Perjalanan Jamu Nusantara, Racikan Warisan Leluhur

Relief Karmawibhangga menjadi petunjuk bahwa penggunaan jamu di Indonesia sudah ada sekitar abad delapan. Penggunaan jamu juga termuat dalam manuskrip kuno pada daun lontar dalam berbagai bahasa daerah, yakni Bali, Sanskerta, dan Jawa Kuno

Jauh sebelum pandemi Covid-19 datang, jamu sudah akrab digunakan anggota kerajaan dan zaman kolonial. Berbagai racikan resep diyakini ampuh dalam menjaga kesehatan dan menyembuhkan penyakit. Resep warisan leluhur ini terlahir dari budaya dan pengetahuan masyarakat yang masih bertahan hingga sekarang. Lebih dari sekadar tamba atauobat, jamu juga dapat menjadi bagian dari gaya hidup kembali ke alam.

Belakangan, jamu banyak dicari warga untuk memperkuat daya tahan tubuh saat pandemi Covid-19. Mulai dari penjual jamu keliling hingga toko daring, semuanya laris-manis kebanjiran permintaan. Kepopuleran jamu semakin diperkuat oleh testimoni Presiden Joko Widodo dalam video berdurasi satu menit dalam akun resminya. Resep jamunya sederhana, yakni rimpang jahe, kunyit, dan temulawak. Semuanya direbus mendidih hingga didapatkan ekstrak.

Kompas/Totok Wijayanto
Ngatinem menyiapkan jamu bagi pelanggan di Restoran Satoo Hotel Shangri-la, Jakarta, Rabu (19/4/2012). Shangri-la merupakan hotel mewah berbintang lima pertama yang memasukkan jamu sebagai salah satu menunya.

Budaya minum jamu dilakukan Presiden Jokowi sejak 17 tahun yang lalu. Kebugaran yang didapatnya sekarang merupakan buah manis perjalanan panjang dalam disiplin mengonsumsi jamu. ”Saya merasakan manfaat baik (jamu) untuk kebugaran tubuh. Ingin mencoba?” ujarnya sambil tersenyum. Resep tersebut rupanya menginspirasi sejumlah pelaku usaha mikro kecil menengah di berbagai daerah. Tak sedikit yang memasarkan produk tersebut melalui situs jual-beli daring. Hal ini terlihat dari hasil penelusuran Kompas pada situs jual-beli daring.

Saat mengetik kata ’jamu Jokowi’ pada laman pencarian sejumlah situs, maka akan muncul lebih dari tujuh penjual yang menawarkan ’jamu Jokowi’ dengan berbagai kemasan. Para penjual mendeskripsikan produk yang djual secara rinci pada kolom deskripsi produk dan harga yang ditawarkan bervariasi. Dalam genggaman tangan, jamu bisa praktis didapat.

Sudahkah minum jamu hari ini? Duh, kok, mbok jamu belum lewat, ya? Minum jamu apa, ya, hari ini?  Sejumlah pertanyaan itu sudah tak asing terdengar belakangan ini. Ya, jamu kian menjadi bagian dari gaya hidup yang dicari. Sesungguhnya keberadaan jamu tak serta-merta ada begitu saja, tetapi tak terlepas dari sejarah panjang. Keberadaan jamu di Nusantara terekam dalam sejumlah peninggalan berupa relief candi di Jawa, catatan pribadi, manuskrip, dan buku.

Salah satunya adalah relief Karmawibhangga di Candi Borobudur. Prof Murdijati Gardjito dkk dalam buku Jamu Pusaka Penjaga Kesehatan Bangsa, Asli Indonesia (2018) menjelaskan, relief Karmawibhangga menjadi petunjuk bahwa penggunaan jamu di Indonesia sudah ada sekitar abad delapan. Pada relief ini digambarkan sejumlah orang yang memberikan pertolongan kepada seorang laki-laki yang sedang sakit dengan cara memijat kepalanya, menggosok perut dan dadanya, serta ada yang membawa mangkok obat. Kisah meracik jamu dengan sejumlah tanaman yang masih dimanfaatkan sebagai bahan ramuan pun tergambar di dalamnya, antara lain tanaman semanggen, pandan, maja, dan jamblang. Pembuatan ramuan jamu lebih banyak memanfaatkan tanaman yang tumbuh di sekitar.

