Pintu Surga Pariwisata dari Masa ke Masa

Bandara Ngurah Rai dulunya daerah angker yang kemudian menjadi Pelabuhan Udara Tuban. Belanda memanfaatkannya sebagai lapangan terbang darurat militer. Ngurah Rai kini adalah pintu gerbang yang menargetkan kunjungan 37 juta wisatawan.

Berlokasi di Desa Tuban, Bandara I Gusti Ngurah Rai awalnya merupakan tanah lapang yang difungsikan sebagai lapangan terbang darurat militer dan mobilitas tentara Belanda. Saat itu, tahun 1930, namanya masih Pelabuhan Udara Tuban. Kini, bandara yang lebih sering disebut Ngurah Rai ini adalah bandara modern yang menjadi pintu masuk utama wisatawan di Tanah Air.

Nama Pelabuhan Udara Tuban diambil dari nama Desa Tuban, seperti dikisahkan dalam buku Ngurah Rai Airport Bali: Gateway to Paradise Periode 1930-2010. Desa ini tidak lepas dari berbagai legenda yang dipercaya masyarakat setempat.

Misalnya, Tuban berasal dari kata mataeb (bahasa Bali) yang artinya angker atau suatu tempat yang menyeramkan. Dari kata mataeb kemudian berubah menjadi taeban yang berarti sangat angker. Taeban kemudian menjadi Tuban, daerah angker yang kini berubah menjadi pintu gerbang internasional yang modern.

Aktivitas penerbangan di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali, Senin (2/10/2017). Ngurah Rai merupakan salah satu bandara tersibuk di Tanah Air.

Versi lain mengisahkan, adanya prajurit Majapahit yang masuk ke Bali, diperkirakan tahun 1400-1500 Masehi. Prajurit ini menyerang dengan misi menyatukan Nusantara sesuai dengan keinginan Patih Gadjah Mada.

Mereka berlabuh di lokasi Dalem Perahu yang letaknya sebelah barat Ngurah Rai sekarang. Kemungkinan, karena para prajurit itu datang dari Tuban, salah satu daerah di Jawa Timur, daerah berlabuhnya diberi nama sama.

Pada 1930, Ngurah Rai hanyalah tanah lapang yang difungsikan sebagai lapangan terbang darurat militer untuk mobilitas tentara Belanda. Departement Voor Verkeer en Waterstaats (semacam Departemen Pekerjaan Umum) Pemerintah Belanda berencana membangun pelabuhan udara yang layak dengan landasan terbang sementara (airstrip) sepanjang 700 meter. Saat itu, Belanda menguasai Sunda Kecil (Bali dan Nusa Tenggara).

kompas/ferganata indra riatmoko
Penumpang menanti waktu keberangkatan di ruang tunggu Bandara Internasional Ngurah Rai, Denpasar, Bali, Kamis (7/4/2016).

Akan tetapi, mereka kesulitan mengerjakannya sendiri. Akibatnya, diberlakukanlah kerja paksa yang melibatkan ratusan pekerja yang merupakan warga Bali. Landasan pacu sepanjang 700 meter itu pun akhirnya selesai dibangun pada 1931.

Pesawat jenis De Havilland DH 80 A Push Moth menjadi pesawat yang mendarat di Pelabuhan Udara Tuban tahun itu. Masyarakat setempat mengenalnya dengan istilah pesawat capung.

Pesawat selanjutnya yang mendarat adalah tipe Uiver dan KNILM (Koninklijke Nederlands Indische Luchtvaart Maatschappij) atau Royal Netherlands Indies Airways pada 1935.

Pada tahun yang sama, pesawat Qantas Empire Airways tipe DH 86 (De Havilland 86) dengan rute Singapura-Darwin (Australia) meminta izin singgah semalam di Tuban, yang lokasinya berada di bagian selatan Bali.

kompas/riza fathoni
Bermula dengan didarati pesawat capung, kini pesawat sebesar Boeing 737 dapat mendarat di Bandara Internasional Ngurah Rai, Denpasar, Bali, seperti pesawat yang dimiliki maskapai Garuda Indonesia ini, Rabu (10/6/2009).

