Virus-virus yang Menggemparkan Dunia

Pada milenium ketiga ini, berbagai virus menghebohkan masyarakat karena persebaran dan akibat kematian yang dibuatnya. Beberapa virus yang  menggemparkan dunia antara lain korona jenis baru, flu burung, MERS, zika, ebola, lujo, dengue, rabies, cacar, herpes, dan HIV.

Virus memang berukuran kecil, bahkan jauh lebih kecil daripada bakteri. Namun, kemampuannya menggandakan diri dengan cepat, selain mampu berpindah dari satu organisme ke organisme lain, membuatnya mampu menggemparkan dunia dengan penyakit yang dimunculkan.

Perpindahan virus dari satu organisme ke organisme lain, termasuk perpindahan antarmanusia, dapat terjadi dengan berbagai cara, antara lain sentuhan, batuk, bersin, pertukaran cairan, kontak seksual, kontaminasi air dan makanan, juga melalui perantaraan serangga.

kompas/bahana patria gupta
Seorang bocah mendapatkan imunisasi polio di Posyandu Balai RW XI, Kecamatan Wonokromo, Surabaya, Selasa (18/10/2011).

Saat berhasil menginfeksi organisme, virus segera menggandakan diri menggunakan sel yang diinfeksi. Kebanyakan kemudian menyebabkan penyakit, bahkan beberapa bisa menyebabkan kematian.

Begitu kecilnya virus, saking kecilnya, ukuran satu virus (polio) dapat dibayangkan setara dengan satu butir garam dibagi 10.000. Tidak mengherankan, virus dengan ukuran yang sangat kecil baru berhasil teridentifikasi  sebagai penyebab suatu penyakit pada tahun 1892. Virus (dari bahasa Latin) sebagai istilah baru digunakan pada 1898 yang berarti cairan yang beracun.

Dengan kemampuan tersebut, sejarah manusia mencatat berbagai ulah virus yang menggemparkan dunia dengan penyakit yang ditimbulkan.

AFP PHOTO /CENTERS FOR DISEASE CONTROL AND PREVENTION/ALISSA ECKERT/HANDOUT
Gambar ilustrasi morfologi struktur ultra yang diperlihatkan oleh virus-virus korona. Virus korona tipe baru diidentifikasi sebagai penyebab wabah di Wuhan, China.

Korona tipe baru

Virus korona jenis baru (2019-nCoV) merupakan virus yang saat ini tengah menggentarkan dunia, terutama karena persebarannya yang begitu cepat dan belum ditemukannya vaksinasi bagi virus tersebut. Virus ini dilaporkan pertama kali di Wuhan, China, pada 31 Desember 2019.

Laporan gisanddata.maps.arcgis by Johns Hopkins per 9 Februari 2020 menunjukkan, terdapat 25 negara di luar China yang terkonfirmasi paparan virus tersebut. Di China sendiri terdapat 37.232 orang yang terkonfirmasi terpapar virus tersebut dengan 814 kematian. Di luar China, terdapat 360 orang yang terkonfirmasi terpapar virus tersebut dengan satu kematian di Filipina.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, penyebaran virus ini sebagai kejadian luar biasa (outbreak). Oleh karena itu, setiap negara menyiapkan langkah antisipasi agar tidak terpapar virus tersebut, termasuk Indonesia.

 

Pemerintah Indonesia menyiapkan lokasi karantina bagi warga negara Indonesia (WNI) yang dievakuasi dari Wuhan. Sesuai prosedur kesehatan, sepulangnya dari China, para WNI harus dikarantina setidaknya selama 28 hari.

Selain itu, semua rumah sakit milik TNI disiapkan untuk tempat karantina dan rujukan pengobatan virus korona tipe baru ini. Kesiapan ini didukung oleh satuan kesehatan lapangan dan personel kesehatan TNI dari seluruh Indonesia.

Beberapa ruang isolasi rumah sakit di Jakarta juga dijadikan rujukan, seperti RS Sulianti Saroso, RSPAD Gatot Subroto, dan RS Persahabatan. Dalam penanganan virus korona, ruang isolasi dibutuhkan guna menjalankan perawatan secara khusus.

kompas/priyombodo
Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, Jakarta Utara, menyiapkan ruang isolasi bagi pasien terduga terinfeksi virus korona tipe baru, Selasa (28/1/2020). Sedikitnya 100 rumah sakit rujukan disiagakan untuk mengantisipasi penularan infeksi virus ini.

