KompasSape’ Luwes Merespons Zaman

Sape’ Luwes Merespons Zaman

GESER

Sape’ tetap sakral dalam wilayah ritual, tetapi juga profan ketika berdialog dengan alat musik lain. Sape’ selalu luwes melintasi zaman.

Kompas/AGUS SUSANTO

Suatu hari sekelompok pemuda mengarungi sungai menggunakan sampan. Aliran air yang demikian deras dan dasar sungai yang tak rata melahirkan cegar, teladas, bahkan riam. Para pemuda itu tak kuasa mengendalikan sampan hingga terdampar di sebuah pulau kecil di tengah sungai. Beberapa pemuda hanyut dan akhirnya tewas, hanya seorang yang masih hidup.

Dia mencoba bertahan di pulau kecil tadi, berharap pertolongan. Di antara lapar, kantuk, dan serangan hawa dingin, kesadarannya menurun. Pada saat itulah sayup-sayup dia mendengar suara musik petik yang demikian menenangkan. Suara itu perlahan makin jelas dan makin lama sumber suaranya makin jelas. Dia memperkirakan suara itu datang dari dasar sungai.

Singkat cerita, saat kembali ke rumah, sang pemuda mencoba membuat alat musik dengan referensi bunyi yang dia dengan di sungai tadi. Dia percaya itu ilham nenek moyang. Alat itu kemudian dia namai sape’.

”Sape’ ini suara dari surga. Dari alam lain. Warisan leluhur kami. Makanya suaranya membuat hati tenang,” kata Siprianus Gunung (50-an), salah satu pemuka adat Dayak Kayaan dan pemain sape’ dari Desa Datah Diaan, Kecamatan Putussibau Utara, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

Di kalangan masyarakat Dayak, nama alat musik ini berbeda-beda. Orang Kenyah menyebutnya dengan sampeq. Orang Kayaan menyebutnya sape’ atau sapek.

Di kalangan Dayak Kenyah subsuku Bakung Ajang Alung, tersebutlah kisah pada suatu malam seorang pemusik bermimpi mendengarkan bunyi musik yang merdu dan indah. Dalam mimpinya, seseorang menyebutkan kepadanya bahwa musik yang telah diperdengarkan itu adalah musik lalang buko.

Lalu si pemusik tersebut berusaha menciptakan sebuah alat musik yang dapat menghasilkan bunyi merdu seperti di dalam mimpinya. Akhirnya pemusik itu berhasil membuat alat musik yang dinamai sampeq.

GESER

"Kalau sudah asyik bermain, seperti ada yang menuntun. Tinggal mengikuti saja."

Kompas/AGUS SUSANTO

Sape’ tradisional terdiri atas dua dawai. Para pemain memetik sape’ dalam nada-nada berdasarkan ingatan yang sudah melekat di bawah sadar.

Permainan sape’ lebih banyak menggunakan perasaan karena alat tersebut tanpa grip (fretless). Sape’ yang berdawai tiga biasanya distem dengan nada C pada dawai pertama dan kedua, serta nada G pada dawai ketiga. Jika menggunakan empat dawai, pada dawai pertama dan kedua bernada C sementara dawai ketiga dan keempat masing-masing bernada E dan G.

”Kalau sudah asyik bermain, seperti ada yang menuntun. Tinggal mengikuti saja,” kata Dominikus Uyub, pelestari sape’.

Sape’ biasa dimainkan saat pesta rakyat atau dange. Ada kalanya juga untuk mengiringi pengobatan orang sakit, acara perkawinan, dan upacara persembahan (Gugun, 2013). Seperti pada, Sabtu (21/4/2018), saat masyarakat Datah Diaan dan Tanjung Durian di tepi Sungai Mendalam, menggelar pesta dange sebagai bentuk syukur mereka kepada Tuhan atas rezeki dan hasil panen selama satu musim.

GESER

Bengkel Sape

Melubangi kayu cempedak di bengkel pembuatan sape Dian Pangestu alias Atong di Pontianak, Kalimantan Barat.
Kompas/AGUS SUSANTO
GESER

Bengkel Sape

Melubangi kayu cempedak di bengkel pembuatan sape Dian Pangestu alias Atong di Pontianak, Kalimantan Barat.
Kompas/AGUS SUSANTO
GESER

Sape

Koleksi sape Dasius Simuu' pemain sape sekaligus pembuat sape di Desa Datah Diaan Mendalam, Kecamatan Putussibau Utara, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, Sabtu (24/3/2018).
Kompas/AGUS SUSANTO
GESER

"Tak jarang pemuda memainkan sape’ untuk menarik perhatian perempuan yang dia taksir."

Kompas/AGUS SUSANTO

Dulu dange hanya digelar masyakarat secara adat. Setiap desa bergiliran merayakandange dengan berdoa dan dilanjutkan dengan makan bersama. Ketika masuk agama Katolik, gereja memasukkan dange sebagai bagian dari upacara keagamaan yang mereka sebut dange inkulturasi.

Seperti Sabtu itu, sekitar 1.500 warga berkumpul di Gereja Santo Antonius dari Padua, Keuskupan Sintang. Mereka memakai pakaian adat Dayak Kayaan yang penuh warna. Sejak pukul 08.00, warga sudah tiba di gereja. Mereka mengikuti misa yang berlangsung pukul 09.00-11.00.

