Simalakama Tambang Minyak Ilegal

Kalau saja sumur di belakang rumah Legiono tidak menyemburkan minyak, kondisi hutan, danau, sungai, dan air sumur warga di Bajubang, Jambi, masih akan terjaga. Jatuhnya harga karet mendorong warga beralih menambang minyak secara ilegal.

Jangan bayangkan Danau Merah seindah Laut Merah di Mesir ataupun Pulau Merah di Banyuwangi. Danau yang dikelilingi hutan Senami di wilayah Bajubang, Kabupaten Batanghari, Jambi, itu bukanlah magnet wisata, melainkan sumber petaka. Bahkan, butuh waktu untuk memulihkannya seperti semula.

Dulu, Danau Merah menjadi sandaran hidup masyarakat Desa Pompa Air dan Bungku. Dari situlah kebutuhan air bersih masyarakat terpenuhi. Siapa menyangka, jernihnya air lenyap dalam sekejap. Permukaan danau alami itu berganti lautan minyak.

Pengeboran sumur-sumur minyak disana berlangsung tanpa standar keselamatan dan keamanan memadai. Minyak pun menyembur ke permukaan tanah dan menggenangi hamparan di sekitarnya, termasuk mencemari danau itu serta sejumlah hulu sungai. Semenjak itulah sejumlah jenis penyakit mulai merebak.

Sejak air danau berlemak dengan warna coklat pekat kemerahan, Sari tak berani lagi mandi ataupun mengambil airnya untuk memasak. ”Kalau sudah tercemar begini, mana ada warga berani mandi, apalagi minum air dari situ,” kata warga yang tinggal di sekitar danau itu.

kompas/irma tambunan
Warga mengumpulkan sisa minyak hasil tambang ilegal di wilayah kerja pertambangan PT Pertamina (Persero) di kawasan Taman Hutan Raya Sultan Thaha Syaifuddin, Kecamatan Bajubang, Kabupaten Batanghari, Jambi, Selasa (26/3/2019).

Ia pun terpaksa membeli air bersih dari luar desa. Setiap tabung air berkapasitas 1.000 liter harganya Rp 200.000. Dalam sepekan, dua tabung habis terpakai di rumahnya. Itu berarti, Sari harus mengeluarkan Rp 1,5 juta per bulan untuk memenuhi kebutuhan air bersih.

Warga lainnya, Rahayu (40), juga menyesali kondisi danau saat ini. Putranya terkena penyakit kulit setelah beberapa kali bermain di Danau Merah. Ruam pada sekujur tubuh anaknya tampak meradang.

Elfi Yenni, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Batanghari, yang sempat memeriksa penyakit itu menyebut, kulit anak Rahayu terinfeksi alias terkena dermatitis kontak. Penyakit itu terkait erat paparan minyak bumi pada kulit.

kompas/irma tambunan
Petugas Dinas Kesehatan Kabupaten Batanghari mengecek tingkat kebisingan dan kandungan gas pada udara di lokasi tambang minyak ilegal di kawasan Taman Hutan Raya Sultan Thaha Syaifuddin, Jambi, Selasa (26/3/2019).

Semenjak aktivitas tambang minyak ilegal di wilayah Bajubang meluas, Elfi memperhatikan kesehatan masyarakat sekitar mulai terdampak.

Selain infeksi kulit, muncul pula infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Awalnya, kedua penyakit itu merebak di Desa Pompa Air yang merupakan pusat aktivitas tambang minyak liar. Belakangan, dampaknya merambah ke Desa Bungku dan Desa Mekarsari yang menjadi perluasan lokasi tambang ilegal.

Kasus yang sama merebak bukan hanya di lokasi tambang, melainkan juga di area penyulingan hasil minyak yang marak di Desa Batin dan Desa Petajen. Desa-desa ini menjadi jalur transportasi dan tempat pengolahan minyak (ilegal),” kata Elfi.

