Minoritas dalam Sains, Teknologi, Rekayasa, dan Matematika

Peradaban manusia berderap menuju optimalisasi teknologi informasi, bioteknologi, nanoteknologi, dan kecerdasan buatan. Sebagai jantung penggerak adalah STEM alias sains, teknologi, engineering (rekayasa), dan matematika. Sayangnya, bidang penggerak ini masih jauh dari sentuhan peran dan perspektif perempuan.

Kondisi ini memicu konsekuensi serius, bukan sekadar kecilnya partisipasi. Desain dunia yang mengesampingkan perspektif perempuan tidak hanya berpengaruh pada kenyamanan, bahkan bisa mengancam kehidupan perempuan.

Ihwal kesenjangan jender dalam sains dibahas khusus dalam laporan UNESCO Institute for Statistics, seperti diunduh dari laman unesco.org pada Kamis (12/3/2020). Perempuan peneliti adalah minoritas.

kompas/riza fathoni
Perempuan peneliti di laboratorium di Pusat Penelitian Biologi Zoologi LIPI di Cibinong, Bogor, Jawa Barat, tengah mengobservasi sejumlah sampel obyek penelitian, Rabu (18/4/2018).

Persentasenya bervariasi untuk setiap kawasan. Untuk kawasan Asia Timur dan Pasifik (2016) persentasenya 23,9 persen. Di Asia Selatan dan Asia Barat 18,5 persen. Adapun di Amerika Utara dan Eropa Barat 32,7 persen. Sementara di seluruh dunia, rata-rata proporsi perempuan peneliti adalah 29,3 persen.

Meski demikian, menariknya, di sejumlah negara persentase perempuan peneliti (lebih) besar. Indonesia mencatat persentase 45,8 persen, Azerbaijan 59 persen, dan Myanmar 75,6 persen.

Akan tetapi, dalam artikel ”100 Women: Where do women outnumber men in science” yang dipublikasikan bbc.com pada 9 November 2017 disebutkan, persentase di Myanmar kemungkinan tidak mewakili hal sesungguhnya. Pasalnya, dari data yang dikumpulkan pada 2002 oleh Kementerian Sains dan Teknologi Myanmar, beberapa universitas di Myanmar mungkin memasukkan semua staf pengajar mereka alih-alih hanya mereka yang melakukan penelitian.

kompas/hendra a setyawan
Peneliti rafflesia, Sofi Mursidawari, memeriksa jenis kelamin bunga Rafflesia Patma Blume yang mekar di Kebun Raya Bogor, Minggu (15/9/2019). Terdata 15 jenis rafflesia ada di Indonesia, termasuk yang terbesar dan paling terkenal, Rafflesia arnoldii asal Bengkulu.

Posisi sebagai minoritas dalam bidang STEM yang dialami perempuan makin terkonfirmasi dalam laporan ”The Global Gender Gap 2018” yang dirilis World Economic Forum.

Laporan yang diunduh pada Kamis (12/3/2020) dari laman weforum.org itu secara khusus menyebutkan tentang kesenjangan jender dalam bidang kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Hanya 22 persen perempuan profesional di bidang kecerdasan buatan. Bandingkan dengan persentase laki-laki yang mencapai 78 persen. Kesenjangan jender dalam bidang ini bisa memperburuk kesenjangan dalam partisipasi dan peluang ekonomi di masa depan mengingat makin meningkatnya kebutuhan akan keahlian tersebut.

kompas/hendra a setyawan
Para siswa menyimak penjelasan tentang alat bantu sikat gigi dalam Orbit Habibie Festival di Jiexpo, Kemayoran, Jakarta, Kamis (17/10/2019). Anak-anak perempuan perlu didorong menekuni bidang sains, teknologi, rekayasa, dan matematika.

Kesenjangan jender dalam bidang ini juga menyiratkan bidang ini tengah berkembang tanpa keragaman talenta, dalam hal ini perempuan, yang lebih lanjut akan membatasi kapasitas inklusivitas dan inovasi bidang tersebut.

Hal lain yang terkait masih relatif kecilnya persentase perempuan dalam bidang STEM adalah konsep leaky pipeline. Meski ada lebih banyak perempuan menjalani pendidikan STEM, pada akhirnya yang bekerja dalam bidang ini masih sangat kecil.

Dalam buku Women in STEM Disciplines: The Yfactor 2016 Global Report on Gender in Science, Technology, Engineering and Mathematics yang ditulis Claudine Schmuck (2017), secara harfiah ini berarti satu per satu perempuan ”drop out” dari STEM, dimulai tepat setelah tingkat sekolah dasar hingga masa pensiun.

