Jatuh Bangun Liverpool Merengkuh Kembali Takhta

Liverpool mengalami berbagai penderitaan dan jatuh bangun selama tiga dekade terakhir. Pengalaman sulit itu telah menempa mereka sehingga menghasilkan gelar juara dan menjadi tim terbaik dalam Liga Primer Inggris.

Pada 1990, Liverpool menjuarai divisi utama Liga Inggris untuk ke-18 kalinya. Sejak saat itu, Liverpool tak pernah lagi mengecap rasanya menjadi juara liga domestik. Hingga, gelar itu akhirnya kembali ke tangan mereka tiga dekade setelahnya, pada 2020.

Waktu 30 tahun merupakan penantian yang sangat lama bagi tim tersukses di dataran Inggris itu. Sebagai perbandingan, dalam skuad juara Liverpool saat ini, hanya empat pemain yang sudah lahir saat terakhir kali tim asal kota pelabuhan tersebut juara. Di tanggal Liverpool memastikan gelar kala itu, 10 April 1990, kapten tim sekarang, Jordan Henderson, masih dalam kandungan berusia 7 bulan.

Begitu banyak yang berubah dari saat terakhir ”Si Merah”, julukan Liverpool, juara. Divisi utama Liga Inggris telah berganti merek menjadi Liga Primer pada 1992 dan menghasilkan 6 klub juara dalam 27 musim.

Manchester United, rival abadi Liverpool, telah menambah perolehan trofi liga mereka menjadi 20 gelar, atau yang terbanyak, dari sebelumnya hanya 7 gelar. Sementara itu, Manchester City tercatat tiga kali terdegradasi dari divisi teratas Inggris, terperosok hingga divisi satu dan dua. Lalu, City kembali lagi dan meraih 4 kali juara liga.

Terakhir kali Liverpool juara, mereka masih menjadi tim tersukses di Inggris, dengan total 18 gelar juara. Tim kala itu diperkuat pemain-pemain terbaik, seperti penyerang Wales, Ian Rush, yang tanda tangannya diburu hingga ke penjuru Italia oleh tim raksasa, Juventus.

Pesaing terbesarnya adalah Aston Villa, tim yang saat ini lebih akrab dengan zona degradasi. Pada April 1990, Liverpool memastikan juara seusai menang 2-1 atas Queen’s Park Rangers saat liga masih menyisakan dua pertandingan lagi. Mereka pun unggul sembilan poin atas Villa pada akhir musim.

Gelar juara hadir setelah rasa sesak semusim sebelumnya. Pada musim 1988/1989, Rush dan rekan-rekan gagal juara meskipun memiliki poin dan selisih gol sama dengan sang juara, Arsenal. Mereka hanya kalah dalam agresivitas gol.

Karena itu, kejayaan pada 1990 begitu melegakan. ”Tahun lalu kami gagal di saat terakhir, kini kami mampu menyelesaikannya dengan baik,” kata pemain sekaligus manajer Liverpool ketika itu, Sir Kenny Dalglish, seusai memastikan juara.

Setelah masa jaya tersebut, Dalglish pensiun sebagai pemain. Dia juga berkelana melatih klub-klub lain. Sang legenda hidup itu kemudian kembali menjadi manajer Liverpool, 20 tahun kemudian (2010-2012). Namun, hasilnya jauh dari harapan. Hingga akhirnya ia pensiun melatih, 2012, Si Merah belum pernah lagi merajai liga domestik.

Semasa era pembuktian sebagai klub tersukses, Liverpool merasakan jatuh dan bangun menggapai juara liga. Total enam manajer kelas dunia, dari Graeme Souness (1990-1993) sampai Brendan Rodgers (2012-2015), bergantian mencoba peruntungan. Namun, tak satu pun yang berhasil mengembalikan takhta mereka.

Dalam periode tiga dekade tersebut, klub asal kota pelabuhan ini nyaris beberapa kali menggapai juara. Pada musim 2008/2009, Liverpool begitu dekat dengan titel juara di bawah asuhan manajer top, Rafael Benitez.

