Nasib Sapi Bali di Pulau Asalnya

Sapi bali merupakan rumpun ternak asli Indonesia. Nenek moyangnya adalah banteng. Kini, sapi bali tidak hanya tersebar di Pulau Bali, tetapi juga menyebar ke seluruh Indonesia. Namun, nasibnya di Pulau Bali memprihatinkan.

Riwayat banteng menjadi sapi bali (Bos sondaicus), antara lain, dikemukakan peneliti Pusat Litbang Konservasi dan Rehabilitasi Bogor, Jawa Barat, Renny Sawitri, dan rekan peneliti lainnya. Penelitiannya berjudul ”Keragaman Genetik Banteng (Bos javanicus d’Alton) dari Berbagai Lembaga Konservasi dan Taman Nasional Meru Betiri”.

Sampai saat ini banteng masih hidup di bumi Nusantara. Menurut Sawitri dkk, mereka dilindungi dalam habitatnya di Taman Nasional (TN) Baluran, TN Meru Betiri, dan TN Alas Purwo di Jawa Timur; TN Ujung Kulon di Banten; TN Bali Barat di Bali; TN Kayan Mentarang di Kalimantan Utara; serta TN Kutai di Kalimantan Timur.

KOMPAS/AGUS SUSANTO
Kawanan banteng (Bos javanicus) mencari rumput di sabana Sadengan, Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi, Jawa Timur, Senin (30/5/2022).

Sawitri dkk juga mencatat, banteng mulai dipelihara secara turun-temurun sejak 3500 SM oleh masyarakat Pulau Bali. Hal ini dapat ditelusuri dari bukti sejarah kebudayaan di Situs Gilimanuk.

Saat ini, jumlah sapi bali di Indonesia jutaan ekor. Dalam orasi ilmiah berjudul ”Ketersediaan Pakan Hijauan, Tantangan Pengembangan Sapi Bali”, Ni Nyoman Suryani dalam Rapat Senat Terbuka Universitas Udayana, Bali, 9 Oktober 2021, menyebutkan, sapi bali merupakan rumpun sapi potong yang terbanyak dipelihara di Indonesia.

Ni Nyoman Suryani mengutip hasil akhir Pendataan Sapi Potong, Sapi Perah, dan Kerbau (PSPK) dari Kementerian Pertanian dan Badan Pusat Statistik tahun 2011. Berdasarkan data tersebut, populasi mencapai 4,8 juta ekor atau 32,31 persen dari sapi yang ada di Indonesia.

Kompas/Cokorda Yudistira
Sapi bali menjadi komoditas strategis dan andalan di Provinsi Bali. Sapi bali dijaga dan dikembangkan di UPT Sentra Ternak Sobangan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung di Kecamatan Mengwi, Badung, Jumat (9/6/2023).

Populasi menurun

Namun, populasi sapi bali di Bali saat ini terindikasi menurun. Ditemui di Kota Denpasar, Senin (29/5/2023), Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali I Wayan Sunada mengatakan, hasil pendataan ulang jumlah sapi menunjukkan populasi sapi di Bali sekitar 380.000 ekor. Penurunan jumlah sapi itu, menurut dia, karena penghitungan populasi sapi sebelumnya menggunakan angka estimasi.

”Sebelum tahun 2022, angka estimasi populasi sapi di Bali sekitar 650.000 ekor,” kata I Wayan Sunada. ”Ketika terjadi penyakit mulut dan kuku, kami melakukan vaksinasi sekaligus mendata ulang populasi sapi. Ternyata, jumlah sapi hasil pendataan 2022 sekitar 380.000 ekor.”

Berkurangnya jumlah ternak sapi bali diakui I Nyoman Lumur (75), Ketua Kelompok Ternak Dharma Semara, Banjar Semaga, Kelurahan Penatih, Kecamatan Denpasar Timur, Kota Denpasar. Ditemui Sabtu (10/6/2023), I Nyoman Lumur mengatakan, jumlah ternak sapi di kelompok ternak sapi mereka tersisa beberapa ekor saja.

Begitu pula dengan jumlah anggota kelompok ternak itu, menurut I Nyoman Lumur, sudah banyak berkurang. ”Sekarang semakin jarang orang yang memelihara sapi. Anggota kelompok ternak kami tersisa 17 orang dan tidak semuanya masih memiliki sapi,” ujarnya.