 

Data yang terekam di Puskesmas Pembantu Desa Pompa Air, kedua penyakit mulai merebak 2018 tak lama setelah masifnya aktivitas tambang minyak ilegal. Pada 2017, kasus ISPA hanya 215 kasus. Namun, pada 2018 naik tiga kali lipat menjadi 635 kasus. Januari hingga Oktober tahun ini, tercatat sudah ada 507 kasus.

Kondisi serupa terjadi pada kasus dermatitis kontak. Tahun 2017, terdata 110 kasus yang kemudian naik menjadi 177 kasus pada 2018. Januari hingga Oktober tahun ini, tercatat 133 kasus.

Bahkan catatan di Puskesmas Penerokan yang melayani pasien di desa-desa sekitar lokasi tambang dan pengolahan, jumlah penderita ISPA sepanjang Januari hingga Oktober 2019 sudah mencapai 2.159 orang. Sedangkan, penderita dermatitis kontak terdata 426 orang.

 

Mengadu untung

Kisah tentang kekayaan minyak bumi Bajubang berawal dari pengeboran air sumur di belakang rumah seorang petani karet di Desa Pompa Air tahun 2017. Petani itu, Legiono (54), semula bermaksud membangun sumur air, tetapi yang menyembur malah minyak. Kabar temuan minyak di belakang rumah Legiono dengan cepat menyebar.

Berbondong-bondong orang datang demi mengadu untung mencari minyak bumi. Mesin bor terus menderu di desa. Tak hanya di sekitar permukiman, pembukaan sumur bahkan menyebar ke dalam Taman Hutan Raya Sultan Thaha Syaifuddin alias Tahura Senami.

Sejak dua tahun terakhir, lebih dari 8.000 warga pendatang mengeruk hasil tambang minyak. Sebanyak 2.300 titik lebih sumur telah dibor di wilayah itu. Paling sedikit 4.000 barel minyak hilang per harinya lewat modus pengeboran minyak ilegal tersebut.

kompas/irma tambunan
Lalu lintas kendaraan pengangkut hasil tambang ilegal yang begitu padat, Senin (25/3/2019).

Masifnya aktivitas itu menggelembungkan perputaran uang. Oleh karena berjalan ilegal, marak pula pungutan-pungutan liar. Sejak enam bulan lalu, Kompas mendapati lalu lintas kendaraan pengangkut hasil tambang ilegal begitu padat. Wilayah itu tampak seperti kota di tengah hutan.

Lebih dari 1.400 truk dan pikap melintasi jalan keluar dari tahura. Bagian belakang kendaraan berisi minyak hasil tambang liar. Agar leluasa melintasi pos-pos penjagaan yang dibangun liar, para sopir menyetorkan sejumlah uang.

Jika dihitung, nilai pungutan liar yang mengucur dari transportasi minyak ilegal itu mencapai lebih dari Rp 100 juta per hari. Itu baru dari pengangkutan minyak. Total, potensi hilangnya pendapatan negara dari pencurian minyak mentah per hari paling sedikit Rp 3 miliar.

kompas/irma tambunan
Tampak truk dan angkutan siap penampung hasil tambang minyak ilegal, dalam pantauan udara Kompas bersama tim Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sabtu (2/11/2019).

Dari aktivitas berjalan dua tahun terakhir, pendapatan negara yang hilang terhitung lebih dari Rp 2 triliun. Angka itu jauh melampaui pendapatan resmi daerah Kabupaten Batanghari tahun 2019 yang nilainya Rp 1,39 triliun.

Besarnya uang yang mengalir inilah yang memicu aktivitas tambang liar di sana,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Batanghari Parlaungan.

Praktik tambang liar berdampak menghambat investasi. Rencana pembukaan sumur-sumur baru yang dikelola Pertamina tak bisa berjalan karena telanjur digerogoti petambang liar.

kompas/irma tambunan
Tambang liar minyak bermunculan di kawasan taman hutan raya Sultan Thaha Syaifuddin, Kabupaten Batanghari sejak 2 tahun terakhir, seperti terlihat Senin (25/3/2019).

