Letusan Gunung Batur Melukis Alam Bali

Letusan Gunung Batur ribuan tahun lalu turut melukis bentang alam di Bali, yang dapat dinikmati sampai sekarang. Hasil letusan itu juga turut mempengaruhi kehidupan dan budaya masyarakat Bali.

 

Gulungan bubur panas rakasasa dari perut Gunung Batur, Kabupaten Bangli, Bali, menjalar pelan. Perjalanannya menuju arah selatan lebih dari 40 kilometer dari bibir puncaknya. Bergulung-gulung pada 30.000 tahun yang lalu. Abunya merabunkan pandangan mata karena sangat tebal. Namun, lukisan endapan bubur, batuannya, abunya meninggalkan paras-paras halus di sekitaran Sukawati, hingga lekukan batuan indah di sepanjang Hidden Canyon, Desa Guwang, Kabupaten Gianyar. Lukisan alam yang menawan wisatawan.

Kanvas alam itu bertebaran indah sejak letusan itu hingga sekarang. Setelah jauh perjalanannya, bubur raksasa berupa lava panas itu menipis, lalu habis. Cendera mata letusan Batur dapat dinikmati di dinding Tukad Ayung, Air Terjun Tegenungan, dan tebing Hidden Canyon. Indah dan masih terjaga keasliannya sampai sekarang.

Peneliti Kaldera Nusantara Badan Geologi Kementerian ESDM Antonius Ratdomopurbo mengajak kita membayangkan bagaimana tebal dinding bubur itu yang mencapai ketinggian lebih dari 20 meter di Hidden Canyon. Maka, ketinggian itu mampu menggambarkan betapa muntahan lava Batur tertinggi bisa diperkirakan lebih dari 400 meter.

KOMPAS/AGNES SUHARSININGSIH
Bongkahan batu yang merupakan hasil pembekuan lahar Gunung Batur terlihat di sepanjang lembah gunung yang berbatasan langsung dengan Danau Batur. Dari ketinggian di Kintamani, Bangli, Bali, bongkahan lahar beku tersebut terlihat seperti lapisan bumi berwarna hitam pekat.

Tinggalan Batur yang berbeda dari letusan kaldera Nusantara lainnya adalah kehalusan warna dan tekstur paras atau bisa disebut padas. Di tebing-tebing Sungai Petanu, di Gianyar, tersaji dinding-dinding tebing batuan dengan warna krem kekuningan, terpotong lurus vertikal oleh mesin-mesin gergaji tambang batu. Batuan mudah digergaji karena sifatnya yang tidak terlalu keras, tetapi juga tidak terlalu rapuh.

“Jika terbiasa memandangi paras-paras ini, kita akan segera membedakan mana paras Sukawati Bali dengan paras Yogya. Berbeda. Paras Bali adalah terhalus untuk saat ini,” kata Purbo.

Eksplorasi batuan sudah berlangsung lama dan hampir tak pernah berhenti karena memang Bali memerlukan batu-batu itu. Batuan paras terhalus teksturnya dipakai menghias dinding atau untuk ukiran seperti di pura. Pura Silakarang di Gianyar, salah satu contoh ukuran paras yang terbaik.

KOMPAS/AGUS SUSANTO
Danau Batur menjadi bagian dari kaldera Gunung Batur yang terbentuk dari hasil letusan dahsyat Gunung Batur, ribuan tahun lalu. Foto diambil pada 17 Desember 2018.

Penelitian I Made Berata dari Institut Seni Indonesia Denpasar (2008) berjudul Perkembangan Seni Kerajinan Ukir Batu Padas di Silakarang, Gianyar, Bali menyebutkan, ukiran batu paras di daerah tersebut memiliki ekspresi khas yang halus dan berbeda. Pura Puseh Desa Adat Silakarang merupakan salah satu bukti pahatan batu padas dari warga setempat sejak 1832.

Dalam perkembangannya, berdasarkan Badan Pusat Statistik Bali, tercatat perolehan devisa dari kerajinan bahan baku batu padas tahun 2014 sebesar 14,7 juta dollar AS atau sekitar Rp 206 miliar. Amerika Serikat, Australia, dan Jepang menjadi negara-negara yang paling tertarik pada pahatan batu paras ini.

