Belajar dari SEATO Demi Jalinan Indo-Pasifik yang Lebih Baik

Pada tahun 1955-1977 semasa Perang Dingin pernah berdiri Pakta Pertahanan di Asia Tenggara bernama SEATO (South East Asia Treaty Organization). Meski menyandang nama Asia Tenggara, hanya dua negara Asia Tenggara yang terlibat, yakni Thailand dan Filipina. Negara anggota lainnya adalah Inggris, Amerika Serikat, Perancis, Selandia Baru, Australia, dan Pakistan.

Inggris, Amerika Serikat, dan Perancis adalah negara bekas penjajah di Asia Tenggara dengan jajahan di Malaya-Singapura, Filipina, dan Indo China (meliputi Laos, Kamboja, Cochin China, dan Vietnam).

Pakta Pertahanan SEATO, digagas untuk membendung ekspansi komunisme di Asia Tenggara. Sejarawan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, FX Widiyanto, mengatakan, Indonesia tidak bergabung karena menganut politik bebas dan aktif sehingga tidak memihak salah satu blok kekuatan dunia masa itu, yakni Blok Barat yang dimotori Amerika Serikat dan Blok Timur yang dipimpin Uni Soviet.

Buku Eropa Sebagai Kekuatan Dunia: Lintasan Sejarah dan Tantangan Masa Depan karya CPF Luhulima (1992) menyebutkan adanya rencana Inggris pada 1966 untuk menjaga keamanan wilayah sebelah timur Terusan Suez (East of Suez), yakni Negara-negara Persemakmuran Inggris di Afrika, selain juga di Malaysia dan Singapura dengan mempertahankan pangkalan militer di sana.

 

Arsip Nasional Washington DC
Para pemimpin negara-negara anggota SEATO saat hadir dalam konferensi di Manila pada bulan Oktober 1966.

Dalam pertemuan antara Presiden AS Lyndon B Johnson dan Perdana Menteri Inggris Harold Wilson di Washington DC pada Desember 1965, masing-masing sepakat tentang pentingnya kerja sama militer dalam menyikapi perkembangan di Asia Timur dan Asia Tenggara. Terlebih dengan eskalasi Perang Vietnam antara rezim Vietnam Selatan dukungan Amerika Serikat dan gerilyawan komunis Viet Cong.

Pertemuan tersebut menyepakati bahwa Inggris ”bertanggung jawab” atas keamanan sekeliling Samudra Indonesia (Samudra Hindia), dan Amerika Serikat mengurus keamanan Samudra Pasifik.

Wilayah Samudra Indonesia sebelum Perang Dunia II disebut sebagai ”jantung imperium” Inggris yang membentang dari Afrika Timur-India-Burma (sekarang Myanmar) hingga Semenanjung Malaya dan Singapura.