Merayakan Lebaran dengan Kebersamaan Baru

Ramadhan dan Lebaran 2020 bakal menjadi salah satu masa tak terlupakan bagi masyarakat Indonesia. Kemeriahan suasana berkumpul bersama saat Ramadhan dan Lebaran penting untuk dibatasi sementara ini agar wabah Covid-19 segera berlalu.

Cerita kebersamaan dalam acara buka puasa bersama keluarga atau komunitas pertemanan mungkin tak banyak dijumpai sementara ini. Demikian juga dengan kebiasaan ngabuburit di taman, jalanan, pusat penjualan takjil, ataupun tempat wisata yang selalu dipenuhi manusia yang tengah berlibur Lebaran.

Acara halal bihalal pun perlu dibatasi dan disarankan dilakukan tanpa tatap muka. Yang paling terasa adalah tak ada lagi euforia mudik yang sudah menjadi tradisi seluruh masyarakat, baik yang merayakan lebaran maupun tidak.

Meski tak bisa lagi melakukan rangkaian tradisi Ramadhan-Lebaran, masih ada sisi kebersamaan lain yang bisa dilakukan. Kebersamaan untuk menjalani masa pandemi ini dengan saling berbagi kepada sesama yang membutuhkan. Modal sosial solidaritas yang sudah lama melekat pada bangsa ini bisa semakin dipertajam.

Tradisi lebaran hingga Ramadhan tidak akan hilang. Tradisi hanya akan bergeser dan masih bisa dijalankan dengan menggunakan tata cara yang tidak melanggar protokol kesehatan. Hasil survei jajak pendapat Kompas pertengahan Mei lalu, memotret berbagai pergeseran dan perubahan perilaku masyarakat sementara ini dalam menjalankan puasa dan persiapan menjelang hari raya.

Aktivitas Keagamaan

Memasuki bulan puasa, berbagai aktivitas keagamaan seperti salat tarawih, tadarus Al Quran, kajian, dan pesantren kilat akan digelar di masjid ataupun mushala. Bagi umat Islam, Ramadhan bukan hanya sekadar puasa untuk menahan lapar, haus, dan hawa nafsu. Namun, memiliki dimensi ritual rohaniah yang kuat untuk meningkatkan kualitas ibadah serta menjalin silaturahmi.

Biasanya setelah buka puasa, masjid/mushala akan dipenuhi masyarakat yang secara berjamaah akan melaksanakan Shalat Tarawih. Tak hanya itu, sekolah akan mengadakan pesantren kilat untuk lebih memperdalam ajaran agama.

Tahun ini, ritual keagamaan yang biasanya dilakukan secara berjamaah, harus mengalami sedikit penyesuaian. Pemerintah melalui Surat Edaran Kementerian Agama Nomor 6 Tahun 2020 juga memberikan panduan ibadah selama Ramadhan di tengah wabah Covid-19. Panduan tersebut dibuat untuk mencegah, mengurangi penyebaran, dan melindungi masyarakat dari risiko penularan virus, tapi tetap bisa beribadat sesuai dengan syariat Islam.

Diantaranya, Shalat Tarawih yang dilakukan secara individual ataupun harus berjamaah harus dilakukan bersama keluarga inti di rumah. Juga dengan Tadarus Al Quran yang dilakukan di rumah masing-masing.

Mayoritas responden Kompas pertengahan Mei lalu sudah mematuhinya dengan tetap melakukan kegiatan keagamaan seperti Shalat Tarawih dan Tadarus Al Quran di rumah. Namun, masih ada juga sekitar 30 persen yang tidak bisa lepas dari ibadah berjamaah di masjid/mushala.

Tradisi Kebersamaan

Satu hal lagi yang ditunggu dari masa puasa adalah acara buka puasa bersama (bukber). Baik umat Islam ataupun agama lain selalu menantikan momen kebersamaan ini. Tak jarang bukber juga menjadi ajang reuni berbagai kelompok sosial.

Namun, pembatasan sosial yang menutup pusat perbelanjaan dan restoran atau kafe, membuat kebersamaan buka bersama hilang. Buka puasa dan sahur menurut Surat Edaran Kementerian Agama tersebut harus dilakukan di rumah masing-masing.

Meski tidak bisa lagi bersama-sama lagi melakukan buka puasa bersama, beberapa diantaranya menggantikannya dengan saling menghantar makanan buka puasa. Mereka memanfaatkan jasa ojek online atau antar makanan supaya tetap bisa menikmati kebersamaan. Makanan buka puasa yang dikirimkan menggantikan kebersamaan tersebut.

 

Ritual kebersamaan memang belum bisa melibatkan banyak orang selama wabah masih berlangsung. Namun, ada sejumlah kebiasaan baru yang muncul pada Ramadhan ini saat harus tinggal di rumah saja.

