35 Tahun
Sengatan Virus Slank

S lank adalah legenda. Jatuh bangunnya turut mengiringi perjalanan bangsa ini selama 35 tahun terakhir. Dari masa Orde Baru, kejatuhannya, berganti ke era reformasi, hingga kini kepemimpinan presiden ketujuh. Sampai kapan virus Slank mampu membius?

Slank bukan sekadar grup musik. Ia simbol ekspresi anak muda dari masa generasi X yang mendamba kemerdekaan berpikir hingga generasi tersebut melahirkan anak-anak milenial. Kekuatan Slank adalah pada lirik-liriknya yang lugas, apa adanya, dan menyuarakan isi hati anak muda pada masanya yang terbungkus dalam musik rock & roll.

Meski kebanyakan bercerita tentang kisah cinta anak muda, syair-syair Slank juga tak alpa menyuarakan kepedulian akan isu sosial, politik, dan lingkungan. Musiknya mampu melintasi zaman, terbukti dari lagu-lagunya yang masih enak didengar hingga kini.

Ulang tahun ke-35 Slank dirayakan oleh kehadiran 50.000 penggemar fanatiknya yang memenuhi arena Gelora Bung Karno (GBK) pada 23 Desember silam. Acara konser yang bertajuk ”Indonesia Wow” ini juga disiarkan langsung salah satu televisi swasta.

Kompas/Yuniadhi Agung

Grup musik Slank menggelar konser HUT ke-35 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Minggu (23/12/2018). Slank dalam konser tersebut menyampaikan simpati kepada korban tsunami di Banten dan Lampung.

Setelah 35 tahun perjalanan, Slank tetap konsisten menjaga kesederhanaan, dari pemilihan tema hingga lirik berbahasa sederhana dan apa adanya dengan ciri khas slenge’an atau sesukanya. Kekhasan itu masih bisa diterima generasi Slankers masa kini. Apalagi oleh mereka yang mengikuti perjalanan karier bermusik Slank, dari album perdana Suit... Suit... He... He... (Gadis Sexy) yang diluncurkan pada 1990 hingga Pala Loe Peyank (2017).

Penggemarnya kini lintas generasi. Tidak heran, banyak yang datang menonton bersama keluarga dan anak-anak, termasuk yang masih balita. Di antara penonton, terlihat tidak sedikit emak-emak menggendong bayi sambil membawa tas besar berisi perlengkapan bayi. Sementara sang bapak menggandeng anak mereka yang lebih besar. Dengan sabar dan tertib, mereka mengantre masuk ke dalam arena panggung pertunjukan (Kompas, 30/12/2018).

Regenerasi Slankers tampaknya berlangsung secara alami, antara lain kesukaan yang diturunkan dari orangtua kepada anaknya. Saat konser lalu, seorang anak usia sekolah dasar dengan fasih menyanyikan lagu ”Pala Loe Peyank”. Ia bernyanyi diiringi sorak seru para Slankers lain di stadion. Saat ditanya, si bocah mengaku kenal dan suka lagu-lagu Slank dari kedua orangtuanya, yang malam itu mengajaknya ikut menonton. Formasi Slank malam itu lengkap, termasuk Abdee Negara yang sempat absen tiga tahun karena sakit ginjal.

Kemunculan

Cikal bakal Slank adalah Cikini Stones Complex (CSC), grup band yang didirikan Bimbim pada 1983 bersama teman-teman sekolahnya dari SMA Perguruan Cikini, Jakarta. Di band inilah, mereka mengekspresikan kesukaan mereka terhadap karya-karya Rolling Stones. Usia band ini tidak lama.

Bimbim bertekad terus bermusik. Setelah bubarnya CSC, Bimbim mengajak sepupunya, Erwan serta Denny BDN dan Kiki membentuk Red Evil. Band ini membawakan lagu-lagu sendiri dan lagu Barat yang disuka, kebanyakan Van Hallen. Suara Denny disebut-sebut mirip David Lee Roth, vokalis Van Halen. Lagu-lagu The Rolling Stones terkadang juga masih dimainkan.

Musik yang mereka mainkan tidak benar-benar terdengar mirip dengan aslinya. Penampilan pun urakan, asal-asalan, dan semaunya. Istilah anak muda zaman itu, slenge’an. Julukan slenge’an dari kawan-kawannya saat mereka manggung mendorong Bimbim dan kawan-kawan memutuskan mengganti nama band mereka menjadi Slank, kependekan dari slenge’an. Agar tampak keren, dipakai huruf K.

