Perjalanan Jakarta-Bogor pada Pertengahan Abad ke-19

Sejak dulu Nusantara telah menarik kedatangan orang asing, baik untuk berdagang, mencari rempah-rempah, hingga akhirnya berubah menjadi kolonialisme. Pada abad ke-19, antarkota semakin saling terhubung, terutama di Pulau Jawa dengan selesainya Jalan Raya Pos. Mobilitas meningkat dengan dukungan moda transportasi kereta kuda dan kereta api.

Suasana perjalanan darat di Pulau Jawa saat itu diungkapkan beberapa pejalan (traveler) asing, antara lain Charles Walter Kinloch dan Eliza Ruhamah Scidmore, dalam bukunya masing-masing. Salah satunya, pengalaman perjalanan dari Batavia (Jakarta) ke Buitenzorg (Bogor), termasuk pernak-pernik kehidupan yang mereka saksikan.

Pada 170 tahun silam, untuk menempuh jarak Jakarta-Bogor sejauh 50 kilometer, diperlukan waktu sedikitnya 4 jam dengan empat kali berganti kuda penarik kereta kuda ekspres. Ini yang dialami Charles Walter Kinloch, pegawai Kompeni Inggris (East India Company-EIC) di India. Ia bersama keluarganya pergi ke Pulau Jawa untuk berobat dan tetirah.

Selain mengunjungi Batavia, ia juga pergi ke kota-kota lain di Jawa. Perjalanannya di Pulau Jawa ia catat yang kemudian dibukukan menjadi De Zieke Reiziger atau Rambles in Java and The Straits in 1852. Setelah beberapa hari di Batavia, Kinloch melanjutkan perjalanan ke Bogor atau Buitenzorg. Sebelumnya, ia harus mengurus izin perjalanan atau semacam paspor kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda dengan biaya 2,5 gulden yang berlaku untuk jangka waktu 12 bulan.

Ongkos perjalanan disebutnya sangat mahal, yakni dua rupiah hingga dua gulden per mil. Kecepatan kereta kuda rata-rata 10 mil atau 16 kilometer per jam. Perjalanan ditempuh melewati Jalan Raya Pos yang dibangun Marsekal Herman Willem Daendels tahun 1808 yang membentang dari Anyer di Banten hingga ke Panarukan di Jawa Timur sejauh 1.000 kilometer. Kinloch mencatat, pembangunan Jalan Raya Pos menelan nyawa 20.000 pekerja!

Sebelum ada Jalan Raya Pos, perjalanan dari Batavia ke arah timur pulau Jawa dilakukan lewat laut dan memakan waktu berhari-hari, bergantung kondisi cuaca. Jika menempuh jalan darat, bisa memakan waktu satu bulan. Setelah ada Jalan Raya Pos, perjalanan dari Batavia ke ujung timur Jawa bisa dilakukan dalam tiga atau empat hari saja.

Sebelum ada Jalan Raya Pos, perjalanan dari Batavia ke arah timur pulau Jawa dilakukan lewat laut dan memakan waktu berhari-hari, bergantung kondisi cuaca.

Jalan tersebut disediakan khusus bagi kereta-kereta kuda milik pemerintah kolonial. Adapun gerobak milik rakyat diarahkan menyusuri pinggiran jalan karena dikhawatirkan berat muatan gerobak akan merusak badan Jalan Raya Pos.

Setiap 10 paal atau 10 mil (kurang lebih 16 kilometer) terdapat pos untuk mengganti kuda yang dilengkapi bangunan dan tempat beristirahat. Tempat ini dikenal sebagai pesanggrahan milik Pemerintah Kolonial atau Pesanggrahan Gubernemen. Pesanggrahan ini dapat digunakan untuk bermalam jika kemalaman di Jalan Raya Pos. Tersedia kuda pengganti, kandang kuda, dan kereta pos, serta perlengkapan lain.

Di kota-kota besar, Kantor Pos dibangun di pusat stasiun kereta kuda Jalan Raya Pos sekaligus menjadi titik nol kilometer, seperti di Batavia, Semarang, dan Surabaya. Di Batavia, titik nol di Kantor Pos Pusat Batavia yang bersebelahan dengan Schouwburg kini Gedung Kesenian Jakarta.