Hasil jajak pendapat Kompas menyebutkan, dua dari tiga responden mengaku lebih banyak beraktivitas bersama keluarga mulai dari menyiapkan sahur, buka puasa, membuat kue lebaran, hingga beribadah dan mengaji. Bagi orangtua pekerja, ramadhan kali ini sungguh istimewa karena memberikan kesempatan emas bisa berkumpul bersama keluarga dari sahur hingga berbuka puasa.

Seperempat responden mengaku menjadi lebih rajin membaca Al Quran karena memiliki waktu luang lebih banyak. Sementara 7,41 responden memanfaatkan waktu untuk melakukan hobi yang selama ini mungkin jarang bisa dilakukan seperti memasak, berkebun, membaca, dan masih banyak lagi. Beranda media sosial dipenuhi dengan hasil karya melakukan hobi tersebut.

 

Tradisi Mudik

Mudik menjadi salah satu ritual Lebaran yang berat ditinggalkan, bahkan saat masa pandemi ini. Mudik sudah menjadi tradisi lama puluhan juta masyarakat Indonesia di perantauan. Biasanya minggu terakhir di bulan puasa, aktivitas pemudik sudah muncul di ruas-ruas jalan.

Semarak mudik tahun 2019 didukung dengan beroperasinya jalan tol Trans Jawa dan Sumatera. Banyak masyarakat saat itu menjajal jalan sepanjang 615 km di Jawa dan 2.700 km di Sumatera tersebut. Jumlah pemudik yang menggunakan transportasi jalan meningkat 11,9 persen dibandingkan tahun 2018. Disusul peningkatan 6,6 persen penumpang pada moda kereta api. Di sisi lain, pemudik yang menggunakan moda udara dan laut menurun 27,4 persen.

Namun, tahun ini pemerintah mengeluarkan kebijakan larangan mudik melalui Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 25 Tahun 2020 untuk mencegah penyebaran virus Korona. Aturan tersebut melarang sementara penggunaan transportasi baik darat, laut, udara dan kereta api mulai tanggal 24 April hingga 31 Mei 2020.

Sebelum larangan mudik tersebut dikeluarkan, menurut Survei daring Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Perhubungan Maret lalu, ada 7 persen dari 42.890 responden yang menyatakan sudah mudik ke kampung halaman. Hampir 30 persen beralasan karena telah diterapkan sistem Work From Home dan 15,5 persen karena penerapan sistem belajar di rumah (e-learning) sehingga memilih untuk pulang ke kampung halaman.

Namun, ada juga 28 persen yang mudik untuk menghindari penularan di tempat bekerja/belajar. Selain alasan tersebut, sekitar 7 persen responden memilih untuk kembali ke kampung halaman karena memang sudah tidak mempunyai pekerjaan di kota besar karena dirumahkan sementara atau di-PHK.

Survei Kompas pada 13-15 Mei lalu menyatakan hasil yang sedikit berbeda. Dari 510 responden, sekitar 95 persen menyebutkan tidak akan mudik tahun ini. Sebagian masyarakat (38 persen responden), baik karena kesadaran sendiri ataupun larangan dari saudara di daerah asal, memilih tidak mudik dengan pertimbangan tingginya penyebaran Covid-19. Selain itu ada juga responden yang tidak mudik karena menaati peraturan pemerintah.

Tradisi Lebaran

Pembatasan sosial juga membuat tradisi Lebaran sedikit bergeser. Jika sebelumnya Shalat Ied dilaksanakan di masjid, lapangan atau alun-alun, yang diikuti oleh puluhan hingga ratusan orang. Sekarang Shalat Idul Fitri disarankan untuk dilaksanakan di rumah.

Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan Fatwa No. 28 tahun 2020 yang isinya panduan tata cara melaksanakan Idul Fitri. Tujuannya supaya Shalat Ied bisa dilaksanakan sesuai dengan Syariat Islam, tapi tetap mematuhi protokol kesehatan untuk meminimalisir penyebaran virus.

Menurut Fatwa tersebut, Shalat Ied boleh dilaksanakan di rumah dengan berjamaah bersama anggota keluarga atau sendiri. Hal ini terutama dilaksanakan di zona merah penyebaran Covid-19. Namun, dalam Fatwa tersebut juga disebutkan, Shalat Ied boleh dilaksanakan berjamaah di tanah lapang ataupun masjid, dengan syarat berada di zona hijau dengan kecenderungan penurunan kasus.

 

Keharusan menjaga jarak juga membuat tradisi silaturahmi dan halal bihalal lebaran tidak bisa dilakukan secara langsung. Bersalaman pun menjadi hal yang sebaiknya dihindari. Jika harus berdekatan, setiap orang sebaiknya menjaga jarak sekitar 2 meter.

Namun demikian, kecanggihan teknologi telekomunikasi bisa membantu untuk merekatkan tali silaturahmi. Separuh lebih responden jajak pendapat Kompas mengatakan akan saling mengucapkan selamat Idul Fitri dan bermaafan menggunakan sarana teknologi.

