Menyambut Kelahiran MRT Jakarta

Dalam sepekan terakhir, ratusan ribu orang antusias menjajal dan menikmati sensasi menaiki kereta Moda Raya Terpadu (MRT). Para “penumpang” itu adalah warga yang sudah terdaftar sebagai peserta uji coba operasi penuh MRT Jakarta dengan melibatkan publik.

Seperti Irfan (40), warga Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, yang ditemui di hari pertama uji coba, Selasa (12/03/2019) mengatakan, ia cukup kaget dengan infrastruktur MRT Jakarta. Ia menilai infrastruktur MRT Jakarta modern dan sangat bagus.

“Tidak kalah dari infrastruktur MRT di luar negeri seperti Singapura. Keren sekali,” katanya sambil mengangguk-angguk saat ditemui di Stasiun MRT Lebak Bulus.

Menurut Irfan yang rupanya sering berjalan-jalan ke luar negeri sehingga bisa membandingkan, keberadaan kereta MRT dengan segala sistem perkeretaapian yang canggih dan modern membuat Jakarta setidaknya tidak ketinggalan lagi dari kota-kota besar lainnya.

KOMPAS/RIZA FATHONI
Warga berswafoto di peron Moda Raya Terpadu (MRT) Ratangga di Stasiun MRT Bundaran HI, Jakarta, Minggu (24/3/2019). MRT Jakarta fase 1 rute Bundaran HI – Lebak Bulus diresmikan pengoperasiannya oleh Presiden Joko Widodo bersama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Doty Damayanti, warga Bintaro, Tangerang Selatan yang ikut menjajal MRT Jakarta dari Stasiun Senayan menyatakan, keberadaan MRT yang dibangun melewati kawasan permukiman dan bisnis di selatan Jakarta cukup memudahkan. Baginya, warga yang tinggal di kawasan selatan dan bekerja di perkantoran di Sudirman bisa menuju tempat kerja cukup dengan naik MRT lalu dilanjut berjalan kaki ke kantor.

“Itu bukan perkara sulit. Turun dari MRT, berjalan kaki satu – dua blok ke kantor, bisalah. Trotoarnya juga sudah enak buat jalan kaki,” jelas Doty yang berkantor di kawasan Senayan dan ikut mencoba MRT Jakarta bersama teman-teman sekantornya.

Warga yang tinggal di kawasan selatan dan bekerja di perkantoran di Sudirman bisa menuju tempat kerja cukup dengan naik MRT lalu dilanjut berjalan kaki ke kantor.

Dengan target 285.600 orang ikut uji coba publik, MRT Jakarta berharap mendapat masukan dari masyarakat, serta tentunya memberi kesempatan masyarakat merasakan sensasi MRT di Jakarta. Setelah uji coba publik itu, MRT diresmikan operasionalnya oleh Presiden RI Joko Widodo dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Minggu (24/3/2019).

Dalam catatan PT MRT Jakarta, di fase 1 koridor selatan – utara dari Lebak Bulus menuju Bundaran Hotel Indonesia sepanjang 16 km, ada 13 stasiun yang bisa dipilih sebagai titik keberangkatan dan titik keluar warga. Penumpang bisa turun dan berkunjung ke sejumlah lokasi seperti mal ataupun perkantoran yang berada di dekat stasiun.

Warga cenderung memilih naik dari Stasiun Bundaran Hotel Indonesia dan Stasiun Lebak Bulus. “Warga ingin merasakan sensasi lengkap naik kereta MRT,” jelas Muhamad Kamaluddin, Kepala Divisi Sekretaris Perusahaan PT MRT Jakarta, Minggu (10/03/2019).

Dinantikan

Untuk keperluan uji coba operasi penuh dengan melibatkan publik selama dua pekan, 12 Maret – 24 Maret 2019, PT MRT Jakarta menyiapkan kuota untuk 285.600 orang.

“Ini menjadi hari yang sangat penting untuk MRT Jakarta. Karena MRT Jakarta diujicobakan kepada publik secara resmi,” papar William P Sabandar, Direktur Utama PT MRT Jakarta di hari pertama uji coba dengan melibatkan publik.

