Pahlawan di Mata Milenial

Jika dulu pahlawan adalah orang yang mengangkat senjata untuk mengusir penjajah, bagaimana dengan sekarang? Masihkah pahlawan dipersepsikan demikian?

Bagi generasi milenial, pahlawan masa kini adalah mereka yang kreatif dan inovatif di bidang teknologi informasi, seperti start up. Tidak hanya itu, para influencer, seperti youtuber, selebgram, dan bloger, juga dipandang sebagai pahlawan selain entrepreneur yang menciptakan lapangan kerja.

Pahlawan masa kini lainnya adalah ilmuwan, orang yang mengharumkan nama bangsa di bidang seni dan budaya, tokoh agama atau spiritual, dan atlet yang membawa harum nama bangsa di kancah internasional.

Begitulah profil pahlawan masa kini di mata kaum milenial, seperti tecermin dari hasil jajak pendapat melalui telepon yang dilaksanakan Litbang Kompas pada 19-20 Oktober 2019.

kompas/susie berindra
Produk ”Es Kering” berupa paduan es krim dan biskuit produksi sebuah start up, masuk sebagai finalis ITB Entrepreneurship Challenge 2013. Pelaku usaha rintisan atau start up dipandang sebagai pahlawan masa kini oleh kaum milenial. 

Meski ”bungkus” sosoknya berubah, kualitas kepahlawanan yang harus dimiliki oleh sosok pahlawan di mata milenial, tidak jauh berbeda dengan pandangan generasi sebelum mereka.

Bedanya, terjadi defisit nilai-nilai toleransi dan kejujuran, nilai-nilai yang menurut kaum milenial seharusnya ditemukan pada sosok pahlawan bangsa masa kini. Di benak mereka, mempertahankan dan mengutamakan kesatuan bangsa merupakan kata kunci yang menjadi ciri khas nilai kepahlawanan.

Bagi generasi milenial, pahlawan masa kini adalah mereka yang kreatif dan inovatif di bidang teknologi informasi, seperti start up.

Kriteria pahlawan yang juga penting saat ini adalah berani memperjuangkan kebenaran dan keadilan serta rela berkorban bagi banyak orang. Nilai-nilai tersebut mengandung makna bahwa tindakan kepahlawanan harus bernilai positif dan bermanfaat bagi masyarakat yang membutuhkan solusi.

Tidak heran jika dalam jajak pendapat Kompas yang memotret makna kepahlawan bagi generasi milenial ini, muncul nama-nama seperti BJ Habibie, Susi Pudjiastuti, dan Nadiem Makarim yang paling banyak disebut sebagai sosok inspiratif sebagai pahlawan.

kompas/bahana patria gupta
Seorang anak melintasi lorong dengan dinding berhias gambar pahlawan nasional di Gang Kampung Plampitan, Surabaya, Senin (23/9/2019). Kampung yang dikenal sebagai kampung cinta sejarah ini ingin generasi muda di sana tidak lupa dengan sejarah dan perjuangan pahlawan bangsa.

Sosok inspiratif

Bacharuddin Jusuf Habibie, Presiden ke-3 Republik Indonesia yang juga pernah menjabat Menteri Riset dan Teknologi selama empat periode berturut-turut pada tahun 1978-1998 dipandang responden milenial sebagai sosok panutan yang memberi inspirasi bagi kemajuan Indonesia.

Habibie, yang kita kenal sebagai seorang ilmuwan kelas dunia dan juga Bapak Teknologi Indonesia, selain berjasa memimpin Indonesia melewati masa transisi pada akhir 1990-an, juga berperan sebagai inspirator bangsa. Ia memberi visi yang sungguh memotivasi bahwa melalui penguasaan teknologi seperti teknologi penerbangan, dapat membuka jalan lebar bagi Indonesia untuk meraih kemajuan.

Sementara itu, Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan pada Kabinet Kerja Joko Widodo-Jusuf Kalla periode 2014-2019, dinilai responden milenial sebagai sosok yang berani membela kebenaran dan keadilan dengan gebrakan-gerabakannya yang fenomenal dalam melindungi laut dan nelayan Indonesia. Siapa yang tak kenal dengan jargon Susi, ”Tenggelamkan!” bagi kapal-kapal asing yang mengeruk kekayaan laut Indonesia secara ilegal.

Sepertiga responden milenial dalam jajak pendapat ini juga menggambarkan pahlawan masa kini sebagai figur yang kreatif dan inovatif di bidang teknologi informasi. Sosok Nadiem Makarim, CEO Go-Jek, yang kini terpilih sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Kabinet Indonesia Maju periode 2019-2014, dinilai berhasil membuat terobosan baru dan menghantarkan Go-Jek sebagai start up paling sukses karya anak bangsa.

kompas/totok wijayanto
Pameran Indonesia Fintech Festival and Conference 2016 yang diadakan Otoritas Jasa Keuangan dengan Kamar Dagang dan Industri di Indonesia Convention Exhibition, Serpong, Tangerang, Senin (29/8/2016). Dibutuhkan banyak acara semacam ini untuk mendukung perkembangan start up di dalam negeri.