Landasan terbang sementara itu pun mulai banyak menerima izin pendaratan dari negara tetangga. Arus penumpang mulai ramai. Lalu lintas barang serta jasa berdatangan pula dari Eropa menuju Australia.

Pemanfaatan landasan udara Tuban oleh Pemerintah Belanda berlangsung hingga 1942 sebelum pecah Perang Dunia II. Jepang yang melawan Sekutu kemudian mengusir Belanda. Pelabuhan Udara Tuban tidak luput dari pengeboman tentara Jepang. Namun, tidak seluruhnya hancur.

Jepang kemudian memperbaiki landasan pacu peninggalan Belanda itu. Jepang mengganti landasan rumput dengan sistem pelat baja (peer steel plate). Namun, saat itu Jepang belum membangun menara.

Sebagai gantinya, untuk keperluan pengintaian, Jepang memanfaatkan pohon kepuh dan membangun rumah pohon dari bambu-bambu. Letaknya di bagian timur landasan pacu. Dalam waktu lima tahun, Jepang juga menambah panjang landasan pacu, dari 700 meter menjadi 1.200 meter.

kompas/p raditya mahendra yasa
Proyek pengembangan Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali, terus dirampungkan, Rabu (10/10/2012). Bandara Ngurah Rai merupakan pintu gerbang Bali sebagai kawasan wisata internasional.

Setelah masa kemerdekaan, kewenangan pengelolaan pelabuhan udara dipegang oleh Djawatan Penerbangan Sipil. Fasilitas-fasilitas pelabuhan udara dilengkapi. Pada 1949, gedung terminal dan menara pengawas penerbangan dibangun. Saat itu, komunikasi masih menggunakan transceiver kode morse.

Pelabuhan Udara Tuban kemudian diperbaiki atas gagasan Presiden Soekarno. Soekarno percaya, pelabuhan udara ini berpeluang besar untuk melayani penerbangan rute-rute jauh. Pengerjaannya berbarengan dengan pembangunan megaproyek Monumen Nasional dan Stadion Gelora Bung Karno di Jakarta.

Soekarno kemudian mendarat pertama kalinya di Bandara Tuban dengan pesawat Dakota pada tahun 1955. Setelah itu, ia sering datang ke Bali dengan pesawat kepresidenan tipe Lockheed JetStar, baik dalam kunjungan terjadwal maupun spontan.

Rute internasional mulai dilayani kembali pada 1959. Belum adanya otoritas bandara setempat, membuat segala izin pendaratan semua maskapai penerbangan, terutama asing, harus bersurat kepada pemerintah pusat di Jakarta. Saat itu, landasan pacu yang memiliki panjang 1.200 meter itu sudah dapat didarati pesawat jenis Convair 240.

kompas/dahono fitrianto
Bandara Udara Internasional Ngurah Rai, Denpasar, Bali, dilihat dari udara, Kamis (9/6/2011). Bandara ini diperluas menjelang pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi APEC 2013. Gambar diambil dari pesawat Boeing 737-800NG Garuda Indonesia PK GMN yang baru saja lepas landas.

Awal pariwisata

Maskapai penerbangan dari mancanegara mulai berdatangan mendarat di Pelabuhan Udara Tuban. Sektor pariwisata kemudian menjadi peluang Indonesia untuk meraup devisa.

Untuk memenuhi kebutuhan itu, Pelabuhan Udara Tuban dikembangkan pada 1963. Pembangunan yang dinamakan Airport Tuban Project tersebut tergolong megaproyek. Landasan pacunya diperpanjang menjadi 2.700 meter dengan lebar 45 meter serta overrun 2 x 100 meter.

