Berkereta Kuda ke Borobudur pada Tahun 1852

Charles Walter Kinloch, seorang petualang Inggris yang bermukim di British India (kini wilayah India, Pakistan, dan Bangladesh), pada tahun 1852 menjelajah Pulau Jawa dengan kereta kuda. Dia membuat sejumlah catatan menarik selama perjalanannya. Pada bulan Juli tahun itu yang bertepatan dengan akhir bulan Ramadhan, ia menyelesaikan penggalan rute Kebumen-Magelang melalui Jalan Daendels. Selama periode ini, ia mengunjungi bupati, sekolah, dan penjara.

Jalan Daendels di pesisir selatan Pulau Jawa berbeda dengan Jalan Daendels di utara Jawa yang dibuat Marsekal Herman Willem Daendels yang juga Gubernur Jenderal Hindia Belanda tahun 1808-1811. Ternyata ada dua sosok bernama Daendels yang membangun jalan raya di Jawa tahun 1800-an.

Daendels yang pertama adalah Herman Willem Daendels, sang gubernur jenderal sekaligus perwira Napoleon Bonaparte pembangun Jalan Raya Pos atau Groote Post Weg. Daendels yang kedua adalah Augustus Daendels, anak Herman Willem Daendels yang menjadi asisten residen di wilayah Ambal, dekat Kabupaten Kebumen tahun 1838.

arsip kitlv
Jenderal HW Daendel pada tahun 1795.

 

Jalan Daendels yang dibangun belakangan itulah yang dilewati Charles Walter Kinloch dan rombongan yang bertolak pagi hari dari Banyumas menuju Kebumen sejauh 38 mil atau 62 kilometer. Mereka melintasi jalur dataran rendah dengan kereta kuda di tengah suasana udara panas menyengat.

Dalam buku yang ditulis Kinloch, Rambles in Java and The Straits in 1852, setiba di Kebumen rombongannya diterima oleh Asisten Residen Tuan Petel di Kebumen yang langsung mengajak mereka menyaksikan parade serdadu Jawa. Parade yang berlangsung 7 Juli 1852 itu diselenggarakan menjelang petang di alun-alun Kebumen yang merupakan bagian dari acara menjelang akhir bulan Ramadhan.

Kebumen dan komunitas Arungbinang

Bupati Kebumen KRT Arungbinang IV (1833-1861) terlihat hadir memasuki lapangan sambil mengendarai kuda. Ia mengenakan busana khas bangsawan Jawa dengan hiasan perak. Trah keluarga Arungbinang memimpin wilayah Kebumen semasa Hindia Belanda. Hingga kini komunitas itu masih ditemukan di wilayah tersebut sebagai komunitas adat Arungbinang.

Bupati kemudian mengarahkan kudanya ke sebuah platform dekat panggung di bagian depan lapangan. Masyarakat yang hadir langsung duduk berjongkok memberikan penghormatan kepada Bupati. Bupati KRT Arungbinang IV kemudian duduk di samping Asisten Residen menyaksikan parade militer.

O. hisgen&co. /arsip kitlv
Bupati Kebumen KRT Arungbinang bersama putri bungsunya pada tahun 1930.

Di Pulau Jawa, pada masa kolonial Hindia Belanda, alun-alun, kantor bupati, kantor pejabat Belanda, masjid, dan beberapa bangunan penting lainnya dibangun di satu blok yang sama. Posisi berjongkok dan menyembah yang diberikan masyarakat jelata kepada pejabat di Jawa, menurut catatan Kinloch, sangat tidak manusiawi dan tidak nyaman. Cara rakyat Jawa menerima perintah dari pejabat dan bangsawan juga sama, dengan posisi berjongkok dan memberikan sembah.

Dia juga mencatat, orang Tionghoa memberikan penghormatan dengan mengangkat topi kepada para pejabat Eropa dan Jawa yang berpapasan. Pada zaman pemerintahan Letnan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles, beberapa aturan feodal tersebut, menurut Walter Kinloch, sempat dihapuskan.

Rombongan mereka dijamu makan malam oleh Residen Kebumen. Pada jamuan makan malam, Walter Kinloch diterima Residen berikut dua tamu: seorang ningrat Spanyol dan seorang perempuan guru pribadi atau governess berkebangsaan Inggris.

arsip kitlv
Asisten Residen Kebumen pada tahun 1905, Emile Einthoven berpose bersama istrinya, Jeanne Einthoven-Gutteling.

