Karst Gombong Selatan, Bukan Sekadar Batuan Kapur

Karst Gombong Selatan bukan sekadar hamparan bukit kapur semata, melainkan penyeimbang ekosistem demi kelangsungan aneka makhluk hidup di sekitarnya, termasuk manusia. Namun, ancaman kehancuran karst mulai tampak. Untuk itu, pemanfaatan kawasan ini perlu dibarengi dengan kebijakan perlindungan yang berkelanjutan sehingga tetap terjaga kelestariannya.

Udara sejuk berbalut gemericik air terasa di sekitar Sendang Pelus yang berada di Desa Rogodadi, Kecamatan Buayan, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu. Mata air yang berada sekitar 10 kilometer arah selatan dari Gombong ini terletak di kaki bukit karst yang tampak menjulang, setinggi sekitar 150-200 meter.

Sejumlah anak bermain air sekaligus mandi di selokan yang mengalirkan air dari sendang ini. Rimbun dedaunan jati dan beringin membuat betah untuk berlama-lama bernaung di sekitar kawasan ini. “Dulu airnya besar dan deras dibanding sekarang. Mungkin karena ada longsoran bukit itu,” tutur Minarti (43), putri dari Mbah Sukini (65), juru kunci Sendang Pelus.

Sembari memberi makan ikan pelus, ikan yang bentuknya hampir menyerupai ikan lele, tapi dengan ukuran panjang antara 30 sentimeter dan 100 sentimeter, Minarti mengisahkan bahwa sendang ini dikeramatkan dan tidak boleh ada yang mengganggu atau mengambil pelus-pelus ini. Jika hal itu dilakukan, konon sakit atau bencana akan menghampiri yang bersangkutan. “Ada sekitar 10 pelus di sini. Tidak boleh diganggu. Di malam-malam tertentu juga ada orang yang bersemedi di sini,” tuturnya.

KOMPAS/WILIBRORDUS MEGANDIKA WICAKSONO
Ikan pelus keluar dari sarangnya di Sendang Pelus di Desa Rogodadi, Kecamatan Buayan, Kabupaten Kebumen, Jumat (26/2/2021).

Di antara riang tawa anak-anak yang asyik bercengkerama menikmati segarnya air sendang, terdengar suara denting linggis beradu dengan bebatuan dari kejauhan. Di antara bunyi keciprat air dari pelus yang menyambar telur goreng di permukaan, terdengar deru sepeda motor penambang batu menuruni bukit karst. Hanya sekitar 300 meter dari sendang ini, aktivitas tambang batu kapur masih ditemui. “Lima meter kubik batu buat pondasi harganya Rp 450.000,” kata Sarijan (59), penambang batu di sekitar batu lubang.

Batu lubang merupakan istilah warga setempat untuk menunjuk sebuah lubang yang berada di bawah bukit kapur. Sejumlah ceruk mulai dari ukuran 1 x 2 meter hingga belasan meter tampak di kawasan bukit batu ini. Di sekitarnya tampak tali-temali serta tangga untuk memasang dinamit guna menghancurkan batu untuk kemudian ditambang. “Dari atas pakai dinamit. Lalu diambil batu yang keras untuk pondasi, sisanya dipakai untuk menimbun supaya rata lagi,” ujar Sarijan yang sudah menambang batu sejak usia 14 tahun.

Menurut Sarijan, kawasan itu dimiliki oleh sejumlah orang dan dia bersama rekannya biasa mengumpulkan lima meter kubik batu dalam kurun waktu tiga hingga empat hari. “Ini tanah juragan saya. Biasanya bisa dapat batu untuk dijual sekitar 3-4 hari,” paparnya.

Di sisi lain dari karst Gombong Selatan ini, tepatnya di Desa Candirenggo, Kecamatan Ayah atau berada di belakang Goa Petruk, terdapat pembongkaran karst untuk dibangun jalan dengan panjang hingga 2 kilometer untuk menuju objek wisata Curug Gumawang dan Curug Leses, Goa Langse, serta Tebing Kandangan. “Pembukaan jalan ini merusak karst yang bisa menyimpan air tanah serta berpotensi longsor. Karst ini ibaratnya seperti spons yang bisa menyimpan air puluhan tahun bahkan lebih,” tutur Marsinus Yosa, aktivis lingkungan dan juga warga setempat.