Kompas/Cokorda Yudistira
Aktivitas di Pasar Hewan Beringkit di Mengwitani, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Minggu (11/6/2023).

Memelihara sapi di kawasan perkotaan menjadi tantangan, antara lain terbatasnya rumput, yang menjadi pakan sapi, karena area persawahan juga sudah terbatas. I Nyoman Lumur menambahkan, pemilik sapi, yang masih bertahan, di kelompok ternak sapi bali itu juga semakin menua usianya.

”Anak muda sekarang tidak berminat memelihara sapi karena memelihara sapi dianggap tidak menguntungkan, selain juga karena semakin sulit mendapatkan rumput yang menjadi makanan sapi,” ujar I Nyoman Lumur.

Ditemui di Fakultas Peternakan Universitas Udayana, Kota Denpasar, Selasa (13/6/2023), I Gede Mahardika mengungkapkan, di Bali belum ada pemeliharaan sapi berskala peternakan komersial. ”Pemeliharaan ternak sapi di Bali masih sebatas sambilan bagi petani. Itu pun dengan memanfaatkan lahan pekarangannya,” katanya.

”Anak muda sekarang tidak berminat memelihara sapi karena memelihara sapi dianggap tidak menguntungkan, selain juga karena semakin sulit mendapatkan rumput yang menjadi makanan sapi,” ujar I Nyoman Lumur.

Sejawat I Gede Mahardika di Fakultas Peternakan Universitas Udayana, Prof Dr Ir I Wayan Suarna mengatakan, pemeliharaan ternak sapi di Bali umumnya sebagai tabungan hidup, yakni sapi dipelihara untuk dibesarkan kemudian dijual untuk membiayai kebutuhan hidup.

”Belum ada usaha secara profesional untuk peternakan sapi,” kata I Wayan Suarna, Selasa (13/6/2023). ”Belum tantangan lainnya, yakni di Bali belum ada sentra pangan untuk ternak.”

Kompas/Cokorda Yudistira
Pemilik ternak sapi bali, yang juga Ketua Kelompok Ternak Dharma Semara, Banjar Semaga, Kelurahan Penatih, Kecamatan Denpasar Timur, Kota Denpasar, I Wayan Lumur, Sabtu (10/6/2023).

I Wayan Suarna menambahkan, pemerintah pusat dan pemerintah daerah di Bali sudah memberikan perhatian terhadap upaya pengembangan ternak sapi bali.

Sapi bali adalah jenis sapi dwiguna, yakni dapat sebagai sapi potong dan juga sebagai sapi pekerja. Sapi bali memiliki sejumlah keunggulan, di antaranya penampilannya yang kompak dan sintal, kemampuan reproduksinya tinggi, efisien menggunakan pakan, serta kualitas daging yang baik dengan daging rendah lemak dan karkas yang tinggi.

”Kemurnian sapi bali harus dijaga karena sapi bali dapat dikembangkan sebagai induk jenis sapi baru yang unggul dari hasil persilangan,” kata I Gede Mahardika.

Kompas/Cokorda Yudistira
Penjual dan pembeli sapi bali bertemu di Pasar Hewan Beringkit, Mengwi, Kabupaten Badung, Minggu (11/6/2023).

I Wayan Suarna mengatakan, pengembangan peternakan sapi bali dapat menjadi upaya untuk mendukung pemenuhan kebutuhan daging nasional. Langkah pemerintah untuk mengembangkan populasi sapi melalui program Sapi Kerbau Komoditas Andalan Negeri (Sikomandan) dapat dilengkapi dengan penyediaan sapi betina untuk indukan. Selain itu, penyediaan sarana agar bibit sapi dapat tumbuh dengan baik, di antaranya penyediaan pakan yang berkelanjutan.

”Kalau serius mau mengembangkan sapi sebagai bagian dari sektor primer, pemerintah juga harus mengupayakan petani bergairah memelihara sapi. Salah satunya dengan mengangkat harga daging sapi dari petani,” kata I Gede Mahardika.

Dengan demikian, sapi bali dapat menjadi tuan rumah di tanahnya sendiri.