Kota Lama Semarang, Miniatur Belanda di Tanah Jawa

Kelangsungan masyarakat dan bangunan tua sebagai satu ekosistem dan keunikan Semarang sebagai kota yang harmonis adalah nyawa yang harus dipertahankan sebagai sumbangan Semarang dan Indonesia bagi peradaban urban umat manusia.

Kota Lama Semarang yang dijuluki “The Little Netherland” berbenah diri dalam dua tahun terakhir dengan pembenahan infrastruktur seiring dengan tumbuhnya berbagai kafe, dan obyek wisata di wilayah yang terletak di antara Stasiun KA Tawang dan Kantor Pos Pusat. Upaya pelestarian Kota Lama Semarang tersebut terutama untuk mengejar status sebagai kota warisan budaya dunia (world heritage) UNESCO.

Para pelestari budaya dan sejarah Kota Lama Semarang yang belasan tahun berkecimpung di sana seperti Tjahjono Rahardjo, Arry Awan, hingga para tukang becak yang mencari nafkah sebagai bagian dari ekosistem sosial dan ekonomi Kota Lama habis-habisan memperjuangkan marwah dari situs tersebut. Sebuah cagar sejarah UNESCO tidak saja berupa kompleks bangunan tua berusia berabad, tetapi manusia-manusia yang hidup di sana sebagai darah yang menghidupi cagar sejarah tersebut.

Kota Semarang pra kolonial sudah menjadi melting pot budaya dari zaman pra–Mataram Islam dengan kehadiran masyarakat Jawa, Melayu, Tionghoa, Koja, dan lain-lain. Selanjutnya tumbuh wilayah Eropa di tempat yang dikenal sebagai Kota Lama Semarang dengan berbagai bangunan langgam arsitektur Eropa dan Indisch, yakni campuran budaya Jawa dan Eropa.

Tjahjono Rahardjo yang juga anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Semarang mengingatkan, keunikan Semarang bukan hanya pada keberadaan ratusan bangunan antik di Kota Lama. Jika hanya mengacu pada bangunan Eropa dan Indisch, tempat lain seperti Kota Tua di George Town, Penang, dan Malaka di Malaysia pun memiliki hal yang sama dan lebih terawat keadaannya. Demikian pula keberadaan Macau yang juga menjadi warisan dunia UNESCO yang memiliki keunikan kota kolonial dan pertemuan budaya Eropa dan China.

“Ada kampung Melayu, Tionghoa, dan tentu saja Kauman di Semarang yang berada sebelah-menyebelah dari Kota Eropa atau Little Netherlands. Inilah keunikan khas Semarang yakni kemajemukan dan harmoninya. Nilai dari sebuah cagar UNESCO tidak sebatas pada fisik bangunan tetapi nilai budaya dari masyarakat yang berabad-abad di hidup di dalam lingkungan bangunan bersejarah tersebut,” kata Tjahjono.

KOMPAS/EDDY HASBY
Gereja Blenduk atau Gereja GPIB Immanuel, terletak di Jalan Letjend Suprapto, Semarang, Kamis (26/09/2019). Bangunan ini adalah ikon Kota Lama dan kini menjadi destinasi wisata yang dipadati pengunjung.

Demi menjaga kelestarian komunitas yang hidup di Kota Lama Semarang, berbagai kegiatan digelar oleh para aktivis pelestarian. Pegiat wisata napak tilas Kota Lama Semarang, Arry Awan menerangkan, pihaknya melatih para muda-mudi setempat hingga tukang becak untuk mengenal dan mampu memandu wisatawan di Kota Lama Semarang.

Berbagai kegiatan seni seperti gamelan, melukis, wayang, pemanfaatan limbah, sertifikasi pemandu wisata, dan lain-lain digelar di berbagai bangunan tua di sana untuk menghidupkan kembali Kota Lama.

Bahkan para perempuan pekerja tempat hiburan malam juga dirangkul dengan gagasan untuk menyediakan alternatif pekerjaan. Semua kegiatan tersebut dilakukan Arry Awan dan kawan-kawan dengan swadaya. Membangun jiwa dan badan dari sebuah kawasan konservasi adalah semangat dari perjuangan para pelestari Kota Lama Semarang.

Balas Budi VOC

Kota Semarang mulai menjadi Kota Eropa selepas perlawanan Trunojoyo kepada Amangkurat I dan Amangkurat II. Pada 1677 selepas Amangkurat I mangkat, Amangkurat II sebagai imbalan kepada VOC untuk dukungan militer melawan Trunojoyo, menjanjikan melepas wilayah Priangan dan kota-kota pesisir utara termasuk Kota Semarang yang sebelumnya menjadi pelabuhan utama Kerajaan Mataram yang ketika itu berpusat di Keraton Plered sebelum pindah ke Keraton Kartasura.

“Semarang itu diserahkan Amangkurat II sebagai ganti biaya perang dan menjadi ibukota provinsi pantai utara Jawa atau Nordkust. Sebelumnya VOC beraktivitas di Jepara,” kata Tjahjono.

Keberadaan Semarang masa VOC dan Hindia Belanda, menurut Tjahjono Rahardjo segera berkembang pesat karena adanya perkebunan di daerah hinterland (wilayah Swapraja atau Vorstenlanden) yakni Kerajaan di Surakarta dan Jogjakarta. Berkembang lebih pesat dari Kota Batavia (kini Jakarta) dan juga Surabaya yang baru berkembang belakangan di medion1800-an setelah kapal uap beroperasi di Hindia-Belanda.