Selain itu, dilakukan upaya antisipatif lainnya untuk menangkal persebaran virus korona. Sejumlah bandara Indonesia mengaktifkan alat pendeteksi suhu tubuh (thermo scanner) di area terminal kedatangan internasional, seperti Bandara Soekarno-Hatta Tamgerang, Bandara Husein Sastranegara Bandung, Lombok International Airport (LIA), Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali, dan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar.

Langkah memasang alat pendeteksi suhu tubuh ini dilakukan sesuai dengan prosedur yang diamanatkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan, bahwa setiap pesawat luar negeri harus diawasi. Selain itu, penumpang yang masuk ke bandara harus melalui tahapan pendeteksi tubuh dan dilakukan karantina.

Flu burung

Infeksi flu burung pada manusia pertama kali ditemukan di Hong Kong pada tahun 1997 dengan jumlah kasus 18 orang, enam di antaranya meninggal. Temuan infeksi pada manusia selanjutnya dilaporkan di China, Vietnam, Thailand, Kamboja, dan Indonesia.

kompas/p raditya mahendra yasa
Peternak memberi makan itik di Kelurahan Pesurungan Lor, Kecamatan Margadana, Kota Tegal, Jawa Tengah, Jumat (4/1/2013). Saat itu, dalam satu bulan terakhir di Kabupaten Tegal dan Brebes, terjadi kematian itik hingga ribuan ekor yang disebabkan flu burung.

Flu burung ditularkan melalui kontak langsung antara unggas terinfeksi dan unggas sehat. Penularan juga dapat terjadi secara tidak langsung melalui kontak dengan benda-benda yang terkontaminasi, seperti pakaian, sepatu, kendaraan, ataupun peralatan kandang.

Varian lain dari virus flu burung adalah Spanish Flu yang merupakan salah satu jenis virus influenza tipe A subtipe H1N1 yang pertama kali menyebabkan kematian pada 1918. Ketika itu, virus ini langsung membunuh 50 juta orang, rasio pembunuhan oleh virus tercepat dalam sejarah. Nama Spanish muncul lantaran delapan juta di antaranya terbunuh di Spanyol.

Pada awalnya pola penularan virus menimbulkan kebingungan para ahli kesehatan. Namun, pada akhirnya, pola penularannya terlihat. Menurut laporan WHO: Emerging Infectious Diseases and Zoonoses (2014), penularan terjadi akibat kontak langsung dan tidak langsung dengan unggas yang sakit, ataupun mati. Selain itu, penularan juga terjadi melalui udara saat penderita batuk dan menulari orang di sekitarnya.

 

Wabah flu burung di Indonesia disebabkan oleh virus subtipe H5N1. Virus flu burung di Indonesia awalnya hanya menyerang hewan jenis unggas, seperti burung, ayam, atau bebek. Namun, dalam perkembangannya, saat virus bermutasi, bisa menular ke manusia.

Pada 2003, penyebaran virus H5N1 diidentifikasi terjadi di Indonesia. Mengutip laporan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, kemunculan penyakit flu burung ini pertama kali dilaporkan terjadi di beberapa peternakan unggas di Jawa Tengah.

WHO mencatat sejumlah kasus flu burung pada manusia. Manusia dapat terinfeksi flu burung (virus influenza A) subtipe H5N1, H7N9, dan H9N2.

kompas/bahana patria gupta
Pengambilan sampel darah warga di Dusun Karang Kidul, Mojosongo, Boyolali, Jawa Tengah, Rabu (1/3/2006). Sebelumnya, hasil pemeriksaan bangkai unggas di sana positif flu burung. Dua warga lantas menjadi suspect flu burung dan meninggal.

Hingga September 2017, menurut catatan Kementerian Kesehatan, penderita flu burung telah mencapai 200 kasus yang tersebar di 59 kabupaten/kota di 15 provinsi. Di antaranya Sumatera Utara, Sumatera Barat, Lampung, Sumatera Selatan, Riau, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Bali, Daerah Istimewa Yogyakarta, Bengkulu, dan Nusa Tenggara Barat.

Saat itu, virus tersebut sangat menghebohkan karena tingkat fatalitasnya. Masyarakat menjadi waspada dengan gejala seperti demam, menggigil, tubuh sakit, sakit kepala, sakit tenggorokan, batuk kering, dan diare berair.

MERS

Reda penyakit flu burung, pada 2012 muncul penyakit sindrom pernapasan lainnya, yakni MERS-CoV (Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus). Saat itu, virus ini berasal dari jenis baru virus korona.

reuters/kim hong-ji
Seorang turis mancanegara mengenakan masker di sebuah kawasan di Seoul, Korea Selatan, Senin (8/6/2015), saat merebaknya kasus sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS) di Korea Selatan.