Beberapa bagian batu paras berwarna abu-abu. Hal ini, jelas Purbo, karena ketika letusan besar terjadi, magma yang keluar membawa batu apung yang relatif berwarna cerah krem dan putih, juga membawa material dari hancuran tubuh gunung yang berwarna lebih gelap. Komponen campuran tersebut menjadikan lapisan batu paras yang terkadang berbeda warna. Campuran ketiganya itu menentukan warna dari batuan yang diendapkan.

KOMPAS/IWAN SETIYAWAN
Kompleks Candi Gunung Kawi di Desa Tampaksiring, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Bali, Sabtu (8/10/2011), dibangun pada abad ke-11 di daerah aliran Sungai Pakerisan. Candi ini dipahat pada tebing batuan vulkanik hasil letusan Gunung Batur dan difungsikan sebagai tempat pemujaan dan petirtan. Candi ini menunjukkan bahwa lanskap alam dan budaya Bali sangat dipengaruhi oleh letusan gunung api.

Keindahan ukiran batu produk letusan Batur dapat ditemui di Pura Gunung Kawi. Meskipun batuan bertekstur kasar dan tidak dapat menjadi batu padas, ikatan antarbutirannya yang kuat menjadikan dinding batuan di Pura Gunung Kawi tidak rapuh. Tak heran jika pemahat jaman itu memilih mengukirnya langsung batuannya.

Kaldera Batur di Bali tidak hanya menyajikan pemandangan yang indah untuk daya tarik pariwisata. Kaldera yang terbentuk sekitar 33.000 tahun lalu itu juga menghasilkan bebatuan unik yang kemudian melahirkan pemahat-pemahat batu andal.

Letusan besar Gunung Batur di Kabupaten Bangli, Bali, sekitar 33.000 tahun lalu, ternyata mengukir ”Pulau Dewata” sedemikian indahnya. Bagaikan kanvas yang tertoreh kuas alam batu padas, hal itu menguatkan betapa menariknya Pulau Bali. Material yang beterbangan dan mengalir 70 kilometer ke barat daya dari letusan dahsyat menghasilkan kaldera ukuran 10 kilometer x 12 kilometer. Hinggap menawan di pelataran Tanah Lot, Kabupaten Tabanan.

KOMPAS/AYU SULISTYOWATI
Letusan Gunung Batur, Kabupaten Bangli, Bali, yang menghasilkan kawah 10 km x 12 km yang disebut kaldera karena membantuk kawah lebih dari 2 km. Kaldera Batur berbentuk lonjong meletus dahsyat 33.000 tahun lalu. Material vulkanologiknya melaju hingga ke Tanah Lot, Kabupaten Badung sekitar 7 km arah barat daya dari Batur, 23 September 2018.

Kedahsyatan letusan Batur menghasilkan pahatan alam yang menawan. Keasliannya memperkuat Bali menjadi destinasi pariwisata yang layak diunggulkan.

Anggota Tim Kaldera Nusantara Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Antonius Ratdomopurbo, menjelaskan betapa kaldera Batur memberikan laboratorium yang lengkap untuk para geolog memahami bagaimana gunung api bekerja, terutama ketika meletus besar menghasilkan kawah kaldera berdiameter lebih dari 2.000 meter.

Purbo yang menyusuri kaldera serta produknya di sekitar Batur bersama dengan Kompas mengatakan, kaldera Batur tak hanya menjadi kekuatan pemandangan bentang alam untuk pariwisata. ”Batuan-batuan padas dari proses pengendapan dan pendinginan material itu melahirkan tenaga pemahat serta membantu perekonomian warga sekitarnya. Silakarang di Gianyar salah satu lokasi kolom kekar batuan padas (paras) kualitas terbaik dari produk kaldera Batur,” kata Purbo.

KOMPAS/RIZA FATHONI
Panorama Danau Batur dan Gunung Batur dilihat dari puncak Kaldera Batur atau disebut juga “double view” di Desa Hulun Danu, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, 17 Agustus 2015.

Kawasan kaldera Batur dapat dicapai melalui kota Bangli ke arah utara untuk menuju Dusun Panelokan. Dapat juga dicapai melalui Desa Payangan di utara Ubud dan akan tiba di Desa Batur Kintamani. Gunung Batur terlihat seperti berada di dalam mangkuk besar. Sementara Panelokan dan Kintamani dapat diumpamakan terletak di bibir mangkuk itu.

