Selain memimpin Koperasi Buah Dewa, Devia Mom juga mengetuai Yayasan Jayasakti Mandiri yang menjadi mitra Freeport dalam program pengembangan peternakan. Area peternakan pun masih di daerah Utikini Dua dekat kebun KBD, hanya sekitar 10 menit perjalanan dengan mobil.
Yayasan Jayasakti Mandiri (YJM) menaungi 396 orang asli Papua dari beragam suku di Mimika. Berstatus sebagai karyawan, mereka bertugas menjalankan peternakan ayam petelur, ayam pedaging, dan babi, milik yayasan. Sebanyak 47 pendamping program yang adalah karyawan Community Affairs PTFI ditugaskan membantu mereka.
Devia mengatakan, untuk sementara bisnis inti YJM adalah telur ayam. Yayasan itu memiliki 28 kandang ayam petelur yang masing-masing diisi 3.200 ekor. Adapun penghasilan dari daging ayam dan babi belum begitu besar. ”Harga ayam potong kami, misalnya, masih kalah saing dengan yang masuk dari Jawa atau Sulawesi,” ujar Devia.
Bisnis telur ayam terbukti menjanjikan. Setiap hari, satu kandang dapat menghasilkan telur senilai minimal Rp 3 juta atau kira-kira 1.800 butir. Artinya, pemasukan minimal YJM dari penjualan telur setiap hari adalah Rp 84 juta dari 50.400 butir. Pembeli utamanya adalah kontraktor jasa boga PTFI, PT Pangansari Utama (PSU).
”Setiap hari kami harus memenuhi PO (purchase order) 50.000 butir. Bagaimanapun caranya, kami harus penuhi itu. Makanya, kami menargetkan produksi 60.000 telur setiap hari sehingga sisanya dapat kami lepas ke Hero (swalayan di permukiman Tembagapura milik PTFI). Kalau ada lebih, baru kami lepas ke pasar di Timika,” kata Devia.
Sepanjang 2020, YJM mampu menghasilkan Rp 40,2 miliar dari seluruh aktivitas peternakan, turun 3,1 persen dari Rp 41,5 miliar pada 2019. Penghasilan itu kemudian dikembalikan lagi kepada para peternak dalam bentuk gaji sekitar Rp 3,6 juta per bulan sesuai upah minimum regional di Timika.
Andariana Sani (55), salah satu karyawan, mengaku senang menjadi bagian dari YJM. Ia adalah orangtua tunggal dengan lima anak yang sebagian sudah putus sekolah karena tak ada biaya. Almarhum suaminya bekerja di sana sebelum meninggal. ”Setiap bulan bisa dapat gaji. Jadi saya ingin terus bekerja di sini,” katanya.
Menurut Devia, peternakan YJM tidak sekadar menjadi sumber pendapatan bagi warga sekitar. Lebih dari itu, YJM menjadi sarana penyebaran pengetahuan soal cara beternak yang baik dan benar. ”Nanti suatu hari pascatambang, setidaknya ada orang asli Papua bisa menjalankan bisnis ayam petelur untuk memenuhi permintaan pasar di Timika,” katanya.
Kendati begitu, tujuan besar yayasan, yaitu memandirikan masyarakat Mimika, belum sepenuhnya tercapai. Layaknya sebuah perusahaan yang tidak efisien, YJM kini masih terlalu banyak menampung tenaga kerja yang belum tentu produktif. Dari total 396 karyawan, yang aktif bekerja hanya 250 orang.
Sem Kabuare, penanggung jawab program pengembangan peternakan PTFI, mengatakan, pihaknya mencoba mengatasi kondisi dengan pemisahan kegiatan bisnis dan sosial di YJM. Sebagian karyawan kini berstatus penerima manfaat sosial sehingga gaji bulanan mereka berasal dari kas perusahaan, bukan yayasan.
”Peternakan ini sebenarnya tidak besar, tidak bisa menyerap seluruh karyawan. Tetapi, sebagian yang tidak masuk dalam sistem bisnis yayasan juga tetap harus mendapatkan gaji seperti yang lainnya. Kegiatan sosial ini butuh dana yang luar biasa,” ujarnya.
Alhasil, pendanaan dari PTFI terus mengalir ke YJM. Menurut Sem, subsidi gaji karyawan saja bisa berkisar Rp 1,4 miliar-Rp 1,5 miliar setiap bulan, melebihi kewajiban yang sebenarnya hanya mencakup gaji 43 tenaga pendamping. Keadaan ini adalah paradoks dari kinerja bisnis peternakan YJM yang sebenarnya begitu bagus.
Saat ini, Community Affairs PTFI juga sedang memikirkan solusi agar YJM mencapai kemandirian finansial. Seperti dalam program kopi arabika Amungme Gold, rencana strategis jangka panjang hingga 2025 pun disusun untuk YJM. Berbagai langkah akan diambil secara bertahap agar subsidi perusahaan dari tahun ke tahun semakin mendekati nol rupiah.
”Tetapi ini masih rencana manajemen yang tidak bersifat final. Kami masih akan terus memperhatikan. Kalau sampai 2025 belum tercapai, kami akan tinjau lagi bantuan apa yang bisa dikurangi, tidak serta-merta kami tinggalkan,” kata Sem.
Berbagai upaya terus dilakukan, berbagai pemikiran diejawantahkan demi mencari formula terbaik pengembangan komunitas. Perguruan tinggi pun dilibatkan untuk mengevaluasi program dari waktu ke waktu. Kerja-kerja itu dilakukan demi memandirikan warga Mimika. Semua pihak harus sadar, tidak ada yang abadi di muka bumi, termasuk bisnis tambang.