Laporan DG Research yang dikutip oleh buku tersebut menunjukkan, ada tiga alasan perempuan memilih keluar dari karier di bidang STEM. Pertama, kurangnya manajemen karir, yakni promosi dan ketidakseimbangan jender dalam gaji. Kedua, kesulitan menyeimbangkan pekerjaan dan kewajiban privat, khususnya setelah melahirkan anak. Ketiga, lingkungan yang ”tidak ramah” yang mengarah pada isolasi dan pengucilan karena sedikitnya jumlah perempuan.

Penelitian yang dilakukan Dewi Candraningrum dan Anita Dhewy dengan judul ”Rasa Takut, Bullying & Tekad Pelajar Perempuan dalam STEM: Kajian SMK di Jakarta” menemukan sejumlah penyebab terus turunnya jumlah perempuan dalam STEM.

Ini dimulai dari sekolah menengah hingga universitas dan terus berlanjut dalam pekerjaan di laboratorium, pengajaran, dan pengambil kebijakan riset dan teknologi. Riset yang dimuat Jurnal Perempuan Vol. 21 No.4, November 2016, ini menemukan, rasa takut ibu dan anak perempuan terhadap STEM bukan baru terjadi saat ini, tetapi sudah mengakar di masyarakat. Perisakan di sekolah atau di komunitas, terkait pilihan bidang STEM, menjadi pemicu rendahnya minat anak perempuan terhadap STEM.

kompas/wawan h prabowo
Suasana Indonesia Science Expo di Balai Kartini, Jakarta, Senin (23/10/2017). Minat anak perempuan menekuni sains, teknologi, rekayasa, dan matematika dinilai masih rendah.

Dampak nyata

Lantas, apa dampak dari kecilnya peran perempuan dalam bidang STEM dalam kehidupan sehari-hari? Jawabannya bisa berupa daftar tak berujung meskipun sebagian mungkin tidak kita sadari.

Dikutip dari buku Invisible Women: Data Bias in a World Designed for Men yang ditulis Caroline Criado Perez (2019), sebagian dampak tersebut memang tidak mengancam hidup. Namun, sebagian lagi berupa konsekuensi yang mengancam nyawa.

Contoh yang tidak mengancam hidup, perempuan yang menggigil kedinginan di dalam kantor karena suhu ruangan diatur berdasarkan metabolisme tubuh laki-laki. Atau perempuan yang harus berjuang mencapai bagian rak paling atas yang didesain berdasarkan norma ukuran tubuh laki-laki.

Sementara contoh yang mengancam nyawa adalah tabrakan mobil yang perhitungan desain serta fitur keamanannya tidak didasarkan pada ukuran tubuh perempuan. Faktanya, sebagian besar boneka uji coba tabrakan (crash test dummies) didasarkan pada anatomi tubuh laki-laki.

Pada bidang medis kondisinya setali tiga uang. Secara historis, tulis Perez, diasumsikan tidak ada yang berbeda secara mendasar antara tubuh laki-laki dan perempuan, selain ukuran dan fungsi reproduksi. Ini membuat pendidikan kedokteran berfokus pada norma tubuh laki-laki. Di luar itu dianggap ”atipikal” atau bahkan ”abnormal”.

Dampaknya berupa diagnosis, pengobatan, atau terapi sejumlah penyakit yang didasarkan pada standar tubuh laki-laki. Akibatnya, sejumlah gangguan atau penyakit spesifik terkait organ dan mekanisme reproduksi perempuan, relatif belum dimengerti sepenuhnya. Padahal, selama 20 tahun terakhir telah dibuktikan, perempuan bukan sekadar berukuran tubuh lebih kecil dibandingkan laki-laki, melainkan juga berbeda hingga ke tingkatan sel-selnya.

kompas/ahmad arif
Tim peneliti Lembaga Biologi Molekuler Eijkman melakukan pemeriksaan darah untuk pemetaan thalasemia di Kota Sorong, Kamis (6/9/2018). Semakin banyak perempuan terjun dalam dunia STEM, akan menambah perspektif perempuan dalam solusi masalah.

Akar masalah

Berbagai fakta tadi menunjukkan ketiadaan netralitas dalam teknologi, seperti ditulis Tone Bratteteig dalam ”Bringing Gender Issues to Technology Design” dalam buku Feminist Challenges in the Information Age: Information as a Social Resource oleh Christiane Floyd dkk (2002). Teknologi tidaklah netral. Teknologi didesain oleh seseorang dan diperuntukkan bagi seseorang.

