Susah Senang Mudik Lebaran

Meninggalkan Jakarta, para pemudik melaju ke kampung halaman. Ada keluarga yang hidupnya sangat tergantung pada para pemudik. Yang terpenting tiba di kampung halaman dan kembali ke tempat mencari penghidupan dengan selamat. Tidak penting beradu cepat di jalur mudik. Tiada gunanya memulai perjalanan jika sekadar menyetor nyawa!.

foo
Sekitar 300 bangunan
KOMPAS/KARTONO RYADI

”Kan Lebaran cuma setahun sekali, jadi perlu sungkem dengan orangtua,” kata Jafar Hassan, pegawai PT Kedaung (Kompas, 9 Juli 1983). Persoalannya, perjalanan mudik menjelang Lebaran tidak pernah semudah yang dibayangkan. Perjalanan mudik harus dilalui bermandikan keringat, bahkan diwarnai derai air mata.

Begitu padatnya kereta penumpang, tidak jarang penumpang lemas karena minimnya oksigen

Sebagaimana pemudik lainnya, Jafar rela berjam-jam menunggu bus di Terminal Pulogadung, Jakarta. Perjuangan menunggu bus pun belum seberapa. Dia juga harus berjibaku masuk ke dalam bus kemudian melaju selama puluhan jam menuju kampung halaman.

Jafar Hassan adalah potret pemudik yang diangkat oleh Kompas pada tahun 1983. Pengalaman Jafar ternyata berulang hingga puluhan tahun kemudian. Harian Kompas tentu tidak sekadar memberitakan mengapa orang mudik, tetapi juga dengan lika-likunya.

Dengan jeli, misalnya, Kompas mengamati betapa Jafar tak hanya membawa pakaian, makanan, dan minuman, tetapi juga radio dan tape. Jafar adalah penumpang bus ekonomi. Ini berbeda, misalnya, dengan perilaku penumpang bus eksekutif yang hanya membawa satu tas pakaian.

”Sampeyan niku ajeng pindah nopo tilik sedulur to? (Anda itu mau pindahan atau bertemu saudara?” tanya seorang ibu di Terminal Pulogadung kepada seorang pemudik lain. Pemudik yang ditegur adalah seorang ibu-ibu yang menenteng tiga tas besar.

Tentu, pemudik itu bukan sekadar bergaya dengan membawa banyak tas. Namun, pahamilah betapa masyarakat kelas bawah terkadang hanya bekerja di sektor informal. Setelah Lebaran, belum tentu mereka kembali bekerja di majikan yang sama. Yang mereka bawa pulang ke kampung boleh jadi adalah seluruh harta benda mereka!

Demi merasakan pahit getirnya perjalanan mudik, Kompas juga berulang kali mengikuti langsung perjalanan mudik. Tidak sekadar mengamati dari tepi jalan atau dari terminal, tetapi langsung mengalami perjalanan tersebut.

Bulan Maret 1995, misalnya, Kompas mengikuti perjalanan mudik naik kereta ekonomi. Wartawan harian Kompas merasakan pahitnya perjalanan dengan KA Empu Jaya rute Senen-Yogyakarta.

Mungkin, generasi milenial tidak pernah mengalami melaju dengan kereta ekonomi yang penuh dengan penumpang yang berdesak-desakan. Karena kini pembatasan penumpang diberlakukan, tidak ada lagi penumpang duduk di lantai.

Akan tetapi, pada tahun 1990-an itu, jangankan duduk di lorong kereta, bahkan kalau perlu penumpang duduk di dalam toilet. Lantai toilet pun dialasi oleh berlembar-lembar koran meski tetap saja baunya tidak tersamarkan.

Begitu padatnya kereta penumpang, tidak jarang penumpang lemas karena minimnya oksigen. Jika tak pandai-pandai mendongak untuk mencari udara yang sama panasnya, niscaya tubuh menjadi lemas. ”Besok kita ganti paru-paru dengan insang,” tutur seseorang di tengah jejalan penumpang (Kompas, 6 Maret 1995).

