Gairah Jaran Kepang Temanggung

Jaran kepang sedang amat digandrungi di Temanggung, Jawa Tengah, daerah yang diyakini warganya sebagai ”rahim” lahirnya kesenian itu. Semangat mewariskan kecintaan terhadap kesenian ini, ditambah perkembangannya yang dinamis, membuat jaran kepang mampu bertahan dan semakin dicintai masyarakat.

Sulit untuk memastikan siapa pencipta jaran kepang Temanggung, Jawa Tengah. Belum ditemukan pula bukti yang menerangkan kapan kesenian ini mulai tercipta. Hanya saja, banyak orang meyakini kesenian ini telah ada jauh sebelum Indonesia merdeka. Kesenian yang hingga kini terus eksis dan dipentaskan di banyak tempat.

Para seniman jarang kepang dan warga setempat, seperti diungkapkan salah seorang penari jaran kepang dari Desa Legoksari, Kecamatan Tlogomulyo, Sutopo (45), selama ini tidak mengetahui perihal sejarah jaran kepang di Kabupaten Temanggung.

Kompas/ Regina Rukmorini
Pementasan tari jaran kepang di Desa Legoksari, Kecamatan Tlogomulyo, Kabupaten Temanggung pada Juni 2019 lalu.

Mereka hanya tahu dari cerita-cerita para sesepuh desa bahwa pada masa penjajahan, warga Desa Legoksari sudah terbiasa menggelar pentas jaran kepang saat malam bulan purnama.

”Bulan purnama sengaja dipilih karena saat itulah lingkungan desa terlihat terang tanpa perlu repot menyiapkan lampu, obor, atau penerangan lainnya,” ujarnya.

Kesenian jaran kepang dipentaskan sebagai bentuk refreshing, penyegaran bagi warga desa yang saat itu minim hiburan. Saat itu, kostum penarinya masih sangat sederhana. Hanya mengenakan kaus putih dan rompi.

Kesederhanaan juga tampak dari gerakannya yang hanya 20 gerakan. ”Sebanyak 20 gerakan itulah yang kemudian diulang-ulang hingga beberapa kali,” ujarnya.

Kompas/ Heru Sri Kumoro
Kesenian tradisional Turonggo Seto saat tampil di Semarang, Selasa (30/10/2007).

Seperti Sutopo, Roy Suroyo (43), warga Desa Gandulan, Kecamatan Kaloran, juga mengaku tidak tahu sejak kapan kesenian jaran kepang ini ada. Roy hanya paham bahwa tarian jaran kepang telah dikuasai keluarganya secara turun-temurun, mulai dari kakek, ayah, hingga kini dirinya. Kesenian ini tetap ditekuninya meski ia sudah berstatus sebagai tentara yang bertugas di Kesatuan Penerbangan TNI AD di Semarang, Jawa Tengah.

Kakek Roy, yang kini berusia hampir 90 tahun, dahulu tergabung dalam kelompok kesenian jaran kepang Turonggo Seto Kedunglo (TSK). Sampai sekarang, kelompok kesenian tersebut masih eksis berdiri.

Bahkan, Supriwanto (33), penari sekaligus perajin jaran kepang atau tiruan kuda yang dipakai dalam tarian, berani menegaskan bahwa tarian tersebut telah ada pada era 1930-an. Keyakinan ini diperoleh dari cerita kakeknya yang sudah merintis usaha kerajinan jaran kepang sejak 1931.

”Ketika merintis usaha tersebut, kakek saya memastikan bahwa dia bukanlah satu-satunya perajin jaran kepang yang saat itu ada,” ujar warga Desa Dlimoyo, Kecamatan Ngadirejo, ini.

Kompas/ Regina Rukmorini
Usaha kerajinan jaran kepang Kandang Jaran milik Supriwanto di Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

Bukti sejarah

Di tengah minimnya pengetahuan masyarakat tentang sejarah kesenian jaran kepang, dosen seni tari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Dr Slamet MD, Hum, mencetuskan teori bahwa tari jaran kepang lahir di Desa Mergowati, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung.

Desa ini pada masa Kerajaan Mataram Islam pernah menjadi kandang atau tempat pemeliharaan kuda-kuda pilihan kerajaan. Hal ini tertulis dalam teks Serat Centhini, salah satu karya kesusasteraan Jawa yang terbit pada 1814.

Slamet mengatakan, dari kebiasaan melihat gerak-gerik kuda itulah, masyarakat kemudian terinspirasi membuat tarian. ”Jadi, tarian jaran kepang itu menggambarkan gerakan kuda dan bukan gerakan dari penunggangnya,” ujarnya.

