Liukan Canting Mama-mama Papua

Putri Dobonsolo bagaikan ibu yang melahirkan para pembatik di Papua, khususnya Jayapura. Selama 25 tahun terakhir, dari ”rahim”-nya lahir tidak kurang dari 1.000 pembatik berkat dukungan ketekunan Mama Ibo.

Mariana Ibo Pulanda (78) alias Mama Ibo adalah perintis Putri Dobonsolo, sanggar dan sekaligus tempat produksi batik yang berlokasi di Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua. Sayangnya, tidak banyak yang kemudian meneruskan jalan Mama Ibo untuk menjadi pembatik. Mahalnya bahan baku menjadi kendala.

Putri Dobonsolo menempati bangunan dua lantai. Lantai satunya yang seluas 10 x 6 meter persegi digunakan sebagai pusat pelatihan dan pembuatan batik tulis. Sementara lantai dua berfungsi sebagai galeri yang menampilkan kain-kain batik produksi kelompok Putri Dobonsolo.

kompas/fabio maria lopes costa
Mama-mama pembatik sedang mengerjakan batik tulis dengan motif Papua di Sanggar Putri Dobonsolo di Sentani, Kabupaten Jayapura, pada 27 Januari 2020 lalu.

Putri Dobonsolo lahir tahun 1999. Lima tahun sebelumnya, Mama Ibo belajar membatik langsung di Yogyakarta sebagai bekal memulai usaha batik di Sentani. Sebenarnya, Mama Ibo telah mengenal kain batik sejak 1962 dari sejumlah dosen Yogyakarta yang datang ke Waena, Kota Jayapura, atas fasilitasi Pemerintah Provinsi Papua. Masyarakat Papua saat itu masih awam dengan batik dan membatik.

”Pertama kali saya melihat kain batik dari Jawa ada perasaan takjub. Saya ingin Papua bisa mempunyai motif batik yang digali dari kebudayaan masyarakat sehari-hari,” ujar Mama Ibo.

Sejak saat itu, Mama Ibo hanya bisa memendam rasa penasarannya bertahun-tahun. Kesempatan untuk belajar membatik baru terwujud pada 1991. Tahun itu, Pemerintah Provinsi Papua mendatangkan sejumlah pembatik dari Yogyakarta. Mama Ibo bersama 14 perempuan lainnya dari sejumlah kabupaten mengikuti pelatihan membatik.

kompas/bahana patria gupta
Mariana Ibo saat membatik di Pameran Produk Unggulan Daerah 2012 di Tunjungan Plaza Surabaya, Jawa Timur, Jumat (15/6/2012). Media batik menjadi salah satu cara melestarikan motif Papua, setelah dulu hanya diaplikasikan di pahatan atau lukisan kulit kayu.

Sayangnya, pelatihan itu tidak berjalan optimal karena salah satu mentor tidak bersedia memberikan materi campuran bahan untuk mewarnai batik. Mama Ibo sempat kecewa. Namun, hal itu tidak mengurangi tekadnya untuk terus belajar membatik.

Tiga tahun kemudian, Mama Ibo bersama suami, Hans Ibo, pergi ke Yogyakarta untuk kembali belajar membatik. Kali ini dengan seorang mentor batik tulis bernama Siti Zaenab. Mama Ibo berkunjung hingga dua kali. Dalam salah satu kunjungan, Mama Ibo tinggal selama dua minggu. Selama itu, ia belajar cara menggambar motif, cara memilih kain dengan harga terjangkau namun berkualitas, serta memilih bahan pewarna yang aman.

Berbekal ilmu dari Yogyakarta, ia mengembangkan batik Papua sejak 1994 hingga saat ini. Kebisaannya membatik menarik minat perempuan setempat untuk ikut belajar membatik. Tahun 1999, secara resmi ia mendirikan sanggar batik Putri Dobonsolo.

Selama kurun waktu itu, Mama Ibo telah menghasilkan sekitar 60 motif batik Papua yang mengangkat simbol keseharian warga dan alam setempat, seperti tifa, cenderawasih, tombak, perahu, dan sempe atau gerabah dari tanah liat untuk menyimpan makanan sagu dan ritual adat. Sebagian motif-motif merupakan adaptasi dari motif pada ukiran kayu dan lukisan kulit kayu.

