Logo KompasKeagungan Gunung Agung
Keagungan Gunung Agung
Beri Waktu bagi Sang Gunung Agung

Awas! Status Gunung Agung mulai hari Senin (27/11) kembali dinaikkan dari Siaga (level 3) menjadi Awas (level 4), yang merupakan level tertinggi gunung berapi. Gunung Agung kini sedang memperlihatkan keagungannya. Warga di bayang gunung itu sebaiknya segera mengungsi memberi waktu bagi Gunung Agung.

Sebelum status Awas ditetapkan, pada hari Minggu (26/11) pukul 22.00 Wita, erupsi bahkan sempat mencapai ketinggian 3.000 meter. Api terlihat dari kawah gunung itu. Letusan itu pun diabadikan oleh warga Bali dan wisatawan serta disiarkan ke seluruh dunia.

Dunia pun kini mengamati, sebesar apa erupsi Gunung Agung? Akankah letusannya sedahsyat tahun 1963? Apakah Gunung Agung akan memuramkan Bali selama berbulan-bulan?

KOMPAS/Bahana Patria Gupta
Erupsi Magmatik Gunung Agung dilihat dari Desa Amed, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem, Bali, Selasa (28/11/2017). Hingga saat ini Gunung Agung terus menerus mengeluarkan abu vulkanik dengan ketinggian kolom hingga 2500-3000 meter di atas puncak kawah.

Untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk, regulator pun langsung memutuskan penutupan Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali, mulai Senin pukul 07.00 hingga 24 jam ke depan. Evaluasi pun terus akan digelar.

Kesibukan luar biasa kini terjadi di lereng Gunung Agung. Erupsi dan peningkatan status menuntut evakuasi warga dari zona bahaya dengan jarak 8-10 kilometer dari kawah gunung itu.

Selain hujan debu, banjir lahar juga sudah mulai mengalir di berbagai tukad, sungai di Karangasem. Lahan pertanian di Kecamatan Rendang, misalnya, sudah diterjang banjir lahar dingin. Warga harus ekstra waspada.

Pergerakan Vulkanik Gunung Agung
Ilustrator / Ayu Sulistyowati
Sumber dari Kepala Subbidang Mitigasi Pemantauan Gunung Api Wilayah Timur PVMBG Devy Kamil Syahbana.
Keselamatan Warga

Meski demikian, pemerintah sebaiknya menyisir lereng gunung demi keselamatan warga setempat. Nyoman Sari, warga Kubu, misalnya, tidak merasa khawatir bermukim hanya dalam jarak 8 kilometer dari kawah Gunung Agung. Tempo hari, ketika status gunung itu juga Awas, Nyoman Sari hanya mengungsi selama dua hari.

Apalagi, ini kali kedua Nyoman Sari berhadapan dengan Gunung Agung. ”Saya masih berusia 12 tahun saat letusan tahun 1963. Saat itu, suasana gelap dan gemuruh. Kami jalan kaki, mengungsi sampai ke Jembrana. Jalannya terjal dan belum beraspal seperti sekarang,” ujarnya.

Mengaku berpengalaman dengan letusan Gunung Agung, Nyoman Sari percaya diri kembali ke desanya. ”Kami percaya Gunung Agung tak segera meletus. Kalau mau meletus, kami masih punya waktu mengungsi,” ujarnya, Jumat (17/11), ditemui Kompas di Kubu.

Warga Desa Sibetan, yang berlokasi 8 kilometer dari kawah, juga tidak khawatir. Mereka tak pernah benar-benar mengungsi. Ketika siang hari, warga pulang ke rumah untuk panen salak, memberi makan ternak, bersih-bersih rumah, hingga sembahyang di pura rumah mereka. Menjelang petang, mereka kembali ke pengungsian.

KOMPAS/Bahana Patria Gupta
Made Wirya membajak sawah saat Erupsi Gunung Agung di Desa Tulamben, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem, Bali, Selasa (28/11/2017). Aktifitas vulkanik yang meningkat di Gunung Agung tidak mempengaruhi aktfotas keseharian banyak warga setempat.