Gunung Batur dilihat dari bentuknya mempunyai tiga kerucut yang menempel satu sama lain. Kerucut tertinggi, Kawah Batur pertama, terletak kira-kira tepat di tengah mangkuk. Kawah Batur kedua dan ketiga berada di sebelah barat daya. Jika melihat dari arah Kintamani, ketiga kerucut kawah lebih kurang berada dalam satu garis dari barat daya- timur laut.

Keberadaan ketiga kerucut Kawah Batur tersebut tampak dikelilingi tebing tinggi seolah ketiganya berada di dalam mangkuk raksasa, yang dalam istilah teknis merupakan sebuah kaldera. Bentuk kaldera Batur tidaklah berupa lingkaran, tetapi lonjong atau elips.

KOMPAS/RIZA FATHONI
Panorama Danau Batur dan Gunung Batur dilihat dari puncak Kaldera Batur di Desa Hulun Danu, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali.

Batur, wilayah geografis yang merujuk pada kaldera Batur beserta desa-desa di dalam dan di sekelilingnya, memiliki posisi teramat penting dalam perjalanan kesejarahan Bali. Pada titik inilah mitologi beririsan dengan arkeologi. Kaldera Batur beserta desa-desa di sekelilingnya merupakan sebuah wilayah perdagangan penting pada zaman Bali Kuno.

Prof Dr I Wayan Ardika, salah seorang arkeolog dari Bali yang melakukan penelitian tentang perdagangan pada zaman Bali Kuno, menyatakan, daerah pesisir timur laut Bali (Sembiran, Julah, Bondalem, dan Tejakula) telah memiliki hubungan perdagangan dengan India serta China pada pertengahan abad kedua Sebelum Masehi atau sekitar 2.150 tahun lalu.

Pernyataan ini didasarkan pada sejumlah temuan artefak arkeologis, seperti gerabah dengan pola hias tertentu, manik-manik kaca, daun emas penutup mata, fragmen logam, serta cermin perunggu. ”Desa-desa pesisir itu memiliki hubungan yang sangat kuat dengan daerah pegunungan Kintamani,” ujar Ardika.

KOMPAS/RIZA FATHONI
Maket kawasan kaldera Gunung Batur dan kawasan di sekitarnya ditampilkan di Museum Geopark Batur di Kinatamani, Kabupaten Bangli, Jumat (2/2/2018). Museum tersebut didirikan untuk membuka wacana mitigasi bencana geologi dan gunung api di Indonesia serta menyimpan, meneliti memamerkan berbagai hal berkaitan dengan kegunungapian. Di museum yang baru diresmikan tahun 2016 ini juga terdapat Museum Gunungapi Batur.

Kisah Bali di batuan Blangsinga
Indonesia memiliki ribuan pulau. Dan, pulau-pulau itu memiliki sejarah tersendiri. Mengapa? Karena pulau-pulau itu tidak lahir bersamaan. Begitu pula lahirnya Pulau Bali. Batuan asli landasan (alas) pulaunya secara kasat mata dapat dilihat dan dipegang di bebatuan kawasan Blangsinga, di atas tebing air terjun.

Pulau Bali secara geologi termasuk pulau muda dibandingkan pembentukan Jawa dan Sumatera di Era Perem (300 juta tahun lalu). Bali terbentuk di Era Tersier (sekitar 3 juta tahun lalu).

Singkat cerita dari sisi geologinya, pulau “surga” pariwisata ini terbentuk dari terangkatnya Gunung Ulakan ke permukaan yang berada di bawah laut. Ketika masih berada di bawah laut, gunung ini ditumbuhi terumbu karang yang kemudian membentuk batu kapur. Nah, lereng batu kapur ini menjadi cikal bakal Pulau Nusa Penida dan Uluwatu sehingga banyak bercirikan batuan kapur di sana.

Seiring waktu setelah muncul ke permukaan, Gunung Ulakan ini tidak lagi aktif. Magmanya bergeser ke utara menjadi sumber magma gunungapi Buyan, Bratan, Batukaru, Penulisan, Abang, Batur, dan Agung.

Selama meneliti dan menyusuri tinggalan Batur ini, temuannya mengenai kemunculan mata air di radius lingkar kaldera 7 kilometer, khususnya di Banjar Tangkup, merupakan hal yang mengesankan bagi Purbo. Ia pun mampu mempertanggungjawabkan secara geologi bagaimana kaitannya dengan terasering, subak, serta aungan-aungan yang dibangun warga ketika itu.