Bulan September 2008, wartawan Kompas juga mengikuti perjalanan pemudik yang berlayar dengan Kapal Motor (KM) Tidar dari Nunukan, Kalimantan Timur, menuju Surabaya.

Kapal itu penuh sesak. Berdasarkan rancang bangunnya, KM Tidar didesain berkapasitas 1.904 penumpang, tetapi ternyata disesaki hingga 4.000 penumpang. Hanya berkat campur tangan Tuhan, semua penumpang KM Tidar—termasuk wartawan Kompas— dapat merayakan Lebaran tahun 2008.

________

Suasana terminal bis Pulo Gadung pada 10 Agustus 1980. Para penumpang dengan barang, anggota keluarga termasuk bayi dan anak-anak, menanti bus masuk terminal. Sejumlah bus sedang dipersiapkan di bagian lain di terminal ini, harus dalam keadaan kosong ketika masuk terminal. Penjualan karcis, pungutan pembayaran dilakukan di atas bus, karena kesulitan teknis pelaksanaan penjualan melalui loket-loket. Akibatnya, umumnya para kondektur memungut lebih daripada ketentuan. "Tetapi itu perbuatan oknum," kata Dirjen Perhubungan Darat Nazar Noerdin.
KOMPAS/PIUS CARO

Membangkitkan Ekonomi Daerah

Mudik adalah bagian dari dinamika hidup sebagai orang Indonesia. Mudik pun ditandai dengan perjalanan menuju kampung halaman untuk bertemu dengan sanak keluarga. Ketika mudik adalah sebuah aktivitas, hari raya keagamaan seperti Lebaran adalah penanda untuk menjalani aktivitas tersebut.

Kata mudik pun berasal dari bahasa Jawa ngoko, yakni mulih dilik, yang berarti ’pulang sebentar’. Pulang dari mana? Dari perantauan, dari tanah tempat mereka merasa mendapat penghidupan yang lebih baik dari sekadar berdiam di kampung halaman.

”Tabungan orang dalam setahun bisa habis dalam seminggu.”

Dulu, orang Indonesia selalu berseloroh, mudik di negeri ini adalah perjalanan pulang kampung satu-satunya di dunia—perjalanan jutaan orang untuk menyusuri ratusan kilometer jalan raya demi bertemu dengan sanak keluarga.

Ternyata, ketika informasi lebih mudah didapatkan, diketahui ada pula perjalanan-perjalanan ”mudik” di belahan dunia lain. Ketika tahun baru Tiongkok alias Imlek, infrastruktur di Tiongkok yang mumpuni itu juga terbebani oleh pemudik. Di Amerika, mudik juga dilakukan oleh warga meski lebih banyak terjadi pada hari raya Thanksgiving daripada saat Natal.

Yang mengenaskan, di Indonesia terkadang hidup satu tahun dihabiskan untuk masa Lebaran antara satu dan dua minggu. Arsip Kompas, Rabu, 24 Oktober 1973, memperlihatkan fenomena itu. Pak Wongso, yang ditemui Kompas di Pelabuhan Merak (Banten), mengatakan ingin mudik ke Yogyakarta dari Lampung. Pak Wongso pun berbekal uang Rp 50.000 yang ditabungnya selama satu tahun.

Upaya luar biasa juga diperlihatkan oleh Pak Sukardi yang hendak mudik ke Surabaya. Kepada Kompas, Sukardi mengaku menjual sebagian sawahnya di Lampung demi mencukupi ongkos mudik dan biaya hidup di Surabaya selama dua minggu.

Tradisi mudik juga bukannya tanpa kritik. Wakil Ketua Komisi C DPRD DKI H Boestami, dalam harian Kompas, 29 Mei 1986, mengatakan, mudik tidak menguntungkan. ”Tabungan orang dalam setahun bisa habis dalam seminggu,” ujarnya.

Namun, tetap saja sebagian besar penduduk Indonesia menjalani ritual tahunan ini. Bagaimana di masa kini?

Mungkin, tidak sampai menjual sawah, tetapi ada pula masyarakat yang membeli sepeda motor atau mobil dengan uang muka murah, tetapi beberapa bulan kemudian disita perbankan karena tidak mampu mencicil.

