Logo KompasSelisik Batik

0/0

Terpanah Batik di Pulau Seribu Masjid

#SelisikBatik

Pangantar Redaksi:

Menyelisik tradisi batik, wartawan Kompas melakukan peliputan di sejumlah daerah, dimulai dari Madura, menyusul Batang, Pekalongan, Banyumas, Ciamis, Tasik, Garut, Lasem, Demak, Kudus, Bengkulu, Jambi, Banyuwangi, Tuban, Yogyakarta, Solo, Jakarta, hingga Papua. Laporan mereka akan dimuat tiap dua pekan sekali di Harian Kompas pada hari Minggu, dari 29 Mei 2016 hingga 25 September.

Perjalanan pertama tim Selisik Batik adalah Pulau Madura. Melangkahkan kaki di Pulau Madura menjadi pengalaman yang sulit dilupakan. Terutama bagi sebagian di antara anggota tim yang baru pertama kali berjumpa dengan Madura. Pulau tanpa gunung dengan tanah yang kurang subur tapi kaya ladang garam ini tetap memukau dengan keindahan alam serta keunikan budayanya.

Tim Selisik Batik Madura terdiri dari kolaborasi wartawan (Aryo Wisanggeni dan Mawar Kusuma), fotografer (Bahana Patria Gupta), infografik (Luhur A Putra), dan videografer (Eddy Hasby dan Danial AK). Membawa perlengkapan peliputan yang cukup banyak dan berat, kami akhirnya harus menyewa dua mobil untuk peliputan selama tujuh hari.

Jembatan Suramadu (Surabaya-Madura) yang merupakan jembatan terpanjang di Indonesia dengan panjang 5.438 meter segera memisahkan kami dari Pulau Jawa. Dari kolong jembatannya, kami bebas memandang kapal-kapal nelayan yang melintasi Selat Madura. Beberapa hari setelahnya, fotografer dan videografer beberapa kali kembali ke jembatan ini untuk memotret dan menerbangkan "drone" (pesawat tanpa awak) demi mengambil gambar terbaik ikon Madura ini.

img/selisik_batik/batik16.jpg

Dalam setiap perjalanan di Madura, kami berjumpa dengan para pembatik dan mengeksplorasi ragam motif hingga budaya terkait batik. Pembatik di Kabupaten Pamekasan, Madura adalah orang-orang yang super kreatif. Mereka menjadi tuan atas diri sendiri tanpa bergantung pada juragan.

img/selisik_batik/batik5.jpg

Tak sekadar liputan, kami juga bersenang-senang menikmati keelokan arsitektur pemukiman tradisional Madura kuno pada bangunan "tanean lanjang" ketika rekan videografer mengabadikan ritual son son yang hampir punah. Son son merupakan proses pengasapan kain batik sekaligus spa tradisional bagi penganten dengan memakai asap dupa. Kami juga terpana menyaksikan keindahan ukiran dengan sentuhan Tionghoa serta bangunan bergaya Eropa di makam para raja Asta Tinggi yang dibangun sekitar tahun 1750.

img/selisik_batik/batik7.jpg

Melongok ke dalam Museum Keraton Sumenep, kami menyelami Madura di era lampau. Di sepanjang perjalanan, kreativitas orang Madura juga tampak dari arsitektur masjidnya yang unik. Dikenal sebagai pulau seribu masjid, setiap masjid mengembangkan arsitektur yang berbeda dengan masjid lain. Tak ada dua masjid dengan gaya bangunan yang sama di pulau ini.

img/selisik_batik/batik9.jpg

Pantai-pantainya tak hanya menyuguhkan keindahan. Dari pantainya, kami sekaligus belajar tentang sejarah kedatangan orang-orang Tionghoa seperti di Pantai Dungkek hingga berjumpa dengan para nelayan Madura yang terkenal gagah berani dengan semboyan: "Abantal omba' asapo' angen" (berbantal ombak berselimut angin).

Simak laporan komprehensif dan mendalam Selisik Batik di Harian Kompas tiap dua pekan pada Hari Minggu mulai 29 Mei 2016.

Penulis, Videografer, Fotografer

  • Mawar Kusuma, Bahana Patria Gupta, Danial AK

Desainer dan Pengembang

  • Yosef Yudha Wijaya, Pandu Lazuardy

Produser

  • Prasetyo Eko Prihananto, Didit Putra Erlangga Raharjo