Dalam buku Ekspedisi Anjer-Panaroekan Laporan Jurnalistik Kompas terbitan Penerbit Buku Kompas (PBK), disebutkan di Jalur Batavia-Buitenzorg terdapat lima stasiun pos yang dilewati, yakni Gambir, Jatinegara, Tanjung Timur, Cimanggis, Cibinong, dan Bogor yang lokasinya di dekat Istana Bogor (kini dekat Kantor Pos Bogor).

Sementara dari Bogor ke Karangsambung di Preanger atau dataran tinggi Priangan di dekat Kota Bandung terdapat 24 stasiun pos. Jalurnya membentang dari Bogor ke Megamendung, Puncak—kini Puncak Pass—dengan ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut.

Perjalanan Bogor-Puncak Pass memakan waktu 4  jam, kereta kuda yang dihela empat kuda harus dibantu 4-8 ekor kerbau untuk melintasi jalur Puncak Megamendung tersebut.

Pembangunan Jalan Pos di Puncak Pass atau Puncak Megamendung tersebut sangat monumental sebagai prestasi konstruksi infrastruktur di awal abad ke-19. Tidak heran jika kelak pelukis Raden Saleh Syarif Bustaman menggambar potret Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels dengan seragam militer lengkap. Tangannya menunjuk peta Jawa dengan tulisan richting van den weg ober Megamendoeng atau arah Jalan Raya Pos di atas puncak gunung Megamendung.

kitlv
Kereta kuda di Batavia pada tahun 1930.

Membeli atau sewa kereta kuda

Charles Walter Kinloch mencatat, semasa itu, dirinya bisa memilih hendak menyewa atau membeli kereta kuda untuk perjalanan lintas Pulau Jawa. Jika membeli, setelah mengakhiri perjalanan, kereta kuda tersebut dapat dijual kembali seperti transaksi jual beli mobil zaman sekarang.

Kereta kuda jenis Britzka, Char a Banc buatan lokal, atau jenis lainnya tersedia di Batavia. Setelah menimbang akan melakukan perjalanan tiga hingga empat bulan, Kinloch memutuskan membeli sebuah kereta kuda jenis Char a Banc bekas milik Duke of Devonshire seharga 53 poundsterling. Kereta tersebut kelak dijualnya kembali seharga 43 Poundsterling.

”Seandainya kami menyewa kereta kuda, biayanya 300 rupiah jawa atau 22 poundsterling 10 shilling,” kata Kinloch.

Mereka berangkat dari Batavia tanggal 9 Juni 1852 pagi dengan kereta kuda yang dihela empat kuda poni jawa dari halaman Hotel Rotterdamsche.

thio pik/arsip kitlv
Petani membajak sawah di Bogor antara tahun 1920-1930-an.

Perjalanan berlangsung lancar dalam waktu singkat. Udara segar semakin terasa ketika kereta kuda meluncur ke selatan Batavia menuju arah Cimanggis, Jalan Raya Bogor saat ini. Ketika itu, suhu udara pagi hingga siang di Buitenzorg berkisar 75-80 Fahrenheit atau 23-26 derajat celcius. Bandingkan dengan suhu siang hari di Kota Bogor yang saat ini bisa mencapai 30-32 derajat celsius.

Menjelang tiba di Buitenzorg, Kinloch mencatat adanya sebuah pilar dengan patung singa di dekatnya. Pemerhati sejarah Kota Bogor, Dayan D Layuk Allo, dalam buku Ekspedisi Anjer-Panaroekan menyebutkan, tugu dengan lambang Kerajaan Belanda itu kelak dihancurkan dan diganti dengan air mancur.

”Titik itu sebenarnya triangulasi peninggalan Hindia Belanda yang bermanfaat bagi ilmu pengetahuan geodesi. Titik itu menjadi patokan pembuatan peta lahan di seluruh Pulau Jawa,” kata Dayan.

Antara titik triangulasi dan Istana Bogor menjadi poros utara-selatan yang menjadi acuan pembuatan peta lahan Pulau Jawa semasa Hindia-Belanda. Sayang, titik penting bagi keilmuan tersebut dihancurkan dengan dalih antikolonial. Lokasi kampung di dekat bekas monumen tersebut dinamakan Lebak Pilar.

Kembali ke catatan Charles Kinloch, setiba di Buitenzorg, mereka menginap di Hotel Belle Vue—kini menjadi Ramayana Department Store dan Bogor Trade Mall (BTM). Hotel tersebut memiliki halaman belakang langsung menghadap keindahan Gunung Salak. ”Kami mendapat pemandangan Gunung Salok (maksudnya Salak) dan Gunung Simoet.”