Kompas/Julian Sihombing Gelombang pemudik Lebaran mencapai puncak pada Kamis (4/5) di Stasiun Gambir. Rangkaian gerbong senantiasa dipenuhi manusia. Pada foto tak bertahun ini, seorang wanita berkeras untuk mudik, memaksakan tubuhnya memasuki celah sempit jendela. Beberapa tangan turut membantunya, dan ia berhasil masuk gerbong.
Kompas/Julian Sihombing Foto tak bertahun ini menunjukkan para pemudik tengah berebut masuk ke gerbong melalui jendela karena padatnya kereta di Stasiun Gambir pada puncak mudik lebaran.

Untung saja, mudik tidak sekadar ajang untuk silaturahim, tetapi juga demi membangkitkan ekonomi daerah.

Harian Kompas, Senin, 26 Juni 1989, dengan tajuk ”Jean dan Baggy Bertebaran: Laporan dari Wonogiri” menguraikan besarnya kontribusi pemudik Wonogiri terhadap daerah asalnya. Tiap kali orang Wonogiri beramai-ramai mudik, pasti saja kemudian rumah-rumah di Wonogiri menjadi lebih baik.

Pada tahun 1989 tersebut, penduduk Wonogiri mencapai satu juta orang, termasuk 296.000 orang yang merantau. Para perantau itu yang kemudian menggerakkan perekonomian Wonogiri, Jawa Tengah.

Jumlah kiriman uang dari perantau Wonogiri pada tahun 1988 bahkan mencapai Rp 11 miliar. Bandingkan dengan APBD Kabupaten Wonogiri tahun 1988/1989 sebesar Rp 10 miliar. Jadi, ada baiknya orang Wonogiri masih ingat dengan kampung halaman. Ada baiknya mereka pulang tidak lantas ”putus hubungan” dan berdiam di kota sepanjang tahun.

Bagaimana dengan bangkitan ekonomi dalam Lebaran 2016? Meski ekonomi dirasa melambat, ternyata Bank Indonesia (BI) menyatakan, kebutuhan uang tunai selama Ramadhan dan Idul Fitri pada tahun 2016 diprediksi meningkat 14,5 persen dibandingkan dengan Lebaran tahun lalu.

Menurut BI, total kebutuhan uang tunai Ramadhan dan Idul Fitri 2016 mencapai Rp 160,4 triliun, meningkat dari Rp 140 triliun tahun lalu. Transaksi nontunai juga diprediksi meningkat 7 persen hingga 10 persen. Sebagian besar dari uang tunai tersebut kemungkinan beredar di kampung-kampung halaman para pemudik.

Ada uang tunai yang disetorkan ke berbagai pihak, dari orangtua, saudara, hingga pedagang lokal, yang dapat menopang perekonomian daerah.

________

Ribuan kendaraan menuju arah Jakarta dan Bandung terjebak kemacetan di Lingkar Gentong, Tasikmalaya, Jawa Barat, saat musim arus mudik dan arus balik Lebaran 2015.
KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO

Selamatkan Nyawa Pemudik

Bersujud di hadapan orangtua serta mampu ”berkontribusi” di daerah asal tentu saja merupakan sisi positif atau sukacita dari perhelatan Lebaran.

Namun, dari arsip Kompas, kita dapat memahami bahwa sejak puluhan tahun lalu selalu ada dukacita dalam menjalankan ritual mudik. Sebagian pemudik harus menelan duka karena anggota keluarga mereka harus kehilangan nyawa di perjalanan.

Tidak penting beradu cepat di jalur mudik. Tiada gunanya pula memulai perjalanan mudik jika sekadar untuk menyetor nyawa!

Kalaupun pemudik selamat dalam perjalanan, perjalanan itu tidak pernah mudah. Harian Kompas, Selasa, 13 September 1977, melaporkan 100 calon penumpang bus Apollo Expres di Mampang Prapatan, Jakarta, harus menunggu delapan jam sebelum diberangkatkan ke Yogyakarta dan Solo.