Kasus ini dilaporkan menyerang manusia pertama kali pada 2012. Virus jenis baru ini dilaporkan terjadi di 11 negara di Timur Tengah, Afrika Utara, dan Eropa. Untuk kasus-kasus yang dilaporkan di luar Timur Tengah, terjadi pada orang-orang yang melakukan perjalanan ke wilayah tersebut.

Penularan virus ini berasal dari unta dan bisa menular ke manusia. Selain itu, juga bisa menular antarmanusia melalui kontak langsung, seperti percikan dahak atau ingus saat batuk atau bersin. Sementara penularan tak langsung terjadi saat ada kontak dengan benda yang terkontaminasi virus.

Hingga Mei 2018, WHO menyatakan Sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS) ini telah terjadi sebanyak 2.220 kasus di sejumlah negara dengan 790 di antaranya meninggal. Meski demikian, belum ada laporan warga Indonesia yang positif terkena virus ini.

kompas/ferganata indra riatmoko
Jamaah umrah tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Senin (12/5/2014). Masyarakat yang hendak menunaikan ibadah di kawasan Timur Tengah diminta meningkatkan kebersihan diri dan menjaga kondisi tubuh menyusul merebaknya MERS.

Hanya saja, pada Mei 2014, ada lima pasien yang diduga mengidap MERS. Lima pasien di Padang dan Sulawesi Tenggara tersebut menderita gejala flu dan gangguan pernapasan setelah kembali dari ibadah Umrah di Arab Saudi. Hanya saja, dari hasil pemeriksaan, hasilnya negatif.

Virus ini berpotensi masuk ke Indonesia dengan banyaknya masyarakat Indonesia yang melakukan ibadah umrah dan haji di Arab Saudi. Kementerian Kesehatan mengeluarkan sejumlah langkah pencegahan bagi jemaah haji dan umrah.

Hal itu di antaranya menggunakan masker jika sakit dan saat berada di keramaian. Kemudian menjaga kebersihan tangan, membatasi kontak langsung dengan unta, serta selalu mengonsumsi makanan dan minuman yang dimasak dengan baik.

 

Zika

Penyakit zika berbeda dengan flu burung dan MERS. Penyakit ini disebabkan oleh virus dari genus Flavivirus dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Menurut Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Zika yang diterbitkan Kementerian Kesehatan, virus ini diketahui pertama kali menginfeksi manusia pada 1952 di Uganda dan Tanzania.

Selain ditularkan melalui nyamuk, zika juga ditularkan melalui hubungan seksual, hubungan vertikal (dari ibu ke anak), serta transfusi darah. Setelah diketahui adanya hubungan antara peningkatan infeksi virus zika dan kejadian mikrosefalus pada bayi baru lahir, maka WHO pada 1 Februari 2016 menetapkan penyakit virus zika sebagai Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan (KKMD).

Artinya, masalah penyakit zika ini menjadi masalah kesehatan masyarakat global yang memerlukan kerja sama internasional. Namun, status tersebut akhirnya dicabut sejak 18 November 2016.

kompas/bahana patria gupta
Petugas melakukan fogging di Kelurahan Jemur Wonosari, Kecamatan Wonocolo, Surabaya, Minggu (14/2/2016). Tujuannya untuk mencegah penyebaran nyamuk Aedes aegypti yang menjadi inang virus demam berdarah dengue dan zika.

Saat virus ini menyerang negara Singapura, Indonesia segera berupaya menangkalnya. Mengutip laporan Kementerian Kesehatan, Kantor Kesehatan Pelabuhan, baik di Bandara maupun Pelabuhan Batam, memperketat pengawasan melalui pembagian health alert card (HAC) kepada masyarakat yang masuk Indonesia.

Meski demikian, penyakit zika yang memiliki gejala mirip dengan demam berdarah ini tidak menyebabkan kematian. Zika adalah penyakit yang bisa sembuh sendiri (self healing disease).

Hingga wabah zika mereda di Singapura, tidak ditemukan penderita zika di Indonesia. Adapun satu kasus yang pernah ditemukan di Jambi didasarkan pada laporan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman. Laporan dibuat setelah Eijkman melakukan penelitian saat terjadi kejadian luar biasa demam berdarah dengue (KLB DBD) di Jambi pada 2014.

Ebola dan lujo

Berikutnya, virus ebola yang merupakan penyebab kematian dengan tingkat kematian 90 persen bagi yang terjangkit. Virus ini pertama kali ditemukan di dekat Sungai Ebola di Zaire pada 1976.

ap photo/abbas dulleh
Petugas kesehatan membawa jenazah perempuan yang diduga terjangkit virus Ebola di Kota Clara di Monrovia, Liberia, Rabu (10/09/2014).

