Sukses Liverpool, “The Eye” dan Otak Pengganti “The Brain”

Masih tersisa beberapa pertandingan lagi di Liga Inggris 2019/2020 namun Liverpool telah memastikan menjadi juara. Sakit dan beban sejarah 30 tahun itu telah terangkat dari pundak “The Reds”. Ibarat mendaki gunung, Liverpool sudah mencapai puncaknya.

Namun, perjalanan menjadi juara tidaklah mudah. Selama 30 tahun mereka banyak melewati rintangan dan rasa sakit. Liverpool beberapa kali nyaris juara, gagal karena insiden yang menyakitkan, seperti terpelesetnya Steven Gerrard pada musim 2013/2014.

Tak sedikit pula ketika musim Liga Inggris baru memasuki beberapa pertandingan, mereka sudah harus menyatakan, barangkali “musim depan milik kita”, karena hasil yang buruk langsung mengubur impian. Bahkan, The Reds pernah nyaris bangkrut di bawah kepemilikan George Gillett dan Tom Hicks, sebelum diselamatkan oleh John W Henry dengan Fenway Sports Group-nya.

Kedatangan Juergen Klopp pada 2015, menjadi harapan baru untuk membangkitkan raksasa tidur ini. Maka itu, ketika musim 2019/2020 gelar Liga Inggris akhirnya kembali ke Anfield, Klopp sudah selayaknya menjadi wajah kesuksesan Liverpool, selain para pemain yang berjibaku di lapangan. Dia pantas mendapat pujian tertinggi dan berhak menyandang status legenda.

Namun, di balik kesuksesan itu, Klopp mengakui ada orang-orang yang bekerja di balik layar, yang wajahnya jarang terlihat dan namanya jarang disebut. Sering kali “hal-hal kecil” dari orang-orang di belakang layar terabaikan, dan Klopp berjanji tidak membiarkan hal itu terjadi. “Saya tidak yakin itu hal-hal kecil. Mereka memang tidak terlihat publik. Tapi (peran) mereka masif,” kata Klopp.

AFP/Paul ELLIS
Pendukung Liverpool merayakan gelar Liga Inggris pertama setelah 30 tahun, di luar Stadion Anfield, Liverpool, Inggris, 25 Juni 2020.

Dalam berbagai kesempatan, Klopp menyatakan begitu pentingnya jasa orang-orang itu terhadap kesuksesannya. Klopp menyebut, ia tidak perlu ahli di semua hal. Ia hanya perlu mengelilingi dirinya dengan orang-orang hebat yang masing-masing memiliki keunggulan spesifik.

Kapten Liverpool, Jordan Henderson, pun tak ketinggalan mengakui peran orang-orang di balik layar. “Pemilik, yang kami sangat beruntung memilikinya. Orang-orang di belakang layar. Staf tim utama. Fisioterapis. Para wanita di kantin. Orang-orang seperti Mona (Nemmer), Andreas (Kornmayer), dalam nutrisi dan kebugaran,” kata Henderson, seperti dikutip The Guardian.

Dalam sejarahnya, peran orang-orang di belakang layar sangat penting ketika masa keemasan Liverpool di era 1970-80-an, dengan tradisi Boot Room-nya. Di situlah konon seringkali strategi diracik oleh manajer Liverpool dan asisten-asistennya. Ruangan ini dihancurkan demi ruang pers yang lebih besar, tiga tahun setelah Liverpool menjadi raja Inggris pada 1990.

Kini pun, Liverpool memiliki tim pendukung tim utama, yang perannya sangat penting dalam mengantarkan tim ini mengakhiri paceklik gelar selama 30 tahun. Berikut ini beberapa di antaranya:

Peter “The Eye” Krawiecj

Peter Krawietz mengikuti Klopp ke Liverpool pada Oktober 2015, sebagai asisten manajer. Keduanya bertemu saat masih di Mainz 05.

Krawietz memulai kariernya di sepak bola sebagai analis video, selain keahlian dalam mengamati dan menganalisis taktik musuh. Klopp yang waktu itu bermain untuk Mainz terkesan dengannya. Saat Klopp menjadi pelatih Mainz pada 2001, ia mempromosikan Krawietz sebagai chief scout.

Keahlian Krawietz sebagai penganalisis taktik lawan bahkan membuatnya mendapatkan julukan “The Eye” dari Klopp. Klopp pun membawanya ke Borussia Dortmund dan kemudian Liverpool.

Laman resmi Liverpool menyebut, meskipun tidak pernah bermain sepak bola secara profesional, Krawiecj adalah sosok yang menonjol di Borussia Dortmund selama era Klopp. Di Liverpool, ia menjadi asisten manajer, dan menjadi asisten terlama setelah Klopp berpisah dengan Zeljko Buvac pada 2018.

REUTERS/Paul Childs/Pool
Asisten manajer Liverpool, Peter Krawiecj (ketiga kiri), saat mendampingi Juergen Klopp pada laga lanjutan Liga Inggris Liverpool melawan Brighton & Hove Albion di Brighton, Inggris, 8 Juli 2020.

