Jejak Kampung Jawa di
Tanah Sumatera

TRANSMIGRASIJejak Kampung Jawa di Tanah Sumatera

Begitu mudah menemukan nama-nama kampung atau orang Jawa di Lampung, Sumatera. Tak mengherankan, karena Lampung merupakan daerah tujuan transmigrasi pertama di Indonesia. Transmigran pertama dari Jawa didatangkan ke Lampung, tepatnya di Kampung Bagelen, 113 tahun lalu.

KOMPAS/PRAMONO BS

Tak sulit menemukan jejak orang Jawa di Tanah Sumatera, khususnya di Lampung yang menjadi daerah tujuan transmigrasi pertama di Indonesia. Di sejumlah kabupaten, desa, dan kecamatan, banyak yang memiliki nama persis sama dengan nama daerah di Jawa.

Di Kabupaten Pringsewu, Lampung, misalnya, terdapat kecamatan dengan nama Ambarawa, Pardasuka, Sukoharjo, dan Banyumas. Di Kota Metro terdapat kecamatan dengan nama Bantul yang sebagian penduduknya merupakan keturunan transmigran asal Yogyakarta.

Transmigrasi pertama kali di Indonesia dilakukan di Desa Bagelen, tahun 1905.

Namun, bukan Kabupaten Pringsewu atau Kota Metro−dua daerah yang banyak dihuni keturunan transmigran−yang menjadi daerah pertama yang menjadi cikal bakal munculnya transmigrasi di Tanah Air.

Adalah Bagelen, sebuah desa yang saat ini menjadi bagian dari Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran, Lampung, yang menjadi daerah pertama tujuan transmigran. Sekilas desa ini tidak terlalu ramai dibandingkan dengan daerah transmigran lainnya, seperti Metro dan Pringsewu. Permukiman asli transmigran Bagelan juga tak tersisa.

Namun, secara historis, desa itu punya peran penting. Di desa itu pulalah dibangun Museum Nasional Ketransmigrasian yang diresmikan pada 12 Desember 2004. ”Transmigrasi pertama kali di Indonesia dilakukan di Desa Bagelen, tahun 1905,” ujar Kepala Seksi Pelayanan Museum Nasional Eko Sunu Sutrisno kepada Kompas saat wawancara beberapa waktu lalu.

KOMPAS/MAMAK SUTAMAT

Transmigran di Lampung, Mei 1971.

KOMPAS/MAMAK SUTAMAT

Transmigran di Lampung, Mei tahun 1971.

KOMPAS/JIMMY S HARIANTO

Proyek transmigrasi di Way Seputih, Lampung, pada pertengahan Maret 1976.

Pada masa itu, transmigrasi diinisiasi Pemerintah Hindia Belanda. Namun, saat itu namanya adalah program kolonialisasi. Sebanyak 155 keluarga dari Keresidenan Kedu, Jawa Tengah, dipindahkan ke Lampung untuk perluasan daerah perkebunan yang dikelola Pemerintah Hindia Belanda di luar Jawa.

Para transmigran itu datang ke Lampung dengan naik kapal laut dari Pelabuhan Tanjung Priok dan bersandar di pelabuhan kecil di kawasan Teluk Betung, Bandar Lampung. Kini, kawasan yang dulunya pelabuhan itu berubah menjadi tempat pendaratan ikan para nelayan di Teluk Lampung serta pasar ikan.

Dari Teluk Betung, para transmigran berjalan kaki selama dua hari menuju sebuah desa yang diberi nama Bagelen. Nama itu persis seperti nama wilayah Kabupaten Purworejo (dulu disebut Bagelen), yang menjadi bagian dari Keresidenan Kedu.

Saat ini, keturunan para transmigran itu tersebar ke sejumlah daerah di Lampung, antara lain Kabupaten Tanggamus, Pringsewu, dan Metro.

Pemberian nama yang sama persis itu bukan tanpa alasan. ”Pemberian nama daerah yang persis sama dilakukan untuk mengobati rindu para transmigran dengan daerah asalnya. Alasan lainnya agar mereka merasa tetap berada di Jawa meskipun telah pindah. Dengan begitu, mereka tetap betah di Lampung,” katanya.

Semula para transmigran asal Keresidenan Kedu ini hendak dikirim ke Banyuwangi. Namun, daerah di pesisir Timur Jawa ini dianggap tidak cocok sebagai daerah tujuan karena transmigran bisa saja kembali ke daerah asalnya.