Gejala awal serangan virus ini mirip dengan influenza pada umumnya, seperti sakit tenggorokan, demam, nyeri otot, dan sakit kepala. Pasien juga bisa mengalami muntah, diare, darah dalam tinja, ruam, dan gangguan ginjal, serta hati.

Virus lujo dikenal dengan tingkat kematian kasusnya yang mencapai 80 persen. Gejala serangan virus ini mirip dengan serangan virus ebola yang menyebabkan pendarahan gusi dan hidung.

Virus ini pertama kali menyerang Lusaka, Zambia, dan Johannesburg (Afrika Selatan) pada 2008. Saat itu, empat dari lima orang yang terinfeksi virus ini meninggal.

 

Serangan mematikan lainnya adalah dengue. Penyakit demam berdarah kerap mengancam masyarakat di Indonesia terutama pascamusim hujan. Masyarakat tidak asing lagi dengan virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti ini.

Jenis nyamuk ini merupakan pembawa virus dengue yang menyebabkan penyakit demam berdarah. Selain dengue, nyamuk ini juga merupakan pembawa virus demam kuning (yellow fever), chikungunya, dan demam zika yang disebabkan oleh virus zika.

Mengingat keganasan penyakit demam berdarah, masyarakat harus mampu mengenali dan mengetahui cara-cara mengendalikan jenis ini untuk membantu mengurangi persebaran penyakit demam berdarah. Salah satunya, meminimalkan berkembangnya jentik nyamuk di genangan air sekitar rumah.

kompas/heru sri kumoro
Penelitian dengue di Laboratorium Unit Dengue Lembaga Eijkmen, Jakarta, Senin (31/10/2016). Hingga kini, belum ada vaksin atau obat yang efektif untuk penyakit akibat virus Dengue serta gigitan nyamuk Aedes aegypti.

Virus mematikan berikutnya adalah rabies. Virus ini tergolong neurotropika yang ditularkan lewat air liur hewan kepada manusia.

Virus ini akan bekerja 100 persen saat gejalanya mulai berkembang. Oleh karena itu, jika gejala muncul pada pasien, angka kematian hampir selalu 100 persen.

Dampak dari serangan virus ini tergolong fatal karena langsung menyerang otak dan sistem saraf manusia. Pada 2010, virus rabies membunuh 78 orang di Bali.

samuel oktora
Ratusan warga mengiringi jenazah Euprasia L Glelo (5 tahun 5 bulan) ke pemakaman di Desa Baumekot, Hewokloang, Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur, Senin (3/9/2018). Akibat terlambat ditangani, Euprasia yang digigit anjing rabies, meninggal dunia.

Cacar dan herpes

Pemerintah sejak lama mencanangkan vaksinasi cacar terhadap anak sejak usia dini. Bahkan di sekolah dasar, pemerintah rutin melakukan vaksinasi terhadap siswa untuk menangkal serangan virus cacar.

Virus ini diketahui sudah ada sejak 11.000 tahun lalu di sebuah daerah pertanian di India. Virus yang juga dikenal dengan nama Smallpox ini merupakan virus paling mematikan di dunia yang telah membunuh paling banyak manusia dibandingkan virus lain dalam sejarah.

Sementara herpes merupakan jenis virus yang menginfeksi manusia sejak 80 juta tahun yang lalu. Di era modern, virus Herpes B pertama kali ditemukan pada 1932. Dari 31 kasus herpes, 21 orang meninggal.

kompas/priyombodo
Sejumlah anak diperiksa kesehatannya di kawasan Pademangan Barat, Jakarta, Senin (7/8/2006). Anak-anak ini kelompok usia yang rentan terkena cacar air sehingga perlu diperiksa kesehatannya secara berkala disertai pemberian vaksin.

Herpes B memengaruhi sistem saraf pusat dan menyebabkan gangguan saraf atau kematian jika tidak diobati. Virus ini sebenarnya jarang terjadi pada manusia. Herpes B mudah ditularkan melalui monyet atau gigitan hewan, dan bisa mematikan manusia.

HIV merupakan virus yang ditakuti manusia sejak 1981. Virus ini menyerang manusia dan menyerang sistem kekebalan tubuh sehingga tubuh menjadi lemah dalam melawan infeksi.