“Jadi, air akan muncul di radius 7 kilometer. Maka, kita dapat menemui abian (tegalan) yang mengandalkan tadah hujan. Setelah 7 kilometer, kita baru bisa menemui persawahan,” ujar Purbo.

KOMPAS/ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN
Lahan pertanian yang dikelola dengan sistem pengairan subak masih bisa ditemukan di Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali, Rabu (20/7/2016). Subak merupakan salah satu tradisi pertanian di Bali yang diduga kuat merupakan peninggalan tradisi penutur Austronesia.

Air perlu perjalanan menembus ketebalan lapisan batuan letusan. Semakin jauh, lapisan batuannya semakin tipis. Dan, jarak menipis ketebalan endapan batuan letusan itu berada di 7 kilometer. Hujan yang turun, airnya akan tertampung di mangkuk besar Danau Batur. Lainnya, air hujan meresap menjadi mata air.

Kala itu, warga memikirkan bagaimana cara menampung atau mengalirkan air di mata air itu agar bisa mengairi sawah-sawah. Mereka pun membuat aungan (terowongan air). Penggalinya disebut undagi pengarung. Undagi pengarung tercatat dalam Prasasti Bebetin A I (896 Masehi).

Buku Kaldera Nusantara Seri Batur
Ilustrasi aungan Banjar. Tangkup. Bali.

Pengarung menggali sekitar 1 kilometer terowongan yang ada ventilasi udara. Lebar terowongan sekitar 75 sentimeter. Salah satunya aungan yang di Banjar Tangkup. Tanpa aungan, sawah Banjar Tangkup tidak teraliri air sama sekali.

Air yang berhasil mengalir itu turun ke sawah dengan sistem terasering yang hingga sekarang dipakai. Jaman itu, Purbo memperkirakan jaman itu masyarakat Bali sudah menghimpun diri dalam subak (organisasi tradisional Bali yang bertugas membagi suplai air untuk irigasi) dengan istilah kesuwakan. Hal ini salah satunya merujuk ke Prasasti Pandak Badung (1071 M).

Buku Kaldera Nusantara Seri Batur
Aunganan di Banjar Tangkup.

Dinding yang menginspirasi
Seniman dan akademisi asal Bali, I Wayan “Kun” Adnyana yang kini juga menjadi Kepala Dinas Kebudayaan Bali ini sempat berpameran lukisan tunggal di Thienny Lee Gallery, Sydney, Australia, pada bulan Juli hingga Agustus 2019. Pameran ini bertajuk Santarupa, A Revival of Narrative in Contemporary Art.

Lukisan karya Kun ini merupakan rangkaian perjalanan penelitiannya mengenai relief yang ada di dinding batuan Yeh Pulu, Kabupaten Gianyar, Bali. Relief di dinding itu menginspirasinya untuk membuat karya kontenporer baru di atas kanvas dengan tinta serta pena China dengan cat akrilik.

“Menakjubkan mempelajari ukiran-ukiran kuno di batuan Yeh Pulu. Seluruh reliefnya dapat diejawantahkan dalam karya kekinian dan jadilah pameran ini,” kata Kun.

KOMPAS/PUTU FAJAR ARCANA
Para wisatawan sedang menikmati pemandangan relief Yeh Pulu yang berasal dari zaman Bali Kuna di Desa Bedulu, Blahbatuh, Gianyar, Bali, 11 Februari 2012.

Ia mengaitkan antara seni narasi guna menjelaskan ukiran di batuan yang selanjutnya digunakan sebagai dasar konseptual untuk proses menciptakan kontemporer lukisan. Lalu, Kun mencontohkan beberapa ukiran, misalnya binatang atau adanya perburuan. Sejumlah bentuk di ukiran itu, bagi Kun, tidak semata-mata diterjemahkan bebas. Melainkan, lanjutnya, semua memiliki arti lebih dari sekadar ukiran.

“Beragam bentuk di ukuran tersebut dapat mewakili cerita atau sejarah dari kapan ukuran itu dibuat. Pembuatnya seolah-olah ingin menceritakan keadaan ketika itu dengan simbol. Saya mencoba menerjemahkannya lagi ke karya kontenporer kekinian. Tentu saja juga dengan mengolaborasikan dengan isu kekinian,” kata Kun.

Ia menyontohkan gambaran konotatif pesan, yaitu pada ukiran lidah harimau yang berkonotasi daya dari wacana (ideologi politik strategi) dan ekor harimau yang berkonotasi tentara tangguh (solidaritas di antara manusia). Keduanya superstruktur dari negara berkemenangan melalui solidaritas dan ideologi yang kokoh di antara prajurit.

