Kaki Arjuno dan Petaka di Kota Batu

Banjir bandang yang melanda beberapa titik di delapan desa di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur, Kamis (4/11/2021), membuat sejumlah pihak mengarahkan pandangan ke hulu Daerah Aliran Sungai Brantas. Salah satu masalah yang menjadi perhatian adalah alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian minim tegakan.

Banjir bandang itu menewaskan 7 orang, 89 keluarga terdampak, 35 rumah rusak, 33 rumah terendam lumpur, serta 7 mobil dan 73 sepeda motor rusak. Sebanyak 10 kandang ternak rusak, dengan jumlah ternak terdampak 107 ekor.

Survei udara pasca banjir bandang menemukan setidaknya lima guratan longsor di lereng Arjuno, hulu Sungai Sambong—sungai tadah hujan, yang menghantarkan banjir berikut material padat pada Kamis setelah turun hujan dengan intensitas tinggi selama sekitar 3 jam. Banjir bandang didahului jebolnya bendung alami yang tak sanggup lagi menahan longsor-an material dari atas.

”Banjir bandang diduga memang dari ’pembendungan’ air di bagian hulu. Sebab, kondisi DAS-nya tidak memungkinkan menampung air hujan langsung dalam jumlah besar. Dugaan itu ditambah info masyarakat bahwa banjir hanya 10-15 menit.

Kompas/Bahana Patria Gupta
Lokasi banjir bandang di Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur, Jumat (5/11/2021). Banjir bandang terjadi pada Kamis (4/5/2021) pukul 15.00.

Yang harus dilihat, bagaimana bendung air itu bisa terjadi,” kata Pengurus Pokja Manajemen Sumber Daya Air Masyarakat Konservasi Tanah dan Air Indonesia (MKTI) Cabang Jawa Timur Bayu Pramadya Kurniawan Sakti.

Kajian Didik Suprayono dan Sudarno (Ketua MKTI Jatim dan pengurus MKTI Jatim) pada 2019 menyebutkan, bendung alami bisa tercipta sebagai dampak kebakaran hutan. Hutan di kawasan Arjunoterbakar berulang kali tahun 2019. Penyebab lain, fenomena alam terkait siklus hidup pohon dan hal lain yang disebabkan ulah manusia.

Sumber material banjir bandang sudah diketahui, yakni dari guratan perbukitan yang longsor di sisi barat daya-sela-tan lereng Arjuno. Kawasan itu mencakup Sumberbrantas, Tulungrejo, Sumbergondo, dan Bulukerto. Perbukitan longsor karena minim pepohonan akibat pembukaan lahan untukproduksi hasil hutan, pariwisata, dan pertanian.

Kerabat Kerja

Penulis: Defri Werdiono, Ambrosius Harto, Dahlia Irawati | Infografik: Arjendro Darpito, Ningsiawati | Foto: Defri Werdiono, Bahana Patria Gupta, Runik Sri Astuti | Olah Foto: Arjendro Darpito | Ilustrasi Kover: Salomo Tobing | Produser: C Wahyu Haryo, Prasetyo EP | Desainer & Pengembang: Ria Chandra, Charlie Aditya Sebastian, Farida Wiryandani, Frans Yakobus Suryapradipta, Yosef Yudha Wijaya, Christian Teguh, Azkiya Hanna Rofifah, Hanasya Shabrina, Rino Dwi Cahyo, Deny Ramanda Liu

Suka dengan tulisan yang Anda baca?

Nikmati tulisan lainnya dalam rubrik Tutur Visual di bawah ini.