Liukan Kain Pertiwi di Glasgow

Mengenakan luaran dengan lengan sebatas siku, tangan Albert Ghana Pratama bergerak lincah mengambilkan kudapan bagi pengunjung Paviliun Indonesia di Konferensi Tingkat Tinggi Ke-26 tentang Perubahan Iklim atau COP 26. Luaran berupa kain tradisional bermotif garis vertikal itu berduet mesra bersama kue dadar gulung yang disajikan.

Oleh karena dirinya bertugas membagikan makanan di tengah helatan berskala mancanegara, Albert, mahasiswa strata dua (S-2) Media Management di University of Glasgow asal Indonesia, menampilkan diri dengan kain Nusantara. ”Saya sadar berada di depan paviliun Indonesia. Saat mengambilkan makanan bagi pengunjung, banyak yang bertanya ’Is that your local pattern? Is it your traditional pattern? It’s very nice’,” tuturnya saat ditemui di hari terakhir COP 26 yang diadakan di Glasgow, Skotlandia.

Kompas/M Paschalia Judith
Albert Ghana Pratama, mahasiswa strata-II (S2) Media Management di University of Glasgow asal Indonesia, menyiapkan kudapan Nusantara seperti bakwan untuk disajikan pada pengunjung Paviliun Indonesia
di Konferensi Tingkat Tinggi Ke-26 tentang Perubahan Iklim atau COP 26 di Glasgow, Skotlandia, Jumat (12/11/2021). Dia mengenakan rompi berbahan tenun.

Saat itu, dia mengenakan rompi yang berbahan tenun Dayak. Dia juga membawa beragam kain Tanah Air ke Glasgow, seperti sarung batik Madura, tenun Ketapang, Kalimantan Barat, dan tak ketinggalan tenun Nusa Tenggara Timur (NTT).

Melalui busananya, Albert ingin menunjukkan ragam kain Nusantara yang tak cuma tentang batik. Dia juga hendak memopulerkan gerakan berpakaian Tanah Air dalam kegiatan sehari-hari. Kain tradisional dari beragam suku di Indonesia bisa menembus beragam dimensi acara, dari yang bersifat santai hingga formal, begitulah yang dia percaya. ”Kalau jas saja bisa jadi pakaian formal, kenapa Kain Nusantara tidak bisa? Bahkan, kain-kain Nusantara layak menjadi diplomat attire,” ujarnya.

Melalui busananya, Albert ingin menunjukkan ragam kain Nusantara yang tak cuma tentang batik

Bagi kain Ibu Pertiwi, gelaran seperti COP 26 yang diadakan pada 31 Oktober hingga 12 November 2021 ibarat panggung busana. Tentu, gagasan-gagasan yang dibawa delegasi menjadi aktor utama. Namun, pakaian dari negara asal yang dikenakan peserta konferensi atau anggota tim pendukung turut memancarkan magnetnya dan memikat pasang mata yang memandang.

Bersama ”teman”

Kain Nusantara tidak sendirian unjuk gigi di Paviliun Indonesia COP 26. Ada beragam ornamen tradisional, jajanan pasar, hingga tarian daerah yang menemani. Paviliun Indonesia pun ditutup dengan tari Maumere. Sejumlah pengunjung internasional ikut bergoyang bersama.

Kompas/M Paschalia Judith
Tari tradisional memeriahkan penutupan Paviliun Indonesia di Konferensi Tingkat Tinggi Ke-26 tentang Perubahan Iklim atau COP 26 di Glasgow, Skotlandia, Jumat (12/11/2021). Para penari mengajak penonton dan panitia paviliun untuk menari bersama.