Merasa tak puas dengan satu gitaris, Bimbim mengajak Bongky yang saat itu tercatat sebagai gitaris Reseh Band sehingga formasi pertama Slank setelah berganti nama adalah Bimbim (drum), Erwan (vokal), Bongky (gitar), Denny (bas), dan Kiki (gitar).

Sejak itu pula, rumah Bimbim di Jalan Potlot III/14 Pancoran, Jakarta Selatan, dijadikan markas Slank. Penampilan pertama Slank adalah di Universitas Nasional. Hasilnya kacau. Namun, kejadian itu tak menyurutkan Slank untuk ikut festival band di Istora Senayan. Saingan Slank waktu itu Ita Purnamasari dan Grass Rock (Kompas, 13 Januari 2002).

Band ini bolak-balik ganti personel. Sempat hanya menyisakan Bimbim sebagai pendiri yang tersisa. Bimbim harus bolak-balik merekrut personel, termasuk vokalis. Slank sempat mengandalkan vokalis perempuan, mulai dari Uti Suharyani, Lala, hingga Nita Tilana. Semuanya hengkang. Kaka yang bernama asli Akhadi Wira Satriaji baru bergabung sebagai vokalis pada 1989 yang menggenapkan formasi ke-13 Slank. Artinya, selama enam tahun band ini sudah gonta-ganti personil sebanyak 13 kali.

Di saat kami hampir frustrasi itu, kami bermusik sesuka kami, justru ada produser yang mau menerima kami.

Bertahun-tahun malang melintang tetapi tanpa hasil berarti. Slank hanya mampu tampil di panggung-panggung sekolah, kampus, dan acara perpisahan. Pernah ikut festival beberapa kali tetapi tidak pernah menang. Slank pada dasarnya tidak menyukai panggung festival karena, kata Bimbim, seni musik itu tidak bisa dinilai dengan angka, karena itu masalah selera.

”Dulu, tahun 1980-an itu eranya God Bless. Seperti ada peraturan tidak tertulis, semua band kalau mau bermusik harus seperti God Bless. Sementara Slank cenderung rock & roll, tetapi berusaha ngikutin selera itu dan malah ditolak oleh produser. Di saat kami hampir frustrasi itu, kami bermusik sesuka kami, justru ada produser yang mau menerima kami,” kata Bimbim.

Ketidakberuntungan itu terus berlanjut. Demo lagu-lagu yang dibuat Slank dan dimasukkan ke berbagai label rekaman tidak ada satu pun yang nyangkut. Hingga akhirnya, mereka bertemu Boedi Soesatio, desainer cover album musik yang percaya pada potensi musik anak-anak muda ini. Tak lama, lahirlah album pertama Slank, Suit... Suit... He... He... (Gadis Sexy) pada 1990. Cover album dan logo Slank dibuat oleh Boedi yang sebelum ini sudah banyak mengerjakan cover album penyanyi-penyanyi terkenal di Tanah Air.

Intuisi Boedi terbukti, album yang menghasilkan hits ”Memang” dan ”Maafkan” ini meledak di pasaran. Keberhasilan ini bahkan diganjar oleh BASF Awards 1991 sebagai Pendatang Baru Terbaik. Saat itu, formasi Slank diisi Kaka (vokal), Bimbim (drum), Bongky (bas), Indra (keyboard), dan Pay (gitar).

Pasar yang dibidik Slank sangat tepat dan memiliki kefanatikan tersendiri. Lirik-lirik lagu Slank dianggap simbol dari pemberontakan generasi muda terhadap nilai-nilai kemapanan. Karena itu, markas mereka sering didatangi para penggemar yang kemudian menamakan diri sebagai Slankers.

”Kami banyak mendapatkan ide dari hasil curhat dengan penggemar yang datang ke markas Slank. Mereka selalu cerita masalah-masalah mereka, dengan pacar, dengan orangtua, atau lingkungan. Jadi, selain pemain band, kami ini jadi kayak psikolog. Dari situ muncul ide untuk menulis lagu. Mungkin karena lagu-lagu Slank banyak bercerita tentang kehidupan remaja sehari-hari, jadi seolah mereka enggak berjarak dengan lagu kami. Apa yang kami suarakan sama dengan apa yang mereka alami,” papar Bimbim tentang Slankers yang rata-rata usianya berkisar 12-25 tahun.