Selama tetirah di Buitenzorg, Kinloch dan rombongan sempat dijamu di Istana Bogor, mengunjungi Kebun Raya, dan sempat berjalan kaki dari hotel karena tersasar hingga tujuh mil ke Grimagah (maksudnya Dramaga dekat kampus Institut Pertanian Bogor saat ini).

Charles Walter Kinloch berada di Buitenzorg hingga tanggal 18 Juni 1852 dan melanjutkan perjalanan ke Bandung melalui Jalan Raya Pos. Catatan perjalanannya kemudian menjadi panduan bagi para petualang Barat yang bepergian ke Jawa pada akhir 1800-an hingga awal 1900-an.

thio pik/arsip kitlv
Para petani, baik laki-laki maupun perempuan, tengah menyiapkan bibit padi di sawah di Bogor. Foto antara tahun 1920-1930-an.

Perjalanan ke Puncak Pas

Dari Buitenzorg, Kinloch melanjutkan perjalanan ke Puncak. Jalur wisata Puncak, Jawa Barat, yang selalu padat, bahkan di masa pandemi saat ini, memiliki sejarah panjang sebagai jalur utama transportasi darat Jakarta-Bogor-Bandung.

Perjalanan diawali Kinloch dari Buitenzorg atau Bogor tanggal 18 Juni 1852 pagi. Dengan kereta kuda yang berangkat dari Hotel Belle Vue—kini Bogor Trade Mall atau BTM—di dekat bekas Pasar Ramayana, Kinloch dan rombongan melaju cepat dan menempuh jarak 10 kilometer dalam waktu 27 menit. Jarak yang ditempuhnya kurang lebih setara dari lokasi BTM ke pertigaan Pintu Keluar Tol Ciawi saat ini.

Lokasi keberangkatan adalah Handel Straat atau Jalan Perniagaan yang kini menjadi Jalan Suryakencana dan Jalan Siliwangi hingga ke batas kota di Tajur. Handel Straat adalah bagian dari ruas Jalan Raya Pos atau Groot Post Weg yang dibangun Marsekal Herman Willem Daendels tahun 1808.

Masa pembangunannya bersamaan dengan Perang Napoleon yang juga berkecamuk di Jawa untuk menghadapi serangan Inggris yang terjadi tahun 1811. Belanda saat itu berada di bawah kekuasaan Perancis (client state). Adik Kaisar Perancis Napoleon I, yakni Louis Napoleon Bonaparte, menjadi raja Belanda yang memerintah 1806-1810. Di Belanda, namanya dikenal sebagai Lodewijk I.

arsip kitlv
Pemandangan Gunung Salak dari Bogor pada tahun 1900-an.

Udara pagi yang segar, wewangian bunga liar yang tumbuh mengapit sepanjang Jalan Raya Pos yang dilintasi, menurut Kinloch, mirip suasana pedesaan di Inggris kala itu. Di sepanjang jalan terlihat Gunung Megamendung yang membentang di kejauhan.

Sejarawan Universitas Padjadjaran, Bandung, Nina Herlina Lubis, dalam buku Ekspedisi Anjer-Panaroekan Laporan Jurnalistik Kompas, menjelaskan, lebar Jalan Raya Pos yang dibangun adalah dua roede rhijnland. Satu roede rhijnland adalah 3,76 meter sehingga Jalan Raya Pos tersebut memiliki lebar 7,52 meter.

Penanda jalan atau patok jalan dipasang tiap 400 roede rhijnland atau dengan kata lain setiap 1.504 meter dipasang satu paal. Setiap minggunya berlangsung dua perjalanan rutin kereta pos pemerintah dari barat ke timur Pulau Jawa.

Bahu jalan, menurut sejarawan Universitas Indonesia, Djoko Marihandono, diberi lapisan batu agar Jalan Raya Pos tidak terkikis air yang tercurah saat hujan.

lhwm de stuers/arsip kitlv
Jalan Raya Pos yang melintasi kompleks Balai Kesehatan di Gadok pada tahun 1875-1876.

Selama pembangunan jalur tersebut pada tahun 1808 hingga 1809, dikerahkan 400 pekerja yang menerima upah 2 ringgit perak tiap bulan ditambah 1,5 pon beras per hari dan 5 pon garam per bulan, sedangkan para mandor mendapat upah 3 ringgit perak per bulan.