Jika virus ini terus menyerang tubuh, lama-kelamaan kondisi tubuh dan kekebalan menjadi lemah. Tanpa pengobatan, seseorang yang hidup dengan virus HIV dapat bertahan hidup selama 9-11 tahun setelah terinfeksi, tergantung tipe virusnya.

kompas/raditya helabumi
Alat untuk uji HIV.

Kehadiran virus ini dalam tubuh akan menyebabkan penurunan sistem imun tubuh. Penularannya bisa melalui hubungan seksual dengan penderita HIV, transfusi darah, cairan vagina, dan ASI. HIV bekerja dengan membunuh sel-sel penting yang dibutuhkan manusia.

Menangkal virus

Berbeda dengan bakteri yang dapat diatasi dengan antibiotik, virus memerlukan vaksin atau obat antiviral untuk menghambat perkembangannya. Vaksinasi merupakan proses memasukkan virus yang telah dilemahkan (vaksin) ke dalam tubuh.

Proses tersebut merangsang tubuh untuk menghasilkan antibodi guna melawan virus. Dengan kata lain, vaksinasi merupakan sebuah latihan agar tubuh lebih berpengalaman ketika virus benar-benar menginfeksi tubuh.

 

Selain vaksinasi, efek viral dari virus dapat dikurangi dengan obat antiviral, terutama bagi mereka yang hidup dengan HIV/AIDS. Obat antiviral tersebut tidak membinasakan patogen, tetapi menghambat dan memperlambat perkembangan penyakit yang disebabkan virus.

Sebelum ditemukan vaksinasi untuk virus, yang dapat dilakukan ialah menjaga kebugaran tubuh agar dapat secara alami melawan virus yang masuk ke dalam tubuh.

Menjaga tubuh agar tetap fit dapat dilakukan dengan menjaga pola hidup sehat serta menjaga pola konsumsi. Selain itu, pencegahan dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan agar tidak terpapar virus mematikan.

kompas/ferganata indra riatmoko
Menjaga kebugaran tubuh dengan antara lain makan-makanan bergizi akan membantu tubuh secara alami melawan virus yang masuk.

Kebiasaan menggunakan masker ketika berada di tempat umum, seperti di terminal bandara, stasiun kereta, halte bus, dan pada saat di dalam transportasi umum, merupakan tindakan sederhana, tetapi cukup efektif agar tidak tertular penyakit. Selain itu, kebiasaan mencuci tangan dengan sabun secara rutin dapat mengurangi kemungkinan terpapar virus.

Langkah nyata

Kehidupan modern yang disertai perkembangan teknologi di dunia kesehatan dan kedokteran hingga kini belum mampu menghasilkan vaksin ampuh yang mampu menghadapi munculnya varian virus baru yang mematikan.

Gaya hidup manusia modern harus diimbangi pola hidup sehat. Selain itu, menjaga kebersihan lingkungan juga menjadi kunci agar kekebalan tubuh tetap kuat.

kompas/lucky pransiska
Siswa Sekolah Dasar Negeri Karet 01, Setiabudi, Jakarta, mengikuti kegiatan cuci tangan pakai sabun di halaman
sekolah mereka, Jumat (15/10/2010). Menjaga kebersihan diri dan lingkungan mengurangi risiko penularan berbagai virus.

Kewaspadaan tinggi terhadap berbagai virus berbahaya dari luar Indonesia patut dilakukan mengingat Indonesia pernah menjadi daerah endemik flu burung, difteri, ataupun kolera yang menimbulkan banyak korban jiwa.

Meski demikian, tidak perlu terlalu resah menanggapi kondisi saat ini. Untuk mengurangi risiko penularan berbagai virus yang sekarang telah bermutasi dalam berbagai jenis ini, bisa dilakukan dengan menjaga kebersihan diri dan lingkungan.

 

Kerabat Kerja

Penulis: Eren Marsyukrilla, M Puteri Rosalina, Topan Yuniarto, Mahatma Chryshna | Fotografer: Lucky Pransiska, Ferganata Indra Riatmoko, Priyombodo, Raditya Helabumi, Bahana Patria Gupta, Heru Sri Kumoro, P Raditya Mahendra Yasa | Infografik: Luhur Arsiyanto, Tiurma Jessica Clara, Ismawadi, Ningsiawati | Pengolah foto: Toto Sihono | Penyelaras bahasa: FX Sukoto | Produser: Sri Rejeki | Desainer & Pengembang: Ria Chandra, Rino Dwi Cahyo, Frans Yakobus Suryapradipta, Yosef Yudha Wijaya

Suka dengan tulisan yang Anda baca?

Nikmati tulisan lainnya dalam rubrik Tutur Visual di bawah ini.