Penataan Monas yang Tak Kunjung Tuntas

Monas merupakan "landmark" atau penanda utama Daerah khusus Ibukota Jakarta, yang juga menjadi simbol kebanggaan negara. Secara silih berganti, gubernur-gubernur DKI Jakarta menata Kawasan Monas sehingga terasa tidak pernah tuntas.

Tugu Monumen Nasional merupakan landmark atau penanda utama Daerah khusus Ibukota Jakarta, yang juga menjadi kebanggaan nasional. Monas didirikan oleh Presiden Soekarno untuk mengenang perjuangan rakyat Indonesia dalam merebut kemerdekaan.

Tugu setinggi 132 meter itu  mulai dibangun pada 17 Agustus 1961 dan baru dibuka untuk umum pada 12 Juli 1975. Pada bagian atas tugu Monas terdapat bentuk lidah api yang menyala-nyala, terbuat dari emas, sebagai lambang semangat yang tidak pernah padam.

Sesudah dibuka untuk umum, Monas digunakan untuk berbagai keperluan yang mendatangkan massa dalam jumlah besar, mulai dari upacara, pameran pembangunan, olah raga, sampai parade seni.  Pada perkembangannya, Tugu Monas dan kawasan di sekelilingnya terus ditata oleh gubernur-gubernur DKI Jakarta sehingga terasa tidak pernah tuntas.

Kompas/Iwan Setiyawan
Pesawat tempur F-16 dan Sukhoi terbang melintas di atas kawasan Monumen Nasional saat menyemarakkan upacara peringatan Hari Kemerdekaan di istana Negara, Jakarta, Sabtu (17/8/2013).

Dalam dua bulan terakhir, kawasan Monas menjadi bahan pembicaraan karena terdapat dua proyek yang dikerjakan di lingkar 1 ibu kota Jakarta tersebut. Proyek pertama adalah revitalisasi plaza selatan dan proyek kedua adalah pengaspalan Monas untuk balap mobil Formula E.

Proyek revitalisasi plaza selatan Monas yang dilakukan dengan menebangi 190 pohon dikecam banyak pihak karena dinilai tidak bersahabat dengan lingkungan. Proyek itu akhirnya terhenti karena beberapa izin belum dipenuhi. Lahan yang pepohonannya sudah ditebangi juga dibiarkan terbuka dan belum jelas langkah penyelesaiannya.

Di sisi lain, terdapat pula proyek pengaspalan kawasan Monas untuk balap Formula E. Lantai kawasan Monas terbuat dari batu alam atau cobble stone dan dinilai menjadi bagian integral dari kawasan cagar budaya. Pelaksana pengaspalan menjanjikan aspal dapat diangkat lagi tanpa merusak cobble stone, dengan menggunakan semacam geotekstil atau lembaran pelapis antara aspal dan cobble stone.

KOMPAS/RIZA FATHONI
Permukaan “cobble stone”di simpang Monas, Jakarta Selatan dilapisi dengan aspal, Sabtu (22/2/2020). Pengaspalan permukaan silang Monas ini merupakan  uji coba metode pengaspalan untuk lintasan balap Formula E yang menurut rencana aman digelar pada bulan Junior mendatang. Pengaspalan tersebut akan dibongkar pada Rabu (26/2) depan.

Dengan lembaran pelapis itu, aspal seharusnya dapat diangkat lagi seusai balap mobil selesai digelar. Namun, pengaspalan itu masih mendapat tentangan karena banyak pihak yang belum yakin sistem itu benar-benar tidak akan merusak lantai dari batu alam.