Penggunaan jamu sejak dulu juga ditemukan dalam manuskrip kuno pada daun lontar dalam berbagai bahasa daerah, yakni Bali, Sanskerta, dan Jawa Kuno. Dalam koleksi Perpusnas RI, Seri Obat-Obatan Tradisional dalam Naskah Kuno(1993), disebutkan sejumlah naskah yang mencakup resep racikan jamu, misalnya naskah lontar Usada yang ditulis menggunakan aksara Bali, berbahasa Jawa Kuno dan Bali, serta ditulis dalam bentuk prosa. Totalnya ada 67 halaman yang berisi empat baris tulisan per halaman.

Nationaal Museum van Wereldculturen
Penjual Jamu di Yogyakarta, antara 1910-1930

Penemuan sejumlah prasasti sekitar abad ke-13 Masehi turut mendukung perjalanan jamu Nusantara. Misalnya Prasasti Madhawapura yang memuat profesi di bidang kesehatan, yakni acaraki atau peracik ramuan tradisional. Selanjutnya penggunaan jamu juga terdapat dalam manuskrip kuno Serat Centhini yang ditulis sekitar tahun 1814-1823 di Surakarta. Manuskrip ini memuat penggunaan jamu, jenis, dan resep.

Kumpulan ramuan obat asli Indonesia juga tertuang dalam Serat Kawruh Bab Jampi-Jampi Jawi yang ditulis atas perintah Sri Susuhunan Pakubuwono V sekitar tahun 1831. Total ada 1.166 tulisan, sebanyak 922 resep di antaranya adalah resep ramuan bahan alam dan 244 resep berupa rapal/mantra/jimat yang diyakini bisa menyembuhkan.

Sejak zaman kolonial, dokumentasi jenis tanaman hingga khasiatnya di Hindia Belanda (Nederlands-Indies) telah ditulis oleh sejumlah peneliti, antara lain Historia Naturalist et Medica Indiae (1627) karya Yacobus Bontius, Herbarium Amboinense (Gregorius Rumphius, 1714-1755), Indische Planten en Haar Geneeskracht dan Wenken en Readgevingen Bettreffende het Gebruik van Indische Planten (Kloppenburg-Versteegh, 1907), serta De Nuttige Planten van Nederlands-Indie (Dr K Heyne, 1927) dan Indische Groenten (Dr JJ Ochse dan Dr RC Backhuizen, 1931).

Memasuki tahun 1900-an, sejumlah industri jamu mulai bermunculan. Salah satunya adalah industri jamu Nyonya Meneer yang berdiri pada tahun 1919. Dikutip dari buku Perjalanan Panjang Usaha Nyonya Meneer karya Asih Sumardono dkk (2002), pengetahuan Meneer atau Lauw Ping Nio tentang jamu diwarisi dari ibunya. Dulu, ibunya sangat sering membuat racikan rempah untuk bahan minuman sehat, obat masuk angin, dan ramuan pegal linu.

KITLV
Pembuat Jamu, sekitar tahun 1900

Suatu ketika, suami Meneer, Ong Bian Wan, mengalami sakit pada bagian perut yang membuatnya harus beristirahat total. Meneer pun coba membuat ramuan jamu Jawa yang pernah diajarkan ibunya. Beragam tumbuhan obat yang berkhasiat untuk menyembuhkan sakit perut digunakan dan secara rutin ramuan diminum. Perlahan tetapi pasti, suaminya kembali pulih.

Berawal dari keberhasilan itu, keahlian Meneer meracik jamu kian dikenal oleh tetangga, kerabat, dan sahabat. Pengalaman tersebut membuat dirinya kian mantap untuk membantu sesama yang sakit tanpa imbalan. Peluang menekuni bisnis jamu dilakukan Meneer setelah kelahiran anak keempatnya. Semula, Meneer mengantar sendiri pesanan jamu kepada teman dan pemesan.