ANTARA FOTO/Aprillio Akbar
Presiden RI Joko Widodo bersama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan serta pejabat terkait menekan tombol saat meresmikan MRT Jakarta, di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Minggu (24/3/2019). Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta Fase 1 dengan rute Bundaran HI – Lebak Bulus pun resmi beroperasi.

Pernyataan itu seolah menegaskan, ibarat menyambut kelahiran jabang bayi, kelahiran MRT di Jakarta itu memang sudah sangat dinantikan. Mundur ke belakang, kehadiran dan kelahiran “bayi” MRT sudah direncanakan dan dinantikan sejak puluhan tahun yang lalu.

Dari arsip Kompas, gagasan tentang perlunya membangun angkutan umum massal cepat (mass rapid transit atau MRT) itu sudah digagas sejak 1980-an. Belajar dari negara tetangga yang memilih menata kota dan lingkungan dengan memfokuskan pada penyediaan angkutan umum yang nyaman, aman, dan cepat, gagasan itu mengemuka.

Apalagi di tahun-tahun 80-an hingga 90-an, Jakarta tengah mekar-mekarnya. Problematika khas kota besar seperti penggunaan kendaraan pribadi hingga menimbulkan kemacetan dan polusi sudah terjadi.

Dalam pemberitaan Kompas 17 Oktober 1987, untuk mengatasi masalah itu perlu dicarikan solusi pembenahan angkutan massal. Salah satunya dengan pembangunan MRT.

Kompas
Dari kiri atas searah jarum jam, foto sekuel proses pembangunan depo MRT di kawasan bekas Stadion Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

Solusi menjadi penting diwujudkan karena saat itu, Departemen Perhubungan (saat ini Kementerian Perhubungan) membuat prediksi bahwa pada tahun 2000-an, kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta dan Surabaya akan sangat macet. Prediksi itu didasarkan pada perbandingan data pertambahan jalan dan jumlah kendaraan dari tahun ke tahun. Sehingga solusi penataan angkutan umum di Jakarta mendesak dilakukan.

Ternyata, tidak perlu sampai 2000, kemacetan sudah melanda. Pada April 1992, di Jakarta dimulai pengujicobaan kawasan pembatasan penumpang (KPP) di jalan-jalan protokol untuk mengatasi kemacetan. Aturan itu menjadi cikal bakal aturan “3 in 1” ataupun kemudian ganjil genap sampai hari ini. Dalam evaluasi Departemen Pekerjaan Umum (saat ini Kementerian PUPR) atas KPP itu, lagi-lagi pembangunan MRT sebagai angkutan perkotaan menjadi hal mendesak untuk dilakukan. Utamanya untuk bisa membantu mobilitas warga dari pinggiran ke tengah kota.

Dalam evaluasi itu juga disebutkan, jalur MRT bisa dibangun bertahap. Tahap awal bisa dimulai dari Blok M – Kota. Tahap berikutnya bisa di jalur jalan atau meniti kepadatan yang lain. Dalam evaluasi itu juga sudah disebutkan perlunya ada angkutan umum yang terintegrasi dan melayani dari titik awal ke titik akhir.

Iskandar Abubakar, Ketua Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) saat ini, yang di awal 2000-an adalah Direktur Jenderal Perhubungan Darat Departemen Perhubungan, menjelaskan, pembahasan tentang pembangunan MRT itu mulai dari gagasan kemudian menjelang diwujudkan begitu lama dan berlarut-larut. Mulai dari pembentukan tim tentang MRT untuk membahas teknologi yang akan dipakai, yang anggotanya antara lain terdiri dari para ahli BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi), Pemprov DKI Jakarta, Departemen Pehubungan, Bappenas, serta Departemen PU;  hingga pembahasan tentang pendanaan. Untuk teknologi, saat itu yang mengemuka ada dua, masing-masing adalah heavy train dan light train, yang semuanya akan dikombinasikan dengan sistem bus.

Titik pentingnya adalah pada 10 Agustus 1994 saat Ruslan Diwiryo yang saat itu menjabat Sekretaris Jenderal Departemen PU akhirnya mengumumkan MRT akan dibangun di Jakarta selambatnya akhir 1995.  Untuk mematangkan kajian, Departemen PU saat itu melakukan studi kelayakan ulang dibantu Badan Kerjasama Internasional Jepang (JICA). Saat itu pun sejumlah akademisi dan pengamat sudah memberikan kritikan masing-masing, namun secara umum mereka mendukung pembangunan MRT.