Di usianya yang masih muda, Nadiem sukses menciptakan lapangan kerja bagi ribuan orang dan membantu banyak UKM dalam mengembangkan bisnis mereka. Inovasinya dalam teknologi informasi telah membantu mengurangi penganggur.

Bahkan, prestasinya pada akhir 2017 mengantarkan Go-Jek menjadi satu-satunya perusahaan asal Asia Tenggara yang masuk peringkat ke-17 dalam daftar 56 perusahaan yang mengubah dunia (Change the World) rilisan Fortune. Sangat menginspirasi dan menjadi panutan anak-anak muda tentunya.

Tak hanya sosok sukses di bidang teknologi dan informasi, entrepreneur atau wirausaha yang bisa menciptakan lapangan kerja bagi banyak orang juga dianggap berjasa seperti pahlawan oleh sekitar 11,5 persen responden milenial. Nilai-nilai kemandirian dan rela berkorban menjadi tolok ukur mengapresiasi kiprah sosok tersebut dalam membangun bangsa.

Generasi digital yang selalu terhubung dengan media sosial ini juga menggambarkan influencer seperti youtuber, selebgram, dan bloger sebagai sosok pahlawan masa kini. Seseorang yang mempunyai kemampuan memengaruhi opini atau mengubah perilaku orang lain melalui media sosial mendapat apresiasi dari 11,7 persen responden milenial.

screenshot kitabisa.com
Gita Savitri, salah satu generasi milenial yang merayakan ulang tahunnya dengan menggalang donasi bagi anak kurang mampu.

Di antaranya, mereka menyebut influencer seperti Awkarin, Gita Savitri, dan Rachel Vennya sebagai sosok yang diidolakan dan menginspirasi lewat unggahan-unggahan yang positif di media sosial. Sosok-sosok ini dinilai memiliki sikap rela berkorban dan menjunjung tinggi toleransi.

Awkarin, gadis pemilik nama asli Karin Novilda yang sering dianggap kontroversial karena aksinya di media sosial, mendapat apresiasi ketika turun langsung ke lapangan membagikan nasi kotak untuk para demonstran mahasiswa. Tidak tanggung-tanggung, jumlah yang dibagikan mencapai 3.000 kotak.

Lalu, aksinya mengajak relawan untuk memunguti sampah sisa demo di DPR dan saat ia menjadi sukarelawan pemadaman api kebakaran hutan di Palangkaraya membuatnya punya banyak penggemar dan pengikut. Selain itu, Awkarin juga mempunyai bisnis hijab yang membuka lapangan kerja.

Kaum milenial juga menyebut ilmuwan, orang-orang yang mengharumkan nama bangsa di bidang seni dan budaya, atau atlet-atlet yang membawa nama harum bangsa di kancah Internasional, dan tokoh agama sebagai gambaran sosok pahlawan masa kini. Semua itu tidak terlepas dari kiprah mereka dalam berprestasi dan berguna bagi banyak orang serta mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa.

kompas/bahana patria gupta
Anak-anak milenial menyalami veteran seusai mengikuti Sekolah Kebangsaan di Sekolah Don Bosco Surabaya, Kamis (3/10/2019). Lokasi sekolah ini dulunya merupakan gudang senjata tentara Jepang. Kegiatan ini bertujuan agar generasi muda dapat meneladani jasa para pahlawan.

Kata ”pahlawan” sendiri secara umum dapat disimpulkan sebagai sosok yang berani berkorban untuk mengatasi masalah bangsa. Makna ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan definisi pahlawan nasional dalam Peraturan Presiden Nomor 33 Tahun 1964.

Peraturan ini mengatur tentang Penetapan, Penghargaan, dan Pembinaan Pahlawan atau Undang-Undang (UU) Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan.

Secara definisi, pahlawan adalah warga negara yang melakukan tindak kepahlawanan, berjasa dan berkorban untuk bangsa dan negara, serta tidak melakukan tindakan yang menodai nilai perjuangannya.

Sementara UU No 20/2009 menyatakan, pahlawan nasional adalah warga negara Indonesia yang berjuang melawan penjajahan, yang gugur atau meninggal demi membela bangsa dan negara. Dalam UU No 20/2009 juga disebutkan, orang yang menghasilkan prestasi dan karya yang luar biasa bagi bangsa dan negara juga mencirikan nilai kepahlawanan.