Candu yang Membelenggu

Kesuksesan ini membuat Slank semakin tenar. Nama yang meroket ditambah ego masing-masing personel sering membuat mereka bertengkar. Bahkan, Pay sempat hendak hengkang, tetapi urung setelah berbaikan. Kondisi ini mereka tuangkan menjadi lagu ”Terlalu Manis” yang kemudian dimasukkan dalam album kedua, Kampungan (1991). ”Terlalu Manis” dan ”Mawar Merah” dari album ini menjadi hits dan mengantar Slank meraih BASF Awards untuk album dengan penjualan terbaik 1991-1992 kategori pop rock, seperti ditulis Slank.com.

Slank yang semakin populer membuat mereka banyak diundang pentas ke sejumlah kota di Indonesia. Saat tampil di Bali, seseorang menawari mereka narkoba. Sejak itu, Slank kecanduan. Efeknya bisa ditebak. Produksi album ketiga, PISS, yang akhirnya keluar pada 1993 molor dari jadwal. Dari sini lahir hits ”Tepi Campuhan” dan ”Anyer 10 Maret”. Album ketiga ini menjadi akhir kerja sama Slank dan Boedi. Selanjutnya, Slank memproduksi sendiri musik-musik mereka lewat jalur indie di bawah label PISS Record dan manajemen Pulau Biru Production.

Dalam belenggu candu narkoba, para personelnya berjuang menggarap album demi album dan memenuhi kontrak demi kontrak manggung. Dalam film Slank Nggak Ada Matinya yang berdasarkan kisah hidup para personel Slank, termasuk menampilkan mereka di akhir cerita, digambarkan Slank sempat beberapa kali tidak bisa menyelesaikan manggung gara-gara beberapa personelnya sakau. Toh, masih lahir album keempat, Generasi Biru (1994) yang menghasilkan hits ”Kamu Harus Pulang” dan ”Terbunuh Sepi” serta ”Minoritas” (1996) dengan hits ”Kalau Kau Ingin Jadi Pacarku” dan ”Bang Bang Tut”.

Pengaruh buruk narkoba ditambah para personel yang sibuk sendiri-sendiri membuat para personel kerap bertengkar yang berujung pada pemecatan Indra, Bongky, dan Pay. Tersisa Bimbim dan Kaka. Keduanya berjuang keras membuat album keenam dengan bantuan Ivanka (bass) dan Reynold (gitar). Para penggemarnya mengancam agar jangan sampai band ini bubar.

”Seorang fans kirim surat yang ditulis pakai darah dia. Dia minta supaya Slank tidak boleh bubar atau dia mati. Ada juga yang datang ke markas dan mengancam: Kalau loe bubar, loe gua bunuh! Itu menakutkan kami. Di panggung, emosi penonton juga meledak-ledak. Tapi kami selalu usahakan supaya tidak rusuh karena kami punya tanggung jawab moral dan idiom peace,” ucap Bimbim.

Ada juga yang datang ke markas dan mengancam: Kalau loe bubar, loe gua bunuh! Itu menakutkan kami.

Album keenam, Lagi Sedih (1997), yang menelurkan hits ”Foto Dalam Dompetmu”, ”Tonk Kosong”, dan ”Koepoe Liarkoe”, memalingkan kembali minat penggemar dan sponsor. Slank mendapat perusahaan yang mensponsori tur konser ke sejumlah kota. Namun, menjelang rangkaian tur berakhir, Reynold mundur tanpa alasan jelas. Untuk mengisi posisi gitaris, Ivan mengajukan nama Abdee Negara yang pernah sama-sama nge-band di Flash Band, sedangkan Lulu Ratna (road manager ) mengajukan nama Ridho Hafiedz yang baru saja pulang dari sekolah musik di Amerika.

Di luar dugaan, keduanya datang audisi berbarengan yang berakhir dengan keduanya diterima. Belakangan, Slank mengumumkan keduanya menjadi personel tetap. Ini adalah formasi ke-14 Slank yang bertahan hingga kini. Kelimanya kemudian menggebrak dengan album ketujuh yang diberi tajuk Tujuh (1997).