Duet gelandang dan penyerang terbaik di Eropa, Steven Gerrard dan Fernando Torres, membuat timnya meraih 10 kemenangan dalam 11 laga terakhir di pengujung musim. Namun, capaian fantastis itu tidak cukup mengejar sang juara, MU, yang sudah tancap gas sejak awal musim. Liverpool tertinggal empat poin dari sang rival.

Lima tahun berselang, harapan ”The Kop”, sapaan pendukung Liverpool, yang sempat terkubur kembali muncul. Kala itu, sang kapten Steven Gerrard lagi-lagi memimpin timnya dalam perburuan gelar. Didampingi pemain kelas dunia, seperti Luis Suarez dan Raheem Sterling, membuat laju Liverpool pada musim 2013/2014 tak terbendung. Di bawah asuhan Rodgers, Liverpool berada di puncak klasemen hingga pekan ke-36.

Dalam buku otobiografinya, Gerrard menceritakan, ia sudah bisa merasakan atmosfer juara di segala penjuru kota Liverpool. Nyanyian juara oleh para The Kop selalu mengiringi ke mana pun dia melangkah. Namun, petaka justru datang saat Liverpool menjamu Chelsea di markas kebanggaan mereka, Stadion Anfield. Di depan pendukung sendiri, Liverpool ”tergelincir” dari perburuan juara setelah terpelesetnya Gerrard saat pertandingan.

Blunder Gerrard menghasilkan gol pembuka tim tamu yang berujung dengan kekalahan, 0-2, dari Chelsea. Sebelas kemenangan beruntun skuad asuhan Rodgers musnah begitu saja. Manchester City mampu menyodok dari peringkat kedua dengan menyapu bersih sisa laga. Liverpool harus merelakan gelar juara dengan hanya selisih dua poin.

Kegagalan musim itu menghadirkan trauma bagi skuad Si Merah. Suarez, yang sempat menangis di lapangan setelah dipastikan gagal juara, memutuskan pindah ke Barcelona. Liverpool mengakhiri musim berikutnya dengan finis di peringkat ke-6. Hasil itu berujung pada pemecatan Rodgers.

Hingga pada 2015, manajer yang diharapkan publik Anfield datang juga. Setelah kesuksesan bersama Borussia Dortmund, manajer eksentrik asal Jerman, Juergen Klopp, berlabuh di Liverpool. Kegagalan juara yang sempat dianggap sebagai kutukan mulai berubah menjadi sebuah harapan.

Klopp, yang menjuluki dirinya sebagai pria normal, berjanji membuat Liverpool meraih kejayaan dalam empat tahun ke depan. Dia pun membangun tim dari nol, sesuai keinginannya. Bakat tajamnya mengendus calon bintang kembali dibuktikan. Dengan modal terbatas dari klub, Klopp mengumpulkan keping-keping tim impiannya lewat uang dari menjual pemain bintang.

Misalnya, pembelian dua pemain terpenting Liverpool yang didatangkan pada 2017, Virgil van Dijk dan Mohamed Salah, merupakan hasil dari penjualan Philippe Coutinho. Cara seperti ini menjadi jalan keluar bagi Klopp dalam menghadapi pemilik klub asal Amerika Serikat yang terbilang pelit.

Dalam empat musim, Klopp mendatangkan Sadio Mane (2016) hingga Alisson Becker (2018) yang menjadi kepingan terakhir dalam tim impiannya. Semua itu berhasil didapatkan dengan rata-rata mengeluarkan transfer bersih sebesar 40 juta euro per musim. Nilai itu hanya berada di peringkat ke-13 dari 20 tim dalam catatan transfer net lima musim terakhir.

Adapun hanya Henderson satu-satunya pemain dalam skuad utama Klopp musim ini yang sudah ada sejak kedatangannya. Sisanya, pemain itu murni hasil membeli atau mengambil dari akademi klub.