Keresidenan Lampung yang berada di ujung Sumatera dianggap cocok karena masih banyak lahan kosong. Selain itu, mereka juga harus menyeberang lautan sehingga tak mungkin akan kembali ke daerah asal. Agar betah, setiap kepala keluarga diberi bantuan berupa 20 gulden, perlengkapan pertanian, dan alat masak.

Setelah transmigrasi pertama tahun 1905, orang-orang dari Jawa terus dipindahkan ke Lampung. Menurut cacatan Museum Nasional Ketransmigrasian, sepanjang tahun 1905-1943 terdapat 51.000 kepala keluarga yang dipindahkan dari Jawa ke Lampung.

Saat ini, keturunan para transmigran itu tersebar ke sejumlah daerah di Lampung, antara lain Kabupaten Tanggamus, Pringsewu, dan Metro.

KOMPAS/JOSEPH OSDAR

Menaker Sudomo sedang berdialog dengan para transmigrn di Kuala Labuan, Kabupaten Lampung Tengah, 1985.

KOMPAS/JIMMY S HARIANTO

Mungkin karena kurang dana dan persiapan dilakukan serba tergesa-gesa, lokasi transmigrasi di Mesuji, Lampung Utara ini, 1985, kelihatan gersang.

KOMPAS/BACHTIAR AMRAN

Transmigran di unit permukiman transmigrasi Belambangan Umpu B, Way Kanan, Lampung, 1989.

Hingga kini, keturunan para transmigran itu tidak hanya bisa ditemui di Pesawaran, Pringsuwe, dan Tanggamus. Mereka telah menyebar dan menetap di sejumlah kabupaten di Lampung, antara lain Lampung Timur, Pesisir Barat, Lampung Barat, Lampung Utara, Tulang Bawang, dan Tulang Bawang Barat.

Seperti yang terlihat saat Kompas berkeliling di Desa Mulya Jaya, Kecamatan Tulang Bawang Tengah, Kabupaten Tulang Bawang Barat, Kamis (21/12/2017). Desa yang dihuni keturunan generasi kedua dan ketiga warga transmigran asal Jawa Tengah dan Yogyakarta itu tetap melestarikan kesenian karawitan Jawa. Di Desa Tirta Kencana, warga suku Bali hidup berdampingan dengan warga suku Jawa dan Lampung.

Para transmigran menemui kenyataan bahwa mereka datang dari beberapa daerah, berlatar belakang suku yang beragam, dan harus bertetangga dengan warga asli Lampung. Mereka saling melihat, berkomunikasi, saling mengenal, lalu berbaur.

Keberagaman suku dan budaya di Kabupaten Tulang Bawang Barat, salah satu daerah tujuan transmigrasi, membuat Bupati Tulang Bawang Barat Umar Ahmad menggagas konsep kota multikultural dengan meletakkan seni budaya sebagai dasar pembangunan daerah.

Dua tahun terakhir, pemkab bekerja sama dengan para seniman dari Studio Hanafi dari Jawa Barat mendampingi anak-anak muda mengembangkan budayanya, dan ditampilkan dalam Festival Tubaba.

“Pemerintah tak ingin hanya menyiapkan infrastruktur, tetapi juga sumber daya manusianya. Tulang Bawang Barat diharapkan menjadi percontohan kota multikultural,” kata Umar.

KOMPAS/HELENA F NABABAN

Suasana Desa Bagelen, Gedong Tataan, Pesawaran Lampung, pada 2007. Desa ini merupakan daerah transmigrasi tertua di Indonesia.

KOMPAS/ANGGER PUTRANTO

Pariyah (94), warga keturunan transmigran di Dusun Bagelen IV, Lampung, berdiri di depan rumahnya, 2011.

KOMPAS/VINA OKTAVIA

Nanik Birhaniah (60), transmigran asal Yogyakarta melihat foto keluarganya yang dipotret sekitar tahun 1980-an, Kamis (21/12/2017), di Desa Mulya Jaya, Lampung.

Kerabat Kerja

penulis
Vina Oktavia
fotografer
Pramono BSBachtiar AmranJoseph OsdarMamak SutamatVina OktaviaHelena F NababanAngger PutrantoJimmy S Harianto
penyelaras bahasa
Hibar Himawan
infografik
Arjendro
designer & pengembang
Vandy VicarioDeny Ramanda
produser
Prasetyo Eko Prihananto