 

Sosok toleran

Apa yang sudah dilakukan sosok-sosok inspiratif yang mencerminkan sikap kepahlawanan tersebut menginspirasi kaum milenial untuk meniru apa yang sudah mereka lakukan. Hal ini juga tecermin dalam jajak pendapat Kompas yang  menanyakan ambisi dan niat kepahlawanan dari para responden milenial.

Sebagian besar responden mengatakan lebih senang jika dikenal memiliki sifat tidak membeda-bedakan orang dan jujur. Selain itu, juga muncul keinginan memiliki sifat rela berkorban atau suka menolong. Niat kepahlawanan ini menggambarkan keinginan untuk selalu memelihara kemajemukan bangsa.

Membaca keinginan generasi milenial yang memiliki niat tidak membeda-bedakan orang ini, muncul harapan akan tetap lestarinya kemajemukan bangsa Indonesia. Tampak juga keinginan mereka untuk selalu memelihara kemajemukan bangsa.

Selama ini, kebinekaan Indonesia tergambar lewat keberadaan 6 agama serta 1.340 suku bangsa dengan keragaman budaya dan bahasa. Tidak kurang-kurang upaya laten ataupun terang-terangan untuk memecah belah bangsa Indonesia yang terjadi sejak negara ini baru mulai dibentuk. Namun, usaha itu mampu dilawan oleh para pahlawan dan pendahulu kita melalui perjuangan bersenjata dan gerakan politik.

kompas/agus susanto
Anak-anak dengan kostum baju adat dari sejumlah daerah memperingati HUT Ke-62 RI di TK Nurmala Hikmah, Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Kamis (16/8/2007). Kebinekaan merupakan salah satu modal kekuatan bangsa.

Kini, di era teknologi digital, musuh kepahlawanan boleh dikatakan semakin pelik. Mereka menyelusup melalui berbagai propaganda berdasarkan identitas sosial, seperti suku, agama, dan ras yang menyebar, terutama melalui media sosial. Cita rasa kebangsaan pun terasa semakin tawar oleh berbagai narasi sektarian.

Jika pahlawan masa lalu mengusir penjajah yang memecah belah bangsa ini, pahlawan masa kini mungkin adalah anak-anak muda yang akan mengalahkan pemecah belah masyarakat, melalui berbagai gerakan sosial yang memanfaatkan teknologi.

Figur penegak hukum

Sifat kepahlawanan juga dibutuhkan untuk menyelesaikan permasalahan mendesak bangsa. Prioritasnya, menurut kaum milenial, adalah untuk penegakan hukum, selain untuk memelihara pluralisme atau toleransi warga. Bagi mereka, hukum yang tegas akan membawa suasana kebangsaan yang aman dan tenteram bagi seluruh warga negaranya.

Secara khusus, aspek menonjol dalam penegakan hukum adalah pemberantasan korupsi. Masih pekatnya perilaku korup di kalangan elite negeri ini membuat nilai kepahlawanan dipandang menjadi tawar dan tak bermakna.

Data penindakan korupsi KPK menyebutkan, dari awal 2004 hingga 30 September 2019 terdapat 1.125 penyelenggara negara yang terjerat korupsi. Latar belakang pejabat yang terjerat korupsi sangat beragam, dari kepala daerah, anggota DPR/DPRD, jaksa, hakim, polisi, hingga pengacara.

Keberadaan pahlawan masa kini sama mulianya dengan pahlawan pada masa lalu. Perbedaannya, saat ini yang dilawan bukan bangsa asing, melainkan perilaku korup yang merusak kehidupan bangsa.

Dengan tantangan yang tak kalah ringan itu, sejatinya keberadaan pahlawan masa kini sama mulianya dengan pahlawan pada masa lalu.

Perbedaannya, saat ini yang dilawan bukan bangsa asing, melainkan perilaku korup yang merusak kehidupan bangsa dan ideologi negara. Sikap rela berkorban, jujur, dan toleran diperlukan guna menghadapi tantangan bangsa saat ini.

Kerabat Kerja

Penulis: Dewi Pancawati, Andreas Yoga Prasetyo | Fotografer: Agus Susanto, Bahana Patria Gupta, Susie Berindra, Wawan H Prabowo, Totok Wijayanto | Infografik: Ningsiawati | Pengolah foto: Toto Sihono | Penyelaras bahasa: Priskilia Bintang Sitompul | Produser: Sri Rejeki | Desainer & Pengembang: Ria Chandra, Rino Dwi Cahyo, Frans Yakobus Suryapradipta, Yosef Yudha Wijaya

Menikmati Tutur Visual?

Baca Juga Tutur Visual Lainnya Yang Mungkin Anda Sukai