MRT yang sedianya mulai dibangun 1996 tak kunjung terwujud hingga akhirnya muncul kerusuhan Mei 1998 dan krisis ekonomi. Pemerintah Indonesia yang menunda pembangunan MRT, pada 1999 mulai memroses pinjaman yen khusus Jepang kepada pemerintah Jepang.

Hingga akhirnya pada 3 Oktober 2002, Iskandar Abubakar didampingi Direktur Perkeretaapian Departemen Perhubungan Haris Fabillah mengumumkan bahwa Jepang akan membantu pendanaan bagi Indonesia untuk bisa membangun MRT Jakarta.

Kompas/Wisnu Widiantoro
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo berbincang dengan Ketua DPRD DKI Jakarta Ferrial Sofyan dan Dirut PT MRT Dono Bustami saat groundbreaking pembangunan MRT di Kawasan Dukuh Atas, Jakarta Pusat, Kamis (10/10/2013).

Dari semua proses panjang itu, akhirnya pada 2 Mei 2013 Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo meluncurkan pembangunan proyek MRT Jakarta yang lalu diikuti peletakan batu pertama pada Oktober 2013. Proyek itu berupa pembangunan fase 1 koridor selatan – utara dari Lebak Bulus ke Bundaran Hotel Indonesia sejauh 16 km yang terdiri atas trek utama dan tujuh stasiun layang atau elevated, serta trek utama dan enam stasiun bawah tanah (underground).

Megaproyek yang dikerjakan kontraktor Jepang – Indonesia senilai Rp 16,9 triliun itu ditargetkan bisa dinikmati warga Jakarta pada 2017. Kenyataanya, proyek yang ditunggu-tunggu kelahirannya itu baru selesai di 2019 karena sejumlah hambatan yang terjadi saat proses pembangunan.

Proses panjang

Setelah melalui serangkaian proses panjang, mulai dari gagasan hingga pembahasan, lalu tertunda, dibahas lagi, hingga akhirnya diwujudkan, Indonesia butuh 30 tahun lebih untuk bisa memiliki angkutan umum perkotaan berbasis rel MRT. Kalau disamakan dengan umur manusia, proses panjang itu sudah melahirkan satu orang dewasa usia produktif dan mandiri.

Momen kelahiran MRT Jakarta yang ditandai dengan keterlibatan publik bisa menjajal kereta MRT dan merasakan perjalanan cepat dan nyaman pada 12 – 24 Maret 2019 itu menjadi hari penting dan bersejarah. Warga bisa merasa bangga, ibu kota republik ini akhirnya memiliki jalur kereta MRT, kereta perkotaan yang memang sudah lebih dulu dimiliki oleh kota-kota besar di dunia untuk mengatasi kemacetan dan memberikan kenyamanan bermobilitas bagi warga kota.

Warga bisa merasa bangga, ibu kota republik ini akhirnya memiliki jalur kereta MRT.

Seperti yang dituturkan Wulansari (35), warga Kedoya, Jakarta Barat, yang ikut menjajal MRT di hari pertama, bagi Jakarta, keberadaan MRT sedikit menaikkan level Jakarta sebagai kota besar. Karena menurutnya sudah seharusnya di kota-kota besar yang padat memiliki angkutan umum massal kereta seperti MRT.

Apalagi, kata Doty, warga lain yang turut menjajal MRT, kehadiran MRT Jakarta juga mengubah perwajahan di jalan sibuk Jakarta, Sudirman – Thamrin. Trotoar yang semula berlebar 1 – 1,5 meter, sejak awal 2018 direvitalisasi Pemprov DKI sehingga berlebar 9 – 12 meter. Kemudahan akses berjalan itu bukan hanya ditujukan bagi penumpang MRT, namun juga bagi warga Jakarta lainnya.

Trotoar lebar juga diikuti penataan letak halte bus Transjakarta. Karena saat MRT dioperasikan, sistem pengangkutannya adalah berintegrasi dengan sistem bus.

Dengan panjang fase 1 yang saat ini masih memiliki panjang 16 km, keberadaraan bus-bus Transjakarta bakal membantu pergerakan warga dan penumpang. Baik dari arah pinggiran Jakarta ke tengah, ataupun pergerakan di tengah sendiri.