Judy Wajcman (1991) dalam buku Feminism Confronts Technology menyoroti banyaknya riset yang mengidentifikasi hambatan struktural terhadap partisipasi perempuan dalam sains. Di antaranya, diskriminasi jenis kelamin dalam pekerjaan dan model pendidikan, serta sosialisasi yang diterima anak perempuan. Ini membuat mereka terusir dari proses memelajari matematika dan sains.

Dalam buku ini, para penulis kebanyakan menawarkan solusi berupa penambahan jumlah perempuan yang terlibat dalam sains. Dengan kata lain, mereka melihat isu tersebut sekadar persoalan akses pendidikan dan pekerjaan.

Namun, sebenarnya persoalan akses itu berakar pada ketidaksetaraan dan ketidaknetralan. Dari mana semua itu berasal? Simone De Beauvoir dalam buku The Second Sex menulis, perempuan didefiniskan dan dibedakan berdasarkan referensi terhadap laki-laki. Bukan berdasarkan referensi terhadap diri perempuan itu sendiri. Perempuan adalah insidental, yang inesensial sebagai lawan dari yang esensial. Laki-laki adalah subyek, laki-laki adalah yang absolut. Perempuan adalah liyan (the Other).

lasti kurnia
Rika (di kursi roda) dan teman-temannya Indah, Neneng, dan Lena, bermain peran sebagai pasien dan tim paramedik, di KidZania, Jakarta, Rabu (28/5/2008). Masih ada anggapan, perempuan hanya cocok untuk bidang pekerjaan tertentu.

Sejumlah upaya

Tantangan global terkait kesenjangan jender dalam STEM memunculkan sejumlah inisiatif dan upaya. Resolusi 70/212 yang diadopsi Majelis Umum PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) pada 22 Desember 2015 di antaranya menetapkan tanggal 11 Februari sebagai International Day of Women and Girls in Science.

Resolusi itu merupakan salah satu hasil perjalanan panjang kesadaran dunia internasional ihwal peran perempuan dalam STEM. Seperti dikutip dari tulisan ”Perspektif Gender dalam Iptek di Tingkat Internasional” oleh Sjamsiah Achmad (2018). Perspektif jender di tingkat internasional, dalam hal ini PBB, baru muncul pada dekade pembangunan PBB II (1971-1980). Isu jender dan iptek mulai dibahas dalam Konferensi PBB tentang Ilmu dan Teknologi untuk Pembangunan yang diselenggarakan di Wina, Austria, pada 1979.

Terkait hal itu, Kedutaan Besar Irlandia di Jakarta dan Organisasi Buruh Internasional (International Labour Organization/ILO) menyelenggarakan diskusi panel bertema ”Women and the Future of Work: Insights from Women in STEM”, Jumat (7/2/2020).

AP Photo/Gerald Herbert
Astronot pertama AS, Sally Ride, saat berbicara dalam pertemuan tingkat tinggi tentang kemajuan anak perempuan dalam Sains dan Matematika yang diselenggarakan di Washington, 15 Mei 2006.

Salah satu pembicara, Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta Silvia Halim, mengungkapkan, kehadiran perempuan sebagai pemimpin akan membantu pekerja perempuan lebih nyaman dan aman. Ia mencontohkan, seorang  perempuan insinyur yang datang ke lokasi konstruksi sangat mungkin pada awalnya akan menerima pelecehan verbal (cat calling). Atau dipandangi lekat dari atas ke bawah oleh para  laki-laki pekerja karena mereka tidak pernah melihat perempuan berada di lokasi konstruksi.

Pembicara lainnya, Hastu Wijayasri, seorang pengembang perangkat lunak tuli, bercerita tentang hambatan budaya dan keluarga. Masih banyak terjadi pernikahan dini pada perempuan. Perempuan harus menjadi ibu rumah tangga (saja). Menurut dia, peran guru dibutuhkan untuk memberi informasi seimbang tentang STEM kepada murid perempuan dan laki-laki. Murid perempuan didorong berani menentukan pilihan atas hidupnya, termasuk memilih STEM sebagai bidang yang ingin ditekuni.

