Sate Ayam dan Sedan Buick di Balik “Pelantikan” Presiden Soekarno

”Berhubung dengan keadaan waktu, saya harap supaya pemilihan presiden ini diselenggarakan dengan aklamasi dan saya majukan sebagai calon, yaitu Bung Karno sendiri,” usul Oto Iskandardinata.

Tak ada riuh pemilihan umum, apalagi debat dan penyampaian visi misi calon presiden. Indonesia yang baru berumur satu hari, memilih pemimpin untuk pertama kalinya melalui musyawarah dalam sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Usulan ini disampaikan dalam sidang pertama PPKI pada Sabtu, 18 Agustus 1945. Sidang yang digelar di gedung Tyuuoo Sangi-In atau yang kini dikenal dengan sebutan Gedung Pancasila ini dihadiri oleh sejumlah tokoh, seperti Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ki Hadjar Dewantara.

ipphos
Upacara pelantikan Ir Soekarno sebagai Presiden RIS oleh Mahkamah Agung Mr Kusumah Atmadja tanggal 17 Desember 1949, Sebelumnya, Soekarno dan Moh Hatta didaulat sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI dalam sidang PPKI, sehari setelah proklamasi RI 17 Agustus 1945.

Agenda pemilihan presiden dan wakil presiden pertama di Indonesia dimulai pada pukul 13.45 WIB setelah diskors sejak pukul 12.20 WIB. Seusai dibuka oleh Soekarno selaku pemimpin sidang, Oto Iskandardinata, tokoh dari tanah Sunda yang dikenal dengan julukan ”Si Jalak Harupat”, mengusulkan bahwa pemilihan presiden dilakukan secara aklamasi.

Usulan Oto Iskandardinata yang lugas disambut tepuk tangan anggota sidang. Usulan ini sekaligus menjadi momen bersejarah bagi Indonesia yang menggambarkan sejuknya suasana pemilihan presiden untuk pertama kalinya.

Usulan ini diterima oleh anggota sidang. Soekarno resmi terpilih sebagai Presiden Republik Indonesia untuk pertama kali. Ide ini kemudian direspons oleh Soekarno dengan satu kalimat tegas. ”Tuan-tuan, banyak terima kasih atas kepercayaan Tuan-tuan dan dengan ini saya dipilih oleh Tuan-tuan sekalian dengan suara bulat menjadi Presiden Republik Indonesia,” demikian respons Soekarno.

Riuh tepuk tangan memenuhi seantero ruangan, menanggapi pernyataan Soekarno. Semua anggota sidang kemudian berdiri dan menyanyikan lagu kebangsaan ”Indonesia Raya”. Setelahnya, peserta sidang berteriak, ”Hidup Bung Karno” sebanyak tiga kali.

Cara serupa digunakan untuk menentukan Wakil Presiden Republik Indonesia. Oto Iskandardinata mengusulkan nama Mohammad Hatta untuk mendampingi Bung Karno memimpin negeri ini.

”Pun untuk pemilihan Wakil Kepala Negara Indonesia, saya usulkan cara yang baru ini dijalankan. Dan saya usulkan Bung Hatta menjadi Wakil Kepala Negara Indonesia,” usul Oto Iskandardinata lagi.

ipphos
Upacara penaikan bendera sang merah putih di halaman gedung Pegangsaan Timur 56 (Gedung Proklamasi), Jumat (17/8/1945). Tampak antara lain Bung Karno, Bung Hatta, Letnan Kolonel Latief Hendraningrat (menaikkan bendera), Ny Fatmawati Sukarno, dan Ny SK Trimurti. Sehari setelahnya, atas usul Oto Iskandardinata, sidang PPKI memilih Soekarno-Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI.

Usulan ini kembali ditanggapi dengan riuh tepuk tangan peserta sidang. Setelahnya, lagu ”Indonesia Raya” kembali dikumandangkan. Teriakan, ”Hidup Bung Hatta” sebanyak tiga kali dikumandangkan di ruang sidang.

Tak ada perayaan apa pun. Bung Karno yang saat itu memimpin sidang kembali membawa persidangan ke agenda selanjutnya, yakni membahas aturan peralihan, seperti pembentukan pemerintahan Indonesia hingga pembentukan komite nasional yang membantu kinerja presiden. ”Sidang yang terhormat, sesudah acara ini selesai, saya minta supaya kita meneruskan pembicaraan tentang rancangan aturan peralihan, yang ada di tangan Tuan-tuan sekalian,” ucap Soekarno.

