Sepak bola lebih dari sekadar permainan berebut bola di lapangan hijau. Magisnya kerap punya tenaga mendamaikan pertikaian hingga membangkitkan jiwa yang terpuruk.

Benar, mungkin belum ada perang yang benar-benar berhenti gara-gara sepak bola. Namun, dalam banyak kesempatan, sepak bola memainkan magis yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Pele adalah legenda sepak bola dunia. Dia bermain di empat Piala Dunia dan sejauh ini menjadi satu-satunya manusia yang memenangi tiga ajang sepak bola terbesar sejagat itu. Nama besarnya terus dikenang meski telah berpulang di pengujung tahun 2022.

Akan tetapi, bukan trofi Piala Dunia yang dia anggap sebagai kenangan terbaiknya. Bersama timnya, Santos, Pele justru menemukannya di Nigeria, salah satu negara di Benua Afrika. Momen yang terjadi tahun 1969 itu lantas dikenang dengan nama ”Santos menghentikan perang”.

”Itu adalah kenangan terbaik. Kami tidak ragu datang ke Nigeria. Santos sangat dicintai. Apalagi, sejak kecil saya selalu dididik sepak bola adalah jalan menuju kebaikan,” begitu Pele dua tahun lalu.

Kompas/IGNATIUS SUNITO
Pada saat di Jakarta, Juni 1972. Ia bersama klub Santos bertanding melawan tim PSSI di Stadion Utama Senayan. Pele kerap tampil dalam laga persahabatan di sejumlah negara, termasuk negara yang tengah dilanda perang seperti Nigeria pada 1969.

Kebaikan memang menemukan jalan di Nigeria. Saat itu, Santos adalah permata dunia. Punya Pele, Santos diundang tur menggelar pertandingan ekshibisi ke berbagai belahan dunia, termasuk Nigeria.

Sebaliknya, periode 5 Juli 1967-13 Januari 1970, Nigeria tengah dilanda perang saudara. Dikenal sebagai Perang Biafra, perang antara Pemerintah Nigeria dan Republik Biafra, yang memisahkan diri, itu disebut merenggut hampir 1 juta jiwa.

Dikutip dari Marca, awal Februari 1969, Santos tiba di Benin City, kota di Nigeria. Mereka akan menghadapi dua pertandingan melawan tim lokal pada 4 Februari.

Tiba di sana, Santos disambut kota yang gelap gulita. Edu, mantan pemain Santos, mengatakan, lampu kota mati saat malam hari.

Tujuannya, menghindari bom pihak yang bertikai. Hanya hotel dan rumah yang diizinkan menyalakan lampu.

AP Photo
Bintang sepak bola Brasil, Pele melakukan tendangan salto dalam sebuah laga pada September 1968. Saat Pele bersama klub Santos berlaga di Nigeria pada 1969, selama 72 jam, sepak bola lebih penting daripada perang di negara itu.

Akan tetapi, kekhawatiran perang merusak laga sepak bola tidak terjadi. Kabarnya, Pemerintah Nigeria dan Republik Biafra sepakat gencatan senjata saat Santos melakoni dua laga ekshibisi.

Seperti dilaporkan Time pada 2005, selama 72 jam, sepak bola lebih penting daripada perang di Nigeria. Sepak bola melakukan keajaiban yang tidak bisa dlakukan para diplomat atau utusan negara sebelumnya.

Sepak bola melakukan keajaiban yang tidak bisa dlakukan para diplomat atau utusan negara sebelumnya.

Meski belakangan sejumlah kalangan menyebut, dampak kedatangan Santos ke Nigeria tidak sebesar itu, kisah Pele yang dijuluki ORei atau ”Sang Raja” itu telanjur melegenda. Toh, bukan perkara mudah bagi tim sepak bola ternama datang ke negara yang sedang dilanda perang.

