KompasTifa dalam Tabuhan Persaudaraan

Tifa dalam Tabuhan Persaudaraan

GESER

Masyarakat Maluku, terutama Ambon, dikenal sebagai masyarakat musikal. Musik menjadi sentra dalam kehidupan mereka. Ada begitu banyak aktivitas yang diiringi musik, termasuk pola pikir atau filosofi hidup yang dipengaruhi musik.

Dalam konteks tersebut, tifa menjadi salah satu alat musik yang menjadi identitas kultural masyarakat Maluku. Alat ini juga sangat kental dengan identitas masyarakat Papua.

Dalam sistem tata nilai, tifa bukan sekadar alat musik. Tifa juga membunyikan suara persaudaraan dan persatuan.

Untuk Maluku, tifa terkait erat dengan cerita asal-usul nenek moyang orang Maluku yang kemudian menghasilkan falsafah Siwa Lima. Konon, di Pulau Seram dulu hidup tiga bersaudara, yakni Ulisiwa, Ulilima, dan Uliassa.

Uliassa memilih pindah, sementara Ulisiwa dan Ulilima menetap di Seram yang kemudian melahirkan keturunan di Maluku sampai sekarang ini. Mereka menyebut Pata Siwa untuk keturunan Ulisiwa dan Pata Lima untuk keturunan Ulilima.

Kerukunan Pata Siwa dan Pata Lima ini kemudian menjadi falsafah hidup masyarakat Maluku. Siwa Lima menjadi falsafah itu yang maknanya meski berbeda, tetapi pada dasarnya manusia itu satu.

Falsafah ini bisa juga ditafsir bahwa meski laku, identitas, orientasi politik, bahasa, ataupun strata pendidikan boleh berbeda, manusia harus tetap bersatu. Bersatu dalam apa? Yakni, bersatu dalam tujuan hidup untuk membangun kebaikan.

GESER
Pengurus adat Negeri Haruku, Pulau Haruku, Maluku Tengah, Maluku, melaksanakan upacara buka sasi lompa, Jumat (28/9/2018). Tifa dan tahuri sering dimainkan pada acara seremonial di negeri-negeri adat, pemerintahan, dan upacara keagamaan di Maluku.
Kompas/TOTOK WIJAYANTO
GESER
Pengurus adat Negeri Haruku, Pulau Haruku, Maluku Tengah, Maluku, membuka upacara buka sasi lompa, Jumat (28/9/2018). Sesuai tradisi, alat musik tahuri dimainkan sebagai penanda dimulainya upacara tersebut
Kompas/TOTOK WIJAYANTO
GESER
Anggota Sanggar Seni Wairanang, Soya, Ambon, berlatih di halaman sanggar sebelum tampil di acara Gereja Protestan Maluku, Kamis (27/9/2018). Mereka memainkan alat musik tifa dan rebana.
Kompas/TOTOK WIJAYANTO
GESER
Sebelum tampil di acara Gereja Protestan Maluku, Kamis (27/9/2018), anggota Sanggar Seni Wairanang, Soya, Ambon, berlatih di halaman sanggar. Selain memainkan alat musik tifa, mereka juga memainkan rebana dan totobuang.
Kompas/TOTOK WIJAYANTO

Jika diurai lagi, sebagaimana dijelaskan antropolog berdarah Maluku, Hatib Abdul Kadir, lima merujuk pada bagian tubuh manusia, yakni 2 kaki, 2 tangan, dan 1 kepala. Meski anggota badan berjumlah lima, hal itu menjadi satu keutuhan.

Adapun siwa (sembilan) bermakna dua orang yang masing-masing memiliki 2 tangan, 2 kaki, tetapi 1 kepala. Ini bermakna, meskipun dua orang itu berbeda laku dan penampilan, tetap ”satu kepala”, mempunyai tujuan yang sama, yakni tujuan kebaikan

Filosofi inilah yang dipegang masyarakat Maluku dalam mengutamakan persatuan.

Ini juga diekspresikan dalam seni seperti pada tari Gaba-gaba. Tarian ini dilakukan seorang penari inti didampingi lima penari lain yang memegang gala (mewakili unsur lima), juga terdapat sembilan cakalele yang turut mendampingi (mewakili unsur sembilan).

Tarian ini dilatarbelakangi musik tifa sebagai pengatur ritme dan gerakan. ”Tifa menjadi dinamisator hubungan siwa dan lima,” kata Kadir.

Pada perkembangannya, siwa identik dengan kelompok Kristen, sementara lima dengan kelompok Islam. Tifa berada di tengah kelompok ini menjadi sejenis irisan (shared culture), yang dapat mempertemukan dan mempersatukan. Tifa menyuarakan tetabuhan hubungan yang dinamis di antara kedua kelompok tersebut.

Dalam permainan tifa, tetabuhan dilakukan secara saling membalas, saling merespons. Ini tecermin dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Maluku yang menjunjung toleransi. Ketika kelompok Islam membangun masjid, kelompok Kristen membantu. Begitu sebaliknya.

Memainkan Tifa

Mainkan contoh musiknya, lalu gunakan keyboard atau klik pada gambar tifa untuk memainkan irama tifa tersebut!

MULAI

Anda Sudah Membaca Sebagian dari Konten Ini

Untuk dapat mengakses keseluruhan konten ini, Anda harus berlangganan salah satu paket di Gerai Kompas atau login jika sudah berlangganan. Bagi pengguna baru, daftar dan dapatkan akses bebas ke semua Berita Bebas Akses

Kerabat Kerja

Penulis
Frans Pati HerinMohammad Hilmi Faiq
Fotografer
Totok Wijayanto
Penyelaras Bahasa
Priskilia Sitompul
Infografik
Maria Karina Putri
Desainer dan Pengembang
Elga Yuda PranataRafni Amanda
Produser
Haryo DamardonoPrasetyo Eko Prihananto