Kompas/ Ferganata Indra Riatmoko
Anak-anak anggota kelompok kesenian tradisional kuda lumping Turonggo Jati berlatih di bekas pabrik aki di Kampung Padangan, Desa Temanggung I, Kecamatan Temanggung, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, Rabu (14/8/2019).

Untuk lebih memperjelas gerakan tersebut, orang kemudian membuat tiruan kuda. Dahulu, tiruan kuda dibuat dari pelepah pisang. Pernah pula dari bahan kulit sapi seperti wayang, dan kini terbuat dari anyaman bambu.

Kesimpulan tentang perilaku masyarakat yang meniru kuda tersebut, menurut Slamet, didasari dari hasil kajiannya tentang perilaku masyarakat Jawa. Ketika itu, mereka sering kali membuat tiruan binatang untuk meminta bantuan perlindungan dari hewan tersebut. Adapun tarian jaran kepang dianggap sebagai ritual untuk memohon doa dan perlindungan.

”Karena waktu itu warga Desa Mergowati diberi tugas menjaga kuda, maka dengan membuat tiruan kuda, mereka berharap roh-roh binatang tersebut akan datang mengisi tiruan dan melindungi kuda yang berada di kandang,” ujarnya.

Kompas/ Ferganata Indra Riatmoko
Remaja anggota kelompok kesenian tradisional kuda lumping Turonggo Jati memainkan gamelan untuk mengiringi sesi latihan di bekas pabrik aki di Kampung Padangan, Desa Temanggung I, Kecamatan Temanggung, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, Rabu (14/8/2019).

Sutopo, yang sesekali berprofesi sebagai dalang, sepakat tentang Desa Mergowati. Menurut dia, desa ini berperan penting dalam sejarah jaran kepang, mengingat dalam banyak cerita wayang, kuda-kuda kerajaan selalu dikisahkan dari desa tersebut.

Namun, berbeda dengan Slamet yang berasumsi bahwa kemunculan tarian jaran kepang adalah untuk keperluan ritual, yakni permohonan keselamatan bagi kuda-kuda kerajaan, Sutopo justru beranggapan bahwa tarian ini berawal dari mimpi masyarakat kecil untuk ikut merasakan naik atau memiliki kuda seperti para bangsawan.

Mereka kemudian membuat tiruan kuda dengan bahan seadanya, seperti pelepah pisang. Gerakannya dibuat mirip dengan gerakan penunggang kuda, yakni para bangsawan saat berkuda di Desa Mergowati.

Pasang surut

Kesenian jaran kepang tak luput dari mengalami pasang surut. Masa-masa tidak menyenangkan bagi kesenian terjadi sejak meletusnya peristiwa G30S/PKI tahun 1965. Saat itu, semua kesenian dicurigai sebagai bagian dari Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) dan alat propaganda politik PKI.

Sutrisno (70), pembina kelompok jaran kepang Kridho Turonggo di Desa Mergowati, mengatakan, akibat ketakutan akan ditindak keras oleh pemerintah, para seniman membakar semua perlengkapan yang dipakai untuk menari jaran kepang.

”Begitu takutnya, akhirnya kesenian jaran kepang pun vakum, tidak dipentaskan selama lima tahun penuh,” ujarnya.

Suasana Desa Mergowati kemudian suram. Terlebih kepala desanya saat itu turut dicopot karena terlibat G30S/PKI. Memasuki tahun 1970, kepala desa pengganti berinisiatif membangkitkan kembali kesenian jaran kepang di Desa Mergowati.

Kompas/ P Raditya Mahendra Yasa
Seniman dari kelompok seni Krido Turonggo mementaskan jatilan atau kuda lumping di halaman Gedung Kesenian Sobokartti, Kota Semarang, Jawa Tengah, Senin (15/10/2012).

Bermodalkan uang pribadi kepala desa, ditambah kas desa, Desa Mergowati kembali ”babat alas” berkesenian. Mereka membeli gamelan, kostum, dan tiruan kuda yang dipakai untuk menari. Aktivitas menari pun perlahan mulai bangkit seperti sebelumnya.

Dahulu, oleh para sesepuh di desa-desa, tarian jaran kepang hanya dibuat menjadi sekitar 20 gerakan. Meski ditarikan dalam ragam gerakan yang berbeda antara satu desa dan lainnya, tari ini dibawakan dengan berurutan.