Cinta Pantai Gading

Masih di Benua Afrika, cinta itu mekar saat perang membelit Pantai Gading. Dalam laporan BBC, sesaat setelah menang atas Sudan dan memastikan lolos Piala Dunia 2006, pemain tim nasional Pantai Gading mengapungkan harapan perdamaian.

Saat itu, tahun 2005, harapan disuarakan di ruang ganti yang sempit di Stadion Al Merrikh, Sudan. Penyerang dan pemain bintang, Didier Drogba, menorehkan momen tidak terlupakan.

Ap Photo/Ariel Schalit
Striker Pantai Gading, Didier Drogba (tengah), merayakan gol bersama rekan-rekannya saat bertemu Libya pada pertandingan Piala Afrika di Cairo, Mesir, Januari 2006. Pantai Gading lolos ke Piala Dunia 2006 Jerman dan bergabung di Grup C bersama Argentina, Belanda, dan Serbia-Montenegro.

”Pria dan wanita Pantai Gading,” katanya. ”Dari utara, selatan, tengah, dan barat, kami sudah membuktikan semua (rakyat) Pantai Gading dapat hidup berdampingan dan bermain bersama dengan tujuan lolos ke Piala Dunia.”

Tolong letakkan senjata Anda dan adakan pemilihan. Kami ingin bersenang-senang, jadi berhentilah menembakkan senjatamu. (Drogba)

”Kami berjanji kepada Anda, perayaan itu akan menyatukan orang-orang hari ini. Kami mohon kita berlutut,” katanya. Permintaannya diikuti pemain lain.

”Tolong letakkan senjata Anda dan adakan pemilihan. Kami ingin bersenang-senang, jadi berhentilah menembakkan senjatamu,” kata Drogba penuh harap.

AFP/ISSOUF SANOGO
Kapten yang sekaligus penyerang Pantai Gading, Didier Drogba (tengah), merayakan golnya yang bersarang ke gawang Ghana pada pertandingan grup di Stadion Chiazi di Cabinda pada pelaksanaan Piala Afrika 2010, 15 Januari 2010.

Pengaruh dari ajakan Drogba berdampak luas. Pihak yang bertikai mulai berpikir untuk menurunkan senjata. Hingga akhirnya semua harapan itu menemui puncaknya tahun 2007. Pemerintah dan pemberontak menandatangani perjanjian damai.

”Melihat kedua pemimpin berdampingan untuk lagu kebangsaan sangat istimewa. Saat itu, saya merasa Pantai Gading dilahirkan kembali,” kata Drogba.

Pulihkan mental

Akan tetapi, jauh sebelum Drogba dan sebagian warga Pantai Gading terlahir kembali, penjaga gawang Zimbabwe, Bruce Grobbelaar, sudah merasakan magis sepak bola menyelamatkan hidupnya akibat perang. Tahun 1975, saat masih berusia 17 tahun, dia terjebak di antara perang saudara di Rhodesia.

Perang saudara Rhodesia, kini Zimbabwe, terjadi tahun 1964-1979. Perang ini diperkirakan merenggut 20.000 jiwa.

Grobbelaar mungkin hanya dua tahun terlibat perang. Namun, dampaknya begitu traumatis. Dikutip dari The Guardian, dia melihat rekan-rekannya tewas di medan tempur hingga bunuh diri akibat depresi akibat perang.

”Jarak mereka yang meninggal di medan pertempuran hanya beberapa meter dari saya,” katanya.

nationaalarchief.nl
Kiper Liverpool, Bruce Grobbelaar pada laga Oktober 1981, berebut bola dengan pemain AZ, Jos Jonker. Sepak bola menjadi penyelamat Grobbelaar dari peperangan.

Beruntung, saat banyak rekan sejawatnya terpuruk dalam depresi, ia bangkit. Sepak bola menjadi semangatnya melawan ancaman kesehatan mental. Selepas perang, dia hijrah ke Afrika Selatan dan Kanada setahun kemudian.

