Hitung Cepat Kompas 2019, Menjaga Demokrasi

Pada 17 April 2019, pemilihan umum serentak digelar. Pemilu serentak mencakup pelaksanaan pemilihan presiden-wakil presiden, anggota DPR, anggota DPD, anggota DPRD provinsi, dan anggota DPRD kabupaten/kota. Momentum pemilu serentak juga menjadi agenda harian Kompas untuk turut berperan serta dalam menjaga proses demokrasi di negeri ini, dengan melakukan hitung cepat pemilu presiden-wakil presiden serta pemilu anggota DPR.

Hitung cepat atau quick count merupakan sebuah metode yang andal untuk memantau hasil pemilihan umum (pemilu). Prosesnya adalah dengan menghitung persentase hasil pemilu di sejumlah tempat pemungutan suara (TPS) yang dipilih secara acak dengan metode statistik.

KOMPAS/ WAWAN H PRABOWO
Deretan banner sosilisasi Pemilu 2019 menghiasi Jalan Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta, Minggu (31/3/2019). Untuk pertama kali dalam sejarah di Indonesia, Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) akan diselenggarakan secara serentak pada hari yang sama yakni pada Rabu, 17 April 2019.

Data hasil penghitungan suara ini lalu dikirim ke pusat sistem pengolahan data melalui perangkat elektronik. Pengiriman teks data disertai foto lembar C1 di lokasi TPS. Data tersebut akan dikonfirmasi melalui telepon ke narahubung (panitia TPS) di tiap-tiap TPS untuk memastikan keakuratan data.

Hitung cepat atau quick count merupakan sebuah metode yang andal untuk memantau hasil pemilu. Prosesnya adalah dengan menghitung persentase hasil pemilu di sejumlah tempat pemungutan suara yang dipilih secara acak dengan metode statistik.

Setelah dihimpun dan diolah, informasi hasil pemilu secara keseluruhan dapat dilihat pada hari itu juga. Untuk negara-negara berkembang seperti Indonesia, hitung cepat menjadi berguna karena proses penghitungan manual yang dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU) membutuhkan waktu yang lama, lebih kurang dua minggu.

KOMPAS/ RADITYA HELABUMI
Suasana saat hitung cepat yang dilakukan Litbang Kompas di Jakarta untuk mengetahui perolehan suara masing-masing kandidat dalam pemilihan presiden dan wakil presiden periode 2014-2019, Rabu (9/7/2014).

Dengan adanya hitung cepat, persentase perolehan suara partai ataupun pasangan calon presiden-wakil presiden yang dipilih dapat diketahui lebih cepat dibandingkan dengan hasil penghitungan yang dilakukan KPU.

Independen

Untuk menjaga kredibilitas dan independensi hasilnya, kegiatan riset pemilu dan hitung cepat dilakukan secara mandiri. Segenap kegiatan ini pendanaannya bersifat independen, dengan sumber pendanaan seluruhnya berasal dari anggaran PT Kompas Media Nusantara (harian Kompas). Demikian pula pelaksanaannya dilakukan sendiri oleh unit Litbang Kompas.

Segenap kegiatan ini pendanaannya bersifat independen, dengan sumber pendanaan seluruhnya berasal dari anggaran PT Kompas Media Nusantara (harian Kompas).

Populasi dan sampel

Populasi dalam hitung cepat Kompas adalah pemilih yang terdaftar di daftar pemilih tetap (DPT) hasil penghitungan KPU. Dalam hitung cepat kali ini, Kompas mengambil sampel semua pemilih dari 2.000 TPS terpilih yang tersebar di seluruh Nusantara. Pengambilan 2.000 sampel dilakukan dengan pertimbangan target toleransi kesalahan (margin of error), kemampuan sumber daya yang ada, dan biaya pelaksanaan.