Jalur tersebut dikhususkan hanya boleh dilewati kereta pos, kereta kuda yang dipakai untuk menjalankan tugas pemerintah atau kereta yang mendapat izin khusus. Sementara gerobak sapi dan kerbau yang digunakan rakyat jelata harus menggunakan jalanan desa ataupun jalan di sisi Jalan Raya Pos karena muatan berat yang dibawa gerobak dikhawatirkan akan merusak Jalan Raya Pos.

Sepanjang perjalananan Kinloch pada tahun 1852, Gunung Simoet terlihat di sebelah kiri kereta kuda. Tak jauh dari Gunung Simoet terlihat Gunung Salok—yang dimaksud Gunung Salak—yang senantiasa terbungkus kabut. Selepas dari Ciawi ketika kereta terus menanjak, mulailah terlihat dari ketinggian Kota Bogor di kejauhan yang terletak nun di lembah.

buku Rambles in Java and The Straits in 1852
Ilustrasi Gunung Salak yang dilihat Charles Walter Kinloch dari hotel yang diinapinya di Bogor.

Setiap sepuluh mil, rombongan Kinloch berhenti untuk mengganti kuda mereka dengan yang baru. Tempat untuk mengganti kuda berupa bangunan seperti gudang terbuka dengan lantai berlapis ubin. Di tempat itu juga terdapat hunian petugas pos dan tempat menginap bagi tamu.

Kisah lain melewati Jalan Raya Pos dituturkan JWB Money dalam bukunya Java, How To Manage A Colony terbitan London tahun 1861. Saat melintasi jalan itu tahun 1858, Money mencatat, kereta kuda dan kusir akan berhenti di bawah bangunan tempat ganti kuda sambil menunggu kuda-kuda diganti dengan kuda cadangan yang baru. Kandang kuda berada di sebelah bangunan di sisi jalan. Terdapat juga rumah petugas dan pesanggrahan untuk beristirahat.

”Telur goreng, susu, teh, dan air panas disediakan oleh kepala pos setempat,” Money mencatat. Saat itu, Money dan rombongan juga membawa telur rebus dan roti, yang kemudian dihamparkan di atas daun yang digunakan sebagai piring di meja makan pos pergantian kuda.

woodbury & page/arsip kitlv
Pos Cisokan di dekat Cianjur yang dilewati Jalan Raya Pos. Foto tahun 1880. Pos yang dibangun di tengah jalan ini untuk beristirahat dan berganti kuda.

Semasa itu, budidaya teh dan kopi memang sudah menjadi primadona dengan dasar politik tanam paksa atau cultuur stelsel yang diakhiri tahun 1870. Kebijakan tersebut hanya memberikan 1/5 hasil panen bagi petani, 1/5 bagi kas Hindia Belanda, dan 3/5 bagian dibagi antara elite penguasa lokal dari tingkat desa hingga kabupaten. Kopi, teh, dan gula menjadi primadona ekspor dari Jawa ke Eropa di masa itu. Sebagian besar bisnis tersebut diusahakan di sepanjang Jalan Raya Pos.

Pasangan kuda pengganti juga sudah disiapkan di tiap pos yang berada di Jalan Raya Pos. Penumpang bisa menunggu sambil tetap berada di atas kereta, lalu langsung melanjutkan perjalanan. Jika mau, bisa turun dulu sambil melihat-lihat pemandangan di sekitar pos yang menarik, seperti di jalur Buitenzorg ke Megamendung-Tjiandjoer.

Memasuki wilayah Tjiserooa—kini Cisarua—jalanan semakin menanjak sehingga dari Cisarua hingga Puncak Megamendung atau Puncak Pass, perjalanan kereta kuda harus dibantu kawanan kerbau.

Kerbau sebanyak dua, tiga, hingga empat pasang membantu menghela kereta kuda sesuai kebutuhan di lapangan. Jalinan tali yang dibuat dari kulit kerbau digunakan untuk mengikatkan kerbau penghela kereta ke kereta kuda yang ditarik dengan susah payah.

woodbury & page/arsip kitlv
Pos Gadok di Jalan Raya Pos yang menghubungkan Bogor dan Cianjur pada tahun 1880.

Bekas tempat kerbau menghela kereta kuda di Jalan Raya Pos, dalam catatan sejarawan Nina Herlina Lubis, disebut daerah ”pamucatan” yang berarti melepaskan ikatan kuda untuk diganti dengan kerbau untuk menarik kereta di daerah yang memiliki tanjakan curam.

Nina menambahkan, saat itu diperlukan waktu 4 jam dari Kota Bogor untuk mencapai Puncak Pass atau Puncak Megamendung yang berada di ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut.