Dari sana, bakatnya diendus tim Inggris. Dia dipinjam ke Crewe Alexandra, sebelum akhirnya memperkuat Liverpool tahun 1981. Selama 12 tahun, dia mempersembahkan 13 tropi, di antaranya enam gelar Liga Inggris dan satu Piala Champions Eropa (kini Liga Champions).

”Bersama Liverpool, saya menikmati permainan yang memberi alasan untuk hidup. Tanpa itu, saya tidak yakin akan tetap di sini. Itulah mengapa saya selalu memiliki senyum di wajah ketika di lapangan,” katanya, seperti diungkapkannya dalam buku otobiografinya berjudul Life in a Jungle.

Kebangkitan di Indonesia

Indonesia juga pernah menjadi tempat mereka yang bangkit dari konflik. Pada 2007, Stadion Gelora Bung Karno menjadi panggung manusia mencari kedamaian.

Kali ini pemeran utamanya adalah timnas Irak dalam laga Piala Asia. Saat berlaga, negara ini tengah menghadapi ancaman pertikaian bersenjata.

KOMPAS/YUNIADHI AGUNG
Kapten Irak, Younis Mahmoud, mengangkat trofi Piala Asia 2007 setelah menundukkan Arab Saudi dengan skor 1-0 pada partai final di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, 29 Juli 2007. Irak menjadi kampiun di tengah gejolak konflik di negara itu.

Melansir Goal, setelah lama dalam dekapan rezim Saddam Hussein, Irak mencoba mengumpulkan serpihan kedamaian lewat Piala Asia. Bersama pelatih asal Brasil, Jorvan Vieira, dan penyerang muda Younis Mahmoud, mereka bersaing dengan tim kuat, seperti Jepang, Australia, dan Korea Selatan.

Ketika laga Piala Asia berlangsung, keluarga sebagian pemain menjadi korban. Adik ipar kiper Noor Sabri tewas. Kerabat gelandang Nashat Akram dibunuh.

Akan tetapi, persiapan mereka sempat tidak mulus. Begitu banyak duri yang harus dilalui. Misalnya, mereka harus berlatih di Amman, Jordania. Lapangan di Irak disebut rawan untuk berlatih sepak bola (Kompas, 30 Juli 2007).

Ketika laga Piala Asia berlangsung, keluarga sebagian pemain menjadi korban. Adik ipar kiper Noor Sabri tewas. Kerabat gelandang Nashat Akram dibunuh. Sementara ibu tiri gelandang Hawar Mulla Mohammad meninggal dua hari sebelum perempat final.

ap photo/MARCUS YAM
Kiper Irak, Noor Sabri Abbas saat jumpa pers di Piala Asia 2007, 24 Juli 2007. Ketika Piala Asia berlangsung, keluarga sebagian pemain menjadi korban pertikaian di Irak, termasuk adik ipar Noor Sabri.

Beruntung, semangat pemain terlalu tangguh untuk dihancurkan. Semua itu tidak menghalangi Irak melaju ke semifinal dan menang atas Korsel.

Hanya saja, kegembiraan itu masih terasa hampa. Saat bersamaan, terjadi ledakan bom bunuh diri di Baghdad. Korbannya 30 pendukung yang ironisnya sedang merayakan kemenangan itu.

”Kami tahu harus memenangi pertandingan untuknya (korban) dan banyak orang lainnya,” ujar Mahmoud.

Mahmoud mewujudkan janjinya. Ia mencetak satu gol yang membawa Irak menjadi kampiun Asia. Sementara Sabri memenangi gelar kiper terbaik.

Gelandang Nashat Akram meluapkan kegembiraan. ”Kesuksesan ini pesan untuk rakyat Irak bahwa kami yang berbeda (aliran) saja bisa bersatu. Saya berharap ini membawa perdamaian dan keselamatan di Irak,” ujarnya.