Direktur Organisasi Buruh Internasional untuk Indonesia dan Timor Leste Michiko Miyamoto yang turut hadir mengatakan, penting bagi Indonesia untuk memperkuat kelompok yang dapat mengembangkan teknologi dan menggerakkan pertumbuhan ekonomi, baik laki-laki maupun perempuan. Untuk itu diperlukan akses yang bisa menjangkau banyak orang, termasuk yang tinggal di desa dan pelosok.

kompas/hendra a setyawan
Peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Hartutiningsih (kiri) dibantu asistennya melakukan proses adaptasi tanaman begonia yang berasal dari hutan-hutan di seluruh Indonesia, di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat, Senin (25/2/2019).

Disinggung mengenai proporsi perempuan yang sangat kecil di bidang STEM, sekalipun telah banyak pelatihan dan pendidikan bagi perempuan, Michiko mengatakan, yang dibutuhkan adalah kejujuran, terutama dari kalangan bisnis, tentang nilai yang dimiliki para perempuan bagi perusahaan.

Diakuinya, masih ada ketidakpercayaan sebagian kalangan bisnis terhadap perempuan sebagai kekuatan penggerak. Dengan membagikan kisah sukses perempuan yang dapat menambah nilai lebih sebuah bisnis, menurut dia, kesadaran akan meningkat.

Selain itu, keterlibatan keluarga sangat penting. Banyak perempuan ingin memelajari bidang STEM, tetapi merasa tidak didukung. Menurut Michiko, sekali saja orangtua, khususnya ayah, menyadari seberapa besar yang bisa dilakukan anak-anak perempuan mereka, hal itu akan menjadi kebanggaan keluarga dan negara.

kompas/wawan h prabowo
Seorang warga, Maman (32) bermain bersama kedua putrinya di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Sabtu (11/11/2017). Ayah berperan penting mendorong anak perempuannya agar tertarik menekuni sains, teknologi, rekayasa, dan matematika.

Sebelumnya, Kompas berdiskusi dengan Fiona, Carol, dan Olivia di Kedutaan Besar Irlandia di Jakarta. Fiona Malone adalah insinyur rekayasa biomedis asal Irlandia yang menjadi pembicara kunci dalam diskusi. Olivia Leslie adalah Duta Besar Irlandia untuk Indonesia dan Carol Staunton adalah Wakil Duta Besar Irlandia.

Irlandia tercatat sebagai salah satu negara dengan perkembangan positif terkait kesetaraan jender. Dari yang sebelumnya sangat konservatif menuju negara dengan peran perempuan yang lebih diakui.

Hal itu terkonfirmasi dalam Global Gender Gap Report 2020 yang dikeluarkan World Economic Forum. Irlandia menempati peringkat ke-7 dari 153 negara dengan skor 0,798. Rentangnya, skala 1,00 berarti setara dan 0,00 tidak setara. Capaian itu diukur berdasarkan indikator partisipasi dan peluang ekonomi, tingkat pendidikan, kesehatan dan kelangsungan hidup, serta pemberdayaan politik.

kompas/ingki rinaldi
Insinyur rekayasa biomedis asal Irlandia Fiona Malone saat menjadi pembicara kunci dalam diskusi Women and the Future of Work: Insights from Women in STEM yang diselenggarakan Kedutaan Besar Irlandia dan Organisasi Buruh Internasional, Jumat (7/2/2020), di Jakarta,

Menurut Olivia, proses transformasi ekonomi yang mulai berlangsung di Irlandia pada awal 1990 mendorong pula transformasi sosial, termasuk yang menyangkut perempuan.

Populasi penduduk usia muda juga mendorong perkembangan di Irlandia. Bonus demografi inilah yang juga akan dimiliki Indonesia dalam waktu dekat. Penting untuk melibatkan anak-anak muda dalam bidang pendidikan dan politik. Ini diperlukan agar kaum muda merasa dilibatkan dalam pengambilan keputusan mengenai masa depan mereka.

Dengan sejumlah kemiripan kondisi yang dimiliki Irlandia dan Indonesia, ada yang bisa dijadikan pelajaran untuk memastikan kemajuan. Sebagian di antaranya adalah akses pada kesempatan, pendidikan, dan dunia.

samuel oktora
Seorang peneliti (kanan) dari PT Bio Farma (Persero) sedang memandu peserta lokakarya dari negara-negara Organisasi Kerjasama Islam (OKI) yang meninjau fasilitas pengembangan dan penelitian Bio Farma di Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (2/10/2019).

Pada contoh di Irlandia, keterbukaan terhadap investasi dari luar negeri menjadi kunci yang mengikuti keputusan pemerintah untuk berinvestasi di bidang riset. Kehadiran berbagai perusahaan raksasa teknologi mendorong kemajuan Irlandia dalam perekonomian yang berbasis pengetahuan.