KOMPAS/PUTU FAJAR ARCANA
Relief Yeh Pulu yang berasal dari zaman Bali Kuna di Desa Bedulu, Blahbatuh, Gianyar, Bali, 11 Februari 2012.

Dalam pola-pola itu, Kun mengenali dan menemukan pola narasi yang digambarkan ukiran di Yeh Pulu. Narasi pola kemudian untuk digunakan sebagai dasar untuk penciptaan, dan pengembangan narasi pola baik melalui teknis pendekatan dan visual untuk dikerjakan dalam kontemporer budaya. Penciptaannya melalui beberapa tahap, penciptaan kontemporer dalam tahun pertama di tahun 2017 hingga tertuang di atas kanvas dalam proses selama tiga tahun ini.

Adrian Vickers, sebagai kurator, dalam katalog menuliskan Kun memberikan warna baru memaknai relief Yeh Pulu. Secara khusus, banyak seni dalam beberapa pameran adalah sangat sopan dan terlalu sentimental. Kun seni adalah upaya untuk membawa Bali kembali ke elemen dasar, dan untuk membentuk kembali Bali seni dalam terang global pertemuan.

Director Thienny Lee Gallery Thienny Lee mengapresiasi Santarupa karya Kun. Ia bangga bisa memamerkan karya kontenporer dari seniman asli Bali. Apalagi, karya-karya Kun sudah berpameran di sejumlah negara di antaranya Taiwan, Korea Selatan, Swiss dan Amerika Serikat.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO
Pengunjung menyaksikan pameran lukisan karya Wayan “Kun” Adnyana yang bertajuk Citra Yuga: Ikonografi Kepahlawanan Relief Yeh Pulu di Bentara Budaya Jakarta, Jumat (4/8/2017). Pameran yang merupakan hasil dari kompetisi nasional yang diselenggarakan oleh Kemenristekdikti.

Selanjutnya Lee yang berpendapat di dalam katalog, menuliskan Kun mampu mengeksplorasi bentuk dan alur cerita berdasarkan ukiran untuk mewujudkan teater komposisi, konsep baru dengan cara inovatif. Ia merasakan adanya karya yang mampu menghubungkan masa lalu dan saat ini.

Apalagi, lukisan di atas kanvas ini juga menggabungkan alat tradisional Bali alat dengan modern menengah. Semua karya-karya yang dipamerkan ini menggunakan tinta dan akrilik pada kanvas, pena tradisional Bali dan Cina termasuk tintanya. Kun pun tak menyangka jika itu sebenarnya adalah cendera mata dari letusan Batur. Baginya alam luar biasa memberi keindahan di balik letusannya yang dahsyat.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO
Lukisan Citra Yuga berjudul The Heroes karya Dr I Wayan “Kun” Adnyana, yang menggambarkan Ikonografi Kepahlawanan Relief Yeh Pulu. Lukisan ini dipamerkan di Bentara Budaya Jakarta, Jumat (4/8/2017).

 

Kopi Kintamani
Berbicara kaldera, bisa dipastikan Anda tidak lepas dari pemandangan kebun kopi di sekitar lerengnya. Tidak bisa dipungkiri, kopi arabika terbaik bermunculan di kawasan kaldera, seperti Batur, Toba, Ijen. Kopi arabika Kintamani salah satu yang terbaik dan pertama mengantongi indikasi geografis (IG) di tahun 2008.

Awal tahun 2019 lalu, Gubernur Bali Wayan Koster berharap petani mampu mempertahankan ekspor kopi ke Amerika Serikat. Dorongan itu khususnya ditujukan kepada komoditas kopi kintamani.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor kopi dan rempah-rempah mendominasi pengirimannya ke Amerika Serikat. Data bulan Desember 2018, ekspornya tercatat 59,16 persen dari total ekspor ke Amerika Serikat dan kedua terbesar setelah ekspor kertas/karton ke negara tersebut. Tercatat sebanyak 64 subak di Kintamani dan sekitarnya masih terus bertahan dan memaksimalkan produksi kopi, khususnya arabika.

KOMPAS/RIZA FATHONI
Seorang petani sedang merawat pohon sambil memanen buah kopi yang sudah matang di perkebunan kopi Catur di Desa Catur, Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, 1 Februari 2018. Kopi adalah salah satu produk ekspor unggulan Bali.

