai Nyepi selesai.

Antara/Fikri yusuf
Pecalang atau petugas pengamanan adat Bali memantau situasi saat Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1941 di kawasan Jalan Tol Bali Mandara, Bali, Kamis (7/3/2019). Pengamanan oleh Pecalang tersebut dilakukan untuk menjamin keamanan dan kelancaran umat Hindu yang menjalani “catur brata” penyepian atau tidak menggunakan api (amati geni), tidak bepergian (amati lelungan), tidak menikmati hiburan (amati lelanguan) dan tidak bekerja (amati karya) selama 24 jam.

Nyepi juga menghemat energi listrik serta energi lainnya. Penghentian aktivitas selama 24 jam, seperti saat Nyepi, mengistirahatkan Bumi. Dinas Lingkungan Hidup atau ketika itu Badan Lingkungan Hidup Provinsi Bali bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika berupaya membuktikan itu.

Selama tahun 2008 hingga 2014, keduanya bersama meneliti lima sektor yang berpotensi mencemari Bumi Bali. Kelima sektor itu ialah rumah tangga, industri, transportasi, sampah, dan pertanian. Hasilnya, rumah tangga menghasilkan karbon dioksida (CO2) sekitar 3,5 juta ton per hari. Angka ini berasal dari aktivitas dapur, seperti pemakaian kompor gas, minyak tanah, bahan bakar kayu, serta penggunaan listrik.

Industri yang tercatat sebanyak 274 usaha di Bali ketika itu menyumbang CO2 sebanyak 0,09 juta ton per hari. Sementara transportasi menghasilkan 3,15 juta ton per hari.

Lalu, rata-rata sampah Bali terhitung 11.045 meter kubik setiap hari. Sektor pertanian tercatat menghasilkan CO2 terbesar, yakni 13,35 juta ton per hari.

Kompas/Ayu Sulistyowati
Pada 7 Marer 2019, Pulau Bali tutup untuk menghormati umat Hindu Bali melaksanakan catur bratha penyepian selama 24 jam. Malam sebelum Nyepi, warga mengarak ogoh-ogoh dan menyalakan obor sebagai simbol mematikan segala hawa buruj dan buta kala (raksasa jahat) agar tak mengganggu. Keramaiannya seperti pada insert dengan latar sepi saat hari Nyepi di siang hari. Jumat (8/3/2019), aktivitas berjalan seperti biasa, Pulau Bali dibuka kembali.

Nah, hasil penelitian ini dijumlahkan sehingga memiliki angka 20,18 juta CO2 yang setiap hari mencemari Bumi Bali. Nyepi 24 jam itu diperkirakan mampu mengurangi pembuangan CO2 sekitar 20,18 juta CO2 tersebut.

Seusai Nyepi, keesokan harinya, aktivitas mulai kembali pukul 06.00 Wita. Semua kegiatan kembali buka, Ngembak Geni yang artinya hari yang terbebas dari api setelah bermeditasi sehari semalam.

Adakalanya Nyepi itu menjadi perayaan istimewa seperti di tahun 2016, bersamaan dengan gerhana matahari total (GMT). Begitu pula tahun 2020 ini, meditasi menjadi ”lebih istimewa” bersamaan dengan pencegahan penyebaran virus korona Covid-19.

Surat edaran bersama antara Pemerintah Provinsi Bali bersama PHDI Bali dan Majelis Desa Adat Bali menyatakan beberapa kesepakatan untuk dimaklumi bersama demi kesehatan. Surat ini merupakan hasil pesamuhan PHDI Bali pada tanggal 17 Maret 2020. Isinya antara lain upacara Melasti dapat dilaksanakan dengan sumber air terdekat, upacara Tawur Agung dilaksanakan serentak sesuai jadwal, hingga pelaksanaan arak-arak ogoh-ogoh digelar bersamaan pukul 16.00 Wita hingga pukul 19.00 Wita.

Kompas/Ayu Sulistyowati
Seluruh jalanan di Pulau Bali sepi pada hari raya Nyepi menyambut tahun baru caka 1937, Sabtu (21/3). Selama 24 jam, umat Hindu Bali melaksanakan ajaran caturbrata (amati geni, amati lelanguan, amati lelungan, dan amati karya). Tidak seorang pun boleh berpergian tanpa seijin pecalang, petugas keamanan adat setempat. Sebuah ogoh-ogoh masih dibiarkan tidak dibakar di pinggir jalan depan Banjar Kancil, Kerobokan, Kabupaten Badung setelah di arak berkeliling desa oleh para pemuda di malam menjelang penyepian.

”Ya, prosesi menuju Nyepi menjadi agak berbeda. Kepesertaan proses Melasti dibatasi, arak-arakan ogoh-ogoh juga. Namun, tak mengapalah, imbauan ini demi kesehatan bersama melawan penyebaran virus korona. Semoga semua makhluk di dunia selamat dan rahayu, nggih,” kata Wayan Jendra, warga Badung.

Sejenak menyepi dan menepi menjaga jarak bersama demi memutus rantai penyebaran virus korona. Sekiranya tahun baru, tahun ini mari bersama makin mendalami sebagai manusia yang berusaha memahami ”goa hatinya” bersemayamnya Brahmana masing-masing. Selamat Tahun Baru Saka 1942

 

 

START: PAYWALL
END: PAYWALL

Kerabat Kerja

Penulis: Ayu Sulistyowati | Fotografer: Ayu Sulistyowati | Infografis: Gunawan, Novan Nugrahadi | Pengolah Foto: Toto Sihono | Penyelaras Bahasa: Didik Durianto | Produser: Emilius Caesar Alexey | Desainer & Pengembang: Ria Chandra, Rino Dwi Cahyo, Frans Yakobus Suryapradipta, Yosef Yudha Wijaya

Suka dengan tulisan yang Anda baca?

Nikmati tulisan lainnya dalam rubrik Tutur Visual di bawah ini.