Di Liverpool, ia tetap bertanggung jawab untuk “memata-matai” lawan dan analisis video. Krawietz juga berperan besar atas peningkatan kemampuan permainan Liverpool dari set piece mulai musim 2018/2019.

Sosok berusia 43 tahun ini juga dikenal sebagai pelatih yang sangat inovatif. “Bahkan sekarang saya masih kagum pada hal-hal yang ia lihat selama pertandingan,” kata Klopp kepada The Guardian. “Dia selalu penting bagi saya tetapi perkembangannya sejak tiba di Liverpool sangat luar biasa. Dia sangat cerdas, sangat berwawasan, dan sangat penting bagi kami.”

Pep Lindjers

Banyak orang meramalkan bahwa Klopp akan jatuh setelah kepergian asisten setianya, Zeljko Buvac, yang dijuluki “The Brain”. Ia mendapat julukan itu karena kepandaiannya meracik strategi dan disebut menjadi salah satu alasan kenapa Klopp begitu sukses bersamanya.

Namun, ramalan itu terpatahkan dengan kehadiran Pep Lindjers, yang menjadi “otak” pengganti “The Brain”. Sebelum menjadi asisten Klopp di tim utama, Pepijn Lijnders, menghabiskan waktu sebagai pelatih tim yunior Liverpool. Setelah sempat ke Belanda, ia kembali ke Anfield pada musim panas 2018 sebagai pelatih tim utama, menggantikan peran Buvac.

Menurut laman Liverpool, pelatih asal Belanda ini awalnya menjadi pelatih tim U16 di Akademi Liverpool selama satu musim sebelum mengambil posisi yang baru sebagai pelatih pengembangan tim utama pada tahun 2015.

Sebagai jembatan penting antara pembinaan pemain yunior di Kirkby dan pemain senior di Melwood, perannya kian besar saat Klopp ditunjuk sebagai manajer. Sebelum ke Liverpool, Lijnders mengasah keahliannya di PSV Eindhoven selama lima musim sebelum tujuh tahun di FC Porto, Portugal.

AFP/PAUL CHILDS/POOL
Manajer Liverpool Jurgen Klopp (kedua kiri) didampingi asistennya Pepijn Lijnders (belakang Klopp), berbicara kepada Mohamed Salah saat laga melawan Brighton and Hove Albion, 8 Juli 2020.

Lijnders berperan besar dalam pengembangan pemain muda seperti bek kanan Trent Alexander-Arnold. Pelatih berusia 37 tahun ini sempat pergi dari Liverpool sebagai manajer klub Belanda, NEC Nijmegen, pada Januari 2018, sebelum ditarik kembali oleh Klopp menjelang musim 2018/2019.

Andreas Kornmayer

Kontribusi kepala kebugaran dan pengkondisian, Andreas Kornmayer sering disoroti oleh Klopp. Apalagi, gaya sepak bola gegenpressing, counterpressing, membutuhkan stamina tinggi karena pemain harus menekan pemain lawan nyaris sepanjang laga. Sehingga, peran pelatih kebugaran seperti Kornmayer pun menjadi sangat vital.

“Jika Korny (Kornmayer) tidak akan melakukan pekerjaan yang dia lakukan, maka para pemain akan kembali dan mereka semua akan kelebihan berat badan lima kilogram lebih,” kata Klopp mengenai pentingnya peran Kornmayer, terutama saat Liga Inggris dihentikan sementara karena pandemi Covid-19

Andreas Kornmayer dibajak oleh Liverpool dari klub raksasa Jerman, Bayern Muenchen. Ia bergabung dengan Liverpool pada Juli 2016 sebagai kepala kebugaran dan pengkondisian, setelah 15 tahun di Bavaria.

Di Bayern, ia menjadi pelatih kebugaran di bawah pelatih-pelatih legendaris Louis van Gaal, Jupp Heynckes, dan Pep Guardiola. Dikutip dari laman Liverpool, Klopp begitu kagum dengan Kornmayer, terutama dalam perannya saat Bayern meraih treble musim 2012/2013, saat mereka mengalahkan klub asuhan Klopp, Borussia Dortmund, di Bundesliga dan final Liga Champions.

PA via AP/Martin Rickett
Andreas Kormayer (kanan), pelatih kebugaran Liverpool mengawasi para pemain Liverpool saat latihan di Melwood, Liverpool, 30 April 2019.

Perjalanan Kornmayer di sepak bola dimulai di Universitas Muenchen ketika ia memulai kursus dalam ilmu olahraga setelah belajar kedokteran. Ia mulai bekerja untuk Bayern dengan tugas ‘diagnosis bakat’ pada level U12 –U15, membangun profil pada kemampuan setiap pemain muda melalui serangkaian sprint, jumping, koordinasi, reaksi, dan tes kesehatan.

Pada 2010, Van Gaal yang terkesan dengan sistem dan struktur yang ia terapkan pada pemain yunior, merekrutnya masuk ke tim utama, yang berlanjut hingga era Heynckes dan Guardiola sebelum Liverpool datang memanggil. “Liverpool adalah klub besar dan hebat dengan banyak tradisi,” kata Kornmayer di laman Liverpool. “Pada pengalaman pertama saya di Liverpool, ketika saya tiba di sini, saya benar-benar bisa merasakan sejarah”.