Saat ini, jalur tersebut bisa ditempuh 30 menit saja dalam keadaan lalu lintas lancar. Namun, pada musim liburan, perjalanan molor 6-8 jam akibat kemacetan lalu lintas.

arsip kitlv
Ilustrasi pemandangan Jalan Raya Pos dekat Sindanglaya dari Cianjur pada tahun 1883-1884.

Kembali ke perjalanan Kinloch tahun 1852, saat menjelang tiba di Puncak Pass, hujan mengguyur kereta kuda. Namun, tidak lama hujan pun reda sehingga Kinloch dan rombongan dapat melihat indahnya pemandangan lembah di bawah mereka ke arah kota Buitenzorg dan Batavia.

Kereta kuda kemudian melanjutkan perjalanan turun sekitar 1.000 kaki atau 300 meter dari Puncak Pass ke Tjipanas, tempat Gubernur Jenderal Hindia Belanda memiliki bungalow (kini Istana Cipanas) dan sebuah taman berikut kebun tanaman yang indah (kini Kebun Raya Cibodas).

Jalan Raya Pos kemudian melewati jurang terjal di Rajamandala untuk melintasi Sungai Citarum dan dilanjutkan dengan perjalanan ke Gunung Masigit, Cimahi, hingga akhirnya memasuki Kota Bandung.

arsip kitlv
Jalan Raya Pos di Bandung antara abad ke-19 dan abad ke-20.

Perjalanan Kereta Api Jakarta-Bogor Tahun 1890-an

Hampir 30 tahun kemudian, pejalan perempuan Eliza Ruhamah Scidmore juga melakukan perjalanan Jakarta-Bogor. Hanya saja ia memilih menumpang kereta api. Kehadiran kereta api di banyak negara melejitkan perkembangan ekonomi setempat, seperti terjadi di Amerika Serikat.

Jaringan rel kereta api yang menghubungkan pantai timur dan pantai barat Amerika Serikat pada tahun 1800-an mendorong pembangunan dan modernisasi Amerika Serikat sebagai negara besar. Bagaimana dengan Indonesia?

Pada medio akhir 1800-an, jaringan kereta api mulai dibangun di Pulau Jawa, termasuk layanan kereta api dari Batavia ke Buitenzorg yang kini menjadi tulang punggung layanan kereta komuter Jakarta-Bogor.

arsip kitlv
Stasiun Depok pada tahun 1925.

Suasana perjalanan naik kereta api dari Batavia ke Bogor, dituangkan oleh Eliza – perempuan pertama anggota komunitas National Geographic—dalam bukunya, Java The Garden of The East. Scidmore naik kereta dari Stasiun Weltevreden (kini Stasiun Gambir) ke Buitenzorg yang ditempuh dalam waktu 90 menit dengan transit di Stasiun Depok (kini Stasiun Depok Lama).

Saat itu, stasiun Weltevreden dilapisi lantai batu, aula luas, ruang tunggu, dan kafetaria yang luas. Perwira militer tampak berlalu-lalang dengan seragam lengkap, menyandang pedang, dan mengenakan sepatu lars untuk berkuda. Suasananya mirip dengan stasiun kereta di Benua Eropa.

Saat menunggu, Scidmore kemudian melihat rangkaian kereta tiba dari Stasiun Tanjung Priok. Kereta tersebut membawa gerbong kelas I, kelas II, dan kelas III, meniru model rangkaian gerbong kereta di Amerika Serikat.

Gerbong kelas I memiliki pegas terbaik dan dilengkapi jendela lebar serta dilapisi jaring dengan dekorasi kayu model Venesia di bagian luarnya serta atap ganda pada bagian penutup. Kursi kelas satu memiliki lengan dan dilapisi kulit mewah.

Bagian dinding interior gerbong dilapisi keramik warna selang-seling putih biru. Meja lipat dan rak di atas kepala juga tersedia di gerbong kelas I. Ruang serbaguna juga tersedia di gerbong tersebut. Scidmore menilai, kondisi gerbong kelas I di Pulau Jawa jauh lebih bagus dari gerbong kelas I kereta api yang ada di British India (kini India, Pakistan, dan Bangladesh).

Gerbong kelas II juga dipasang di atas rangkaian pegas dengan jumlah penumpang lebih padat dari kelas I dengan kelengkapan ruangan yang lebih sederhana.

fb smits/arsip kitlv
Stasiun Weltevreden (sekarang Stasiun Gambir) pada tahun 1900-an.