 

Pria keturunan bangsawan Spanyol itu melarikan diri dari tuntutan sosial keluarganya di Spanyol yang memintanya menjadi rohaniwan. Ia  kabur ke Manila, Filipina, lalu melanjutkan pengembaraannya ke Jawa hingga 20 tahun.

Semula pria Spanyol tersebut diam saja saat makan malam. Namun, ketika Kinloch mulai bicara soal pengalamannya di atas kapal Java dari Singapura ke Batavia, pria Spanyol tersebut langsung menimbrung pembicaraan.

Kinloch berkisah bahwa dirinya bertemu orang Eropa yang menjadi korban bajak laut China. Pria itu kemudian menggunakan hidung dan daun telinga palsu buatan orang Perancis.

arsip kitlv
Asisten Residen Kebumen Emile Einthoven bersama istrinya, Jeanne Einthoven-Gutteling, dan kedua anak mereka, berfoto bersama tamu mereka. Foto dibuat antara tahun 1907-1912.

Pria Spanyol itu menceritakan pengalamannya nyaris menikah dengan seorang perempuan Eropa berambut panjang terurai di Kota Pondicherry, koloni Perancis di India. Persiapan pernikahan dilakukan. Menjelang pernikahan, seorang teman pria Spanyol menggoda calon mempelai wanita dan tak sengaja rambutnya ketarik oleh pria usil itu. Rambut indah itu pun terlepas!

Ternyata, sejatinya perempuan tersebut botak plontos dan menggunakan rambut palsu hitam lebat. Pria Spanyol itu menambahkan, jangan-jangan hidung, kaki, dan bagian tubuhnya yang lain palsu. Dia pun berusaha meninggalkan perempuan tersebut. Pernikahan yang gagal itu mengakibatkan dia mengeluarkan uang 4.000 gulden untuk urusan hukum pembatalan pernikahan karena si perempuan bersikeras mengejar pria Spanyol tersebut.

Lain lagi kisah guru perempuan Inggris yang pada pagi hari terlihat ceria. Namun, pada jamuan makan malam terlihat gelisah bahkan meninggalkan acara sebelum hidangan berakhir. Selidik punya selidik, catat Kinloch, perempuan tersebut ternyata kepanasan dengan busana resmi khas Inggris gaya Victorian yang berbeda dengan busana perempuan Belanda di Jawa yang tipis dan tidak gerah saat dikenakan dalam berbagai acara.

Tanggal 9 Juli 1852, rombongan Kinloch melanjutkan perjalanan ke kota Purworejo, ibu kota Karesidenan Bagelen. Meski cuaca panas, Kinloch menilai kota Purworejo lebih menarik dibandingkan dengan Kebumen.

repro buku rambles in java and the straits in 1852.
Lukisan suasana desa di dekat Kebumen. Diambil dari buku Rambles in Java and the Straits in 1852 yang ditulis oleh Charles Walter Kinloch.

 

Kesan-kesan terhadap kota Purworejo

Tanaman indigo, perkebunan tebu, dan jagung terlihat di sepanjang perjalanan Kebumen-Purworejo. Pusat pemerintahan di Purworejo, menurut Kinloch, dikelilingi perbukitan yang menghambat sirkulasi udara di lembah tersebut.

Kinloch dan rombongan lantas diterima Residen Purworejo yang memiliki 14 anggota keluarga. Pada saat bersamaan datang tamu lain, yakni seorang kolonel kavaleri bersama Aide de Camp atau ajudannya, serta seorang nyonya Eropa dan anaknya yang berkebutuhan khusus. Mereka datang dari karesidenan tetangga.

Menjelang pukul 19.00, mereka bersantap malam di kediaman Residen Belanda di Purworejo. Hidangan yang disajikan sangat berlimpah dan anak-anak, menurut Walter Kinloch, makan dengan lahap. Hidangan yang disajikan beraneka ragam seperti sup, bistik, daging babi, acar-acaran, salad, dilanjutkan puding, roti, aneka selai, jeli, buah-buahan, dan bon-bon atau permen.

”Anak-anak Eropa di Hindia Belanda tidak terlihat segar seperti anak-anak Inggris yang pipinya cerah kemerahan,” Kinloch mengomentari anak-anak Belanda yang ditemuinya di Purworejo.

arsip kitlv
Pemandangan suasana Purworejo pada tahun 1936.

 

Pada pagi terakhir di Purworejo, mereka diundang ke taman di rumah Residen Belanda. Kinloch terkejut karena yang menemuinya adalah sepasang wanita dengan busana tradisional, yakni kebaya dengan bawahan kain batik. Rambutnya dibiarkan tergerai lepas dan tidak mengenakan sepatu. Menurut dia, penampilan tersebut sangat tidak sesuai untuk seorang perempuan dalam kacamata adat Inggris.

