Segala Upaya Demi Mengatasi Banjir Citarum

Kecamatan Baleendah dan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, kembali dilanda banjir, Senin (15/11/2021). Ratusan rumah terendam banjir luapan Sungai Citarum akibat hujan lebat pada Minggu (14/11) malam.

Warga kembali menjadi korban. Setelah direndam banjir, warga harus membersihkan rumah dari sampah dan lumpur yang terbawa banjir. Rutinitas menyedihkan setiap musim hujan itu seperti kisah usang yang tak berkesudahan.

KOMPAS/TATANG MULYANA SINAGA
Warga menggunakan perahu untuk melintasi banjir luapan Sungai Citarum yang menggenangi Desa Dayeuhkolot, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Jumat (25/12/2020).

Sejumlah adaptasi dan mitigasi sebenarnya sudah dilakukan mengiringi peradaban manusia yang tinggal di sekitar sungai sepanjang 269 kilometer itu, mulai dari kaki Gunung Wayang di Kabupaten Bandung hingga Muara Gembong di Kabupaten Bekasi, seperti membangun rumah panggung. Pembangunan beragam infrastruktur raksasa juga telah dilakukan sejak awal masehi hingga kini.

Namun, banjir luapan sungai terpanjang di Jabar itu masih saja terus terjadi. Menjadi hantu bagi masyarakat di sekitarnya.

Salah satu bentuk adaptasi tua di pinggir Citarum dilakukan di Candi Batujaya di Kabupaten Karawang, Jabar. Kompleks candi tertua di Jawa ini luasnya 337 hektar dan mencakup Desa Segaran, Kecamatan Batujaya, dan Desa Telagajaya, Kecamatan Pakisjaya. Letak candi yang dibuat rentang abad ke-6 hingga ke-7 ini sekitar 1 kilometer dari aliran Citarum saat ini.

KOMPAS/MELATI MEWANGI
Candi Tanpa Undakan – Situs Candi Blandongan di Desa Segaran, Kecamatan Batujaya, Karawang, Jawa Barat, Jumat (14/6/2019).

Saat itu, Tarumanagara menjadi kerajaan yang eksis di Nusantara. Tarumanagara dikenal sebagai Kerajaan Hindu meskipun berdasarkan temuan di Batujaya yang terdiri atas 30 candi, Buddha juga mulai masuk. Kerajaan ini dikenal sebagai tempatnya ahli teknologi pengairan dan pemanfaatan sungai.

Awal peradaban

Kerabat Kerja

Penulis: Tatang Mulyana Sinaga, Cornelius Helmy Herlambang | Penyelaras Bahasa: Teguh Candra | Foto: Agus Susanto, Tatang Mulyana Sinaga, Melati Mewangi, Yuniadhi Agung, Her Suganda, Rony Ariyanto Nugroho, Samuel Oktora | Olah Foto: Ningsiawati | Infografik: Ningsiawati, Ismawadi | Ilustrasi Kover: Salomo Tobing | Produser: Sarie Febriane | Desainer & Pengembang: Ria Chandra, Charlie Aditya Sebastian, Farida Wiryandani, Frans Yakobus Suryapradipta, Yosef Yudha Wijaya, Christian Teguh, Azkiya Hanna Rofifah, Hanasya Shabrina, Rino Dwi Cahyo, Deny Ramanda Liu

Suka dengan tulisan yang Anda baca?

Nikmati tulisan lainnya dalam rubrik Tutur Visual di bawah ini.