Diungkapkan Fiona, ia dan rekan-rekannya percaya, sebelum ini ada semacam stereotip jender dalam masyarakat Irlandia yang ditunjukkan anak-anak usia tiga-empat tahun. Mereka percaya, anak perempuan akan menjadi perawat, sedangkan anak laki-laki menjadi insinyur.

Karena itulah sangat penting untuk sesegera mungkin meretas stereotip tersebut. Adalah logis untuk melibatkan lebih banyak perempuan ke bidang STEM untuk mendorong perkembangan dan pertumbuhan ekonomi. Ini merupakan persamaan yang sederhana jika dipadankan dengan rumus matematika.

”Kenapa (hanya mengandalkan) 50 persen populasi (laki-laki)? Anda tidak akan pernah mencapai (kemajuan) 100 persen (dengan hanya mengandalkan laki-laki). Itu tidak masuk akal,” sebut Fiona.

kompas/agnes rita sulistyawaty
Seorang perempuan peneliti di Lembaga Eijkman, Jakarta Pusat, tengah bekerja di laboratoriumnya. Pelibatan lebih banyak perempuan dalam bidang STEM, akan berkontribusi pada perkembangan dan pertumbuhan ekonomi.

Dalam kesempatan terpisah, peneliti Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Intan Suci Nurhati, mengungkapkan, memang ada perlakuan berbeda yang diterima generasinya dengan generasi sebelumnya.

Intan yang menekuni ilmu paleoclimatology dan paleoceanography mengatakan, dirinya tidak merasakan perlakuan diskriminatif. Namun, dari kisah sejumlah pembimbingnya dari generasi terdahulu, perlakuan yang mereka terima sangat berbeda.

Menurut Intan, yang penting diberikan untuk menuju kesetaraan posisi perempuan dalam STEM adalah mengakui kondisi khusus perempuan. Misalnya, soal peran ganda perempuan dalam keluarga dan dunia profesional, perlunya jam kerja fleksibel, keberadaan ruang laktasi dan ruang pengasuhan anak, serta kebijakan cuti melahirkan yang juga melibatkan laki-laki (suami).

dudy sudibyo
Calon astronot pertama Indonesia, Pratiwi Soedarmono saat bermain piano didampingi anaknya, Ditto, dan suaminya, Soedarmono. Perempuan yang juga doktor ahli teknologi genetika kedokteran itu gagal mengangkasa karena meledaknya pesawat ulang alik Challenger, lima bulan sebelum jadwalnya mengangkasa.

Intan menilai, kecenderungan perempuan sebagai multitasker yang diperoleh lewat proses evolusi akan menguntungkan dalam konteks kepemimpinan. Tidak hanya menguntungkan perempuan, imbuh Intan, tetapi juga menguntungkan laki-laki dan masyarakat secara keseluruhan.

Hal ini seperti ditulis juga oleh Caroline Criado Perez (2019) tentang perempuan pemilik bisnis. Sekalipun rata-rata memperoleh kurang dari setengah investasi dibandingkan rekan laki-laki mereka, tetapi perempuan mampu mendapatkan pendapatan dua kali lebih besar.

Menurut Perez, perempuan dinilai lebih cocok dalam kepemimpinan dibandingkan laki-laki. Ia merujuk pada riset BI Norwegian Business School yang mengidentifikasi lima ciri utama seorang pemimpin sukses. Kelimanya adalah stabilitas emosi, ekstroversi, keterbukaan terhadap pengalaman baru, kooperatif, simpatik, serta berhati-hati. Perempuan mencatatkan skor lebih tinggi dibandingkan pria dalam penilaian kelima ciri tersebut.

START: PAYWALL
END: PAYWALL

Kerabat Kerja

Penulis : Ingki Rinaldi | Fotografer: Ingki Rinaldi, Hendra A Setyawan, Riza Fathoni, Wawan H Prabowo, Ahmad Arif, Agnes Rita Sulistywaty | Infografis dan pengolah foto: Novan Nugrahadi | Penyelaras bahasa : FX Sukoto | Produser: Sri Rejeki | Desainer & Pengembang: Ria Chandra, Rino Dwi Cahyo, Frans Yakobus Suryapradipta, Yosef Yudha Wijaya, Deny Ramanda

Suka dengan tulisan yang Anda baca?

Nikmati tulisan lainnya dalam rubrik Tutur Visual di bawah ini.