Seiring berjalannya waktu, permintaan yang semakin tinggi tentu membutuhkan tenaga pembantu dan bahan baku yang banyak. Ia pun tak mampu jika harus mengantarkan pesanan satu-satu kepada pelanggannya. Cara yang ditempuh ialah menempelkan potret dirinya pada bagian bungkus jamu. Pada zaman itu, potret diri sangatlah langka. Dengan ide tersebut, harapannya para pelanggan akan merasa dekat dengan Meneer dan menganggap jamu memiliki khasiat yang sama mujarabnya seperti diantar pemilik.

Pabrik kecil Meneer dirintis pertama kali di rumahnya sendiri, yakni di Jalan Raden Patah Nomor 195, Semarang, Jawa Tengah. Jumlah pegawainya pun bertambah seiring dengan tingginya permintaan. Pada  1940-an, jumlah pegawainya menjadi 16 orang. Mitra agennya pun tersebar hingga Cirebon, Yogyakarta, dan Surakarta. Mesin penggiling dari Jerman pun didatangkan sekitar tahun 1952.

Resep yang dibuat Meneer ditulis dalam lembaran kertas dan dikumpulkan rapi pada laci lemari. Secara rutin, dia menulis sejumlah resep untuk diuji coba, diminum, dan dirasakan khasiatnya. Bahkan, ramuan tersebut kerap kali diujicobakan kepada keluarga atau kerabat yang sedang sakit. Ia tidak main-main dalam menyajikan ramuan berkualitas. Harus menggunakan bahan berkualitas, prosesnya harus bersih, hingga pengemasan yang baik.

Sekitar  1984, pabrik milik Meneer itu dipindah ke Jalan Raya Kaligawe. Bersamaan dengan itu, sebuah museum untuk menyimpan warisan sejarah jamu Nusantara milik Meneer juga diresmikan. Museum jamu pertama di Indonesia ini digagas oleh Tien Soeharto atas kekagumannya pada ketekunan Nyonya Meneer dalam industri jamu. Di dalamnya terdapat foto dan penjelasan berdirinya perusahaan, koleksi alat pembuat jamu milik Nyonya Meneer, penjelasan ragam bahan baku, hingga proses pembuatan jamu.

Nationaal Museum van Wereldculturen
Penjual jamu di Yogyakarta antara tahun 1900-1920

Seiring berjalannya waktu, kejayaan pabrik tak bertahan lama. Kini, tak ada lagi aktivitas produksi jamu di sana. Dikutip dari arsip Kompas, Pengadilan Negeri Semarang menyatakan PT Perindustrian Njonja Meneer pailit pada 3 Agustus 2017, seluruh aktivitas terhenti total. Charles Saerang (64), generasi ketiga pemilik pabrik jamu Nyonya Meneer, saat ditemui di Jakarta, Kamis (21/9/2017), mengatakan, ambruknya Nyonya Meneer akibat persaingan industri di era modernisasi. Tidak ada perhatian khusus dari pemerintah untuk industri jamu, mulai dari hulu hingga hilir. Charles bakal menggandeng investor untuk membangkitkan lagi Nyonya Meneer. Tidak hanya menyelamatkan keuangan perusahaan, investasi juga bakal memodernisasi industri (Kompas, 28 September 2017).

Jamu kian berkembang dan dikenal masyarakat karena produknya yang tersebar luas. Jawa Tengah menjadi salah satu pusat perkembangan industri jamu dan herbal di Indonesia, antara lain Sido Muncul dengan racikan jamu masuk angin yang kini dikenal dengan nama Tolak Angin yang dirintis sejak 1930 dan PT Industri Jamu Borobudur dengan produk jamu berupa pil dan kapsul (1979).