Kekuatan Cinta Bunda Iffet

Salah satu hitsnya adalah lagu ”Poppies Lane Memory” yang bercerita tentang Poppies Lane, nama sebuah gang di Bali yang dulu menjadi sarang anak muda pengguna narkoba. Di Bali jugalah Slank mengenal narkoba. Hits lain adalah ”Balikin”, ”Terserah”, dan ”Bimbim Jangan Menangis”. Album ini mencetak rekor terjual satu juta kopi hanya dalam waktu seminggu!

Slank mendapat kontrak tur 30 kota. Padahal, Bimbim, Kaka, dan Ivan masih di bawah cengkeraman narkoba. Pernah, saat konser di Lubuk Linggau (1998), mereka ”kehabisan barang”, sakau. Tidak ada orang jual barang seperti itu di Lubuk Linggau. Bimbim sampai tidak bisa bangun, di kamar, padahal mereka masih harus melayani wartawan, wawancara. Tinggal Kaka, yang badannya lebih kuat, melayani wartawan meski dengan susah payah.

Karena sudah tidak bisa mencari barang lagi, Bimbim dan Kaka bilang, ”Kami harus pulang ke Jakarta.” Padahal, waktu itu mereka serombongan naik bus. Biasanya, mereka berombongan naik bus, buka tempat duduk di belakang. Diberi kayu dan kasur untuk tidur. Sesudah dari Lubuk Linggau, mereka sebenarnya harus ke Bandung (Kompas, 4 Januari 2009).

Kaka dan Bimbim sudah tidak mau lagi jalan darat. Sudah parah sakaunya. Tiga orang lainnya, Ivan (pemain bas), (gitaris) Ridho dan Abdee, dan Bunda Iffet meneruskan perjalanan naik bus. Sebenarnya, Ivan juga pemakai, tetapi tak separah Kaka dan Bimbim. Adapun Ridho dan Abdee bersih, tidak pakai narkoba.

Bimbim dan Kaka kemudian naik mobil ke Bengkulu, baru naik pesawat ke Jakarta. Dari Jakarta, mereka menyusul ke Bandung. Besoknya, Kaka dan Bimbim yang mendahului ke Jakarta dengan pesawat datang ke Bandung dengan ”gagah perkasa”. Seperti tak ada kejadian apa-apa. Sudah segar dari sakau.

Kejadian terulang (mereka sakau) ketika show di Mojokerto. Tiga pemain lain sudah duduk di acara jumpa pers, Bimbim dan Kaka masih memakai, belum muncul-muncul juga. Ketika disusul ke kamar, didapati ada alat untuk memakai putau. ”Saya bilang kepada mereka, kamu kalau terus pakai itu, bisa mati. Eh, saya malah dikira nyumpahin mereka mati,” kata Bunda Iffet yang bernama lengkap Iffet Viceha Sidharta.

Kompas/Frans Sartono

Bunda Iffet

Bunda Iffet mulai membuntuti aktivitas Slank sejak menyadari anaknya, Bimbim, dan keponakannya, Kaka, memakai narkoba. ”Sekitar 1996, saya melihat ada yang enggak bener pada diri anak saya. Terciumlah bau bahwa anak ini memakai sesuatu, padahal dia sudah mulai memakai dua tahun sebelumnya,” ungkap Bunda Iffet.

Mula-mula, menurut pengakuan Bimbim, awalnya pakai jenis narkoba yang gampang-gampang, pakai pil. Sampai suatu ketika mereka ke Bali sama Kaka. Di Bali, mereka ditawarin temannya. ”Ini ada barang baru, namanya putau,” ujar Bunda.

Kaka mula-mula tidak mengerti, dikira putao (bir manis dari China). Lalu, dia mengambil gelas. Orang itu bilang, bukan putao seperti itu, ini lain. Dicobalah oleh mereka. Akhirnya, berlanjutlah mereka memakai putau. Tingkah laku mereka berubah luar biasa.

Melihat gelagat tidak benar pada diri anaknya, masuklah Bunda Iffet menangani manajemen mereka. Ia menjadi manajer Slank. Itu terjadi pada 1996. ”Saya merasa bertanggung jawab terhadap mereka,” katanya.