Penumpang menunggu bus sejak pukul 16.00 karena bus baru dapat diberangkatkan pada pukul 24.00. Meski keberangkatan para pemudik itu dapat dipastikan, Kompas melaporkan tidak ada jaminan bagi keselamatan pemudik. Apa pasal? Ternyata, bus Apollo itu baru tiba pada pukul 23.00 akibat terjebak macet di Jatibarang, Jawa Barat. Dan, sopir bus Apollo yang baru saja tiba dari Solo diminta untuk kembali mengemudi ke Solo.

Bukan menjadi rahasia lagi bahwa perjalanan mudik selalu menimbulkan korban jiwa. Namun, untung saja angka kecelakaan mulai menurun.

Dari H-7 hingga H+7 Lebaran 2015 terjadi 3.049 kasus kecelakaan, turun dari 3.888 kasus kecelakaan pada masa arus mudik dan balik Lebaran 2014. Jumlah korban meninggal pada Operasi Lebaran 2015 yang mencapai 657 orang, turun dari 714 korban meninggal dunia pada Operasi Lebaran 2014.

Namun, tahun 2016 ini diprediksi tetap ada kecelakaan selama masa arus mudik dan balik. Masih sulit untuk memastikan sama sekali tidak ada kecelakaan atau zero accident selama angkutan Lebaran. Pemerintah berpendapat kesiapan angkutan umum belum 100 persen.

Menteri Perhubungan Ignasius Jonan menginformasikan, dari hasil uji kelaikan, kesiapan angkutan udara mencapai 100 persen, sementara kesiapan kereta api mencapai 91 persen. Nah, di sisi lain Menhub menyatakan, kelaikan angkutan bus hanya 20 persen.

Yang sulit dipantau pemerintah tentu bukan sekadar angkutan umum, melainkan juga kelaikan kendaraan bermotor yang digunakan pemudik. Sulit dipantau, misalnya, kelaikan sepeda motor yang dinaiki pemudik. Apakah ban yang digunakan masih mempunyai ”kembang”? Apakah alur roda masih cukup dalam?

Bagaimana pula dengan komponen yang tidak kasatmata seperti kampas rem? Karena kampas rem berada di dalam tromol, tentu saja tidak setiap orang dapat memantaunya dengan baik. Bahkan, polisi pun tidak dapat memantau hanya dengan melihat. Membuka tromol rem? Jelas sulit dilakukan kecuali pemudik itu sendiri yang sadar untuk mempersiapkan kendaraan dengan baik.

Yang kini harus disadari oleh calon pemudik adalah ada hidup yang harus dilanjutkan setelah arus mudik atau arus balik Lebaran 2016. Ada keluarga yang mungkin hidupnya sangat tergantung oleh sang pemudik.

Jadi, yang terpenting adalah tiba di kampung halaman dan kembali di kota tempat mereka mencari penghidupan dengan selamat. Tidak penting beradu cepat di jalur mudik. Tiada gunanya pula memulai perjalanan mudik jika sekadar untuk menyetor nyawa!

Kompas/Riza FathoniArus mudik kendaraan terlihat merambat di kawasan Losarang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Sabtu (21/10/2006) siang. Proyek perbaikan dan pelebaran jalan di sejumlah ruas jalur pantura yang sebagian telah dapat dilewati kendaraan ternyata belum mampu menampung luapan arus mudik.
Kompas/Wawan H PrabowoPengendara melintasi pertigaan yang menjadi pertemuan antara jalan Tol Pejagan-Brebes Timur dan Jalur Pantura di Kecamatan Brebes, Brebes, Jawa Tengah, Minggu (26/6/2016). Kawasan tersebut diprediksi akan menjadi titik utama kemacetan saat mudik Lebaran 2016.

Produser
Prasetyo Eko Prihananto
Nasru Alam Aziz

Penulis Haryo Damardono

Fotografer/Videografer Riza Fathoni
Julian Sihombing
Wawan H Prabowo
Rony Ariyanto Nugroho
Pius Caro
Agus Susanto
P Raditya Mahendra Yasa

Designer & Develop Gracia Veronica
Yosef Yudha Wijaya

________