Sidang kemudian dilanjutkan hingga pukul 14.42 WIB atau pukul 16.12 waktu Jepang. Seusai rapat, tak ada momen spesial terkait pelantikan presiden. Namun, sejumlah kisah lain di balik pelantikan ini masih terekam dengan baik dalam benak Soekarno.

ipphos
Upacara satu tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia di Ibukota RI Yogyakarta tanggal 17 Agustus 1946. Acara dihadiri Presiden dan Wakil Presiden Soekarno-Hatta yang dipilih secara aklamasi dalam sidang pertama PPKI tanggal 18 Agustus 1945.

Sate ayam 50 tusuk

Kisah ini disampaikan oleh Soekarno kepada Cindy Adams, wartawan dari Amerika Serikat, hampir dua dekade setelah dialog pemilihan presiden usai dilakukan. Kepada Cindy, Soekarno mengenang betapa sederhananya proses pemilihan presiden saat itu.

”Setelah dipilih untuk menduduki jabatan paling tinggi di Republik Indonesia, presiden baru itu berjalan pulang,” kenang Soekarno, sebagaimana disampaikan dalam buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat karya Cindy Adams.

Dalam perjalanan pulang inilah, Soekarno bertemu dengan pedagang sate. Soekarno memutuskan untuk memanggil pedagang sate yang berjualan dengan bertelanjang kaki tersebut. Saat itulah Soekarno mengeluarkan perintah pertamanya sebagai seorang presiden, yakni ”sate ayam lima puluh tusuk”. Bagi Soekarno, inilah cara merayakan amanah yang baru saja diterima beberapa jam sebelumnya.

ipphos/mendur bersaudara
Presiden RI Soekarno bersama Ibu Fatmawati di sebuah desa, Juni 1947. Saat menerima amanah sebagai Presiden RI pada 18 Agustus 1945, Soekarno mengabarkan berita ini kepada istrinya, Fatmawati, di dapur rumah mereka.

”Aku jongkok di sana dekat got dan tempat sampah dan menyantap sate dengan lahap. Itulah seluruh pesta perayaan terhadap kehormatan yang kuterima,” kenang Soekarno.

Kisah Soekarno tentang pelantikan belum usai. Setibanya di rumah, Soekarno masih memiliki pekerjaan lain, yakni memberi tahu kepada sang istri, Fatmawati, perihal amanah sebagai pemimpin negara yang baru saja diterima.

Satu keputusan menarik dari Soekarno adalah memilih dapur untuk membuka pembicaraan kepada Fatmawati. Menurut Soekarno, dapur dipilih sebagai lokasi komunikasi dengan istri karena dianggap sebagai tempat yang menyenangkan untuk menyampaikan informasi tersebut.

”Mereka mengangkatku sebagai presiden. Rakyat memilihku sebagai presiden,” demikian kutipan pernyataan Soekarno kepada Fatmawati.

Soekarno menggambarkan bahwa informasi ini disampaikan dengan kata-kata yang penuh kegembiraan. Meski telah resmi menjadi Ibu Negara pertama di Indonesia, tak ada respons berlebihan yang ditunjukkan. Fatmawati hanya membalas dengan bercerita tentang firasat sang ayah, Hassan Din, sebelum meninggal dunia, bahwa Fatmawati akan tinggal di istana yang besar dan putih.

”Jadi ini tidaklah mengagetkanku. Tiga bulan yang lalu, Bapak sudah meramalkannya,” ujar Fatmawati. Usai sudah tugas Soekarno untuk menyampaikan pesan itu di dalam ruangan dapur rumah.

kartono ryadi
Ny Fatmawati Soekarno saat memberikan kesan pada buku yang diterbitkan untuk mengenang perjuangan Bung Hatta. Buku diterbitkan untuk memperingati ulang tahun Bung Hatta ke-70.

Mobil  Buick

Satu kisah lainnya yang dihadapi oleh Soekarno adalah perihal mobil kepresidenan yang belum dimiliki oleh Indonesia. Adalah Sudiro, salah seorang pemuda dan loyalis Soekarno yang menyadari hal ini.