Latar belakang berdirinya industri jamu biasanya tak jauh-jauh dari pengalaman pendiri yang merasakan khasiat dari racikan turun-temurun. Martha Tilaar, pendiri Martha Tilaar Group, dalam buku The Power of Jamu, Kekayaan dan Kearifan Lokal Indonesia (2014), menceritakan perjalanannya untuk mendapatkan keturunan dengan rutin meminum racikan jamu resep neneknya, Eyang Putri Pranata. Hingga memasuki tahun ke-16 pernikahannya, ia dan suami, Henry Alexis Rudolf Tilaar, belum dikaruniai keturunan. Mereka berusaha mendatangi sejumlah dokter ahli kandungan, salah satunya mengatakan dirinya tidak bisa melahirkan anak dan divonis infertil. Saat divonis demikian, dia berusia 42 tahun.

Ia tak menyerah, ahli profesor lainnya didatangi dengan harapan dapat memberikan diagnosis berbeda. Namun, nihil. Diagnosisnya tetap sama. Kekhawatirannya tergantikan dengan optimisme saat neneknya membuatkan ramuan jamu untuk penyubur rahim. Berkat ketabahan dan kedisiplinannya dalam mengonsumsi ramuan itu, akhirnya Martha bisa hamil. Kini, Martha telah memiliki dua anak bernama Wulan Maharani dan Kilala Esra.

Khasiat resep jamu sang nenek membuat Martha tergerak untuk memproduksinya dalam bentuk kapsul yang bernama Jamu Wulandari. Tujuannya baik, Martha ingin membantu pasangan suami-istri agar dikaruniai keturunan. Kapsul ini terbuat dari campuran kecambah kacang hijau dan kecambah kedelai hitam yang kaya vitamin E dan B1.

Pengetahuan asli warisan leluhur tersebut masih terjaga hingga kini dengan eksistensi penjual jamu keliling, penjual rempah-rempah di pasar, warung jamu, toko jamu, hingga keberadaan sentra produksi jamu di sejumlah daerah, antara lain kampung jamu di Nguter, Sukoharjo, Jawa Tengah, dan dusun jamu di Dusun Kiringan, Bantul, Yogyakarta.

Khasiat jamu

Hingga saat ini, jamu tak terlepas dari kehidupan masyarakat Indonesia. Berdasarkan Data Riset Kesehatan Dasar 2018, sebanyak 31,4 persen rumah tangga di Indonesia memanfaatkan pelayanan kesehatan tradisional. Dari jumlah tersebut, 48 persen  memanfaatkan jenis pelayanan kesehatan tradisional berupa ramuan jadi, ramuan buatan sendiri (31,8 persen), dan sisanya memanfaatkan keterampilan manual seperti pijat/akupuntur/bekam.

Ramuan jadi yang dimaksud ialah ramuan yang diperoleh dalam bentuk jadi, beredar di pasar dan terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), ataupun yang diberikan langsung oleh praktisi. Sementara ramuan buatan sendiri merupakan racikan yang dibuat berdasarkan pengalaman atau mengacu pada referensi yang bisa dipercaya. Bahan-bahannya dapat berbentuk segar, kering, ataupun serbuk (simplisia) yang didapat dari taman obat keluarga ataupun pasar. Ramuan ini bisa diminum atau hanya pemakaian luar saja.

Bagian tumbuhan yang bisa digunakan untuk racikan jamu beragam, mulai dari akar, daun, batang, hingga bunga. Menurut Prof Murdijati, dalam satu jenis tanaman bisa jadi tidak hanya satu bagian yang berkhasiat, mungkin dua bagian atau lebih dari itu. Dalam sebuah ramuan jamu bisa menggunakan bahan empon-empon lebih dari tiga jenis. Perpaduan  bahan tersebut akan memberikan khasiat maksimal.

Misalnya khasiat jamu beras kencur disebut dapat memulihkan kesehatan karena bahan utama kencur di dalamnya. Prof Made Astawan, Guru Besar Bidang Pangan, Gizi, dan Kesehatan IPB University, dalam buku Sehat dengan Rempah dan Bumbu Dapur (2020) menjelaskan, kandungan kalium yang terdapat dalam kencur berfungsi menjaga keseimbangan elektrolit dan cairan dalam tubuh. Sementara kandungan kalsiumnya bermanfaat untuk menjaga kesehatan tulang. Kencur juga bisa dimanfaatkan sebagai pencegah infeksi bakteri, obat batuk, disentri, masuk angin, dan sakit perut.