Maskapai dagang Eropa membuka kantor-kantor di Kota Lama Semarang yang juga disebut Kota Lama. Tjahjono menambahkan, perusahaan raksasa Kian Gwan atau Oei Tiong Ham Concern milik konglomerat pertama Asia Tenggara, Oei Tiong Ham juga berpusat di Kota Lama Semarang. Anak cabang Kian Gwan di Asia Tenggara, Eropa, Amerika, dan Tiongkok dikendalikan dari Semarang!

KOMPAS/EDDY HASBY
Kota Lama Semarang sarat dengan bangunan masa kolonial, Rabu (25/09/2019). Beberapa gedung di kawasan ini direnovasi, kini menggeliat menjadi salah satu destinasi wisata di Semarang.

Ketika Kota Semarang berkembang ke arah selatan – barat di daerah Bodjong (Jalan Pemuda) hingga ke jurusan Candi. Kota Lama pun perlahan ditinggalkan dan perawatan lingkungan menurun sehingga terjadi kerusakan serta kondisi alam seperti banjir rob turut melanda. Dalam kondisi tersebut, ujar Tjahjono, mulai masuk penghuni liar dan situasi menjadi kumuh.

Baru dalam dekade terakhir ini, mulai timbul kesadaran melestarikan Kota Lama Semarang dari kepentingan ekonomi atau pun dari gagasan pelestarian dan pendidikan sejarah – budaya di sana.

Tjahjono memuji adanya kepedulian pemerintah dengan berbagai perbaikan sarana di Kota Lama. Bahkan ada pernak-pernik tambahan seperti box telefon umum dan berbagai instalasi tambahan yang tidak sesuai kondisi asli di jaman silam. Namun, jika menyasar target lebih besar menjadikan Kota Lama Semarang sebagai warisan dunia UNESCO ada hal lain yang lebih besar yakni jiwa dan budaya berikut aktivitas sehari-hari dari sebuah kota yang hidup di masyarakatnya.

Saat Tim Kompas berkunjung, November 2019, para tukang becak di Kota Lama Semarang, baru saja mengikuti pelatihan di Gedung Monod Huis yang menjadi salah satu sentra kegiatan para pelestari Kota Lama Semarang.

Terlihat 25 tukang becak yang biasa mangkal di Kota Lama di daerah Sendowo, Stasiun Semarang Tawang, dan Jembatan Mberok (berasal dari kata Brugge atau jembatan dari Bahasa Belanda) dengan serius mendengarkan materi yang disampaikan. Ardianto seorang tukang becak berharap keberadaan mereka dipertahankan sebagai bagian dari wisata dan komunitas yang hidup di Kota Lama Semarang.


Para tukang becak juga sudah menghiasi spatbor becak dengan gambar landskap Kota Lama Semarang dan berbagai landmark di sana. Kegiatan tersebut sudah dilombakan berulangkali demi memanusiakan dan melibatkan para tukang becak yang juga menjadi pemangku kepentingan.

Para tukang becak tersebut membuat paguyuban, koperasi simpan pinjam, hingga kegiatan siraman rohani. Keberadaan becak sebagai kendaraan lingkungan di pusat wisata sudah menjadi hal lumrah di negara-negara Eropa dan beberapa negara lain yang mengembangkan wisata sejarah.

Agus dan Trisno tukang becak lainnya dengan bangga mengisahkan aktivitas mereka di Kota Lama Semarang. “Kami ikut pawai, dilatih memandu wisata sesuai buku panduan, dan berbagai aktivitas lain,” kata mereka berdua.

KOMPAS/EDDY HASBY
Becak wisata di Jalan Kepodang, Kota Lama Semarang, Rabu (25/09/2019). Para penarik becak di Kota Lama ini dibina untuk dapat melayani wisatawan yang berkunjung di kawasan ini.

Saat ini, berbagai modifikasi Kota Lama seperti membuat mural mnejadi tempat swafoto di Penang, mengakibatkan laju wisata yang sekadar ingin berfoto tanpa berinteraksi dan menyatu dengan ruh dari Kota Tua George Town, Penang.

Upaya memperjuangkan Kota Lama Semarang menjadi World Heritage UNESCO patut didukung. Akan tetapi kelangsungan masyarakat dan bangunan tua sebagai satu ekosistem dan keunikan Semarang sebagai kota yang harmonis adalah nyawa yang harus dipertahankan sebagai sumbangan Semarang dan Indonesia bagi peradaban urban umat manusia!

Kerabat Kerja

Penulis: Iwan Santosa | Fotografer: Eddy Hasby | Videografer: Eddy Hasby | Infografik: Dimas | Editor Video: Eddy Hasby, Vincentzo Joski, Yogi Yuka | Pengolah Foto: Toto Sihono | Produser: Prasetyo Eko P | Desainer & Pengembang: Ria Chandra, Rino Dwi Cahyo, Frans Yakobus Suryapradipta, Yosef Yudha Wijaya

Suka dengan tulisan yang Anda baca?

Nikmati tulisan lainnya dalam rubrik Tutur Visual di bawah ini.