Yosa yang juga pemandu wisata serta instruktur caving menyampaikan, di bentang alam karst Gombong Selatan ada ada 362 goa, 190 mata air permanen, dan 982 bukit. Di kawasan itu juga ada sekitar 90 tumbuhan yang hampir punah, contohnya pohon pucung.

Kekayaan di karst Gombong Selatan itu menjadi bagian tidak terpisahkan dalam kawasan Geopark Karangsambung-Karangbolong, yang ditetapkan sebagai taman bumi secara nasional pada 30 Novermber 2018 lalu. Kawasan taman bumi ini luasnya 543.599 kilometer persegi.

Kawasan yang punya beragam morfologi, mulai dari perbukitan, lembah, dataran, hingga pantai, ini mencakup 119 desa di 12 kecamatan di Kebumen. Di taman bumi ini terdapat 59 situs utama yang terdiri dari 41 situs geologi (geosite), 8 situs biologi, dan 10 situs budaya. Di Karangsambung sampai Karangbolong memiliki enam periode sejarah geologi sejak 117 juta tahun lalu hingga sekarang.

Salah satu tempat yang masih cukup alami dan eksotik di kawasan karst Gombong Selatan adalah Tebing Kandangan. Butuh waktu sekitar dua hingga tiga jam berjalan kaki mendaki bukit kapur untuk mencapai tempat ini dari Goa Petruk. Kawasan seperti lembah ini dikelilingi tebing kapur setinggi 150 meter, luasnya sekitar 10 hektar.

“Ini disebut Tebing Kandangan karena di sini dulu banyak binatang seperti lutung, babi hutan, monyet, elang, alap-alap, kolibri. Dulu ini goa atau dome, tapi runtuh. Begitu runtuh, lorongnya tertutup tanah, di bawah ini masih ada goanya serta sungai bawah tanah sepanjang 350 meter. Ini perlu dijaga,” paparnya.

Peneliti Swadaya Putut Wijonarko yang tergabung dalam komisi riset Badan Pengelola Geopark Nasional Karangsambung-Karangbolong menyampaikan, ekosistem karst Gombong Selatan yang punya banyak goa menjadi tempat hadirnya banyak satwa yang berfungsi menopang ekosistem pertanian di sekitarnya.

“Misalnya di kawasan kandangan ini ada burung hantu, Tyto alba, salah satu spesies burung hantu yang besar. Dia bisa makan tikus dan melindungi petani dari hama itu. Ada juga kelelwar insektifor, pemakan serangga,” papar Putut.

Putut menyampaikan pada 1995, ia sempat mengamati bahwa kelelawar yang insektivora itu ternyata memakan wereng. Di Goa Petruk misalnya, ada sekitar 150.000 ekor populasi kelelawar pemakan serangga. Sekali makan, per kelelawar bisa memakan 10 gram wereng.

“Kelelawar ini dalam semalam, makan dua kali. Keluar jam 18.00, lalu kembali ke goa jam 22.00. Kemudian keluar lagi jam 02.00 lalu pulang subuh. Per ekor kelelawar bisa makan 20 gram wereng. Jika ditotal, semalam mereka semua bisa memakan 15 ton wereng yang setera dengan 10 truk fuso,” tutur Putut.

Putut menegaskan, kawasan bentang alam ini secara tidak langsung melindungi petani di delapan kabupaten di Jawa Tengah karena daya jelajah kelelawar ini bisa mencapai 30 kilometer. Kabupaten itu adalah Kebumen, Banyumas, Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo, Purworejo, dan Kulonprogo.

“Fungsi-fungsi inilah yang kadang tidak disadari. Misalnya fungsi kelelawar yang pemakan buah. Hanya kelelawar codot inilah yang bisa membantu pembuahan bunga durian. Jika tidak ada bentang alam ini dan tidak ada kelelawar, bunga durian di Banyumas tidak akan bisa berbuah,” ujarnya.