Ia bersyukur kerja kerasnya kemudian diganjar dengan bantuan dari pemerintah daerah setempat dan sejumlah instansi. Salah satu lembaga yang aktif membantunya adalah Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Papua. Institusi itu membantu menyediakan alat kerja, pelatihan, dan kesempatan untuk pameran di berbagai kota.

Memberdayakan Mama-mama

Mereka yang pernah belajar di Putri Dobonsolo cukup beragam, mulai dari mama-mama hingga pelajar dan mahasiswa. Tidak hanya mencanting, mereka juga belajar membuat motif hingga mewarnai.

Mama Ibo membagikan pengetahuan dan keterampilannya secara sukarela. Tidak jarang, ia juga berbagi bahan baku, seperti kain, malam, atau pewarna secara cuma-cuma kepada para mama. Keinginannya hanya satu, para perempuan bisa beroleh keterampilan baru yang dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan penghasilan sendiri sehingga tidak terlalu bergantung kepada suami.

Saat dikunjungi Kompas pada akhir Januari lalu, Mama Ibo sedang ditemani lima perempuan lainnya yang tengah membatik. Mereka berasal dari Kampung Ayapo di Distrik Sentani Timur, tepatnya di tepi Danau Sentani. Sebagian warga di sana bekerja sebagai nelayan. Ayapo juga merupakan kampung halaman Mama Ibo yang dapat dicapai dengan menumpang perahu dari Dermaga Yahim di Sentani.

Sambil duduk di atas lantai, para perajin tekun mencanting di atas kain putih sepanjang 1 meter. Tiada suara bercakap yang terdengar, menjadi pertanda mereka tengah bekerja dengan konsentrasi tinggi dan sepenuh hati. Mama Ibo dengan teliti mengawasi lima pembatik tersebut.

Kelima perajin ini sedang mengerjakan kain yang akan dibuat menjadi taplak meja, penutup kepala, dan syal. Total ada 15 ibu rumah tangga asal Kampung Ayapo yang bekerja sebagai pembatik di sanggar Mama Ibo.

Hasil produksi batik tulis mama-mama dengan aneka motif ini kemudian dijual di galeri batik yang bertempat di lantai dua. Kain batik sepanjang 1 meter dibanderol dengan harga Rp 100.000, sedangkan yang panjangnya 3 meter dihargai Rp 300.000. Sementara untuk kemeja dan baju berkisar Rp 500.000 hingga Rp 1 juta per potong. Mama Ibo tidak berani menjual terlalu mahal karena khawatir tidak terjangkau oleh konsumen setempat.

Salah satu perajin, Bernece Aufa, mengaku dirinya sangat bangga bisa menjadi pembatik. Ia sudah bergabung dengan Sanggar Putri Dobonsolo selama beberapa tahun terakhir. Dengan menjadi pembatik, ia bisa berkontribusi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari keluarga selain tetap menjalankan tugas sebagai ibu rumah tangga.

”Apabila seluruh produk laris dibeli konsumen, saya bisa mendapatkan penghasilan Rp 2 juta hingga Rp 3 juta. Uang ini untuk biaya pendidikan anak dan membantu suami membeli barang kebutuhan pokok,” ungkap wanita berusia 32 tahun tersebut.

Sebuah makna

Sejak 1994, Mama Ibo telah melahirkan 60 motif khas Papua. Motif-motif tersebut tidak hanya berasal dari Sentani, tetapi juga dari sejumlah kabupaten di Papua, seperti Sarmi, Asmat, dan Waropen.

Setiap motif memiliki makna tersendiri. Misalnya, motif ro bhe atau dua orang yang memegang gelang, melambangkan gotong royong kampung adat. Ada lagi motif aye hiyake yang melambangkan cenderawasih jantan di atas pohon tengah bersiul memanggil sang betina. Mereka saling berkejaran di atas pohon dengan riang gembira dan penuh kasih sayang.

Setiap motif memiliki makna tersendiri.

Ada pula motif yang melambangkan hubungan antara masyarakat di sebuah kampung adat, aktivitas warga yang bekerja di kebun dan Danau Sentani, struktur pemerintahan, serta regulasi di sebuah kampung adat secara umumnya di Kabupaten Jayapura.