Silvia Halim, Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta menjelaskan, untuk mendukung mobilitas warga, PT MRT Jakarta menyiapkan kereta yang bisa memberikan kenyamanan, keamanan, dan kehandalan. Untuk fase 1, sebanyak 16 rangkaian kereta atau 96 kereta akan dioperasikan.

Kereta-kereta yang diproduksi Nippon Sharyo, Jepang itu, memiliki ukuran panjang 20 meter, lebar 2,9 meter, dan tinggi 3,9 meter. Dengan didominasi warna biru tua dan abu-abu metalik, badan kereta terbuat dari bahan baja antikarat (stainless steel) dengan berat kosong per satu kereta mencapai 31 hingga 35 ton.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
Proses pengeluaran kereta MRT dari lambung kapal kargo Ellensborg di Dermaga 101 Pelabuhan Tanjung Priok, Rabu (4/4/2018). Pada tahap pertama ini dikirim 12 kereta MRT buatan Perusahaan Kereta Api Nippon Sharyo, Jepang.

Kereta MRT Jakarta didesain berkapasitas angkut maksimum 332 orang per kereta. Sehingga dengan 16 rangkaian kereta (satu rangkaian terdiri dari enam kereta), kapasitas angkut satu rangkaian mencapai 1.950 orang. Dalam operasionalisasinya, perusahaan memperkirakan akan mengangkut lebih dari 173.000  orang setiap harinya dengan headway atau rentang waktu antarkereta lima menit pada jam sibuk, dan sekitar sepuluh menit di luar jam sibuk.

Untuk keretanya, lanjut Silvia, menggunakan teknologi persinyalan yang belum ada di Indonesia. PT MRT Jakarta menggunakan sistem persinyalan Communication-Based Train Control (CBTC) untuk mengoperasikan 16 rangkaian kereta untuk menghasilkan keandalan layanan.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
Kereta MRT yang berada di Depo MRT Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Kamis (12/4/2018). PT MRT Jakarta menggunakan sistem persinyalan canggih untuk mengoperasikan rangkaian kereta hingga menjamin keandalan dan keamanan layanan.

Dalam laman resmi PT MRT Jakarta disebutkan, Communication-Based Train Control (CBTC) atau Sistem Kendali Kereta Berbasis Komunikasi merupakan sistem persinyalan kereta dengan frekuensi radio (RF) sebagai komunikasi data antarberbagai subsistem yang terintegrasi, sesuai dengan standar IEEE 1474.1 hingga 1474.4. Sistem ini menggunakan moving block dengan aspek sinyal yang berada pada kabin masinis (cabin driver).

Pada kabin masinis, terdapat Driver Machine Interface (DMI) yang berfungsi untuk memunculkan indikasi terkait sinyal yang ditampilkan oleh sistem CBTC. Dengan menggunakan moving block dimungkinkan blok kereta yang fleksibel, berubah-ubah, dan bergerak sesuai dengan pergerakan kereta dan parameternya sehingga operator dapat mengetahui lokasi kereta dengan lebih akurat dan mengatur jumlah kereta yang beroperasi.

Hasilnya, headway atau jarak antarkereta dapat diatur lebih dekat namun tetap dalam jarak aman. Dengan kata lain, CBTC memungkinkan untuk memendekkan ruang antarsatu set kereta tanpa menimbulkan risiko tabrakan. Bagi pengguna, jarak singkat antarkereta, ketepatan jadwal kereta, dan kapasitas angkut yang besar adalah hal utama dalam menggunakan transportasi massal.

Kompas/Totok Wijayanto
Pengerjaan proyek MRT di kawasan Lebak Bulus, Jakarta, Jumat (29/12/2017). Rute MRT Lebak Bulus-Bundaran Hotel Indonesia berjarak 16 kilometer dengan 13 stasiun. Sistem persinyalan dibangun untuk memastikan keandalan dan keamanan perjalanan MRT.

Sistem ini berbeda dengan sistem fixed block (konvensional) yang digunakan oleh kereta di Indonesia saat ini di mana track dibagi per section/block yang tidak memberikan informasi akurat tentang posisi atau lokasi kereta yang sedang bergerak. Dalam satu blok hanya boleh terdapat satu kereta, jarak antarblok umumnya adalah satu kilometer, sehingga kapasitas lintas menjadi terbatas.