Kornmayer bekerja bersama Klopp, Peter Krawietz, Pepijn Lijnders, dan John Achterberg (pelatih kiper) dalam mempersiapkan dan melatih tim, memastikan mereka fit dan siap untuk hari pertandingan.

Mona Nemmer

Klopp tahu bahwa Bayern, sebagai klub terbesar Jerman, berisi talenta-talenta khusus. Bukan hanya para pemainnnya, tetapi juga orang-orang di sekitar tim.

Maka, setelah membajak Kornmayer, Klopp pun menarik pula Mona Nemmer, untuk menjabat sebagai kepala nutrisi di Liverpool pada Juli 2016. Ia menjadi ahli gizi selama tiga tahun di Bayern, yang direkrut tak lama setelah Pep Guardiola mengambil alih Allianz Arena.

Action Images via Reuters/Carl Recine
Mohamed Salah (tengah), berlatih bersama pemain Liverpool lainnya di Melwood, Liverpool, 10 Maret 2020. Ahli nutrisi Mona Nemmer bertanggung jawab atas asupan gizi pemain Liverpool, jelang, saat, maupun setelah laga.

Mona pindah ke Bayern setelah menjadi koki dan ahli gizi untuk tim nasional U21 Jerman selama empat tahun. Klopp menyadari pentingnya nutrisi bagi pemainnya sehingga bisa tetap fit menjalani gaya permainan yang ia terapkan.

Tak heran, ia begitu memuja hasil kerja dari Nemmer. “Jika kami tidak punya Mona (Nemmer) saat lockdown, saya yakin mayoritas pemain kami akan mati kelaparan,” kata Klopp soal peran Nemmer, terutama saat Liga Inggris sementara dihentikan karena pandemi Covid-19.

“Di Melwood saya mengurus para koki, proyek, kualitas produk apa yang kita beli, komponen mana yang dapat kita masukkan pada menu, tergantung pada apakah itu satu hari jelang laga, saat laga, atau yang bisa disajikan di bus setelah pertandingan, lalu tentang kapan akan dimakan dan apa yang akan menjadi makanan terakhir sebelum pertandingan,” jelas Nemmer dikutip dari laman resmi Liverpool.

Bagian dari peran Nemmer mencakup konsultasi tatap muka dengan para pemain. Tak hanya itu, ia juga menawarkan pelajaran memasak untuk memastikan pemain tetap mendapatkan asupan dengan standar tertinggi saat jauh dari kompleks latihan.

“Beberapa pemain suka memasak sendiri, beberapa suka mengambil tas berisi makanan, tapi di sini kami bereaksi secara individual. Jika pemain menginginkan pelajaran memasak, atau istri atau pacar mereka, kami siap membantu mereka dengan apa pun yang mereka butuhkan.”

“Sepak bola adalah olahraga yang sulit karena di satu sisi ini tentang ketahanan, tetapi di sisi lain itu adalah kekuatan. Jadi saya selalu berusaha memperbarui pengetahuan saya dan terhubung dengan universitas untuk berada di level terbaru.”

AFP/Oli SCARFF
Pendukung Liverpool merayakan gelar Liga Inggris di luar Stadion Anfield, Liverpool, 25 Juni 2020. Keberhasilan Juergen Klopp mengakhiri paceklik gelar “The Reds” didukung pula oleh tim yang solid.

Nama-nama di atas hanyalah beberapa dari sekian banyak anggota tim pendukung tim utama Liverpool. Di laman resminya, Liverpool mencantumkan 21 anggota staf Klopp, tidak termasuk staf paruh waktu misalnya pelatih spesialis lemparan ke dalam, Thomas Grønnemark, para pemandu bakat, ilmuwan data, dan tim rekrutmen yang diketuai oleh Michael Edwards.

Di olahraga profesional kelas elite, detail kecil atau keunggulan kecil saja akan sangat menentukan. Semua tim berusaha mencarinya, termasuk Liverpool yang mendatangkan Grønnemark untuk melatih lemparan bebas. Banyak yang mencibirnya, namun ternyata ia menjadi salah satu alasan kenapa permainan set piece Liverpool begitu mematikan.

Kemudian ada pula Michael Edward, yang menjabat sebagai Direktur Olahraga Liverpool, berperan besar dengan kedatangan pemain-pemain yang menjadi kunci sukses Liverpool seperti Sadio Mane, Mohamed Salah, Andrew Robertson, Fabinho, Virgil van Dijk, dan Alisson. Kerja tim itu membuat Liverpool kini berada di puncak.

Kerabat Kerja

Penulis: Prasetyo Eko P | Infografik: Luhur A | Olah Kover: Tiurma Clara Jessica | Foto Kover: AFP/Oli Scarff | Produser: Prasetyo Eko P | Desainer & Pengembang: Ria Chandra, Rino Dwi Cahyo, Frans Yakobus Suryapradipta, Yosef Yudha Wijaya

Suka dengan tulisan yang Anda baca?

Nikmati tulisan lainnya dalam rubrik Tutur Visual di bawah ini.