”Su Trada” Lagi Makan dalam Gelap

Waktu menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Langit mulai gelap. Suara tonggeret bersahut-sahutan. Satu per satu lampu pijar di sebagian rumah di Kampung Waisani, Distrik Windesi, Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua, mulai menyala.

Anak-anak kecil pun masih berlarian saling mengejar. Di satu rumah, ada dua anak yang bermain di atas dipan bambu yang tersorot lampu. Bapak-bapak berkumpul sambil bercakap-cakap.

Tampak pula Elda (34) yang tengah bersiap memasak untuk keluarganya. Menu hari ini papeda, ikan sako asap, dan sayur bening. Seluruh anggota keluarganya sudah bersiap untuk makan malam. Senyum dan tawa terlihat jelas. Sembari menunggu makanan siap, mereka berbincang satu sama lain.

Situasi ini jauh berbeda dari tahun lalu. Setelah matahari terbenam, tidak ada lagi aktivitas warga di kampung tersebut. Jika ingin memasak untuk makan malam, setiap ibu harus sudah bersiap sejak sore hari. Jam delapan malam, rumah warga senyap. Setiap orang sudah terlelap.

”Dulu menderita. Kalau sudah gelap belum masak, berarti tidak ada makan malam. Menderita jika harus memasak hanya dengan pelita (lampu minyak). Apalagi makan dalam gelap,” kata Elda.

Nyala lampu benderang baru bisa dirasakan sebagian masyarakat Kampung Waisani pada awal 2021.

Perasaan serupa juga diungkapkan Pesnalia Marunata (26). Sinar lampu sebenarnya sudah ia rasakan sejak 2015. Saat itu pemerintah daerah setempat memberikan bantuan lampu baterai dengan daya yang bisa diisi dengan aki. Bentuknya seperti lampu darurat pada umumnya.

Namun, jarak penerangan lampu tersebut amat terbatas. Belum lagi jika aki yang dimiliki sudah habis dayanya. Selain harganya yang cukup mahal, yakni sekitar Rp 300.000 per buah, jauh-jauh ia harus pergi ke kota untuk mengisi daya aki tersebut. Paling dekat ia harus ke daerah Biak atau Serui. Tiga sampai lima jam kira-kira waktu tempuh yang dibutuhkan dengan kapal cepat.

Nyala lampu benderang baru bisa dirasakan sebagian masyarakat Kampung Waisani pada awal 2021. Melalui program tanggung jawab sosial perusahaan, Perusahaan Listrik Negara memberikan bantuan Stasiun Pengisian Energi Listrik (SPEL) untuk kampung tersebut bersama dengan 10 kampung lainnya, antara lain Aryobu, Kamung Bareraif, Kaonda, Munggui, Karawi, dan Rosbori.

Manajer PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan Biak Y Soedarmono menyatakan, bantuan SPEL diharapkan bisa menjadi sumber penerangan sementara bagi kampung-kampung tersebut. SPEL ini bersifat darurat sehingga pemanfaatannya terbatas. ”Setidaknya wilayah tersebut tidak lagi gelap gulita,” katanya.

SPEL dibangun dengan memanfaatkan energi sinar matahari yang disalurkan lewat panel surya. Untuk menyalurkan listrik ke setiap rumah, dibutuhkan tabung listrik atau talis yang daya listriknya diisi dari SPEL. Talis inilah yang kemudian disambungkan ke instalasi listrik berupa panel DC house yang berada di setiap rumah. Standarnya, panel ini tersambung dengan tiga buah saklar untuk tiga buah lampu.

Tabung listrik ini dilengkapi berbagai fitur yang bisa dimanfaatkan untuk menyalurkan arus listrik. Namun, semakin banyak energi listrik yang digunakan, daya listrik pada talis akan semakin cepat habis. Umumnya, untuk pemakaian tiga buah lampu pijar, daya talis akan habis setelah penggunaan 48 jam.

Jika digunakan untuk menyalakan televisi, daya talis bisa habis hanya dalam tiga jam penggunaan. Padahal, untuk mengisi talis sampai penuh, dibutuhkan waktu 4-6 jam di SPEL. Apabila cuaca sedang mendung, pengisian daya talis bisa memakan waktu hingga setengah hari.

Setiap SPEL hanya mampu menampung delapan talis untuk sekali pengisian bersamaan. Jika di satu kampung ada 60 warga yang memiliki talis, sementara hanya tersedia tiga SPEL, pengisian pun harus bergantian. Bagi warga yang tidak sempat mengisi, terpaksa harus bermalam dalam gelap atau kembali mengandalkan pelita sebagai penerangan.

 

 

Meski begitu, kehadiran SPEL tetap menjadi sumber kegembiraan bagi warga Waisani. ”Ini berkat untuk kami. Meski belum semua warga kampung bisa merasakan listrik lewat talis, akhirnya setelah berpuluh-puluh tahun menanti, Kampung Waisani bisa menikmati penerangan,” ujar Kepala Kampung Waisani Eneas Matu (61).

Selain menjadi sumber penerangan, kehadiran talis juga membantu meringankan pengeluaran rumah tangga warga Waisani. Ketika masih menggunakan pelita minyak tanah, setiap keluarga harus mengeluarkan sekitar Rp 180.000 per bulan untuk membeli minyak tanah. Setelah talis masuk, biaya tersebut tidak perlu dikeluarkan lagi.