 

AP Photo/KARIM KADIM
Sejenak melupakan pertikaian di negeri itu, warga Irak merayakan kemenangan timnas Irak pada laga Piala Asia 2007 di kawasan permukiman Syiah di Sadr City, Baghdad, 25 Juli 2007. Pelatih Irak asal Brasil, Jorvan Vieira, sukses menyatukan tim dari kalangan Sunni, Syiah, dan Kurdi menjadi kampiun Asia.

Mengutip Al Jazeera, Vieira, pelatih yang sukses menyatukan tim dari kalangan Sunni, Syiah, dan Kurdi, mengatakan, yang paling menggembirakan lewat kemenangan itu adalah membawa kebahagiaan untuk satu negara.

Tidak hanya untuk tim, yang terpenting semuanya adalah untuk rakyat Irak yang saat itu seperti melupakan bahwa konflik masih terjadi di sekitar mereka.

Peluang yang terbuang

Tahun ini, Indonesia bisa saja kembali menjadi panggung memperjuangkan perdamaian di antara konflik antarnegara lewat Piala Dunia U-20, 20 Mei-11 Juni 2023. Indonesia bisa menjadi tuan rumah yang baik ketika konflik Palestina-Israel atau Ukraina-Rusia masih terjadi.

Akan tetapi, semua tinggal mimpi. Pada Rabu (29/3/2023), status Indonesia sebagai tuan rumah dibatalkan FIFA.

ADRYAN YOGA PARAMADWYA
Pemain Timnas Indonesia U-20 Hugo Samir mengusap mata saat mendengarkan arahan dari Wakil Ketua Umum PSSI Zainudin Amali di Hotel Sultan, Jakarta, Kamis (30/3/2023). Amali meminta maaf kepada para pemain setelah FIFA membatalkan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20.

Penolakan muncul sebelum laga digelar. Gubernur Bali I Wayan Koster dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, misalnya, menolak kehadiran Israel. Padahal, Stadion Manahan di Surakarta, Jawa Tengah, direncanakan menjadi tempat bagi laga pada babak penyisihan, semifinal, partai final, dan penutupan.

Semua bisa kembali menjadi bukti magis sepak bola. Laga di lapangan hijau sesungguhnya bisa memberikan asa nyata bagi perjuangan rakyat Palestina.

Sejumlah kalangan menganggap FIFA menerapkan standar ganda. Alasannya, timnas Rusia hingga kini masih dilarang ikut serta ajang internasional pascakonflik dengan Ukraina. Namun, keputusan FIFA sulit diubah dan imbasnya harus diderita banyak kalangan.

Asa pemain muda timnas Indonesia gugur ketika dipastikan batal mentas di pentas dunia. Latihan yang disiapkan selama bertahun-tahun berujung antiklimaks. Bila FIFA menjatuhkan sanksi, bisa jadi ribuan pemain sepak bola Indonesia bakal kena imbasnya.

ADRYAN YOGA PARAMADWYA
Ekspresi pelatih Indonesia Shin Tae-yong saat mendengarkan arahan dari Wakil Ketua Umum PSSI Zainudin Amali di Hotel Sultan, Jakarta, Kamis (30/3/2023).

Stadion yang sudah direnovasi dengan dana besar di berbagai kota juga gagal menjadi panggung utama. Warga yang berharap peningkatan ekonomi dari ajang ini juga pasti gigit jari. Ada lima kota yang bakal menjadi tuan rumah, Palembang, Jakarta, Bandung, Surabaya, Surakarta, dan Gianyar.

Namun, di atas itu semua, bisa jadi hilangnya kesempatan itu justru meredupkan dukungan paripurna Indonesia untuk Palestina. Bayangkan apabila timnas Indonesia bertanding, menang besar, dan menggugurkan peluang Israel.

Semua bisa kembali menjadi bukti magis sepak bola. Laga di lapangan hijau sesungguhnya bisa memberikan asa nyata bagi perjuangan rakyat Palestina.