”Terdapat 12 motif khas Kampung Ayapo yang telah dipatenkan sebagai motif kebudayaan miliknya agar tidak diklaim pembatik dari luar Sentani,” ujar Mama Ibo.

Penuh tantangan

Sayangnya, upaya kelompok Putri Dobonsolo mengembangkan batik tulis Papua menghadapi sejumlah kendala. Hal ini juga dialami para perajin batik lokal lainnya yang membuat mereka sulit bertahan. Kendala ini juga yang menyebabkan hanya sedikit yang berani mengikuti jejak Mama Ibo membuka rumah produksi batik.

Kendala tersebut antara lain sulitnya menyediakan tempat yang memadai untuk membatik. Namun, kendala terbesar adalah biaya bahan baku yang tinggi karena harus mendatangkan dari luar Papua. Misalnya, bahan pewarna yang harganya bisa mencapai Rp 135.000 per kilogram. Sementara kain katun putih untuk membatik harganya berkisar Rp 20.000 hingga Rp 30.000 per meter.

Jill Marau, pemilik usaha start-up Anone Batik Papua, mengungkapkan, dirinya sering mendengarkan keluhan tentang tingginya harga bahan baku ini di kalangan perajin batik Papua. Jill menjual batiknya secara daring, salah satunya batik produksi Putri Dobonsolo.

”Banyak perajin yang terpaksa berhenti membatik karena tidak mampu membeli bahan baku. Diperlukan penyuplai lokal di Papua yang bisa menyediakan bahan baku dengan harga lebih murah,” kata Jill.

Jill juga mengungkapkan, kendala lain adalah belum adanya perlindungan hak cipta atas motif-motif batik tulis khas Papua. Akibatnya, banyak produksi batik printing yang menggunakan motif khas batik Papua tanpa adanya semacam royalti untuk perajin pembuat motif tersebut. Padahal, batik printing ini dijual dengan harga lebih murah daripada batik tulis yang pada gilirannya menghambat penjualan batik tulis khas Papua.

”Perlu proteksi untuk perajin seperti Mama Ibo. Hanya dengan cara inilah mereka bisa tetap bertahan untuk melestarikan kebudayaan batik Papua,” kata Jill.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Papua Naek Tigor Sinaga memaparkan, sejak 2016 pihaknya meluncurkan program pembinaan kepada para perajin lokal batik Papua. Salah satunya, kelompok Putri Dobonsolo pimpinan Mama Ibo.

BI memberikan bantuan peralatan seperti meja, benang, pembuatan galeri, dan pelatihan. Misalnya, tentang pembukuan sederhana, pemasaran produk via internet, dan cara membatik prada.

”Kami ingin produk batik Mama Ibo dan perajin lainnya bisa bersaing dengan produk dari luar Papua. Upaya ini juga bertujuan memberdayakan kaum perempuan asli Papua agar dapat meningkatkan kesejahteraan keluarganya,” kata Naek.

kompas/fabio lopes
Mama Ibo, perintis sanggar batik Putri Dobonsolo yang telah melatih membatik lebih dari 1.000 orang.

Meski dengan kondisi produksi yang tidak mulus, Mama Ibo bersama anggota kelompok Putri Dobonsolo terus membatik demi menyiapkan aneka suvenir bermotif Papua, seperti syal dan taplak meja. Produksi batik mereka akan menjadi salah satu produk khas untuk menyambut Pekan Olahraga Nasional XX di Papua pada Oktober mendatang.

Semoga ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) yang pertama kali akan terselenggara di ”Bumi Cenderawasih” nanti, dapat menjadi ajang promosi batik Papua ke seluruh Indonesia.

START: PAYWALL
END: PAYWALL

Kerabat Kerja

Penulis: Fabio Maria Lopes Costa | Fotografer: Fabio Maria Lopes Costa, Bahana Patria Gupta | Infografis: Novan Nugrahadi | Animator dan pengolah foto: Toto Sihono | Penyelaras bahasa: FX Sukoto | Editor video: Sri Rejeki | Produser: Sri Rejeki | Desainer & Pengembang: Ria Chandra, Rino Dwi Cahyo, Frans Yakobus Suryapradipta, Yosef Yudha Wijaya, Deny Ramanda

Suka dengan tulisan yang Anda baca?

Nikmati tulisan lainnya dalam rubrik Tutur Visual di bawah ini.