Teknik penarikan sampel

Metode penentuan TPS sampel adalah dengan menggunakan teknik penarikan sampel secara acak sistematis berdasarkan jumlah data dari DPT. Total DPT dari 2.000 TPS sampel Kompas sebanyak 488.736 pemilih. Dengan tingkat kepercayaan 99 persen dari total maksimal pemilih, simpangan kesalahan diperkirakan akan kurang dari 1 persen.

Untuk menghasilkan data yang lebih valid dan akurat, mulai dari proses penentuan sampel sampai validasi data di lapangan, dilakukan dengan pengawasan berlapis. TPS sampel yang sudah ditentukan, diperiksa kembali dengan data pemilih terdaftar yang dikeluarkan KPU. Dengan demikian, semua TPS sampel tervalidasi dan benar, sesuai dengan daftar pemilihnya.

Pusat data

Begitu juga dengan hasil data yang diperoleh di lapangan. Seluruh hasil data akan divalidasi kembali di pusat data sehingga tidak terjadi kesalahan nonteknis dan kesalahan akibat kelalaian manusia. Hal ini semua dilakukan untuk memperoleh data yang valid dan akurat agar mendapatkan hasil sedekat mungkin dengan hasil sebenarnya.

KOMPAS/ HERU SRI KUMORO
Suasana pencoblosan pemilu presiden di kolong jalan tol Kelurahan Ancol, Kecamatan Pademangan, Jakarta, Rabu (9/7). Ada 10 TPS yang berderet di bawang kolong tol ini.

Di pusat data ada tim konfirmator, tim validator, dan tim sistem. Konfirmator bertugas memonitor keberadaan pewawancara dan memeriksa data yang masuk. Tim ini menghubungi pewawancara untuk memastikan akurasi data yang dikirimkan. Sementara validator mengesahkan data yang sudah terkonfirmasi (quality control).

Data valid akan disahkan dan dipublikasikan langsung melalui TV. Selain di Jakarta, kegiatan pusat data juga dilakukan di Medan dan Makassar. Pusat Data Medan memonitor pergerakan suara yang masuk dari wilayah Sumatera, sedangkan Pusat Data Makassar memantau wilayah Indonesia timur dan sebagian Kalimantan.

Publikasi

Selain hitung cepat, rangkaian kegiatan riset yang diselenggarakan Kompas pada pemilu kali ini adalah survei pasca-pemilihan (exit poll). Berbeda dengan hitung cepat, survei ini dilakukan untuk melihat gambaran perilaku pemilih, antara lain kecenderungan arah pilihan dan alasan responden memilih pasangan calon tertentu.

Survei ini dilaksanakan dengan mewawancarai pemilih seusai melakukan pemilihan di TPS. Pemilih yang akan diwawancarai untuk setiap TPS berjumlah empat orang. Jadi, total responden untuk survei ini sebanyak 8.000 orang.

Pergerakan hasil hitung cepat Kompas dapat diikuti pada 17 April 2019 mulai pagi di Kompas.id, Kompas.com, Kompas TV,  dan jaringan Radio Sonora. Publikasi hasil survei ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi masyarakat umum ataupun para pemangku kepentingan dalam penyelenggaraan negara, yang pada akhirnya bersama-sama menjaga dan meningkatkan kualitas demokrasi di Indonesia.

Kerabat Kerja

Penulis: Reza Felix Citra, Andreas Yoga Prasetyo | Infografik: Ningsiawati | Pengolah foto: Toto Sihono | Fotografer: Wawan H Prabowo, Heru Sri Kumoro, Raditya Helabumi, Rony A Nugroho | Penyelaras Bahasa: Priskilia Bintang Cornelia Sitompul | Produser: Sri Rejeki | Desainer & Pengembang: Ria Chandra, Rino Dwi Cahyo, Frans Yakobus Suryapradipta, Yosef Yudha Wijaya

Menikmati Tutur Visual?

Baca Juga Tutur Visual Lainnya Yang Mungkin Anda Sukai