Dunia Menyambut Vaksin Covid-19

Lebih dari satu tahun sejak dilanda wabah korona, vaksinasi Covid-19 menjadi agenda besar negara-negara di dunia yang diharapan menjadi titik terang penanganan pandemi.

Setelah merebaknya wabah korona yang dilaporkan ke Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada akhir 2019, berbagai upaya dilakukan negara-negara di dunia, mulai dari pendirian rumah sakit darurat, pembatasan aktivitas di luar ruangan dengan karantina wilayah atau lockdown, hingga pemeriksaan serta pelacakan virus SARS-CoV-2. Pandemi juga membawa dampak pada berbagai sektor bisnis dan ekonomi dunia hingga memicu resesi di beberapa negara, termasuk Indonesia.

Memasuki 2021, isu seputar pandemi masih menjadi perhatian dunia. Merujuk data Google Trend pada 14 Januari 2021, pencarian dengan kata kunci coronavirus masih memperlihatkan perhatian publik pada wabah korona. Hanya saja, pencarian di awal tahun ini didominasi isu vaksin Covid-19 dan munculnya varian baru virus korona.

Sejak Desember 2020, ditemukan strain baru hasil mutasi virus korona. Dua varian baru virus korona ditemukan di Inggris dan Afrika Selatan. Virus baru ini memiliki daya penularan yang lebih kuat dari sebelumnya. Hingga 7 Januari 2020, sebanyak 47 negara telah melaporkan kasus penularan hasil mutasi virus korona.

Mutasi virus korona menjadi tantangan lanjutan penanganan wabah Covid-19. Munculnya varian baru virus SARS-CoV-2 bersamaan dengan dimulainya vaksinasi Covid-19 di Dunia. Hadirnya varian virus menjadi bagian dari pengembangan lanjutan penelitian vaksin Covid-19. Sebelumnya, berdasarkan data WHO, ada 236 kandidat vaksin hingga 12 Januari 2021. Sebanyak 27 persen di antaranya telah masuk tahap uji klinis. Uji klinis terbagi menjadi tiga tahapan yang fokus pada efektivitas dan keamanan vaksin tersebut.

Berdasarkan catatan The New York Times, ada 10 vaksin yang telah digunakan secara terbatas di beberapa negara, khususnya negara tempat vaksin tersebut dibuat. Vaksin yang dikembangkan oleh Pfizer dan BioNTech paling banyak digunakan di negara-negara lain. Uji klinis vaksin ini dimulai Mei 2020. Nama vaksin yang dikembangkan Pfizer dan BioNTech adalah Comirnaty, sementara data efikasi terbarunya menunjukkan angka 95 persen. Dosis yang diberikan sebanyak dua kali suntik dengan jeda 3 minggu dengan metode injeksi ke otot.

Vaksin ini menjadi yang pertama dilaporkan memiliki hasil uji klinis ketiga menjanjikan dengan efikasi lebih dari 90 persen. Tak berselang lama, Badan Pangan dan Obat AS memberikan izin penggunaan darurat di seluruh Amerika Serikat. Kualitas vaksin menunjukkan kekebalan terhadap individu, bahkan bagi kelompok usia lansia atau lebih dari 65 tahun. Hingga awal Januari 2021, tercatat ada 15 negara dan kawasan yang telah menggunakan vaksin ini, seperti Kanada, Argentina, Inggris, Uni Eropa, Arab Saudi, hingga Singapura.

Selain vaksin dari Pfizer and BioNTech, kandidat vaksin yang memiliki efikasi tinggi adalah buatan Moderna. Nama vaksin tersebut adalah mRNA-1273 dengan efikasi 94,5 persen. Dosis yang diberikan sebanyak dua kali suntik dengan jeda 4 minggu dengan metode injeksi otot. Negara yang telah menggunakan vaksin ini adalah Amerika Serikat, Kanada, Israel, dan negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa. Negara lain yang telah memesan adalah Jepang, Qatar, dan Korea Selatan.

Selain Amerika Serikat, negara lain yang mengembangkan vaksin Covid-19 adalah Rusia dan Inggris. The Gamaleya Research Institute, bagian dari Kementerian Kesehatan Rusia, membuat vaksin untuk virus korona yang dinamakan Sputnik V atau Gam-Covid-Vac. Efikasi vaksin ini tergolong tinggi, yaitu 91,4 persen. Selain Rusia, negara lain yang telah menggunakannya adalah Bolivia, Argentina, Belarus, dan Serbia.

Universitas Oxford di Inggris bersama AstraZeneca juga mengembangkan vaksin yang dinamakan AZD1222, atau dikenal dengan Covishield di India. Efikasi vaksin diklaim lebih dari 90 persen. Adapun negara-negara yang menggunakan vaksin ini adalah India, Maroko, Argentina, El Salvador, Meksiko, dan Republik Dominika.