Sebenarnya, talis dapat dimanfaatkan untuk menunjang penggunaan berbagai alat elektronik. Namun, Eneas meminta kepada seluruh warganya menggunakan talis hanya untuk lampu. Selain karena tidak ada jaringan seluler dan televisi yang bisa ditangkap di kampung tersebut, ia memang tidak menyarankan talis digunakan untuk alat elektronik dengan daya yang besar.

”Jangan sampai (talis) rusak. Kalau rusak, kami tidak tahu kapan lagi akan mendapatkannya. Kami tidak mau kembali hidup di tengah gelap gulita,” ucapnya.

KOMPAS/RADITYA HELABUMI
Cahaya lampu yang bersumber dari tabung listrik menerangi rumah salah seorang warga di Kampung Waisani.

Hal ini berbeda dengan warga di Kampung Aryobu. Sebagian warga sudah memanfaatkan talis untuk alat elektronik lain, seperti untuk mengisi daya telepon genggam, laptop, serta pelantang suara. Ketika singgah, Kampung Aryobu memiliki nuansa yang berbeda dengan Kampung Waisani.

Jika di Kampung Waisani tidak ada satu pun rumah yang memiliki televisi, beberapa rumah warga di Kampung Aryobu sudah memiliki televisi lengkap dengan parabola. Maklum, akses Kampung Aryobu ke kota lebih dekat, bahkan sudah bisa menggunakan jalur darat. Jaringan seluler pun ada meskipun harus berjalan ke atas bukit.

Sekretaris Kampung Aryobu, Frengki Paai (36), menuturkan, pemanfaatan alat elektronik yang cukup masif baru terjadi pada awal Januari 2021 ketika Kampung Aryobu memperoleh talis. Sebelumnya, hanya ada satu atau dua warga yang memiliki televisi, yakni warga yang memiliki mesin diesel.

 

 

”Sebelum ada talis, satu-satunya sumber penerangan kami adalah pelita. Jarang orang keluar rumah di malam hari karena jalan sangat gelap. Di rumah pun kegiatan sangat terbatas,” tuturnya.

Alestina (7), putri dari Frengki, menyeletuk, ”Sebelum ada lampu, pedih sekali mata ini kalau harus belajar. Tidak bisa jika berlama-lama belajar.” Itu terjadi karena asap dari pelita mengenai matanya. Serba salah ketika itu. Jika terlalu dekat dengan pelita, mata akan pedih selain napas mudah sesak. Namun, jika terlalu jauh, ia tidak bisa membaca dengan jelas.

Belum optimal

Masuknya listrik di sejumlah daerah di Distrik Windesi sejak setahun terakhir nyatanya tidak serta-merta berdampak pada munculnya kegiatan ekonomi masyarakat, sekalipun itu ekonomi skala kecil. Aktivitas di rumah-rumah penduduk yang sudah tersambung jaringan listrik tidak banyak mengalami perubahan, kecuali bergantinya penerangan dari lampu minyak ke lampu pijar.

Beberapa warga memang sudah mulai menggunakan telepon pintar dan televisi. Namun, pemanfaatannya tidak maksimal. Televisi hanya bisa digunakan seminggu sekali selama satu jam. Daya listrik yang tersedia tidak memungkinkan untuk menghidupkan televisi dalam waktu lama.

Begitu pula dengan telepon genggam. Jaringan internet belum bisa diakses sehingga untuk melihat video ataupun lagu, warga harus pergi ke kota untuk mengunduhnya. Barulah ketika sampai rumah, hasil unduhan bisa ditonton berulang kali.

Namun, keberadaan listrik sejauh ini masih belum dapat menunjang mata pencarian warga. Hampir seluruh warga di Kampung Waisani dan Aryobu bekerja sebagai nelayan dan petani. Listrik seharusnya bisa dimanfaatkan untuk lemari pendingin untuk menyimpan hasil panen atau tangkapan ikan. Dengan daya yang terbatas, hal tersebut menjadi mustahil. Hasil tangkap hari itu harus segera terjual habis.

Namun, keberadaan listrik sejauh ini masih belum dapat menunjang mata pencarian warga.

Kehadiran listrik yang berkelanjutan tetap diharapkan oleh warga di kampung-kampung tersebut. Listrik diharapkan tidak hanya memberikan penerangan, tetapi juga mampu meningkatkan ekonomi masyarakat. Itu pun harus didukung faktor penting lainnya, seperti akses jalan, internet, juga pendidikan untuk masyarakat.

Kerabat Kerja

Penulis: Deonisia Arlinta | Fotografer: Raditya Helabumi | Penyelaras bahasa: Didik Durianto | Infografik: Hans Kristian | Kover: Ismawadi | Produser: Prasetyo Eko Prihananto, Sri Rejeki | Desainer & Pengembang: Ria Chandra, Charlie Aditya Sebastian, Farida Wiryandani, Frans Yakobus Suryapradipta, Yosef Yudha Wijaya, Christian Teguh, Azkiya Hanna Rofifah, Hanasya Shabrina, Rino Dwi Cahyo, Deny Ramanda Liu

Suka dengan tulisan yang Anda baca?

Nikmati tulisan lainnya dalam rubrik Tutur Visual di bawah ini.