Meski status Awas sudah ditetapkan dan zona bahaya telah diketok, faktanya ada warga yang masih ”menembus” zona itu. Ternak jelas menjadi masalah ketika warga harus mengungsi. Ternak adalah aset warga. Begitu pula dengan keberadaan kebun sayuran dan buah-buahan.

Keinginan untuk tetap dapat melanjutkan hidup dari mata pencarian mereka sendiri nyatanya telah membuat warga Desa Kubu dan Sibetan, misalnya, kerap menerobos zona bahaya.

Meski status Awas sudah ditetapkan dan zona bahaya telah diketok, faktanya ada warga yang masih ”menembus” zona itu

Namun, faktanya ada beberapa pihak yang memandang keagungan Gunung Agung dari sudut pandang berbeda. Budayawan Cok Sawitri, misalnya, mengisahkan leluhurnya yang memiliki pengalaman soal erupsi Gunung Agung tahun 1963. ”Kami keturunannya juga percaya keagungan Gunung Agung, Sang Hyang Tohlangkir. Gunung Agung tak pernah menyakiti siapa pun,” ujarnya.

Cok Sawitri bersikeras leluhurnya saat itu sudah pintar membaca alam. Mereka memahami lokasi mana yang dapat dijadikan tempat mengungsi dan berlindung. Ada warga, misalnya, yang berkumpul di suatu desa dan bersembahyang bersama. Tanpa diduga, lahar ”membelah” di depan mata mereka.

Diakui Cok Sawitri, ada kisah menyangkut kematian warga penabuh gamelan pada 1963. ”Bagi mereka justru kehormatan menjadi pengiring para Bethara saat turun dari puncak gunung. Mereka meninggal dengan terhormat,” ujar Cok Sawitri, yang bercerita dengan nada rasa penuh hormat. Pendapat dari orang seperti Cok Sawitri adalah fakta yang tidak dapat dikesampingkan.

AFP PHOTO/SONNY TUMBELAKA
Warga Hindu di Desa Muntig, Kecamatan Kubu, Karangasem, Minggu (26/11/2017) berdoa memohon keselamatan. Di saat bersamaan, dari desa mereka terlihat asap kelabu membubung tinggi dari kawah Gunung Agung.

Erupsi Gunung Agung di sisi lain juga seolah menjawab keresahan warga. Ternyata, masih ada warga yang kos di kabupaten lain, seperti Gianyar, Klungkung, Tabanan, dan Denpasar.

"Nggih, panak tiyang sareng istri tiyang (Ya, anak saya dan istri saya) kos di Gianyar. Karena ada anak-anak, supaya evakuasi mudah kalau terjadi erupsi. Sekarang, tidak lagi status Awas, tetapi tiyang tetap khawatir. Sementara ini, kami berpisah dulu. Saya di sini, anak dan istri di sana,” ujar Wayan Ate (23) ditemui di Dusun Tanah Ampo, Desa Sibetan.

Kekhawatiran Ate telah terjawab.

Walau demikian, dari hari ke hari warga di sekitar Gunung Agung telah belajar ”bersahabat” dengan gunung itu. Ketika asap keluar, mereka menginformasikan kepada aparat. Ketika asap membubung, mereka bertanya kepada aparat. Ketika warna asap berbeda, warga berdiskusi dengan aparat. Belakangan, warga ikut mengamati debit dan suhu mata air.

Warga Lebih Siap

Warga Gunung Agung pun telah melangkah lebih maju. Jumat (17/11), warga dari 28 desa telah mendeklarasikan kesiapan menghadapi erupsi dalam payung Semeten Jagabaya Gunung Agung di kantor Bupati Karangasem.

Desa-desa tersebut merupakan desa di kawasan rawan bencana (KRB) dalam radius 6-12 kilometer dari kawah gunung. Apabila terjadi erupsi, berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali, setidaknya 180.000 orang akan terdampak.