Taktik ”gegenpressing”

Lengkapnya kepingan impian Klopp pada 2018 membuat Liverpool mulai menggila musim lalu. Gegenpressing, taktik menekan agresif hingga barisan pertahanan lawan, bisa dijalankan dengan sempurna.

Hasilnya memang efektif. Meskipun demikian, Si Merah lagi-lagi belum beruntung pada musim 2018/2019. Mereka finis di peringkat kedua, tertinggal satu poin dari City yang menjadi juara. Liverpool hanya mendapatkan status sebagai peringkat kedua dengan poin terbanyak sepanjang sejarah, 97 poin.

Kisah pahit itu seperti deja vu pada musim 1988-1989. Hal tersebut menjadi motivasi pasukan Klopp pada musim ini. Hasilnya mereka sempat tak terkalahkan hingga pekan ke-28 sebelum takluk dari Watford. Kekalahan itu tidak memengaruhi posisi Liverpool karena mereka sudah unggul jauh atas kompetitornya, City. Si Merah hanya butuh dua kemenangan lagi pada awal Maret. Pengamat sepak bola Inggris, Gary Lineker, bahkan mengatakan hanya perang dunia yang bisa menggagalkan mereka menjadi juara.

Walaupun gelar sudah di depan mata, Liverpool diadang oleh pandemi Covid-19. Pandemi membuat Liga Inggris dihentikan sementara pada pekan ke-29. Dalam situasi darurat itu, nasib liga sempat terkatung-katung. Ada kekhawatiran liga musim ini akan dianulir begitu saja tanpa juara. Keputusan seperti itu sempat diberlakukan di Liga Belanda atau Eredivisie. Publik The Kop pun harap-harap cemas menanti kelanjutan musim.

Setelah tiga bulan menanti, akhirnya musim dilanjutkan. Kisah berakhir bahagia seusai Liverpool memastikan gelar ke-19 liga domestik sekaligus trofi pertama Liga Inggris di era Liga Primer, Jumat (26/6/2020). Kepastian gelar itu didapat setelah sang rival, Manchester City, ditaklukkan oleh Chelsea.

Rasa haru

Pasukan Anfield dipastikan juara dalam tujuh pekan tersisa dengan keunggulan 23 poin atas peringkat kedua. Perjalanan panjang nan berliku selama dekade itu akhirnya berakhir. Kesuksesan itu berujung dengan sukacita yang bercampur dengan rasa haru.

”Saya kehabisan kata-kata, ini tidak bisa dipercaya. Bisa juara bersama klub ini, mengetahui bagaimana penantian selama 30 tahun untuk bisa memenanginya lagi,” kata Klopp yang tampak haru dalam wawancara bersama Sky Sports.

Penantian tiga dekade seperti terbayar lunas. Tak hanya membawa pulang trofi, mereka digadang-gadang sebagai tim juara terbaik sepanjang masa. Tim ini meraih kemenangan hingga 90 persen dan memastikan gelar paling cepat di sisa tujuh laga. Dominasi Liverpool dinilai melampaui tim juara tak terkalahkan alias the invincibles Arsenal pada musim 2003-2004.

Jatuh dan bangun Liverpool justru membuat gelar ke-19 mereka begitu manis. Layaknya botol anggur yang disimpan lebih lama, rasanya akan lebih istimewa. Seperti juga kata Van Dijk di Twitter selepas juara, ”Di akhir badai, akan ada langit keemasan.”

 

START: PAYWALL
END: PAYWALL

Kerabat Kerja

Penulis: Kelvin Hianusa | Fotografer: Yuniadhi Agung | Penyelaras Bahasa: Amin Iskandar | Infografik dan Cover: Ismawadi, Hans Kristian, Novan Nugrahadi | Produser: Emilius Caesar Alexey | Desainer & Pengembang: Ria Chandra, Rino Dwi Cahyo, Frans Yakobus Suryapradipta, Yosef Yudha Wijaya, Deny Ramanda

Suka dengan tulisan yang Anda baca?

Nikmati tulisan lainnya dalam rubrik Tutur Visual di bawah ini.