Tut…tut….

Sejak kemunculan pertama kereta api pada 1804, hanya berselang 63 kemudian sang “ular besi” telah “melata” di Pulau Jawa. Dimulai dengan dibangunnya Stasiun Samarang Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij di Desa Kemijen pada 1867. Kereta pertama akhirnya beroperasi tiga tahun kemudian melayani rute Semarang-Tanggung sepanjang 25 kilometer.

Selain untuk membawa penumpang lebih cepat dari bagian barat ke bagian timur Pulau Jawa dan sebaliknya, kehadiran kereta api juga demi memperlancar eksploitasi sumber daya alam oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Hasil bumi dari pedalaman pun lebih cepat dibawa sehingga kemungkinan rusak di jalan semakin kecil.

Produksi gula yang menjadi komoditas ekspor andalan Hindia Belanda atau hasil perkebunan dan tambang batubara di Sumatera dapat dibawa lebih cepat dalam jumlah masif.

Pada masa pendudukan Jepang, kereta dan jalur kereta lebih banyak dimanfaatkan untuk kepentingan perang. Jepang bahkan memereteli rel dan lokomotif untuk dibawa ke negara pendudukan lain demi mendukung strategi perang Jepang.

Memasuki masa kemerdekaan, kereta berperan penting “menyelamatkan” para pemimpin bangsa yang menghindar dari kedatangan NICA. Sebuah perjalanan rahasia dirancang bersama kereta.

Stasiun-stasiun dan jalur kereta yang dibangun sejak masa Hindia Belanda hingga kini masih ada, meski ada pula yang hanya tinggal cerita. Emplasemen dan bangunan stasiun hingga ke sudut-sudutnya menjadi saksi mata sejarah kereta di Nusantara.

Ikuti lebih lengkap simpul-simpul penting kisah perkeretaapian Indonesia dengan mengunjungi stasiun-stasiun berikut.

Kerabat Kerja

Penulis: Iwan Santosa, Melati Mewangi, Sri Rejeki | Fotografer: Adhitya Ramadhan, Bahana Patria Gupta, Iwan Setiyawan, Totok Wijayanto, Herman SA, Marthias D Pandoe, Megandika Wicaksono, Aris Prasetyo | Infografik : Dicky Indratno, Dimas Tri Adiyanto, Arjendro Darpito, Gunawan Kartapranata | Olah foto: Arjendro Darpito | Kover: Pandu Lazuardy | Penyelaras bahasa: Rosdiana Sitompul, Nanik Dwi Astuti | Produser: Sri Rejeki, Narendra Yusuf Hadiana, Pandu Lazuardy, Novan Nugrahadi, Reza Fikri Aulia | Desainer & Pengembang: Ria Chandra, Rino Dwi Cahyo, Frans Yakobus Suryapradipta, Yosef Yudha Wijaya

Suka dengan tulisan yang Anda baca?

Nikmati tulisan lainnya dalam rubrik Tutur Visual di bawah ini.