Pertamina EP Asset 1 Government and PR Assistant Manager, Andrew, mengatakan, dari target membuka tujuh sumur sepanjang 2018-2019, pembebasan tanah baru dapat dilakukan di dua titik sumur.

”Pada lokasi lima titik sumur lainnya sulit dilakukan karena sudah digerogoti aktivitas petambang liar,” katanya.

Begitu pula produksi sumur-sumur minyak mentah Pertamina yang dikelola PT Prakarsa Betung Meruo Senami Jambi (PBMSJ) menurun drastis. ”Sebelumnya, produksi minyak mentah mencapai 1.150 barel, kini hanya 850 barel,” kata Head of Safety and Security Environment PBMSJ Andri.

kompas/irma tambunan
Sumur-sumur tambang minyak ilegal yang muncul secara masif di dalam taman hutan raya Sultan Thaha Syaifudin atau Tahura Senami di Kabupaten Batanghari, Jambi, Sabtu (2/11/2019).

Kerusakan lingkungan

Kerugian paling besar sebenarnya dialami masyarakat setempat berupa kerusakan lingkungan dan dampak buruk pada kesehatan. Merebaknya kasus penyakit di Bajubang merupakan akibat pencemaran karena aktivitas tambang minyak ilegal.

Hasil uji laboratorium Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jambi atas sampel air Danau Merah pada April 2019 menunjukkan indikator kerusakan lingkungan. Tingkat kekeruhan dan kepekatan air danau melampaui ambang batas toleransi.

Kadar minyak dan lemak bahkan 10.824 mg/l, melebihi ambang batas sebesar 1 mg/l. Sementara kadar hidrogen sulfida 0,800 mg/l atau jauh melampaui ambang batas 0,02.

Berlebihnya kadar gas beracun itu akan mengganggu kesehatan manusia, seperti pusing, mual, munculnya gangguan penciuman dan penglihatan, hingga hilangnya kesadaran. Dalam kadar berbahaya, gas itu juga dapat memicu kebakaran.

Petugas DLH juga memeriksa sejumlah perempuan pekerja tambang. Mereka mengeluh sakit pada kaki dan pinggang, selain mengeluh pusing, mual, terasa panas, kering, dan gatal pada kulit yang terpapar minyak. Dari hasil pemeriksaan fisik juga ditemukan penyakit kulit dan penebalan pada telapak tangan.

Rasa pusing dan mual dapat disebabkan oleh zat-zat kimia yang terkandung dalam minyak mentah yang menguap ke udara. Rasa panas, kering, gatal, dan penyakit kulit disebabkan oleh paparan langsung dengan minyak mentah saat bekerja.

Para perempuan pekerja tambang mengeluh sakit pada kaki, pinggang serta pusing, mual, rasa panas, kering, dan gatal pada kulit yang terpapar minyak, Senin (25/3/2019).

Sedangkan penebalan pada telapak tangan terjadi akibat proses kerja memindahkan minyak ke ember dengan memerah minyak menggunakan handuk atau kain.

Proses kerja tanpa alat pelindung diri dapat menimbulkan berbagai penyakit, seperti cedera sendi atau repetitive strain injury, nyeri punggung bawah (low back pain), kanker, penyakit kulit, ataupun infeksi saluran pernapasan.

Indikator kerusakan lingkungan tak hanya didapati pada lingkungan Danau Merah, tetapi juga Sungai Berangan Hulu, Sungai Berangan Hilir, serta air sumur warga. Laporan penelitian DLH menyebutkan, sebelum adanya aktivitas tambang minyak, air yang bersumber dari sumur warga tidak berbau, tidak berasa, dan tidak berwarna.

kompas/irma tambunan
Salah satu anak sungai tercemar parah akibat aktivitas tambang minyak ilegal, seperti tampak dalam pantauan udara Kompas bersama tim Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sabtu (2/11/2019).