Pelabuhan udara itu berada di ujung selatan Pulau Bali, berhadapan dengan pantai. Mau tak mau, reklamasi menjadi solusi untuk perpanjangan landasan. Proses reklamasi pantai dilaksanakan sepanjang 1.500 meter.

Maskapai penerbangan dari mancanegara mulai berdatangan mendarat di Pelabuhan Udara Tuban. Sektor pariwisata kemudian menjadi peluang Indonesia untuk meraup devisa.

Material reklamasi, seperti batu kapur dan batu kali, diambil dari Ungasan, Badung, sedangkan pasir dari Sungai Antosari, Tabanan. Sayangnya, proses pengambilan batu kapur ini harus menghancurkan bukit di Ungasan dengan dinamit, kemudian diangkut menuju Tuban yang berjarak sekitar 5 kilometer.

Sementara pemilihan material di Antosari pertimbangannya adalah adanya deposit batu hitam dan pasir yang berasal dari letusan Gunung Agung tahun 1963. Kualitasnya bagus. Proyek ini membutuhkan ”perjuangan” besar. Alat berat harus didatangkan dari Pulau Jawa melalui Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana.

Konvoi yang membawa alat-alat berat yang berukuran besar ini menjadi tontonan di sepanjang jalan dari Jembrana menuju Pelabuhan Udara Tuban. Begitu pula pengambilan batu serta pasir di Sungai Antosari di Tabanan.

Kompas/P Raditya Mahendra Yasa
Kawasan Bandara Ngurah Rai, Bali saat masih dalam tahap pengembangan, Rabu (18/6/2014). Pembangunan infrastruktur tersebut meliputi perluasan landasan, apron, terminal penumpang dan terminal barang untuk menunjuang pelayanan penumpang.

Setelah proses panjang selama tiga tahun, proyek perpanjangan landasan pacu menjadi 2.700 meter selesai juga. Presiden Soeharto meresmikan penggunaannya pada 1 Agustus 1969, sekaligus mengumumkan pergantian namanya menjadi Pelabuhan Udara International Ngurah Rai atau Bali Airport Ngurah Rai.

Sosok kepahlawanan I Gusti Ngurah Rai yang menjadi kebanggaan masyarakat Bali menjadi inspirasi untuk mengabadikannya sebagai nama bandara. Tahun 2008, patung Ngurah Rai melengkapi ikon bandara.

Hingga kini, Ngurah Rai mencatat kunjungan sejumlah tokoh penting dan peserta konferensi internasional sepanjang tahun 1950-2018. Diawali pada tahun 1955, ketika Presiden Soekarno mendarat untuk pertama kalinya di Bandara Ngurah Rai. Ia menumpang pesawat DC-2 Dakota. Lima tahun kemudian, tepatnya tanggal 24 Februari, Perdana Menteri Uni Soviet Nikita Krushchev datang dengan disambut Presiden Soekarno.

Pada tahun 1971, giliran Ratu Kerajaan Belanda Juliana Louise Marie Wilhelmina van Oranje-Nassau yang berkunjung ke Bali pada 1-4 September 1971. Beberapa Presiden Amerika Serikat juga sempat merasakan decit roda pesawat di landasan Ngurah Rai, seperti Ronald Reagan yang menghadiri pertemuan menteri luar negeri ASEAN (1986), Presiden George W Bush (2003), dan Barack Obama (2011).

kompas/riza fathoni
Presiden Amerika Serikat Barack Obama melambaikan tangan saat turun dari pesawat Air Force One di Bandara Ngurah Rai, Bali, Kamis (17/11/2011). Obama datang ke Indonesia untuk menghadiri KTT ASEAN ke-19 di Nusa Dua, Bali.

Sedangkan, beberapa konferensi internasional yang pernah diselenggarakan di Pulau Dewata adalah konferensi internasional perubahan iklim United Nations Framework Convention on Climate Change pada 2007, Konferensi Tingkat Tinggi APEC (2013), dan Annual Meeting IMF dan Bank Dunia (2018).