Perbekel (Kepala) Desa Sukadana I Gede Suardana (39) menyambut antusias deklarasi tersebut. ”Warga dan aparat desa menjadi makin memahami ancaman gunung api, dampak dari erupsi, mengapa harus mengungsi, mengapa harus ada peringatan status, hingga pentingnya memperkuat komunikasi antardusun, antardesa, antarkecamatan, hingga tingkat selanjutnya,” ujarnya.

partisipasi masyarakat juga tinggi saat berdiskusi dengan sukarelawan dan fasilitator

Suardana mengisahkan kepanikan warganya saat status menjadi Awas. Kepanikan yang tidak seharusnya terjadi jika ada sosialisasi terhadap ancaman gunung berapi. Sosialisasi ini penting karena Desa Sukadana di sisi timur Gunung Agung rawan terkena erupsi.

Desa Sukadana, misalnya, dihuni sekitar 7.000 orang. Lokasi desa itu tepat di lereng Gunung Agung bagian timur berkisar 10 kilometer dari kawah gunung. Pada peta KRB dari BNPB, desa tersebut diperkirakan terdampak lahar panas dan lahar dingin.

Kompas/Haris Firdaus
Petugas gabungan sejumlah institusi dibantu relawan dan warga mengevakuasi seorang perempuan yang menderita kelumpuhan dari rumahnya di Desa Duda, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem, Bali, Senin (25/9). Evakuasi dilakukan untuk menghindari ancaman erupsi Gunung Agung di Karangasem yang saat ini berstatus Awas.

Pada tahun 1963, Desa Sukadana bahkan luluh lantak tersapu lahar. Pengalaman itu membuat warga panik saat status Gunung Agung Awas. Warga langsung berhamburan dan Suardana membutuhkan waktu lebih dari dua minggu untuk mendata lokasi pengungsian warga.

Kepala Subdirektorat Peran Organisasi Masyarakat Direktorat Pengembangan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sigit Padmono tak menyangka tingginya antusiasme masyarakat. Sosialisasi awal untuk pembuatan peta jalur evakuasi warga secara mandiri di 28 desa bahkan nyaris tidak menemui kendala.

Menurut Sigit, partisipasi masyarakat juga tinggi saat berdiskusi dengan sukarelawan dan fasilitator. Apalagi, ujarnya, tradisi Bali melalui keterikatan warga dan banjar serta dalam hal gotong royong (menyama braya) telah menjadi modal utama.

Menata Zonasi

Peta jalur evaluasi dibuat berdasarkan kesepakatan bersama di setiap desa. BNPB pun memercayakan pembuatan peta kepada masyarakat setempat atas kondisi riil di lapangan. ”Kan, hanya warga setempat yang paling paham kondisi desanya,” ujar Sigit.

Peta itu bukan sekadar menentukan titik kumpul dan jalur evakuasi yang aman dari terjangan lahar panas dan lahar dingin. Peta tersebut juga menentukan titik pengumpulan ternak dan kedekatan pengungsian dengan sekolah serta gedung-gedung atau lapangan yang aman untuk menjadi titik pengungsian warga desa di luar zona bahaya.

Ketua Forum Pasubayan Gunung Agung I Gede Pawana, yang juga Perbekel Desa Duda Timur, mengakui, sangat penting bagi masyarakat untuk memahami lokasi mereka. Dengan demikian, warga dapat mempersiapkan diri mereka dengan lebih baik saat ada erupsi.

Peta Kawasan Rawan Bencana Gunung Agung, Bali

PVMBG juga telah menyuplai informasi terkini soal Gunung Agung melalui situs MAGMA Indonesia, Multiplatform Application for Geohazard Mitigation and Assessment in Indonesia. Dalam aplikasi multiplatform (berbasis web dan mobile) ini, informasi disajikan secara kuasi-realtime dan interaktif. Warga misalnya, dapat memperoleh data seismogram Gunung Agung secara live.

Sementara itu, BNPB menyediakan suatu informasi spasial berbasis web untuk mengetahui posisi terhadap Kawasan Rawan Bencana erupsi Gunung Agung yakni "Cek Posisi". Informasi tersebut dapat diakses melalui browser smartphone melalui tautan s.id/cekposisi. Informasi Kawasan Rawan Bencana akan secara otomatis ditampilkan dalam aplikasi Google Maps perangkat pengguna.

Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB Wisnu Widjaja telah menyarankan, warga yang tinggal di zona bahaya dalam radius hingga 12 kilometer untuk segera mengunduh aplikasi itu. Setidaknya, satu dari 10 warga mengunduhnya untuk segera menyebarkan informasi ketika tiba-tiba terjadi erupsi (Kompas, 2 November 2017).

sangat penting bagi masyarakat untuk memahami lokasi mereka. Dengan demikian, warga dapat mempersiapkan diri mereka dengan lebih baik saat ada erupsi

Erupsi telanjur terjadi. Status Awas telah diberlakukan. Kelak, saat erupsi usai, warga dapat mempersiapkan rumah mereka dengan lebih baik lagi.

Idealnya, kata Sigit, rumah di kawasan ancaman erupsi gunung berapi beratap genteng bukan dari sirap atau kayu supaya tidak mudah terbakar. Bentuk atap rumah juga disarankan mengerucut lebih runcing. Apabila landai, justru rentan ambruk ketika ada hujan abu.

Erupsi sudah terjadi. Namun di masa depan, zonasi-zonasi layak kembali ditinjau. Kepala BNPB Willem R, misalnya, meminta pemerintah setempat sebaiknya tidak memberi izin pembangunan hotel atau vila di radius kurang dari 6 kilometer. Bahkan, jika perlu izin mendirikan bangunan (IMB) diperketat hingga zona bahaya dalam radius hingga 12 kilometer.

Mengapa? Karena bila jumlah populasi warga yang bermukim di zona bahaya dapat diminimalkan, kelak bila terjadi erupsi, dapat pula ditekan potensi kerugiannya.

Kompas/P Raditya Mahendra Yasa
Petugas dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan relawan memasang sirine sebagai alat peringatan dini terhadap bahaya ancaman erupsi Gunung Agung di Desa Tianyar, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem, Bali, Rabu (27/9). Pemasangan sirine tersebut masih membutuhkan sosialisasi untuk warga agar memahami situasi bencana yang dihadapi.

Ketua Umum Ikatan Ahli Perencana (IAP) Bernardus Djonoputro juga mendukung moratorium pemanfaatan baru ataupun penerbitan kepemilikan dan izin baru. ”Hal ini dapat dilakukan selama didasari data dan kajian empiris yang akurat tentang bahaya dan ancaman di kawasan tersebut,” ujarnya.

IMB atau pemanfaatan yang sudah telanjur terbit, kata Bernardus, tetap diimbau disesuaikan dengan ancaman bencana. ”Moratorium itu lebih untuk kegiatan-kegiatan nontempat tinggal skala lokal setempat,” kata Bernardus.

Membangun di zona bahaya, kata Bernardus, juga merugikan dalam jangka panjang. ”Budget daerah akan tersedot untuk operasi penyelamatan warga,” ujarnya.

Lebih lanjut, zonasi Gunung Agung dan tata ruang wilayah kabupaten yang telah disinkron ada baiknya segera disosialisasikan. Ini penting supaya perekonomian di Bali secara umum tetap bergerak meski gunung itu terus bergemuruh. Padahal, Bali tidak hanya seluas radius 12 kilometer dari puncak Gunung Agung!

Tidak hanya meninjau tata ruang, ahli transportasi dari Unika Soegijapranata, Djoko Setijowarno, menyarankan pemerintah daerah untuk bertindak lebih, misalnya meningkatkan kapasitas jalur-jalur evakuasi. ”Lebar jalannya harus memadai. Juga harus dihindari parkir di tepi jalan supaya tak menghambat evakuasi,” ujarnya.

Persoalannya, infrastruktur jalan di Bali timur, tempat Gunung Agung berada, tidak sebanyak di Bali tengah. Sudah begitu, lintas jalan dari kawasan hulu gunung tidak langsung menuju lereng gunung. Jadi, yang harus didorong adalah pembuatan jalan-jalan tembus baru keluar dari zona bahaya.

Djoko juga mendorong pemasangan rambu-rambu evakuasi secepat mungkin. Dengan demikian, apabila terjadi erupsi, penduduk di lereng Gunung Agung dapat segera menyelamatkan diri.

