Menduplikasi Butet

Pebulu tangkis legendaris Liliyana ”Butet” Natsir (33) memutuskan pensiun, akhir Januari silam. Indonesia harus membentuk penggantinya, kalau bisa 10, 20, atau 30 Butet baru. Namun, sejatinya, kita mampu mencetak berjuta Butet muda.

Juli 2002, sepuluh pebulu tangkis remaja hadir di Surabaya, Jawa Timur. Mereka baru empat bulan menjadi atlet pelatnas pratama untuk bertarung dalam sebuah kejuaraan yunior. Salah satu di antara mereka adalah gadis berambut pendek. Model rambut yang membiarkan tengkuknya terbuka itu tak banyak berubah tatkala dia pamit pensiun sebagai salah satu pemain tersukses di dunia, Minggu, 27 Januari 2019. Dia adalah Liliyana ”Butet” Natsir.

Kejuaraan tingkat remaja, 17 tahun silam itu, terbilang bergengsi. Dibidani mantan pemain kelas dunia Minarni (almarhumah) dan disokong produsen minuman global Milo, kejuaraan tersebut mampu menyedot tim pelapis sejumlah negara tetangga.

Indonesia harus membentuk penggantinya, kalau bisa 10, 20, atau 30 Butet baru.

Namun, di Surabaya itu, hanya sebagian gelar yang akhirnya bisa diraih oleh anak-anak baru pelatnas  Cipayung—markas tim nasional bulu tangkis Indonesia. Salah satu yang gagal jadi pemenang adalah si Butet. Berpasangan dengan Nathalia di ganda putri, Butet, gadis 17 tahun itu, kandas di final. Keduanya kalah dari pasangan klub Djarum Kudus (Meiliana Jauhari, salah satu yang mengalahkannya, tak lama setelah itu bergabung di Cipayung dan memiliki karier yang cukup baik).

Di paruh terakhir tahun itu pula, Butet—remaja Kawanuwa dengan nama kesayangan dari bahasa Batak tersebut—diikutkan ke sejumlah kejuaraan yunior internasional. Dalam Kejuaraan Asia yunior di Kuala Lumpur, Malaysia, Butet menjadi juara ganda campuran berpasangan dengan Markis Kido yang setahun lebih dulu menghuni Cipayung.

Di Kejuaraan Dunia yunior, Butet kembali turun di nomor-nomor ganda. Hasilnya tiga perunggu di ganda campuran, putri, dan beregu. Perunggu kejuaraan dunia bukanlah prestasi yang bisa dibanggakan oleh bulu tangkis Indonesia pada masa itu, termasuk di level yunior. Hingga masa itu, tuntutan di bulu tangkis adalah juara. Tidak kurang.

EPA/BRENDAN MCDERMID
Pebulu tangkis Indonesia, Lilyana Natsir (depan), mengembalikan pukulan sementara rekannya, Nova Widianto bersiap, saat pertandingan ganda campuran melawan pasangan China, Xie Zhongbo dan Zhang Yawen, padaKejuaraan Dunia Bulu Tangkis 2005 di Anaheim, California, AS, 21 Agustus 2005. Pasangan “Merah Putih” keluar sebagai juara dunia.

Jejak Butet di panggung internasional yang sesungguhnya bermula di pengujung 2004 lewat sebuah musibah. Seniornya di pelatnas (juga dari klub yang sama, Tangkas), Vita Marissa, harus menjalani operasi retak tulang rawan bahu kanan. Itu membuat tandemnya di ganda campuran, Nova ”Kedeng” Widhiyanto, kehilangan tandem.

Kerabat Kerja

Penulis: Yunas Santhani Azis | Infografik: Luhur Arsiyanto Putra | Ilustrator: Supriyanto, Toto Sihono | Fotografer: Rony Ariyanto Nugroho, Windoro AT, Totok Wijayanto, Brigitta Isworo Laksmi | Penyelaras Bahasa: Hibar Himawan | Produser: Prasetyo Eko Prihananto | Desainer & Pengembang: Ria Chandra, Rino Dwi Cahyo, Frans Yakobus Suryapradipta, Yosef Yudha Wijaya

Menikmati Tutur Visual?

Baca Juga Tutur Visual Lainnya Yang Mungkin Anda Sukai