Dari kawasan Asia, negara China dan India juga mengembangkan vaksin Covid-19. Dua perusahaan farmasi China yang mendominasi adalah Sinovac dan Sinopharm. Vaksin yang dikembangkan Sinovac diklaim memiliki efikasi 78 persen, sementara Sinopharm 79,34 persen. Melalui Institusi Penelitian Media dan Virologi yang bekerja sama dengan Bharat Biotech, India turut membuat vaksin yang dinamakan dengan Covaxin. Hingga awal Januari, efikasi vaksin tersebut belum diketahui.

Indonesia sendiri juga sedang mengembangkan vaksin untuk virus SARS-CoV-2 yang dikerjakan oleh Bio Farma. Vaksin tersebut rencana dinamakan vaksin merah putih. Sementara kebutuhan vaksin dalam waktu dekat, Indonesia telah mendatangkan 3 juta dosis vaksin Sinovac dari China.

Ketersediaan vaksin

Upaya negara untuk mengendalikan pandemi dilakukan dengan mengamankan sebanyak mungkin vaksin, sesuai dengan kebutuhan untuk mencapai kekebalan komunitas. Meskipun ketersediaan vaksin sangat banyak, registrasi diperlukan untuk pencatatan. Hingga 19 Januari 2021, telah terdaftar 41,79 juta dosis vaksin di seluruh dunia. Vaksin terdaftar yang paling banyak terdapat di negara AS, mencapai 12,28 juta dosis. Urutan kedua adalah China (10 juta dosis), disusul oleh Inggris (4,72 juta dosis). Dosis vaksin yang terdaftar menjadi kloter pertama vaksinasi.

Banyak pengembang vaksin Covid-19 yang telah dipesan oleh negara-negara. Penjualan vaksin terbanyak dilakukan oleh AstraZeneca dan Universitas Oxford dengan total 2,6 miliar dosis vaksin. Negara paling yang paling banyak memesan adalah India dan Amerika Serikat. Pengembang lain yang diminati banyak negara adalah Novavax, dengan total dosis 1,3 miliar dosis. Sementara vaksin dari Pfizer dan BioNTech telah dipesan 711 juta dosis. Pengembang Moderna juga menyiapkan 407 juta dosis vaksin, disusul oleh Sinovac sebanyak 292 juta dosis.

Kebutuhan vaksin tiap negara beragam, tergantung jumlah populasi. Pemerintah Indonesia telah memesan 329,5 juta dosis vaksin di sejumlah perusahaan pengembang. Sebanyak 3 juta dosis telah datang dari Sinovac dan akan ditambah 122,5 juta dosis lagi. Indonesia juga telah memesan 50 juta dosis vaksin dari Novavax, sebanyak 54 juta dosis dari Covax/GAVI, serta masing-masing 50 juta vaksin dari perusahaan AstraZeneca serta Pfizer. Vaksinasi dimulai pada 13 Januari 2021.

Teknis vaksinasi

Total dibutuhkan waktu hingga 15 bulan untuk menuntaskan program vaksinasi Covid-19 di seluruh Indonesia dengan total minimum 181,5 juta jiwa. Proses vaksinasi akan dilakukan dalam dua tahap, yaitu Januari-April 2021 dengan target 40,2 juta jiwa, dan April 2021 hingga Maret 2022 untuk memenuhi sisanya. Teknis vaksinasi telah ditetapkan melalui Keputusan Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Nomor HK.02.02/4/1/2021. Tahap pertama akan fokus pada tenaga kesehatan, tenaga pelayan publik, dan lansia. Adapun lokasi vaksinasi adalah puskesmas, puskesmas pembantu, klinik, rumah sakit, dan unit pelayanan kesehatan di kantor kesehatan pelabuhan.

Masyarakat Indonesia perlu memahami registrasi dan verifikasi program imunisasi untuk Covid-19. Setidaknya ada lima tahapan, pertama adalah penerima vaksin akan menerima notifikasi melalui SMS dari PeduliCovid. Kedua, penerima melakukan registrasi untuk memilih jadwal dan lokasi. Ketiga, dilakukan verifikasi untuk konfirmasi domisili dan pengecekan sederhana penyakit penyerta. Keempat, sistem Informasi Satu Data Vaksinasi Covid-19 akan mengirimkan tiket elektronik untuk vaksinasi di lokasi yang ditunjuk. Terakhir, secara berkala penerima vaksin akan diingatkan jadwalnya melalui SMS atau aplikasi PeduliLindungi.