Namun, alih-alih bersikap frontal, Iffet memilih mencurahkan kasih sayang kepada mereka. Iffet mengikuti ke mana pun Slank pergi. Rupanya, masih ada juga rasa segan terhadap orangtua meskipun mereka nyata-nyata sudah pakai putau. Tidak pernah mereka memakai di depan Bunda Iffet. Mereka ngumpet-ngumpet pakainya.

Saya ikuti mereka dengan sabar, setiap dua jam sebelum show, mereka saya ingatkan: siap-siap, ya. Saya selalu menunggu dengan sabar di depan kamar, sambil bilang, ”Ayo, lekas dong keluar.” Betul-betul harus sabar dan tak boleh marah.

Kompas/Riza Fathoni

Markas Slank dengan beragam atributnya di Jalan Potlot III, Duren Tiga, Jakarta Selatan, Kamis (16/11/2017).

”Dari pengalaman, saya tahu bahwa anak yang kecanduan seperti itu tidak boleh dimarahin. Harus dihadapi dengan manis dan sayang. Karena biasanya kalau kita tegur dengan marah, mereka akan tambah marah,” kata Iffet.

Bunda Iffet harus memperpanjang rasa sabarnya. Hingga akhirnya, ia menyemangati mereka karena bercita-cita main di luar negeri. Lewat kakaknya Bimbim, Slank mendapat tawaran manggung di Jepang. ”Saya bilang, jika kalian bercita-cita main ke luar negeri, kalian harus bersih dari obat-obat seperti ini. Pada 1999, akhirnya Bimbim minta: 'Tolong dong Ma, pengin sembuh. Tetapi, kalau bisa jangan pakai dokter. Bimbim takut dokter,'” ungkap Iffet.

"Tolong dong Ma, pengin sembuh. Tetapi, kalau bisa jangan pakai dokter. Bimbim takut dokter," ungkap Iffet.

Kebetulan Pay (eks personel Slank, suami pencipta lagu Dewiq, dari grup musik BIP) baru saja sembuh dari kecanduan seperti Bimbim. Dia bisa sembuh setelah berobat ke Pak Teguh Wijaya di Pulomas (Jakarta) dengan obat China. Teguh Wijaya—anaknya juga pemakai—sudah ke mana-mana mencari obat untuk menyembuhkan anaknya sampai ke Israel, Kanada, Amerika, Australia. Eh, ketemu obatnya di China.

Sekali minum obat China itu sepuluh kapsul sekali minum, sedangkan sehari harus minum empat kali. Jadi, total per hari 40 kapsul. Bau obat tidak enak betul.

Kaka lebih dulu meminta untuk disembuhkan. Bimbim belum mau, tetapi ketika mereka pergi ke rumah Pak Teguh, Bimbim datang menyusul. Pak Teguh rupanya mengerti betul bagaimana menghadapi pemakai seperti mereka. Maka, dia mengatakan, kalau masih punya ”barang” habisin saja dulu. Kalau sudah habis, baru berobat. Selang tiga hari setelah Kaka berobat, baru Bimbim menyusul setelah ”menghabiskan” lebih dulu barangnya.

Kompas/Riza Fathoni

Poster personel Slank di markas band rock tersebut di Jalan Potlot III, Duren Tiga, Jakarta Selatan, Kamis (16/11/2017).

Biaya pengobatan itu, per orang Rp 20 juta selama 10 hari, menghabiskan 400 kapsul obat China. Alhamdulillah, setelah minum obat selama sepuluh hari, mereka segar. Selama penyembuhan itu, mereka dijaga ketat. Satu orang dijaga dua orang. Karena memang ketika mereka menjalani penyembuhan itu, pada hari kedua biasanya mereka ”minta”.

Pada hari kedua pengobatan, Bimbim lepas dari pengawasan dan ia menelepon ”bandar” putau. Padahal, Iffet menjaga ketat mereka dan sampai menyewa polisi agar tak ada bandar yang mendekati mereka.

Ketika kemudian melihat bandar itu datang, Iffet lalu teriak, ”Polisi! Itu bandar....” Bandar itu pun terbirit-birit, ambil langkah seribu dan 15 gram putau pun ia buang ke sungai di dekat rumah.

Hari keempat, Bimbim dan Kaka yang sudah mulai kuat menahan sakau berkat obat China iseng-iseng menelepon bandar itu, ”Kirim barang dong....” Bandar bilang, tak berani soalnya ketika datang tempo hari diteriakin bunda sehingga ”merugi” 15 gram putau lantaran dibuang di kali.