Sudiro saat itu mengetahui bahwa di Jakarta terdapat sebuah mobil Buick milik seorang kepala jawatan kereta api dari Jepang. Saat itu, kendaraan ini sudah dilengkapi dengan kain jendela pada bagian kaca belakang dan sudah termasuk pada kategori mobil mewah di Jakarta. (Daras, 2013)

Sudiro bersama beberapa orang loyalis Soekarno lainnya berhasil menemukan keberadaan mobil dalam garasi di rumah kepala jawatan kereta api. Beruntung, Sudiro mengenal sang sopir dan segera meminta kunci mobil.

“Merdeka,” ucap Sudiro sebagai salam pembuka kepada sang sopir. Rasa kebingungan yang menghinggapi sopir tersebut segera terjawab setelah Sudiro menjelaskan bahwa mobil itu dibutuhkan untuk digunakan sebagai mobil kepresidenan.

Sang sopir kemudian bersedia memberikan kunci mobil tersebut. “Kembalilah ke kampungmu di Jawa Tengah sebelum orang mengetahui kejadian ini,” kata Sudiro kepada sang sopir sebagaimana dikisahkan oleh Soekarno.

Sayang, Sudiro tak bisa mengendarai mobil mewah tersebut. Menurut Soekarno, tak banyak orang Indonesia yang mampu mengendarai mobil di zaman itu. Sebab, hanya para pejabat yang diizinkan mengendarai mobil selama zaman pendudukan Jepang.

Beruntung, terdapat salah seorang rekan Sudiro yang bisa mengendarai mobil tersebut. Mobil inilah yang kemudian menjadi kendaraan kepresidenan Republik Indonesia untuk pertama kalinya. Mobil ini juga menjadi saksi bisu yang menemani mobilisasi Soekarno menuju Yogyakarta saat mendaratnya pasukan sekutu pada era revolusi.

Beragam kisah tersebut dialami oleh Soekarno hanya beberapa saat setelah dipilih sebagai Presiden RI. Meskipun menjabat sebagai presiden, Soekarno tak serta merta merasakan fasilitas layaknya seorang kepala negara.

Tahap pelantikan

Tentu, suasana zaman saat itu sangat berbeda jika dibandingkan dengan pelantikan presiden saat ini. Jika pemilihan Soekarno sebagai presiden dirayakan dengan teriakan ”Hidup Bung Karno”, momen tersebut kini dibuat lebih tertib dan sakral.

Aturan terkait pelantikan presiden dan wakil presiden tertuang secara jelas dalam UUD 1945 hasil amendemen. Pada Pasal 3 Ayat 2 UUD disebutkan bahwa presiden dan wakil presiden dilantik oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).

Tahap pelantikan presiden dan wakil presiden secara lebih jelas tertuang dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum. Dalam beleid ini, presiden dan wakil presiden terpilih harus mengucapkan sumpahnya di hadapan Sidang Paripurna MPR.

kompas/alif ichwan
Pengambilan sumpah presiden terpilih Joko Widodo di Gedung DPR/MPR RI, Jakarta, Senin (20/10/2014). Pada tanggal 20 Oktober 2019 mendatang, Joko Widodo akan kembali dilantik sebagai presiden terpilih periode 2019-2024. Ia akan didampingi wakil presiden terpilih Ma’ruf Amin.

Pengucapan sumpah dapat dilakukan di hadapan Sidang Paripurna DPR saat MPR tidak dapat menyelenggarakan sidang. Aturan ini menggambarkan bahwa pelantikan kepala negara telah menjadi suatu bagian penting yang telah diatur sedemikian rupa.

Hingga kini, Indonesia telah melangsungkan pelantikan tujuh sosok presiden. Pelantikan Joko Widodo dan Ma’ruf Amin pada 20 Oktober 2019 akan menjadi salah satu bagian bersejarah dari rangkaian panjang proses suksesi kepala negara.

Kerabat Kerja

Penulis : Dedy Afrianto | Fotografer: Alif Ichwan | Infografik : Arie Nugroho | Pengolah foto: Pandu Lazuardy | Penyelaras bahasa : Priskilia Bintang Sitompul | Produser : Sugihandari , Sri Rejeki | Desainer & Pengembang: Ria Chandra, Rino Dwi Cahyo, Frans Yakobus Suryapradipta, Yosef Yudha Wijaya

Menikmati Tutur Visual?

Baca Juga Tutur Visual Lainnya Yang Mungkin Anda Sukai