Saatnya Menegaskan Kedaulatan di Laut Natuna Utara

Klaim sembilan garis putus-putus China menimbulkan gesekan kedaulatan perairan dengan Indonesia. Apapun motivasi China, Indonesia harus hadir untuk menegaskan kedaulatannya di Laut Natuna Utara.

Dari jendela pesawat Boeing 737-200 Skuadron Udara 5 TNI Angkatan Udara, Sabtu (4/1/2020), tampak kapal perang TNI tengah bermanuver, menghalau kapal coast guard China. Sesekali kapal coast guard China yang berusaha menekan, mengarahkan manuver KRI. Kapal-kapal itu seperti menari di atas air, menyisakan buih-buih putih yang juga menandakan ombak yang tinggi.

Layar monitor di ruang penumpang pesawat intai strategis ini menampilkan manuver-manuver kapal itu hasil sorotan kamera yang ada di perut pesawat. Kamera pesawat yang tengah mengudara di koordinat 5 35 Lintang Utara dan 109 23 derajat Bujur Timur, di atas Laut Natuna Utara, menyoroti lima kapal yang berada di sekitar 107 mil laut dari Ranai, ibu kota Kabupaten Natuna.

Lima kapal itu terdiri dari KRI Teuku Umar, KRI Tjiptadi, dua kapal penjaga pantai China, serta sebuah kapal pengawas maritim. Dua KRI yang panjangnya 76 meter itu tampak kecil di tengah gelombang setinggi 4 meter serta tiga kapal dengan panjang 99 meter.

Saling manuver yang dilakukan KRI Teuku Umar dan KRI Tjiptadi terhadap dua Coast Guard dan kapal pengawas maritim China, sekitar 105 nautical mile dari Ranai, ibukota Kabupaten Natuna, Sabtu (4/1/2019), terlihat di layar monitor pesawat pengintai strategis TNI AU.
START: PAYWALL
END: PAYWALL

Kerabat Kerja

Penulis: Edna C Pattisina, Toto Suryaningtyas, Iwan Santosa | Foto: Edna C Pattisina, Kris Razianto Mada | Video: Edna C Pattisina, Dokumentasi Kogabwilhan I | Editor Video: Albertus Prahasta | Infografik: Pandu Lazuardy, Arjendro | Pengolah Foto: Dimas Tri Adiyanto | Produser: Prasetyo Eko P | Desainer & Pengembang: Ria Chandra, Rino Dwi Cahyo, Frans Yakobus Suryapradipta, Yosef Yudha Wijaya

Suka dengan tulisan yang Anda baca?

Nikmati tulisan lainnya dalam rubrik Tutur Visual di bawah ini.