Kinloch dan rombongan lalu diajak mengunjungi penjara dan sekolah pemerintah di kota Purworejo yang diperuntukkan bagi siswa Bumiputera. Saat mengunjungi penjara bersama Residen Belanda, dia mencatat, ruangan penjara merupakan bangunan besar dengan ventilasi yang baik.

Penduduk Purworejo kala itu 600.000 jiwa dan rata-rata jumlah tahanan di beberapa karesidenan yang ada tidak mencapai 300 orang. Menurut dia, dalam rasio yang sama, jumlah angka narapidana di Jawa jauh lebih rendah dibandingkan dengan di distrik-distrik yang ada di British India.

arsip kitlv
Lanskap Purworejo pada tahun 1936.

Lain lagi ketika mengunjungi sekolah bagi siswa Jawa. Kinloch mendapati pengalaman menarik. Para siswa di sekolah tersebut tidak diajarkan tentang sejarah Eropa. Alasannya, penguasa Hindia Belanda khawatir, rakyat akan tumbuh kesadarannya yang berujung berbagai tuntutan jika mempelajari dan mengetahui sejarah Eropa. ”Pengetahuan tentang Eropa dikhawatirkan menjadi senjata yang berbahaya di tangan rakyat Bumiputera yang terdidik,” kata Kinloch.

Selama masa Hindia Belanda hingga Indonesia modern, Purworejo dikenal sebagai kota militer. Salah satu yang menarik dari sejarah militer di daerah ini adalah keberadaan serdadu-serdadu kolonial dari berbagai wilayah Afrika yang bermukim di sana.

Guru Besar Sejarah Universitas Leiden, Belanda, Inneke van Kessel, dalam buku Serdadu Afrika di Hindia Belanda (1831-1945), mencatat adanya Gang Afrika I dan Gang Afrika II di kota Purworejo hingga kini.

Dari sekolah di Purworejo, rombongan Kinloch melanjutkan perjalanan ke kota Magelang yang berjarak 27 mil atau 42 kilometer. Sayangnya, keindahan pemandangan alam sepanjang perjalanan terkalahkan oleh udara panas menyengat yang membuat mereka kegerahan dan kuda-kuda penarik kereta berjalan lamban.

Saat berganti kuda di pos pertama dan pos kedua, mereka mengalami masalah. Di pos pertama, kuda melonjak sehingga membuat kusir terjatuh. Akibatnya, perjalanan tertunda hingga setengah jam. Kereta ditarik oleh empat kuda.

Selanjutnya di pos kedua, ternyata satu kuda bermasalah sehingga menghambat perjalanan tiga kuda lainnya. Perjalanan dari Purworejo ditempuh hingga enam jam sebelum akhirnya tiba di kota Magelang menjelang malam hari!

 

 

Padahal, menurut sejarawan Universitas Indonesia, Djoko Marihandono, dalam buku Ekspedisi Anjer-Panaroekan: Laporan Jurnalistik Kompas, kecepatan perjalanan kereta kuda di Jalan Pos tersebut rata-rata 8 paal atau 12 kilometer per jam pada musim kemarau. Sementara kecepatan perjalanan kereta kuda pada musim hujan 5 paal atau 7,5 kilometer per jam.

Di Magelang, mereka menginap di hotel yang disebutnya bersih dan nyaman dengan pemandangan Gunung Sumbing di kejauhan yang terlihat indah. Makan malam disiapkan sangat lama oleh Nyonya Belanda yang menerima mereka karena pemilik hotel sedang pergi ke Salatiga. Setelah makanan datang, ternyata, menurut Kinloch, hanya sajian kentang yang layak disantap.

Memasuki hari Minggu tanggal 11 Juli 1852, Kinloch membandingkan suasana Inggris zaman itu ketika hampir semua warga di daerah perdesaan pergi ke gereja dan tidak ada aktivitas pekerjaan harian karena ada jeda satu hari dalam seminggu. Ini berbeda dengan suasana di kota Magelang dan kota-kota lain di Jawa. Sepanjang pekan, semua orang terlihat sibuk bekerja.

Menengok Candi Borobudur dan Mendut

Selama berada di Magelang, Kinloch dan rombongan sempat mengunjungi Candi Borobudur dan Candi Mendut yang berjarak sembilan mil atau 14 kilometer dari kota. Sebelumnya, ia harus mengurus izin ke Residen Kedu F G.Valck. Reruntuhan Candi Mendut berada 2 mil atau tiga setengah kilometer dari reruntuhan Candi Borobudur.