Sekarang sudah 18 tahun lebih mereka sembuh semenjak 2000. Iffet rajin melakukan tes urine terhadap ketiganya. Itu dilakukan tiba-tiba kapan pun Iffet mau. Album Virus (2001) menjadi album penanda mereka benar-benar bebas dari narkoba.

Sadar Lingkungan

Meskipun tidak pernah mengajak orang lain ikut memakai narkoba, para personel Slank yang pernah kecanduan narkoba ingin ”menebus dosa” karena memberi pengaruh negatif kepada para Slankers ikut memakai narkoba. Slank kemudian mendirikan Recovering Slankers.

Dari 2002 sampai sekarang, sudah ratusan Slankers direhabilitasi dari ketergantungan obat. Pada 2007 ada 100 orang yang minta direhabilitasi dan pada 2008 lebih dari 100 orang.

Setelah berhasil sembuh, mereka pun tak dibiarkan begitu saja. Mereka diajak berkegiatan teater, musik, juga kursus audiovisual dari Pemda DKI hingga akhirnya menghasilkan film dokumentasi tentang ODHA (orang dengan HIV/AIDS). Film itu pernah diputar di bioskop Blitz (sekarang CGV), Jakarta.

Dan kisah nyata tentang diri mereka yang sudah difilmkan itu, kata Bunda Iffet, sudah diputar distudio Blitz, Jakarta. Pengobatan gratis tentu butuh biaya besar. Dananya disisihkan 2,5 persen dari total fee Slank. Setelah dipotong 2,5 persen, baru dibagi untuk penghasilan Slank.

Lepas dari jerat narkoba, anak-anak Slank berhasil mewujudkan mimpinya tampil di Jepang sambil terus memproduksi album-album baru. Berikutnya ke Amerika Serikat, bahkan sempat membuat album di sana, Anthem for the Broken Hearted (2008). Slank juga pernah konser ke beberapa negara lain.

Uniknya, meski sempat didera narkoba, hal itu tidak mengurangi kepedulian mereka pada isu sosial dan lingkungan. Di setiap album selalu terselip lagu-lagu yang menyuarakan protes dan pemberontakan mereka terhadap keadaan. Simak saja lagu ”Bang Bang Tut” sebagai kritik terhadap perilaku korup atau ”Tonk Kosong” yang biasa digunakan mahasiswa untuk mengkritik perilaku wakil rakyat yang tidak amanah.

Album Slank Mata Hati Reformasi yang diluncurkan bertepatan dengan perayaan HUT Kemerdekaan pada 1998 menjadi bukti nyata kepedulian mereka pada isu sosial politik saat itu. Slank dengan bebas menyuarakan idealismenya karena tidak terikat dengan label rekaman komersial. Demikian pula dengan album Jurus Tandur No. 18 (2010).

Suara Slank tentu saja didengar penggemarnya alias Slankers. Ratusan ribu anak muda dari sejumlah daerah dengan latar belakang etnis, agama, golongan, dan kelas sosial bersatu di bawah ideologi Slankissme: peace, unity, nature, dan love.

”Mungkin ada di 150-an kota, hampir di setiap provinsi. Ada juga di Timor Leste, dengan anggota minimal 500-an di setiap kota. Pokoknya bisa jadi konstituen partai, ha-ha-ha...,” kata Ridho.

”Makanya, kalau deket-deket kampanye (pemilu) banyak partai ngajak ini-itu, kali tahu kami punya massa,” kata Ivanka (Kompas, 13 Februari 2011).

Barangkali itu juga yang membuat Slank tak diberi izin konser sejak ikut main dalam aksi solidaritas untuk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Bundaran Hotel Indonesia (8/11/2009).

Slank baru mendapat izin menggelar konser pada 11 Desember 2010 untuk merayakan ulang tahun ke-27 pada 26 Desember. Konser itu dimajukan karena terlalu dekat dengan perayaan Natal. Namun, hambatan untuk tampil belum berakhir. Terakhir mereka tidak jadi main di pembukaan Liga Primer Indonesia (LPI) di Solo (8/1/2011).

”LPI, kan, udah dikasih izin. Slank enggak usah deh, tapi enggak diusir. Jadi, tamu VIP aja, disuruh duduk manis-manis,” kata Bimbim, panggilan Bimo Setiawan Sidharta, pendiri Slank, pada 1983, ”Nonton bola bareng deh, jéjér sama perwira Polri, ha-ha-ha...,” kata Ivanka.

