Soal Gaya, Bandung adalah Koentji

Karya mode dari Bandung kembali menjadi perbincangan setelah musisi pop asal Amerika Serikat, Billie Eilish, memakai sweter lokal buatan anak ”Kota Kembang”. Desain karya Callista Aldenia (17) berjenama  “dressedlikeparents” (Dressed Like Parents) itu bergambar personel band Green Day.

Jagad media sosial Tanah Air pun bergema riuh dalam kebanggaan. Bertuliskan ”90’s Nightmare” di muka sweater, produk UMKM ini justru menjadi mimpi indah bagi pelaku usaha dalam negeri.

Kisah Callista menjadi episode lanjutan dari nama besar Bandung di Jawa Barat sebagai salah satu pusat mode di Indonesia. Jika ingin membeli barang keluaran jenama internasional, Bandung bukan tempatnya. Di kota ini, buatan tangan dengan jenama sendiri justru yang paling dicari. Kreativitas sangat dihargai.

Tangkapan layar dari akun Instagram Eilishoutfits
Sweter yang dikenakan Billie Eilish, karya desain dari Callista Aldenia (17)

 

Jejak mode di kota ini setidaknya terekam sejak awal abad ke-20. Jalan Braga yang melegenda boleh dibilang jadi episentrumnya. Muncul tahun 1894, Jalan Braga mencuat tahun 1921 atau sekitar 100 tahun lalu menjadi pusat mode Hindia Belanda. Braga menjadi etalase bergaya, tempat nongkrong pengusaha perkebunan teh yang kaya raya. Kala itu, teh Hindia Belanda meraja di dunia.

Kiblatnya juga tidak tanggung-tanggung, Paris di Perancis, yang sejak dulu tersohor soal gaya. Terpaut jarak ribuan kilometer tidak menghalangi busana terbaru dari negeri itu cepat hadir di Bandung. Selama ada uang, kendala itu tidak menjadi masalah.

Akan tetapi, seiring waktu, Bandung tidak hanya menjadi peredaran barang impor. Satu per satu anak Bandung bermunculan di dunia jahit menjahit, rancang merancang, mencuat lewat pelatihan hingga pameran mode.