Berbagai gerakan tari jaran kepang yang muncul di desa-desa di Temanggung kemudian diinventarisasi pada 1972 oleh Subagiono, pejabat dari Inspeksi Daerah Kebudayaan Kabupaten Temanggung, semacam dinas pendidikan dan kebudayaan saat ini. Dari hasil inventarisasi ini kemudian disusun ”standar” tari jaran kepang yang dianggap betul-betul khas Temanggung.

Kompas/ Regina Rukmorini
Pementasan tari jaran kepang di Desa Legoksari, Kecamatan Tlogomulyo, Kabupaten Temanggung pada Juni 2019 lalu.

Hasil pendataan itu kemudian dikonsultasikan kepada almarhum Bagong Kussudiardja, seniman dari Yogyakarta. Dari hasil diskusi dan konsultasi, Subagiono merancang ulang tari jaran kepang yang kemudian terdiri atas 43 gerakan.

”Rancangan” Subagiono ini kemudian dipublikasikan sebagai standar atau pakem jaran kepang. Masyarakat, terutama kalangan seniman, lalu menyebutnya ”Idakeb”, akronim dari inspeksi daerah kebudayaan.

Jaran kepang ”Idakeb” inilah yang kemudian dipopulerkan ke desa-desa. Warga dilatih gerakan-gerakan ini. Ribuan warga yang telah dilatih kemudian diajak pentas jaran kepang untuk acara pembukaan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di Jakarta pada 1975. Kesempatan ini diyakini sejumlah seniman berbuah pada peningkatan rasa bangga dan antusiasme warga untuk melihat dan menari jaran kepang.

Kompas/ Wawan H Prabowo
Atraksi jaran kepang memeriahkan Pagelaran Budaya Srinthil di Anjungan Jawa Tengah, Taman Mini Indonesia Indah (TMMI) Jakarta, Minggu (10/9/2017). Kegiatan Pentas Duta Seni Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, tersebut menjadi ajang silaturahmi para warga Temanggung yang merantau di kawasan Jabodetabek.

Di era itu, Sutrisno merasakan semangat warga untuk menonton jaran kepang semakin meningkat. Terbukti, kelompok jaran kepang Krido Turonggo hampir setiap hari menerima permintaan pentas di sejumlah tempat.

”Dalam satu hari, kelompok Krido Turonggo bahkan pernah tiga kali pentas di tiga tempat berbeda, salah satunya di luar kota,” ujarnya.

Memasuki era tahun 2000 hingga sekarang, jumlah kelompok kesenian jaran kepang meningkat pesat. Tidak hanya di tingkat desa, kelompok jaran kepang juga tumbuh di setiap dusun, bahkan di sejumlah desa bisa ditemukan di setiap rukun tetangga (RT).

Kompas/ Ferganata Indra Riatmoko
Sejumlah kuda kepang yang digunakan untuk latihan anak-anak anggota kelompok kesenian tradisional kuda lumping Turonggo Jati di bekas pabrik aki di Kampung Padangan, Desa Temanggung I, Kecamatan Temanggung, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, Rabu (14/8/2019).

Pengaruh KISS

Setelah tahun 1972, tari jaran kepang yang ditarikan warga adalah versi ”Idakeb”. Hanya saja, untuk menciptakan variasi, pelaku kesenian mengubah-ubah urutan gerakannya.

Perubahan juga terlihat pada kostum, seperti dilakukan warga Desa Legoksari pada 1997. Saat itu, mereka menambah aksesori dengan hiasan dada berkilau berbentuk segitiga.

”Waktu itu, kami terinspirasi kostum pemain di serial televisi Mahabharata dan personel grup band Amerika, KISS,” ungkap Sutopo.

Perubahan juga terlihat di desa-desa lainnya. Selain demi menarik perhatian penonton, kreasi juga dilakukan atas keinginan para penari. Tak urung, biaya pengadaan kostum pun melambung.

”Jika dahulu harga kostum cukup Rp 300.000 per orang, sekarang ini harga kostum bisa mencapai Rp 3,5 juta per orang,” ujar Roy.

Kompas/ P Raditya Mahendra Yasa
Seniman dari kelompok seni Krido Turonggo mementaskan jatilan atau kuda lumping di halaman Gedung Kesenian Sobokartti, Kota Semarang, Jawa Tengah, Senin (15/10/2012). Kesenian jatilan tumbuh dari masyarakat petani seperti di lereng Gunung Merapi saat mereka menghibur diri pada masa panen atau ritual desa.