Sistem persinyalan CBTC dibagi menjadi empat bagian penting, yaitu peralatan Automatic Train Supervisory (ATS) yang berada di Operation Control Center (OCC), peralatan wayside di sepanjang jalur kereta, peralatan on-board yang berada di dalam kereta, dan jaringan data komunikasi yang menghubungkan antara peralatan wayside dan on-board.

CBTC menggunakan tiga fungsi filter (TDMA, FDMA, CDMA) untuk menjamin keandalan dan keamanan komunikasi CBTC dari komunikasi luar yang dapat mengganggu persinyalan kereta. Di sistem persinyalan MRT Jakarta, wayside signal hanya akan digunakan di area workshop di dalam depo kereta berupa sinyal langsir. Pada main line, Wayside Radio Set (WRS) berada di sepanjang jalur kereta untuk menjaga agar komunikasi antara Operation Control Center (OCC) dan kereta selalu terhubung.

Peralatan CBTC yang ada di rel juga tahan air dan mudah untuk dipindahkan bila sedang dalam perawatan/maintenance atau dalam kondisi darurat. CBTC juga menyediakan informasi real time posisi kereta bagi penumpang. Sistem persinyalan ini juga akan menghemat biaya pemeliharaan karena perlengkapan sistem yang ada di sepanjang jalur tidak sebanyak fixed block. Berdasarkan komunikasi data nirkabel, CBTC cocok untuk sistem persinyalan kereta di area urban yang membutuhkan sistem angkutan massal yang cepat dan tepat waktu.

Kompas/Raditya Helabumi
Pekerja menyelesaikan pemasangan besi penahan untuk mesin bor dalam pembangunan proyek kereta massal cepat (MRT) di kawasan Bundaran Senayan, Jakarta, Kamis (25/6/2015). Bundaran Senayan menjadi tempat peletakan bor khusus terowongan (Tunnel Boring Machine/TBM).

Dengan teknologi yang digunakan di kereta MRT itu, saat ikut beberapa kali uji coba, Kompas merasakan perbedaan dasar dibandingkan dengan kereta komuter yang sudah ada. Menaiki kereta MRT Jakarta terasa mulus, tidak terdengar suara berisik gesekan roda kereta dengan rel, juga perjalanan cepat karena buka tutup pintu kereta adalah 30 detik. Sehingga kereta tidak berlama-lama di stasiun. Perjalanan sepanjang 16 km ditempuh dalam 30 menit saja. Disinilah salah satu kunci untuk bisa memberikan layanan yang aman, nyaman, dan handal.

Adapun untuk konstruksi, adanya konstruksi bawah tanah memberikan warna baru pada dunia konstruksi Indonesia. Karena teknologi dan peralatan yang dipergunakan untuk membuat terowongan trek MRT adalah barang baru.

Konstruksi bawah tanah MRT Jakarta terbentang sejauh enam km, terdiri dari terowongan MRT bawah tanah dan enam stasiun MRT bawah tanah. Stasiun bawah tanah ini adalah Senayan, Istora, Bendungan Hilir, Setiabudi, Dukuh Atas, dan Bundaran Hotel Indonesia. Untuk mengerjakan konstruksi bawah tanah, kontraktor menggunakan TBM (Tunnel Boring Machine) tipe EPB (Earth Pressure Balance Machine).

Adapun jalur lainnya, sepanjang 10 km adalah struktur layang yang terbentang dari wilayah Lebak Bulus hingga Sisingamangaraja. Tujuh stasiun layang ada di konstruksi ini yaitu Lebak Bulus, Fatmawati, Cipete Raya, Haji Nawi, Blok A, Blok M dan Sisingamangaraja. Depo kereta dibangun di area Lebak Bulus, berdekatan dengan stasiun awal/akhir Lebak Bulus. Dengan konstruksi layang, seluruh stasiun penumpang dan lintasan dibangun dengan struktur layang yang berada di atas permukaan tanah, sementara depo kereta dibangun di permukaan tanah (on ground).