Adapun sekitar 15 persen akan menggunakan komunikasi tidak langsung melalui pesan singkat atau Whatsapp. Sisanya, memilih melalui jalur media sosial seperti Facebook/Twitter/Instagram untuk mengucapkan selamat Idul Fitri.Apapun cara yang dipilih untuk berkomunikasi akan tetap bisa mewakili tradisi silaturahmi yang selama ini telah terjalin.

Keharusan tinggal di rumah, sedikit banyak juga mengubah tradisi Lebaran, yakni membeli baju baru. Hampir tujuh dari sepuluh responden mengatakan tidak akan membeli baju baru. Pakaian baru saat Lebaran memang bukan menjadi syarat keharusan berhari raya.

Solidaritas Menguat

Meski beberapa tradisi Ramadhan dan Lebaran menjadi berbeda, ada satu hal yang tidak berubah. Hal tersebut adalah kebiasaan berbagi kepada sesama. Aktivitas berbagi tersebut sudah dimulai awal Maret, saat masa awal pandemi. Berbagai kegiatan swadaya masyarakat  terus bermunculan untuk menolong sesama yang terdampak wabah. Kegiatan tersebut dikoordinir perorangan ataupun public figure, komunitas masyarakat, organisasi sosial, hingga perusahaan. Mereka langsung bergerak atas nama kemanusiaan tanpa menunggu komando dari pemerintah.

Jajak pendapat Kompas pertengahan Mei lalu menunjukkan solidaritas masyarakat semakin menguat. Sebanyak 64 persen responden menilai, masyarakat menjadi semakin peduli sejak pandemi Covid-19. Gerakan sosial untuk tenaga medis, penderita Covid, hingga sesame warga yang membutuhkan, muncul bergelombang tanpa henti sejak awal pandemi hingga kini.

Memasuki bulan Puasa, Kementerian Agama melalui Surat Edaran No. 6 tahun 2020 mengajak umat Islam untuk membayarkan zakat di awal puasa. Zakat yang terkumpul bisa segera digunakan untuk membantu yang warga yang terdampak ekonomi.

Untuk memudahkan pembayaran zakat, beberapa Lembaga Penyaluran zakat menyediakan pembayaran melalui platform digital. Misalnya, platform e-dagang Tokopedia yang berkolaborasi dengan lembaga amil zakat dan kemanusiaan, antara lain Baznas, Dompet Dhuafa, Rumah Yatim, Rumah Zakat, dan NU Care-Lazisnu. Namun, 85 persen jajak pendapat Kompas lebih senang menyampaikan zakat secara langsung ke sejumlah organisasi pengelola zakat, dibandingkan melalui layanan digital.

Kebiasaan berbagi lainnya yang tidak berubah adalah membagi uang kepada sanak saudara. Masih ada sekitar 50 persen responden yang akan meneruskan kebiasaan tersebut. Proporsinya tidak terlalu besar karena bisa jadi dalam kondisi ekonomi yang menurun, masyarakat menahan untuk mengeluarkan uang.

Wabah Covid-19 telah menggeser tradisi Ramadhan-Lebaran yang telah terbentuk panjang di kalangan masyarakat Indonesia. Kegiatan keagamaan dan silaturahmi tak bisa lagi dilakukan secara bersama yang melibatkan banyak orang.

Meski demikian, masih ada sisi kebersamaan lain yang bisa dilakukan, yakni berbagi kepada sesama dalam wujud solidaritas sosial. Solidaritas sosial yang makin menguat bisa menjadi modal sosial untuk bisa menghadapi kehidupan normal baru pasca pandemi mendatang.

START: PAYWALL
END: PAYWALL

Kerabat Kerja

Penulis: MARGARETHA PUTERI ROSALINA, MB DEWI PANCAWATI, SUSANTI AGUSTINA SIMANJUNTAK | FOTOGRAFER: RIZA FATHONI, FERGANATA INDRA RIATMOKO, WAWAN H PRABOWO, HERU SRI KUMORO, ALIF ICHWAN, ANGGER PUTRANTO, AGUS SUSANTO, RADITYA HELABUMI, P RADITYA MAHENDRA YASA, BAHANA PATRIA GUPTA, RONY ARIYANTO NUGROHO, DIAN DEWI PURNAMASARI, ZULKARNAINI, IWAN SETIYAWAN, NIKSON SINAGA, ADRIAN FAJRIANSYAH, ASWIN RIZAL HARAHAP, AMIR SODIKIN | INFOGRAFIK: NINGSIAWATI, NOVAN NUGRAHADI | PENYELARAS BAHASA: PRISKILIA SITOMPUL | PRODUSER: EMILIUS CAESAR ALEXEY | Desainer & Pengembang: Ria Chandra, Rino Dwi Cahyo, Frans Yakobus Suryapradipta, Yosef Yudha Wijaya, Deny Ramanda

Suka dengan tulisan yang Anda baca?

Nikmati tulisan lainnya dalam rubrik Tutur Visual di bawah ini.