Untuk memenuhi persyaratan standar yang ditetapkan ICAO (International Civil Aviation Organization), sejak tahun 1990 dilakukan peningkatan kondisi infrastruktur. Pembangunannya dilakukan tiga tahap selama dua tahun, antara lain perpanjangan landasan pacu dari 2.700 meter menjadi 3.000 meter ke arah timur, perluasan apron, renovasi, dan perluasan gedung terminal.

Dengan peningkatan kondisi, Ngurah Rai mampu melayani penerbangan dengan pesawat berbadan besar sejenis Boeing B-747 seri 400, Boeing B-777 seri 200 dan 300, serta Airbus A-330 seri 300 dan Airbus A-340. Target kedatangan penumpang per tahun saat itu mampu mencapai 2,4 juta orang.

Dilakukan pula pembangunan fasilitas keselamatan penerbangan di atas lahan bakau seluas 12 hektar serta pembangunan terminal domestik dan internasional yang baru.

Seiring dengan semakin terkenalnya Bali sebagai tujuan wisata, Ngurah Rai menjadi pintu masuk utama wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Hal ini searah dengan cita-cita Presiden Soekarno, bahwa Bali mampu menjadi pintu masuk dan magnet wisata Indonesia.

Pesatnya industri pariwisata Bali membuat pulau ini disesaki turis mancanegara dan domestik. Tidak heran jika kemudian Ngurah Rai menjadi bandara tersibuk setelah Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Peningkatan ini terpantau setelah Pelabuhan Udara Internasional Ngurah Rai resmi dibuka pada 1969. Bali benar-benar menjadi pintu gerbang pariwisata Indonesia. Lonjakan tak hanya penumpang, tetapi juga lalu lintas kargo sejak tahun 1968 sampai 1979.

Memasuki periode 10 tahun (2000-2009), pergerakan pesawat dan penumpang terus naik sekitar dua kali lipat. Pada 2000, tercatat sebanyak 43.797 pesawat dengan penumpang 4.443.856 orang. Tahun 2009, jumlah pesawat dan penumpang naik hampir dua kali lipat menjadi 79.792 pesawat dan 9.625.443 orang.

Pada 2020, Ngurah Rai menargetkan kedatangan wisatawan sebesar 14 juta orang dan meningkat menjadi 37 juta wisatawan pada 2023, baik domestik maupun luar negeri.

Hanya, mendatangkan jutaan wisatawan bukanlah hal mudah untuk pelayanan di Ngurah Rai. Persoalannya, keberadaan Ngurah Rai itu berada di ujung selatan. Jika diperhatikan di peta, Pulau Bali mirip seekor ayam, Ngurah Rai berada di kaki ayam.

Panjang landasan pacu pun tidak bisa serta-merta dibangun karena harus melalui kajian yang matang. Apalagi, Ngurah Rai berada persis di bibir laut.

Seiring itu, tuntutan pelayanan terbaik terus digulirkan kepada Angkasa Pura I Ngurah Rai selaku pengelola. Hingga akhirnya, terjadi tragedi peledakan bom di Kuta pada 2002 dan 2005.

kompas/yuniadhi agung
Dua wisatawan mancanegara melintas sambil melihat papan jadwal keberangkatan pesawat di Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali, Senin (3/10/2005). Dua hari pascaledakan bom di dua tempat di Bali tidak terlihat eksodus wisatawan mancanegara meninggalkan Bali.

Keamanan terus ditingkatkan

Peristiwa dua kali peledakan bom itu menjadi perhatian dunia internasional. Dari kedua tragedi itu, Ngurah Rai belajar. Untuk meningkatkan keamanan serta menjaga kepercayaan dunia internasional, Ngurah Rai berusaha memperketat pemeriksaan kedatangan penumpang tanpa mengurangi kenyamanan.