Sejak awal 2000-an, Slank semakin masuk ke isu-isu gerakan sosial melalui melalui pesan dalam lirik lagu yang menyiratkan sikap antinarkoba, antikorupsi, serta antiperusakan hutan dan lingkungan. Mereka menyerukan perdamaian, solidaritas sosial, saling menghargai, lingkungan dan alam, serta cinta (persaudaraan).

”Kami gali dari Pancasila, terutama tentang keadilan sosial dan ketuhanannya serta Bhinneka Tunggal Ika, seperti peace, love, unity, respect. Kami bahasakan ke bahasa anak muda,” kata Bimbim.

Kompas/Alif Ichwan

Vokalis Slank, Kaka, beraksi di panggung dan mendapat sambutan meriah dari penggemarnya. Slank memeriahkan acara Deklarasi Antikorupsi yang digelar di halaman kantor Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta, Selasa (9/12/2008).

Mereka mengisi acara yang digelar para aktivis. Slank hampir tidak absen main pada penyerahan Penghargaan Yap Thiam Hien untuk Hak Asasi Manusia, setidaknya sejak 2002. Slank berdiskusi dengan para mahasiswa dan aktivis serta menyampaikan keprihatinan mereka di konser-konser Slank. Sebaliknya, kalau Slank bikin jambore, para aktivis datang memberi ceramah.

”Kami committed di empat isu, love, rebel, social, nature,” kata Bimbim. ”Kalau ada yang merusak lingkungan, seperti illegal logging juga korupsi, kami lawan. Kita berdiri di atas semua golongan dan berada di posisi universal. Kemanusiaan, kebaikan. Prinsip hidup kami, happy. Koruptor bikin kita enggak happy. Keributan dan kerusuhan bikin Slank enggak happy.”

Album Slank Jurus Tandur No. 18 bisa dikaitkan dengan gerakan antikorupsi dan pembelaan terhadap mereka yang hak-haknya dilanggar. ”Gayus itu bikin shock dan frustrasi. Kita merasa sedang menyemangati anak muda, kalau yang tua terserah, mau hancur, hancur deh. Eeh... tiba-tiba ada anak muda korupsi kayak begitu. Regenerasi koruptor berjalan mulus. Kita kalah.”

Kompas/Stefanus Osa Triyatna

Ratusan santri Pondok Pesantren Darussalam, Batang, Jawa Tengah, Kamis (14/9/2017) malam, menikmati penampilan konser mini "Silaturahmi: Merajut Kebangsaan" Grup Band Slank. Di latar belakang, fans fanatik yang disebut Slankers menikmati musik sambil mengibarkan bendera identitas masing-masing.

Lagu-lagu berisi kritik sosial itu lahir dari keprihatinan yang dalam. ”Kalau latihan, mungkin lebih separuhnya kami ngobrol. Kami sering banget menertawakan kejadian di sini. Peristiwa Cicak-Buaya, Gayus, kami bicarakan dan kami tertawakan. Soal sepak bola juga. Sebagian yang menyangkut itu kami buat lagunya,” lanjut Bimbim.

Seiring waktu Slank semakin matang dan dewasa. Dengan pengaruhnya yang sedemikian, Slank dengan sadar kini lebih memilih menyebar virus positif kepada masyarakat dan para penggemar fanatiknya. Yang jelas, virus Slank terlalu manis untuk dilupakan….

Kerabat Kerja

Penulis: Sri Rejeki | Fotografer: Yuniadhi Agung, Riza Fathoni, Frans Sartono, Alif Ichwan, Stefanus Osa Triyatna | Videografer: Wawan H Prabowo | Infografik: Novan Nugrahadi | Litbang: Andreas Yoga Prasetyo, Robertus Mahatma Chryshna, Yohanes Advent Krisdamarjati, Rangga Eka Sakti, Debora Laksmi Indraswari, Yoesep Budianto | Penyelaras Bahasa: Adi Wiyanto | Desainer & Pengembang: Elga Yuda Pranata | Produser: Sri Rejeki, Prasetyo Eko Prihananto

Menikmati Tutur Visual?

Baca Juga Tutur Visual Lainnya Yang Mungkin Anda Sukai