Dari jenis batuan dan vegetasinya, lanjut Putut, bisa pula dipelajari tentang batuan lava, lapisan karst. Bisa pula dipelajari seperti apa satwa ini beradaptasi, proses dekomposisi alam dan lain-lain. ”Itu semua bisa dipelajari di sini, jika bisa meng-create bagaimana menginterpretasi lahan ini sebagai ilmu yang sangat berharga, bukan semata-mata soal indah tapi nilai ilmiah dari kawasan ini memberikan rasa pengetahuan dan rasa ingin melindungi alam semesta,” katanya.

KOMPAS/WILIBRORDUS MEGANDIKA WICAKSONO
Suasana Tebing Kandangan di Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, Jumat (26/2/2021).

Menurut Putut, kawasan ini sangat rapuh dan harus dilindungi, karena bermakna sangat penting bagi kehidupan manusia. “Sebetulnya konservasi itu semata-mata bukan melestarikan atau melindungi satwanya, tapi sebetulnya melindungi manusia. Tanpa kehadiran satwa ini, durian tidak bisa berbuah, petani tidak bisa panen,” ucapnya.

Terkait pembangunan jalan untuk akses wisata, Kepala Desa Candirenggo Mustofa mengatakan, jalan itu untuk mendukung pariwisata serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar. Menurut Mustofa, pembangunan jalan sepanjang 2 kilometer itu memakai alokasi dana desa sebesar Rp 450 juta. “Jalan itu dibangun di atas tanah desa dan sebagian lahan milik masyarakat,” kata Mustofa.

Pegiat Wisata Kebumen Sigit Asmodiwongso menyampaikan, wisata di kawasan karst Gombong Selatan dan juga di wilayah lain yang kaya akan warisan geologi perlu memperhatikan daya dukung lingkungan. Wisata minat khusus bisa dikembangkan dan sebisa mungkin dihindari wisata massal karena mengancam lingkungan.

“Kita harus hati-hati karena secara ekologis ini sangat berharga dan ringkih. Dalam konsep ecotourism, bahkan bisa menjadi produktif karena pengetahuan ilmiah tentang tempat ini baik dalam konteks karst, geologi, dan lingkungan bisa disampaikan secara populer, bisa disampaikan ke publik sebagai sarana edukasi,” tutur Sigit yang juga founder Biro Wisata Milangkori.

KOMPAS/WILIBRORDUS MEGANDIKA WICAKSONO
Bekas sarang burung kolibri berada di Tebing Kandangan di Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, Jumat (26/2/2021).

Merujuk pada penelitian Chusni Ansori dan Defry Hastria yang berjudul “Potensi Bahan Tambang, Penataan Wilayah Usaha Pertambangan dan Wilayah Pertambangan Rakyat di Kebumen”, yang dipublikasikan di Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara (Volume 8, Nomor 3, September 2012), disebutkan bahwa potensi kelompok mineral logam Kebumen terdiri dari atas pasir besi, mangan, emas. Adapun kelompok batuan meliputi batu gamping, tanah liat, andesit, diabas, gabro, basal, marmer, pasir-batu, dan tanah merah.

Di balik bongkahan batuan kapur serta di dalam ceruk-ceruk goa yang tersebar di kawasan selatan Kebumen, adalah habitat satwa liar pendukung ekosistem. Tanpa mereka, keseimbangan alam terutama kehidupan manusia akan terganggu. Jika karst ini hancur, sumber air berpotensi menyusut dan burung hantu serta kelelawar akan lenyap sehingga sawah dan perkebunan durian terancam gagal panen.

Konservasi sebagaimana ditegaskan Putut, adalah demi melindungi manusia. Pengusulan kawasan Geopark Karangsambung-Karangbolong menjadi geopark global kiranya menjadi momentum yang tepat untuk memperkuat perlindungan kawasan ini demi keberlanjutan kehidupan manusia.

Kerabat Kerja

Penulis: Wilibrordus Megandika Wicaksono | Fotografer: Wilibrordus Megandika Wicaksono | Infografik: Ningsiawati | Produser: Prasetyo Eko P | Desainer & Pengembang: Ria Chandra, Rino Dwi Cahyo, Frans Yakobus Suryapradipta, Yosef Yudha Wijaya, Deny Ramanda

Suka dengan tulisan yang Anda baca?

Nikmati tulisan lainnya dalam rubrik Tutur Visual di bawah ini.