Tahun 2005, pengelola Bandara Ngurah Rai membentuk Divisi Khusus Sekuriti Bandara. Pada 3 September 2019, PT Angkasa Pura I (Persero) bersama Direktorat Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM meresmikan tiga fasilitas berbasis teknologi canggih di Ngurah Rai.

Ketiga fasilitas tersebut berupa X-ray Automated Tray Return System (X-ray ATRS), boarding pass scanner (flap barrier), dan autogate passport demi kepentingan imigrasi. Alat-alat tersebut menggunakan teknologi tinggi digitalisasi dan untuk pertama kalinya diterapkan di Indonesia.

Tingginya arus kedatangan dan keberangkatan, baik domestik maupun mancanegara, mengingat Bali sebagai destinasi favorit dunia, menjadi salah satu pertimbangan alat ini dipasang di Ngurah Rai.

kompas/ayu sulistyowati
Sejumlah pekerja tengah merapikan pemasangan lukisan karya para perupa Bali, di dinding bagian atas terminal internasional Bandara Internasional Ngurah Rai, Kabupaten Badung, Rabu (4/9/2013). Sebanyak 216 lukisan perupa Bali terpasang di beberapa ruangan di terminal internasional.

Arsitektur dan lukisan

Tidak hanya dilengkapi peralatan canggih, Bandara Ngurah Rai juga bak galeri karena dinding-dinding terminal penumpangnya dihiasi berbagai lukisan. Empat lantai terminal internasional Ngurah Rai yang diresmikan semasa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sengaja didesain bergaya khas Bali.

Sekitar 216 lukisan karya sejumlah pelukis Bali menghiasi beberapa dinding terminal seluas total 120.000 meter persegi tersebut. Lukisan itu mengilustrasikan suasana alam dan kehidupan masyarakat Bali.

Tidak hanya dilengkapi peralatan canggih, Bandara Ngurah Rai juga bak galeri karena dinding-dinding terminal penumpangnya dihiasi berbagai lukisan.

Presiden Direktur PT Angkasa Pura I Tommy Soetomo mengatakan, pihaknya tetap ingin mengedepankan arsitektur Bali. ”Terminal ini dilengkapi dengan sistem modern, tetapi kami tetap mengadopsi kekayaan budaya Bali,” katanya dalam satu kesempatan.

Candi bentar, gayor, dan bale kulkul tampil di terminal yang atapnya berbentuk seperti gelombang lautan. Desain ini mengadopsi konsep eco-airport dengan memaksimalkan pencahayaan alami. Budaya Bali lainnya yang diadopsi adalah sistem terasering sawah. Hal ini terlihat di gedung parkir lima lantai seluas 39.000 meter persegi.

Arsitek I Wayan Gomudha mengatakan, pihaknya memadukan unsur modern dan tradisional dengan metode penyandingan. ”Kami memaksimalkan bentuk ornamen Bali yang nyaman dan tetap menyesuaikan fungsi bangunan tersebut,” katanya.

kompas/agus susanto
Aktivitas penerbangan di Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, Kamis (11/6/2015). Bandara ini masuk urutan 7 dari 10 bandara terbaik dunia dalam kategori jumlah penumpang 15 juta-25 juta orang per tahun. Penilaian diukur melalui survei Airport Service Quality oleh Airport Council International pada triwulan IV-2014 terhadap 31 bandara di dunia.

Terpaan abu Gunung Agung

Tidak hanya antisipasi terhadap gangguan keamanan, tantangan lain adalah menghadapi Gunung Agung yang masih aktif dan kerap melontarkan abu vulkaniknya, seperti terjadi pada 2017.

Ngurah Rai closed. Ash volcano mount Agung (Ngurah Rai ditutup. Abu vulkanik Gunung Agung). Kedua kalimat itu tertulis pada papan tulisan berjalan persis di atas pintu masuk keberangkatan internasional, pada Senin pagi hingga Rabu siang, 27-29 November 2017.