Tidak hanya pada kostum, musik pengiring pun berubah. Jika dahulu murni mengandalkan gamelan, sekarang warga menambahnya dengan alat musik modern, seperti drum dan kibor.

Ketika warga menyaksikan pementasan wayang kulit dengan iringan musik yang dimodifikasi dengan iringan musik Bali, warga Desa Legoksari pun terinspirasi untuk menambahkan unsur Bali dalam iringan musik jaran kepang. Hal ini rupanya berdampak besar di kemudian hari.

Sekira tahun 2010, saat Sutopo sedang menampilkan pentas jaran kepang dengan imbuhan musik Bali, salah seorang kerabatnya keluar, lalu bergabung dan menari dengan mengenakan topeng barong. Tindakan itu sebenarnya reaksi spontan saja karena dia baru saja pulang dari berlibur di Bali.

Namun, banyak orang kemudian menangkap ini sebagai variasi baru gerakan jaran kepang. Banyak kelompok lain kemudian latah menambahkan gerakan tari Bali, tokoh raksasa, atau barong dengan berbagai variasi gerakannya. Mereka juga menambah dengan musik iringan khas Bali. Ini berlangsung sampai sekarang.

Gara-gara fenomena tersebut, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Temanggung Didik Nuryanto mengungkapkan, dirinya sampai sering menerima protes dari rekan sesama aparatur sipil negara (ASN) dan seniman di Bali. Mereka keberatan kesenian jaran kepang Temanggung mengambil berbagai gerakan dan musik tradisional dari Bali.

Pasalnya, adopsi musik dan gerakan tari Bali ke dalam kesenian jaran kepang dinilai dilakukan dengan sembarangan. Padahal, di daerah asalnya, setiap irama musik dan gerakan tari tersebut sarat muatan spiritual dan makna luhur. Berangkat dari situasi tersebut, Pemerintah Kabupaten Temanggung berencana melakukan kajian dan kembali membuat standardisasi gerakan tari jaran kepang Temanggung.

Kompas/ Regina Rukmorini
Kerajinan jaran kepang Kandang Jaran milik Supriwanto di Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

Nilai sosial

Jaran kepang adalah kesenian komunal yang lahir dan dihidupi oleh masyarakat. Ketika ada perangkat musik dan kostum rusak, misalnya, maka warga, terutama anggota kelompok kesenian, menangkap kondisi tersebut sebagai sinyal untuk melakukan regon.

Regon adalah aktivitas warga dan penari yang sama-sama bekerja mencari tambahan penghasilan dengan menjadi buruh tani. Semua uang yang terkumpul dari regon digunakan untuk membiayai segala keperluan grup jaran kepang tersebut. Regon dilakukan dengan sepenuh hati dan penuh perhitungan

”Dalam seminggu, saya bisa tiga kali berangkat macul di tiga lokasi berbeda,” ujar Sutopo.

Selain macul, warga juga mencari cara lain untuk mengumpulkan uang, seperti terjadi di Desa Legoksari. Mereka menyisihkan sebagian hasil penjualan daun tembakau untuk jaran kepang.

Kompas/ Regina Rukmorini
Seorang petani memetik hasil panen tembakau dari lahan miliknya di Desa Legoksari, Kecamatan Tlogomulyo, Kabupaten Temanggung. Foto diambil 26 Agustus 2010. Untuk menghidupi kesenian jaran kepang, tidak jarang warga desa rela menyisihkan sebagian kecil hasil panen tembakau untuk jaran kepang.

Pada akhirnya, aktivitas bersama mengumpulkan uang demi jaran kepang ini berdampak positif pada semakin dekatnya hubungan warga. Mereka belajar tentang makna solidaritas, kerukunan, dan semangat bergotong royong.

Selain mengajarkan nilai-nilai sosial tersebut, grup kesenian jaran kepang juga menjadi alat kontrol sosial dan pengawasan perilaku warga, selain menghindarkan mereka dari dampak buruk pergaulan.

Menurut Sahadi (49), ketua kelompok kesenian Taruna Manunggal di Desa Tlilir, Kecamatan Tlogomulyo, sesi latihan tari secara tidak langsung  bisa berfungsi sebagai upaya pengawasan. Dari sini, pihaknya bisa mengecek aktivitas warga, terutama kalangan pemuda. Saat ada yang beberapa kali absen latihan, maka dia dan warga lain akan bertanya dan mengecek penyebab ketidakhadiran tersebut.