Semakin besar populasi yang divaksin, maka peluang putusnya rantai penularan akan lebih tinggi. Mempertimbangkan ketersediaan vaksin dalam negeri yang masih kurang, vaksinasi sepertinya tidak menjamin pandemi segera selesai. Kebutuhan tahap pertama 40,2 juta jiwa, tetapi dosis vaksin yang dimiliki Indonesia hanya tersedia 3 juta dosis. Apabila tidak semua orang mendapat vaksin, kekebalan komunitas tidak tercapai dalam waktu dekat. Selain itu, vaksin yang digunakan masih dalam tahap uji klinis ketiga sehingga belum dapat dipastikan tingkat keparahan efek samping yang ditimbulkan.

Efek samping atau kejadian ikutan pasca-vaksinasi (KIPI) dapat menyerang siapa saja. Kejadian ini dapat berupa reaksi vaksin, kesalahan prosedur, koinside, rekasi kecemasan, atau hubungan kasual lainnya. KIPI diklasifikasikan serius apabila menimbulkan kematian, kebutuhan rawat inap, dan gejala sisa yang menetap serta mengancam jiwa.

Reaksi yang mungkin muncul pasca vaksinasi Covid-19 diprediksi serupa dengan vaksin lainnya. Setidaknya ada tiga kategori reaksi, yaitu reaksi lokal, sistemik, dan lainnya. Reaksi lokal meliputi nyeri, kemerahan, bengkak, serta reaksi lainnya, seperti infeksi di jaringan kulit (silulitis).

Reaksi sistemik lebih parah, yaitu demam, nyeri otot seluruh tubuh (myalgia), nyeri sendi (atralgia), badan lemah, dan sakit kepala. Terakhir, reaksi alergi urtikaria (biduran), penumpukan cairan dalam jaringan tubuh (oedem), shock berat, hingga pingsan.

Kekebalan komunitas

Ragam upaya dilakukan untuk menangani wabah penyakit, mulai dari penguatan pemeriksaan dan perawatan hingga pembatasan mobilitas. Cara lain yang lebih efektif adalah vaksinasi. Vaksin dapat memberi sistem kekebalan dalam mengenali dan membangun pertahanan melawan bakteri atau virus penyebab penyakit serta mampu mencegah orang terinfeksi lebih awal.

Selain dari peran vaksin membentuk sistem kekebalan tubuh manusia, keberhasilan vaksinasi adalah mampu memunculkan kekebalan komunitas, yaitu suatu kelompok populasi dapat terlindung dari virus jika ambang imunisasi tercapai. Standar minimum imunisasi adalah 70 persen dari total populasi.

Sistem kerja kekebalan komunitas adalah saat orang yang telah diimunisasi terlindung dari penyakit, dia tidak dapat menyebarkannya ke orang lain. Kondisi tersebut akan memutus rantai penularan, termasuk memastikan kelompok rentan yang tidak dapat diimunisasi tetap aman. Vaksin akan membentuk protein yang dapat melawan virus atau bakteri penyebab penyakit, yang disebut antibodi. Persentase orang yang perlu memiliki antibodi untuk membentuk kekebalan komunitas terhadap suatu penyakit berbeda-beda, tergantung dari seberapa infeksius patogen tersebut. Sebagai contoh, standar imunisasi campak adalah 95 persen dan untuk polio sebesar 80 persen.

Kekebalan tubuh terhadap virus korona tentu masih dalam tahap penelitian, termasuk berapa lama antibodi tersebut bertahan di dalam tubuh manusia. Sistem antibodi akan terus bertahan apabila banyak sel-sel imun memori terhadap patogen SARS-CoV-2 yang ditemukan di dalam tubuh manusia.

Sebuah penelitian di Amerika Serikat menunjukkan, antibodi terhadap virus korona bertahan lebih dari enam bulan. Penelitian tersebut dilakukan terhadap 226 pasien. Pemahaman terhadap sel imun memori sangat penting untuk meningkatkan proses diagnosis dan vaksin serta memproyeksikan kemungkinan pandemi serupa di masa mendatang.

Kondisi tersebut menggambarkan bahwa vaksinasi tidaklah cukup untuk menekan angka penularan dalam waktu dekat. Tujuan untuk menciptakan kekebalan komunitas tentu harus menunggu lebih lama. Pemerintah masih tetap harus menguatkan penanganan pandemi melalui pemeriksaan, pelacakan, perawatan, serta pembatasan mobilitas penduduk.

Kerabat Kerja

Penulis: Yoesep Budianto | Fotografer: Totok Wijayanto, Priyombodo | Penyelaras Bahasa: Rosdiana Sitompul | Kover: Supriyanto | Infografik: Ismawadi | Produser: Emilius Caesar Alexey | Desainer & Pengembang: Ria Chandra, Rino Dwi Cahyo, Frans Yakobus Suryapradipta, Yosef Yudha Wijaya, Deny Ramanda

Suka dengan tulisan yang Anda baca?

Nikmati tulisan lainnya dalam rubrik Tutur Visual di bawah ini.