Implementasi pemerintah setempat dengan terbitnya Peraturan Gubernur Nomor 99 Tahun 2018 mengenai perlindungan terhadap pemasaran produk pertanian lokal Bali. Kopi menjadi unggulan yang perlu dipertahankan serta orientasi ekspor.

Data BPS periode 2015-2017, produksi kopi arabika menurun dari 4.153 ton tahun 2015 menjadi 3.473 ton tahun 2017. Penyebabnya cuaca ektrem dan hal ini menjadi tantangan mereka berupaya mempertahankan cita rasa kopi arabika Kintamani.

Kopi arabika selain di Kintamani juga ada di daerah sekitar Badung dan Tabanan. Sementara kopi robusta terbaik ada di Pupuan, Kabupaten Tabanan.

KOMPAS/RIZA FATHONI
Dua orang petani sedang menjemur biji kopi arabica di rumah kaca di perkebunan kopi Catur di Desa Catur, Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, 1 Februari 2018. Kopi adalah salah satu produk ekspor unggulan Bali.

Sejak tahun 2012, harga kopi arabika mulai membaik. Petani pun kembali memperhatikan tanaman kopi. Saat ini harga kopi bisa mencapai Rp 120.000 per kilogram greenbean dari sebelumnya sempat hanya berkisar Rp 50.000 per kilogram.

Anak Agung Bagus Dilayana sebagai ahli sangrai kopi menegaskan, peran petani menentukan 60 persen kualitas rasa. Sisanya disumbangkan ahli sangrai dan penyaji (barista). Menurut dia, biji kopi yang baik jika tidak disangrai dengan baik akan mengurangi cita rasa kopi.

Lahan kopi arabika Bali Kintamani ada di tiga kabupaten, yaitu Bangli, Buleleng, dan Badung. Kopi Bali di Kintamani, Bangli, mendapat sertifikat indikasi geografis sejak 2008. Ini diterapkan pada nama kopi Bali Kintamani meski kopi berasal dari tiga kabupaten. Sementara Kabupaten Tabanan memiliki kopi jenis lain, kopi robusta, di daerah Pupuan.

KOMPAS/RIZA FATHONI
Pekerja memindahkan biji kopi yang selesai dimasak di pabrik kopi Banyuatis di Seririt, Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali, Selasa (30/1,2018).

Selain untuk ekspor, pasar kopi arabika dari Bali kini merambah ke kota lain, terutama Jakarta. Apalagi, kedai kopi menjamur tiga tahun belakangan di Jakarta, Bandung, dan Bali. Minum kopi kini menjadi gaya hidup.

Pada masa jayanya, tahun 1990, kopi menjadi unggulan ekspor hasil perkebunan dari Bali. Volume ekspor tahun itu mencapai 6.100 ton atau 92 persen dari total ekspor hasil perkebunan Bali.

Selain kopi, jeruk kintamani juga menjadi salah satu motor penggerak ekonomi masyarakat sekitar Batur. PAD Bangli yang mengandalkan sektor perkebunan mampu naik dari Rp 9,7 miliar di tahun 2007 menjadi Rp 22 miliar di tahun 2011.

Betapa dampak letusan besar itu mampu mengubah dan memberi keberlangsungan kehidupan di sekitarnya. Alam terbentuk bagai bentangan kanvas asri dan bisa dinikmati sampai kapan pun. Tentunya, asal sebagai manusia mampu memeliharanya dengan kebaikan. Astungkara.

START: PAYWALL
END: PAYWALL

Kerabat Kerja

Penulis: Ayu Sulistyowati | Fotografer: Ayu Sulistyowati, Riza Fathoni, Agus Susanto, Putu Fajar Arcana, Bahana Patria Gupta, Agnes Suharsiningsih, Iwan Setyawan, Aloysius Budi Kurniawan, Wawan H Prabowo | Penyelaras Bahasa: Teguh Candra | Pengolah Foto dan Animator: Novan Nugrahadi, Dimas Tri Adiyanto | Produser: Emilius Caesar Alexey | Desainer & Pengembang: Ria Chandra, Rino Dwi Cahyo, Frans Yakobus Suryapradipta, Yosef Yudha Wijaya

Suka dengan tulisan yang Anda baca?

Nikmati tulisan lainnya dalam rubrik Tutur Visual di bawah ini.