Kencur bisa digunakan sebagai penawar racun karena kandungan serat pangannya, yakni 1,3 gram per 100 gram rimpang kencur. Serat pangan memiliki kemampuan menyerap air dan bahan beracun yang berasal dari makanan. Bahan tersebut akan dikeluarkan saat buang air besar.

Bahan rimpang lain yang digunakan untuk ramuan jamu adalah kunyit. Bahan ini memiliki banyak manfaat yang baik untuk tubuh, antara lain mencegah anemia karena kandungan zat besinya cukup tinggi, menjaga kesehatan pencernaan dan anti-inflamasi karena kandungan minyak atsiri kunyit dapat mencegah keluarnya asam lambung yang berlebihan.

Dalam buku Jamu The Ancient Indonesian Art of Herbal Healing karya Susan-Jane Beers, ramuan jamu ternyata cukup dikenal di negara Barat. Akan tetapi, mereka meragukan jamu yang diproduksi oleh negara berkembang karena dianggap kurang memperhatikan keamanan dan kebersihan bahan yang digunakan. Padahal, sejauh ini, belum ditemukan efek negatif pada konsumen yang rutin meminum ramuan jamu selama bertahun-tahun.

Kompas/Totok Wijayanto
Ngatinem menyiapkan jamu bagi pelanggan di Restoran Satoo Hotel Shangri-la, Jakarta, Rabu (18/4/2012).

Untuk kepercayaan masyarakat terhadap jamu (scientifically proven), uji klinis dan penelitian lebih lanjut memang diperlukan, yakni saintifikasi jamu atau pembuktian ilmiah jamu melalui penelitian berbasis pelayan kesehatan yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Hingga 2018, ada 11 formula jamu yang teruji klinis bagi pengobatan, yakni ramuan jamu hipertensi, asam urat, gangguan lambung, radang sendi, wasir, kolesterol tinggi, pelindung fungsi hati, penurun berat badan, penurun kadar gula darah, batu saluran kemih, dan kebugaran jasmani.

Upaya inventaris tumbuhan obat dan jamu dilakukan oleh Balai Tanaman Obat dan Obat Tradisional Kemenkes. Riset Tumbuhan Obat dan Jamu (Ristoja) sepanjang tahun 2012 hingga 2017 didapatkan sebanyak 47.466 tumbuhan dan 32.014 ramuan tradisional ditemukan pada sejumlah titik pengamatan di beberapa provinsi.

Saintifikasi jamu diharapkan bisa meningkatkan penggunaannya oleh masyarakat sehingga warisan leluhur ini dapat terus lestari lintas generasi. Semoga budaya konsumsi jamu menjadi bagian dari gaya hidup yang mengakar kuat dan tidak kalah prestise dengan ramuan herbal dari negeri tetangga. Seperti kata pepatah, tak kenal maka tak sayang, sudahkah minum jamu hari ini?

Kerabat Kerja

Penulis: Melati Mewangi | Penyelaras Bahasa: FX Sukoto | Fotografer: Totok Wijayanto, Nationaal Museum van Wereldculturen, KITLV, Buku Jamu The Ancient Indonesian Art of Herbal Healing, 2001, Perjalanan Panjang Usaha Nyonya Meneer, 2002, Lucky Pransiska, Sharon Patricia, Alif Ichwan, Arsip Abata House, Irene Sarwindaningrum, Iwan Setiyawan, P Radiyta Mahendra Yasa, Heru Sri Kumoro, Karina Isna Irawan | Olah Foto: Arjendro Darpito | Infografik: Ningsiawati, Andri Reno | Ilustrasi Kover: Heryunanto | Produser: Sarie Febriane | Desainer & Pengembang: Ria Chandra, Rino Dwi Cahyo, Frans Yakobus Suryapradipta, Yosef Yudha Wijaya, Deny Ramanda

Suka dengan tulisan yang Anda baca?

Nikmati tulisan lainnya dalam rubrik Tutur Visual di bawah ini.