Tidak Mudah Meramal

Berubah-ubahnya status Gunung Agung, yang akhirnya disusul peningkatan fase freatik ke magmatik, menggenapi pendapat bahwa tidak mudah untuk meramal perilaku sebuah gunung, termasuk Gunung Agung.

Khusus untuk Gunung Agung, nyaris tidak ada data ilmiah yang terekam dan tersimpan dari erupsi tahun 1963. Yang ada hanyalah catatan warga, yang mengisahkan tentang erupsi selama hampir setahun.

Selama itu pula, Pulau Bali gelap tanpa sinar matahari. Hujan abu vulkanik tidak hanya menghujani Bali dan Pulau Jawa, tetapi dikabarkan pula terbang hingga Pulau Sumatera.

Pos Pemantauan Rendang juga baru dibangun tahun 1964. Penandanya adalah tugu persembahyangan yang digurat tahun pendiriannya serta tulisan ora et labora, ”bekerja sambil berdoa”.

Kompas/Ayu Sulistyowati
Komunitas Hanacaraka dan Penyuluh Bahasa Bali Dinas Kebudayaan Bali mengidentifikasi puluhan lontar yang diselamatkan dari sejumlah lokasi yang masuk zona bahaya erupsi Gunung Agung, di Denpasar, Kamis (28/9). Ini bagian dari menyelamatkan lontar-lontar yang memuat di antaranya mantra puja, sejarah, kesehatan hingga kalender Bali. Ribuan lontar dievakuasi terutama Kabupaten Karangasem, baik milik pura, griya maupun perseorangan. Hingga kemarin, status Gunung Agung di karangasem masih status Awas.

Setelah 54 tahun berlalu dari letusan 1963, banyak warga sekitar Rendang yang tidak paham fungsi pos itu. Padahal, warga itu bermukim hanya dalam radius kurang dari 1 kilometer.

Pos itu baru disadari keberadaannya setelah Jumat (22/9) pukul 20.30, status Awas resmi diberikan. Setiap hari, belasan orang kemudian singgah di pos itu. Ratusan warga tiba-tiba memenuhi halaman pos pantau. Mereka berharap penjelasan langsung dari petugas sambil sesekali melihat ke arah gunung.

Gunung Agung pun kita tahu telah memperlihatkan keperkasaannya. Tercatat sempat ada 27.000 kali gempa dalam sebulan atau 900 gempa bumi dalam sehari! Volume intrusi magma juga diprediksi mencapai 19 juta meter kubik.

Khusus untuk Gunung Agung, nyaris tidak ada data ilmiah yang terekam dan tersimpan dari erupsi tahun 1963.

Kepala Subbidang Mitigasi Pemantauan Gunung Api Wilayah Timur PVMBG Devy Kamil Syahbana—ditemui Kompas sebelum erupsi—mengatakan, dalam grafik referensi, volume intrusi yang menjadi patokan adalah 12 juta meter kubik. Padahal, volume instrusi magma di Gunung Agung diprediksi telah mencapai 19 juta meter kubik.

Artinya, erupsi dapat terjadi kapan saja. Apalagi, teorinya, jika volume intrusi magma sudah lebih dari 6 juta meter kubik, potensi letusan sekitar 90 persen.

Namun, setelah 38 hari dalam status Awas, erupsi dahsyat tidak juga terjadi. Hari Minggu (29/10), PVMBG kemudian menurunkan status Awas menjadi Siaga. Penurunan jumlah gempa menjadi salah satu faktor penurunan status. Penentu lain adalah melambatnya deformasi (penggembungan) badan gunung.

Gubernur Bali Made Mangku Pastika, ditemui terpisah, tak habis pikir dengan begitu misteriusnya Gunung Agung. ”Saya berkali-kali bertanya dan meminta penjelasan sejelas-jelasnya kepada para ahli PVMBG. Bagaimana penjelasan ilmiahnya, mengapa Gunung Agung statusnya cepat berubah. Perubahan itu begitu cepat dan mengagetkan saya, masyarakat Bali, dan bahkan dunia. Gila, kan?” kata Pastika dengan nada meninggi.

Nada tinggi Pastika bukan karena marah. Ia sungguh tak mengerti dan tak menyangka ternyata Gunung Agung menyimpan kekuatan yang begitu dahsyat. Pergerakan magma di gunung itu juga ternyata telah terpantau selama setahun terakhir.