Kompas/ Regina Rukmorini
Suasana Desa Legoksari berjarak sekitar tujuh kilometer dari puncak Gunung Sumbing, Selasa (7/9/2018).

Jika ternyata karena sakit, mereka akan bersama-sama mengunjungi orang tersebut. Namun, jika seseorang absen karena bergabung atau berinteraksi dengan komunitas lain dari luar desa, warga lainnya akan menyelidiki apakah kelompok tersebut menawarkan pergaulan yang baik atau tidak.

”Dengan relasi yang dibangun dalam kelompok jaran kepang, kami berupaya saling memperhatikan satu sama lain, saling menjaga, supaya tidak ada yang salah bergaul, terlibat kriminalitas ataupun narkoba,” ujarnya.

Mendarah daging

Hingga kini, kesenian jaran kepang masih terus eksis dan semakin dicintai masyarakat di desa-desa di Kabupaten Temanggung. Kesenian ini seperti sudah mendarah daging pada diri para senimannya.

Tidak heran, ketika kemudian mendapat tugas untuk bergabung dalam Satuan Tugas (Satgas) Helikopter TNI Kontingen Garuda XXXVIII-A Multidimensional Integrated Stabilization Mission in Mali (Minusma) di Mali, Afrika Barat, Roy Suroyo (43) pun langsung mencetuskan ide untuk menampilkan pentas tari jaran kepang sebagai bagian dari misi perdamaian yang diembannya. Pria asal Temanggung ini mewarisi kemampuan menari jaran kepang dari kakek dan ayahnya.

Kompas/ Ferganata Indra Riatmoko
Remaja anggota kelompok kesenian tradisional kuda lumping Turonggo Jati memainkan gamelan untuk mengiringi sesi latihan di bekas pabrik aki di Kampung Padangan, Desa Temanggung I, Kecamatan Temanggung, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, Rabu (14/8/2019).

Setelah melatih 18 personel TNI lainnya selama tiga bulan, Roy dan teman-temannya mampu menampilkan lebih dari 22 kali pentas tari jaran kepang selama dua tahun bertugas di Mali. Penampilan mereka ditonton dengan antusias oleh pasukan dari negara-negara lain.

Di tingkat lokal Kabupaten Temanggung, kesenian ini juga selalu disambut antusiasme masyarakat yang ingin menonton dan turut menari. Bahkan, jaran kepang telah menjadi kegiatan ekstrakurikuler di banyak sekolah di tingkat SD dan SMP.

Kompas/ Ferganata Indra Riatmoko
Anak-anak anggota kelompok kesenian tradisional kuda lumping Turonggo Jati berlatih di bekas pabrik aki di Kampung Padangan, Desa Temanggung I, Kecamatan Temanggung, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, Rabu (14/8/2019). Mereka berlatih rutin dua kali dalam seminggu di tempat itu. Sejumlah sekolah menggelar kegiatan ekstra kurikuler kesenian kuda lumping khas Temanggung bagi murid sebagai salah satu upaya pelestarian kesenian tersebut. Saat ini terdapat sedikitnya 700 kelompok kesenian kuda lumping di Temanggung.

Setiap kelompok kesenian jaran kepang memiliki penggemarnya sendiri-sendiri yang separuhnya berasal dari kalangan muda. Pentas kesenian jaran kepang kini menjadi perbincangan semua kalangan masyarakat dan dianggap sebagai agenda pertunjukan yang tidak boleh dilewatkan.

”Dalam obrolan sesama anak muda, mereka sering membicarakan kapan lagi ada pementasan JK dalam waktu dekat,” ujar Roy.

JK adalah singkatan dari jaran kepang, istilah keren yang kini sering dipakai kalangan muda. Jaran kepang tengah menapaki masa kejayaannya kembali. Kesenian ini sekarang semakin kerap dipentaskan tanpa harus menunggu purnama tiba.

Kerabat Kerja

Penulis: Regina Rukmorini | Fotografer: Ferganata Indra Riatmoko, P Raditya Mahendra Yasa, Wawan H Prabowo, Heru Sri Kumoro, Regina Rukmorini | Pengolah foto: Toto Sihono | Penyelaras bahasa: Retma Wati | Produser: Sri Rejeki, Prasetyo Eko P | Desainer & Pengembang: Ria Chandra, Rino Dwi Cahyo, Frans Yakobus Suryapradipta, Yosef Yudha Wijaya

Menikmati Tutur Visual?

Baca Juga Tutur Visual Lainnya Yang Mungkin Anda Sukai