Masa depan

Kini, bayi yang ditunggu-tunggu sudah lahir. Dalam masa uji coba, keingintahuan, rasa penasaran, antusiasme masyarakat, hingga pengalaman baru bermunculan. Namun, kehadirannya tetap memunculkan pertanyaan selanjutnya. Khususnya mengenai bagaimana pengelola MRT bisa menarik minat warga untuk mau menggunakan MRT sebagai sarana angkutan.

Tak lupa, pekerjaan rumah yang terlihat tentunya menghidupkan dan mengembangkan kawasan yang dilewati jalur MRT. Kawasan itu disebut sebagai kawasan berorientasi transit (TOD).

KOMPAS/YUNIADHI AGUNG
Foto yang diambil dari atap Menara Doa Gereja Bethel Indonesia Fatmawati, Jakarta Selatan, Selasa (14/8/2018) memperlihatkan kereta MRT Jakarta melintas dari Stasiun Lebak Bulus menuju Stasiun Cipete, Jakarta Selatan. Angkutan publik yang resmi beroperasi mulai Minggu (24/3/2019) ini diharapkan mengubah gaya hidup warga dalam menggunakan angkutan umum.

Untuk bisa mengembangkan kawasan ini, Pemprov DKI menugasi PT MRT sebagai operator TOD, yaitu melalui Pergub No.140 Tahun 2017 tentang Penugasan Perseroan Terbatas MRT Jakarta sebagai Operator Utama Pengelola Kawasan TOD Koridor Utara-Selatan Fase I. Dalam Pergub itu, diatur kawasan TOD yang mesti dikelola MRT Jakarta.

Dari 13 stasiun yang ada sepanjang Lebak Bulus-Bundaran HI, MRT Jakarta berhak untuk mengelola delapan kawasan TOD. Masing-masing di Bundaran HI, Dukuh Atas, Setiabudi, Bendungan Hilir, Istora, Senayan, Blok M, dan Lebak Bulus.

Pergub itu merupakan perpanjangan dari Pergub Nomor 44 Tahun 2017 tentang Pengembangan Kawasan TOD. Dalam Pergub itu disebutkan bahwa pengembangan kawasan TOD dilaksanakan oleh operator utama yang ditetapkan sebagai pengelola kawasan oleh gubernur.

Pekerjaan rumah lainnya yang lebih jelas adalah, bagaimana MRT Jakarta bisa mengubah gaya hidup dan perilaku baik dalam menggunakan angkutan umum.

Bagaimana dengan lima stasiun lainnya? Mantan Kepala Bappeda DKI Jakarta Tuty Kusumawati dalam wawancara di 2017 pernah menjelaskan, untuk lima stasiun lainnya apabila dinilai potensial dan akan dikembangkan sebagai kawasan TOD, maka bisa diusulkan.

Pekerjaan rumah lainnya yang lebih jelas adalah, bagaimana MRT Jakarta bisa mengubah gaya hidup dan perilaku baik dalam menggunakan angkutan umum. Di antaranya tentu saja mau antre, tidak menyerobot masuk atau keluar kereta, tidak meludah ataupun membuang sampah sembarangan, tidak berteriak-teriak di stasiun dan kereta, serta tidak merusak peralatan atau fasilitas publik.

Penasaran dengan MRT Jakarta? Mari, menjajal dan merasakan sensasinya!

START: PAYWALL
Beli Kompas.id, Main ke Toko Buku Kemudian!
https://interaktif.kompas.id/wp-content/uploads/sites/316/2019/09/Banner-Bebas-Akses-392x221pixel-Kompasid-x-Gramedia-CETAR-Agustus-2019.jpg
END: PAYWALL

Kerabat Kerja

Penulis: Helena Nababan | Videografik/Infografik: Novan Nugrahadi, Winston Wijaya, Ningsiawati | Fotografer: Totok Wijayanto, Lucky Pransisca, Agus Susanto, Yuniadhi Agung, Raditya Helabumi, Riza Fathoni, Wisnu Widiantoro | Video 360: Lucky Pransisca | Produser: Prasetyo Eko Prihananto, Neli Triana | Desainer & Pengembang: Ria Chandra, Rino Dwi Cahyo, Frans Yakobus Suryapradipta, Yosef Yudha Wijaya

Menikmati Tutur Visual?

Baca Juga Tutur Visual Lainnya Yang Mungkin Anda Sukai