Misteri Erupsi

Ketika tempo hari status Gunung Agung sempat turun ke Siaga, dalam suasana yang lebih santai, kepada Kompas, Devy mengaku sedih. Menurut dia, sebagian orang berlaku tak adil. Mengapa setiap orang terus bertanya, kapan erupsi? Kapan meletus? Mengapa statusnya masih Awas, kan, gempanya sudah reda? Kapan statusnya diturunkan?

Kata Devy, ”Siapa yang ingin mendapatkan bencana? Siapa yang ingin merugi ketika sudah mapan? Siapa yang tak ingin hidup tenang dan bebas dari ancaman erupsi?” Suka atau tak suka, warga harus terbiasa dengan aktivitas Gunung Agung.

Yang dibutuhkan hanyalah kewaspadaan dan kesabaran untuk menunggu gunung itu menuntaskan hajatnya
Kompas/Runik Sri Astuti
Kepala Subbidang Mitigasi Pemantauan Gunung Api Wilayah Timur PVMBG Devy Kamil Syahbana.

Dengan berubah-ubahnya status, Gunung Agung seolah mengirim pesan agar masyarakat yang tinggal di lerengnya, termasuk juga pemerintah, untuk lebih peduli dan waspada. ”Gunung tak bisa diprediksi. Siklus erupsi Gunung Agung diprediksi 100 tahun, tetapi faktanya hampir setahun terakhir menunjukkan keagungannya,” ujar Devy, yang kini kembali sibuk.

”Tetapi, bayangkan saja, dalam tidurnya, Gunung Agung memberi kemakmuran untuk masyarakat Karangasem dan sekitarnya. Lereng menjadi subur dengan tumbuhnya berbagai perkebunan, seperti jambu mete, salak, kopi, dan tanaman sayuran,” kata Devy.

Anugerah terbesar boleh jadi adalah pasir. Hampir setiap hari puluhan truk mengangkut pasir dari lereng gunung itu. Seiring pembangunan infrastruktur, ratusan ton pasir terjual untuk pembangunan Bali. Warga yang dulunya miskin, dari tahun ke tahun, mulai mapan.

Kompas/Iwan Setiyawan
Sawah subur ditanami padi terhampar di kawasan Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali, di bawah kaki Gunung Agung, Selasa (4/10). Gunung Agung turut meberikan kesuburan bagi lahan pertanian di sekitarnya.

Ketika erupsi ini terjadi, tentu lahan pertanian ikut diterjang banjir lahar. Abu vulkanik mungkin menyebabkan gagal panen. Ternak tak dapat tumbuh sempurna bahkan mungkin kembali kurus. Namun, ketika erupsi berakhir, kesuburan seolah diberikan begitu saja ke tanah di lereng gunung itu. Menanam apa pun boleh jadi lebih mudah dan subur. Pangan ternak pun jadi lebih melimpah. Deposit pasir pun bertambah.

Yang dibutuhkan hanyalah kewaspadaan dan kesabaran untuk menunggu gunung itu menuntaskan hajatnya.

”Seperti manusia yang kadang ingin menyendiri, Gunung Agung juga begitu. Ada baiknya kita berikan waktu untuk Sang Gunung untuk berekspresi. Toh, selama berpuluh-puluh tahun, ia tak pernah ingkar memberikan nikmat kesuburan tanah, pemandangan alam yang indah kepada manusia,” ujar Devy.

Mari sejenak menyingkir dari Gunung Agung. Kita saksikan keagungannya dari kejauhan. Beri dia waktu.

Kerabat Kerja

Penulis
Ayu SulistyowatiHaryo Damardono
Fotografer
P Raditya Mahendra YasaAyu SulistyowatiIwan SetiyawanHaris Firdaus
Penyelaras Bahasa
Hibar HimawanAdi Wiyanto
Ilustrator
Maria Karina PutriAyu SulistyowatiElga Yuda Pranata
Desainer dan Pengembang
Yosep Wihelmus NabuElga Yuda Pranata
Produser
Haryo DamardonoPrasetyo Eko Prihananto