Adapun gerbong kelas III yang umumnya mengangkut penumpang warga Bumiputera memiliki jendela memanjang dan bangku tanpa punggung. Biaya perjalanan di Jawa saat itu 2,2 Sen US$ per kilometer untuk penumpang kelas I, dan 1,6 sen US$ untuk kelas II, serta 0,6 Sen US$ untuk Kelas III.

Perjalanan terjauh kereta api adalah Batavia-Surabaya dengan harga tiket 50 gulden atau 20 US$ untuk perjalanan sejauh 940 kilometer. Perjalanan memakan waktu dua hari dengan waktu tempuh masing-masing 12 jam dan 14 jam yang dilakukan pada pagi hingga petang hari.

Di tiap stasiun terdapat pedagang buah-buahan, selain tersedia kafetaria yang menyediakan minuman teh, kopi, coklat, anggur, schnapps (sejenis minuman keras), hingga roti dan aneka biskuit. Lebih lengkap lagi di stasiun besar karena menyediakan ruangan bersantap yang menyediakan menu makan siang lengkap mewah rijstaffel. Menu tersebut juga bisa diantarkan ke ruangan penumpang agar bisa disantap dalam perjalanan.

Perjalanan Eliza Scidmore dari Batavia ke Buitenzorg membawanya menikmati bergantinya pemandangan, yakni dari perkotaan di Batavia menjadi suasana alam tropis di Buitenzorg dengan tanah berwarna merah, tetumbuhan hijau tumbuh subur, sawah, dan perkebunan kelapa.

Dia juga menyaksikan anak-anak kecil di sawah yang tengah mengangon kerbau. Scidmore mencatat kesetiaan kerbau yang terkadang bertarung dengan harimau dan ular untuk melindungi bocah kecil yang menggembalakannya.

Sepanjang jalan terlihat lelaki dan perempuan yang bekerja giat di sawah yang baru saja memasuki musim tanam. Terlihat perkampungan dan kerimbunan pohon pisang dan pohon kelapa yang menjadi sumber pangan dan penghasilan bagi rakyat.

arsip kitlv
Kereta di Stasiun Bogor pada tahun 1927.

Dalam bukunya, Eliza Scidmore tidak ketinggalan mencatat perhentian di Kota Depok yang disebutnya sebagai Kota Kristiani yang dijuluki Belanda Depok. Kota permukiman ini dihuni para mantan budak yang dimerdekakan oleh Cornelis Chastelein, seorang tuan tanah yang mendorong emansipasi jauh sebelum perbudakan dihapus di Hindia Belanda tahun 1859.

Scidmore menulis keengganan penguasa Belanda mengizinkan misi gereja Protestan dan Katolik untuk beroperasi di tanah jajahan. Demikian pula pendidikan Barat bagi Bumiputera yang baru mulai dijalankan tahun 1864. Ketika dia berkunjung ke Jawa tahun 1890-an, tercatat ada 201 sekolah dasar hingga tahun 1887 dengan murid sebanyak 39.707 orang.

Selepas Kota Depok, di kejauhan terlihat kerucut puncak gunung dengan latar langit berwarna jingga terang. Itulah Gunung Salak, penanda kereta sudah dekat dengan Kota Buitenzorg. Sejurus kemudian, kereta api tiba.

buku java the garden of the east
Pemandangan Gunung Salak dilihat dari Kebun Raya Bogor.

Eliza Ruhamah Scidmore pun melanjutkan perjalanan ke hotel. Dia menginap di Hotel Belle Vue yang kini menjadi Bogor Trade Mall (BTM). Bagian belakang hotel tersebut menghadap langsung ke arah Gunung Salak yang memberikan pemandangan yang indah bagi pengunjung hotel.

START: PAYWALL
END: PAYWALL

Kerabat Kerja

Penulis : Iwan Santosa | Olah foto: Arjendro Darpito | Ilustrasi : Cahyo Heryunanto | Product developer: Dani Surya Wijaya | Penyelaras bahasa: Galih Rudanto | Produser: Sri Rejeki | Desainer & Pengembang: Ria Chandra, Rino Dwi Cahyo, Frans Yakobus Suryapradipta, Yosef Yudha Wijaya, Deny Ramanda

Suka dengan tulisan yang Anda baca?

Nikmati tulisan lainnya dalam rubrik Tutur Visual di bawah ini.