Ketika itu belum banyak tersedia informasi tentang Borobudur dan Mendut, kecuali bahwa kedua candi tersebut adalah Candi Buddha. Kondisi Candi Mendut dinilai lebih baik daripada Candi Borobudur. Reruntuhan Candi Mendut ditemukan tahun 1830-an oleh Residen Kedu bernama Hartman.

Penemuan Candi Mendut tidak disengaja ketika anak buah Residen Hartman tersandung batu besar ketika melintasi kerumunan semak yang menjulang di lokasi tersebut. Setelah diselidiki, terdapat struktur batu menyerupai bangunan yang ketika ditelusuri lebih jauh ternyata merupakan reruntuhan sebuah candi.

Residen Hartman yang memiliki pengetahuan soal sejarah kemudian memerintahkan dilakukannya ekskavasi. Ketika dilakukan penggalian, terjadi kerusakan jari jemari salah satu patung di bagian tengah Candi Mendut akibat terkena alat penggali yang digunakan para tukang.

Rombongan Kinloch membawa sketsa-sketsa Candi Borobudur, Candi Mendut, dengan gambar patung Buddha berukuran besar, ukiran relief raja-raja Jawa dan India, dan sketsa candi lain yang dikunjungi dalam perjalanan ke Borobudur dan Mendut. Candi lain yang dimaksud adalah Candi Pawon.

Menurut Kinloch yang mengutip tulisan Thomas Stamford Raffles, keberadaan Candi Borobudur dan candi-candi di sekitarnya adalah tempat suci agama Buddha dan menyerupai Candi Gyah di India.

Berdasarkan temuan di candi-candi dan prasasti, diperkirakan terjadi hubungan yang erat antara Pulau Jawa dan daratan India pada abad 6-9 Masehi. Pembangunan candi-candi tersebut pun diperkirakan berlangsung pada periode yang sama.

Ketika berada di Candi Mendut, rombongan Kinloch bertemu dengan seorang pelukis Italia yang ditugaskan Pemerintah Hindia Belanda untuk membuat sketsa candi-candi di sana. Seniman tersebut menunjukan beragam sketsa yang dibuatnya di Borobudur dan Mendut.

Semasa itu, lembaga Batavia Genootschap voor Kunsten en Wettenschapen atau Perkumpulan Batavia untuk Seni dan Kebudayaan, aktif dalam pelestarian berbagai peninggalan sejarah, termasuk Candi Borobudur dan candi-candi lainnya yang ditemukan tahun 1800-an. Bangunan lembaga Batavia Genootschap voor Kunsten en Wettenschapen kini menjadi Museum Nasional atau Gedung Gajah.

Charles Walter Kinloch meninggalkan kota Magelang pada 13 Juli 1852. Timbul masalah ketika Residen justru mengatur kepergian mereka untuk keesokan harinya dan hanya bisa menyediakan kereta pos untuk separuh perjalanan dari empat pos yang harus dilalui dari Magelang ke kota tujuan berikutnya, yakni Salatiga.

Walter Kinloch nekat tetap berangkat hari itu juga. Setelah melalui empat pos, di perbatasan karesidenan Kedu dan karesidenan Semarang, dia harus berganti kereta pos. Untungnya di Karesidenan Semarang, permintaanya untuk mendapatkan angkutan kereta kuda direspons dengan baik setelah menunggu satu jam.

Kereta disiapkan dan pada petang harinya mereka sudah tiba di kota Salatiga yang berada di ketinggian 1.800 kaki atau 540 meter di atas permukaan laut. Hotel tempat mereka menginap, menurut Kinloch, dikelilingi pepohonan dan semak rimbun yang membuat sirkulasi udara tidak lancar. Perabot hotel terlihat kusam dan ruang lobi hotel bau aroma tembakau.

START: PAYWALL
END: PAYWALL

Kerabat Kerja

Penulis: Iwan Santosa | Olah foto: Luhur Arsiyanto Putra | Infografik : Tiurma Clara Jessica | Ilustrasi kover: Supriyanto | Penyelaras bahasa: Kusnadi | Produser: Sri Rejeki | Desainer & Pengembang: Ria Chandra, Rino Dwi Cahyo, Frans Yakobus Suryapradipta, Yosef Yudha Wijaya, Deny Ramanda

Suka dengan tulisan yang Anda baca?

Nikmati tulisan lainnya dalam rubrik Tutur Visual di bawah ini.