Abu letusan Gunung Agung ketika itu bagaikan meruntuhkan Ngurah Rai. Kalau biasanya bandara tutup karena umat Hindu Bali tengah menjalankan ibadah Nyepi, kali itu karena abu Gunung Agung menghujaninya.

Abu letusan Gunung Agung ketika itu bagaikan meruntuhkan Ngurah Rai.

Apalagi, kesiapan Ngurah Rai ketika itu sangat minim. Sejumlah perwakilan negara terus mempertanyakan evakuasi serta keselamatan penumpang dari dampak letusan Gunung Agung.

Sebenarnya, bukan baru pertama kali itu Ngurah Rai menghadapi terpaan abu vulkanik. Letusan hebat Gunung Agung pada 1963 menjadi pengalaman pertama Ngurah Rai menghadapi abu vulkanik.

Pengalaman demi pengalaman mestinya membuat pihak otoritas bandara semakin siap dengan mitigasi kebencanaan dan simulasinya agar sigap menghadapi segala kemungkinan ketika Ngurah Rai tutup akibat abu vulkanik.

AFP PHOTO / Yuda A RIYANTO
Penumpang menumpuk di bandara internasional Ngurah Rai karena penerbangan ditunda akibat meletusnya Gunung Agung, 27 November 2017.

Layangan putus

Ada satu lagi tantangan unik yang dihadapi pengelola Ngurah Rai. Memasuki musim kemarau, angkasa Pulau Dewata akan dihiasi oleh layang-layang jumbo.

Bermain layangan di Bali memang menjadi tradisi. Ukurannya pun bisa seluas lapangan sepak takraw. Biasanya, memasuki musim kemarau akan banyak kegiatan perlombaan atau sekadar hobi menerbangkan layangan.

Masalahnya, jika layang-layang itu diterbangkan tidak jauh dari bandara lalu putus, akan menjadi masalah yang tidak sepele. Layang-layang putus yang melayang lemah itu bisa membahayakan nyawa ratusan penumpang pesawat.

Terutama, jika layang-layang itu masuk ke saringan udara pesawat atau menutupi pandangan pilot. Rata-rata layang-layang itu berukuran ekstra besar yang ukurannya bisa melebihi lebar jalan raya.

 

Untuk mengatasinya, Gubernur Bali saat itu, Dewa Beratha, menandatangani Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 9 Tahun 2000 mengenai larangan menaikkan layang-layang dan permainan sejenis di Bandara Ngurah Rai serta sekitarnya pada 9 Oktober 2000.

Isinya mengatur, layang-layang boleh dimainkan atau diterbangkan pada radius 9 kilometer atau 5 mil laut dari bandara dengan ketinggian tidak lebih dari 100 meter.

Pelanggar akan diganjar hukuman 3 bulan penjara atau denda Rp 5 juta. Masyarakat pun lambat laun memahami. Setidaknya masyarakat mengerti soal keselamatan penerbangan dari bahaya layangan terbang atau putus di sekitar bandara.

Bagaimanapun, masa demi masa telah dilalui Ngurah Rai. Menjadi tantangan bagi Pulau Dewata melalui Ngurah Rai untuk tetap mampu menjaga daya tarik dan meningkatkan kunjungan sesuai ambisinya untuk menarik kedatangan 37 juta wisatawan pada 2023.

 

Kerabat Kerja

Penulis: Ayu Sulistyowati | Fotografer: Agus Susanto, Ayu Sulistyowati, Yuniadhi Agung, Riza Fathoni, P Raditya Mahendra Yasa, Dahono Fitrianto, Ferganata Indra Riatmoko | Infografis: Ningsiawati | Pengolah foto: Toto Sihono | Penyelaras bahasa: Priskilia Bintang Sitompul | Produser: Sri Rejeki | Desainer & Pengembang: Ria Chandra, Rino Dwi Cahyo, Frans Yakobus Suryapradipta, Yosef Yudha Wijaya

Suka dengan tulisan yang Anda baca?

Nikmati tulisan lainnya dalam rubrik Tutur Visual di bawah ini.