Sejak masifnya tambang, air sumur warga menjadi berbusa, berwarna hitam, dan berbau. Kondisi itu tak memenuhi standar air sehat dan standar pemenuhan kebutuhan pokok air minum sehari-hari seperti minum, masak, mandi, cuci, peturasan, dan ibadah sebagaimana diatur oleh Peraturan Pemerintah Nomor 122 Tahun 2015 tentang Sistem Penyediaan Air Minum.

Demi memulihkan kembali ekosistem yang rusak itulah, tim gabungan aparat penegak hukum di Jambi diterjunkan ke lokasi. Sejak 26 November lalu, Kepala Kepolisian Daerah Jambi Inspektur Jenderal Muchlis telah mengirim tim gabungan.

Mereka ditugaskan membawa petambang liar keluar dari lokasi tambang liar. Jumlahnya mencapai 170 personel. Selain itu, dibentuk pula tim gabungan di tingkat kabupaten untuk membantu. Operasi dilaksanakan hingga pertengahan Desember.

kompas/irma tambunan
Tim gabungan aparat merobohkan alat pengeboran di lokasi tambang minyak ilegal di taman hutan raya Sultan Thaha Syaifuddin, Jambi, Selasa (12/11/2019).

Muchlis menargetkan paling lambat 15 Desember seluruh petambang liar sudah harus meninggalkan lokasi. Operasi ini diklaim telah berhasil menutup 1.300 sumur ilegal. ”Siapa pun yang punya kepentingan (atas minyak ilegal), silakan minggir,” ujarnya.

Meski demikian, hingga pekan lalu sebagian petambang liar masih bertahan. Sobirin, salah seorang petambang liar, menyebut sudah belasan kali operasi dilakukan dalam setahun terakhir. Petambang juga diminta keluar. Tetapi, setelah petugas pergi, para petambang masuk lagi.

Kali ini Sobirin pun menunggu apakah petugas benar-benar serius. Kalau masih ada kemungkinan, tentu kami akan terus bertahan di sini. Ini, kan, untuk urusan perut,” katanya.

kompas/irma tambunan
Penampungan sisa tambang minyak ilegal, Selasa (26/3/2019). Tambang liar nyaris tak terkendali, karenanya penegakan hukum dan kebijakan terpadu mendesak diambil.

Salah seorang pengelola tambang liar dalam tahura, Untung, menuntut aparat jangan tebang pilih dalam menindak. Jika memang mau menutup, agar diberlakukan untuk seluruhnya.

Untung mengaku selama ini mengelola pengamanan 50-an sumur ilegal di sana. Ia sering didatangi petugas yang bermaksud menutup sumurnya. Yang ia sesalkan, petugas membiarkan sumur minyak di tempat lain beroperasi. Karena kecewa diperlakukan tak adil, ia pun nekat menyuruh orang membuka kembali sumur yang ditutup.

Menurut Untung, para petambang sebenarnya mau menerima jika aparat serius. Asalkan, penutupan dilakukan secara menyeluruh. Selain itu, pemerintah juga perlu menyediakan solusi ekonomi bagi para pekerja jika seluruh sumur telah ditutup.

Warga setempat, Amri, meminta pemerintah agar jangan hanya menindak para petambang. Melainkan, yang lebih penting adalah memberikan solusi ekonomi bagi mereka. Bisa dibayangkan bagaimana karut-marutnya situasi jika ribuan pekerja distop tanpa solusi. Kondisi itu hanya akan memicu kriminalitas.

START: PAYWALL
END: PAYWALL

Kerabat Kerja

Penulis: Irma Tambunan | Fotografer : Irma Tambunan | Infografis: Pandu Lazuardy, Arjendro | Pengolah foto: Toto Sihono | Litbang : Rangga Eka Sakti | Penyelaras bahasa: Galih Rudanto | Produser : Sri Rejeki | Desainer & Pengembang: Ria Chandra, Rino Dwi Cahyo, Frans Yakobus Suryapradipta, Yosef Yudha Wijaya

Suka dengan tulisan yang Anda baca?

Nikmati tulisan lainnya dalam rubrik Tutur Visual di bawah ini.