Dalam misa tersebut, mereka berdoa dengan lagu-lagu dan bacaan kitab suci yang dialihbahasakan ke dalam bahasa Kayaan. Di sela doa tersebut, ditarikan beragam tari adat, seperti Lalang Buko. Jika tari yang lain tanpa diiringi musik, khusus Lalang Buko diiringi sape’ dengan dua dawai. Sebab, ini merupakan tarian sakral yang–berdasarkan ilham para tetua adat Kayaan–tari ini wajib dilakukan berdasarkan titah leluhur.

Tari Lalang Buko terdiri dari delapan putaran gerakan yang ritmis dan repetitif. Gerakannya sederhana seperti orang menari jaipong tetapi dalam tempo yang lebih lambat sehingga memberi kesan menenangkan. Para tetua adat dan pemuda Kayaan masih mendalami makna tari Lalang Buko yang sakral ini.

Sementara itu, dalam literatur lain, sape’ disebut-sebut kerap dimainkan anak-anak muda ketika berkumpul di malam hari. Tak jarang pemuda memainkan sape’ untuk menarik perhatian perempuan yang dia taksir. Sape’ menjadi bahasa pergaulan.

GESER

Dange Inkulturasi

Beberapa lat musik yang dimainkan bersama sape dalam ritual Dange Inkulturasi di Gereja Santo Antonius Padua Mendalam Keuskupan Sintang di Desa Datah Diaan, Kecamatan Putrussibau Utara, Putussibau, Kalimatan Barat, Sabtu (21/4/2018). Dange merupakan ritual adat sebagai bentuk syukur kepada Tuhan atas hasil panen.
Kompas/MOHAMMAD HILMI FAIQ
GESER

Siprianus Gunung

Siprianus Gunung pemain dan pembuat sape di Desa Datah Diaan Mendalam, Kecamatan Putussibau Utara, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, Sabtu (24/3/2018).
Kompas/AGUS SUSANTO
GESER

Bermain Sape

Dasius Simuu' dan Angele Alia Krawing (putrinya) bermain sape di Sungai Mendalam di Desa Datah Diaan Mendalam, Kecamatan Putussibau Utara, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, Sabtu (24/3/2018).
Kompas/AGUS SUSANTO

Memainkan Sape'

Gunakan keyboard atau klik pada senar sape' untuk memainkan irama sape' tersebut!

MULAI

Wahana eksperimen

Kompas/AGUS SUSANTO

Sekarang ini sape’ tak lagi dimainkan dalam konteks pergaulan tadi. Anak-anak muda tentu lebih senang menggunakan gawai sebagai media bergaul. Sape’ seakan ”tersingkir” oleh kemajuan teknologi dalam hal pergaulan ini.

Namun, sebetulnya sape’ tidak selalu ketinggalan zaman. Generasi muda Dayak melihat sape’ benar-benar sebagai alat musik dan kemudian menjadikannya sebagai wahana eksperimen. Dalam beberapa kesempatan, sape’ masuk ke dalam genre rock, pop, hingga EDM seperti yang dilakukan musisi Uyao Moris, Jerry Kamit, dan Fery Sape’.

Kontemporisasi itu tidak melulu soal musik, tetapi juga fisik sape’. Beberapa musisi mengubah jumlah dawai sape’ yang semula hanya dua, menjadi tiga, empat, bahkan tujuh dengan solmisasi diatonis. Dengan demikian, sape’ lebih lentur untuk memainkan banyak lagu.

Fery Sape’ menjelaskan, dia telah bermain sape’ ke sejumlah daerah dan negara. Dalam bermain sape’, dia tidak memperhitungkan keuntungan finansial yang didapat.

Dia pun rela tidak dibayar ketika bermain dan bercerita tentang sape’ di sekolah-sekolah. Sebab, dia merasa menanggung beban sosial dan kultural untuk mempromosikan sape’ sebagai identitas Dayak. Dia ingin menunjukkan bahwa Dayak itu lembut sebagaimana bunyi sape’ yang demikian ilahiyah (devine).

Dengan kata lain, sape’ tetap sakral dalam wilayah ritual, tetapi juga profan ketika berdialog dengan alat musik lain. Sekali lagi, sape’ selalu luwes.

GESER

"Dia ingin menunjukkan bahwa Dayak itu lembut sebagaimana bunyi sape’ yang demikian ilahiyah (devine)."

GESER

Bermain Sape

Dominikus Uyub (kaos putih) dan anak-anak muda berlatih sape bersama Agnes Hapsari sebelum pentas di Putussibau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, Jumat (23/3/2018).
Kompas/AGUS SUSANTO
GESER

Sejak Kecil bermain Sape

Angle Alia Krawing mempunyai bakat bermain sape belajar dari bapaknya Dasius Simuu' pemain dan pembuat sape di Desa Datah Diaan Mendalam, Kecamatan Putussibau Utara, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, Sabtu (24/3/2018).
Kompas/AGUS SUSANTO
GESER

Bermain Sape

Anak-anak muda berlatih sape di kediaman pelatih sape Dominikus Uyub di Putussibau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, Jumat (23/3/2018).
Kompas/AGUS SUSANTO

Kerabat Kerja

Penulis: Mohammad Hilmi Faiq, Fransisca Romana Ninik | Fotografer: Agus Susanto, Mohammad Hilmi Faiq | Infografik: Dicky Indratno | Desainer dan Pengembang: Elga Yuda Pranata, Yulius Giann | Produser: Prasetyo Eko Prihananto, Haryo Damardono

Suka dengan tulisan yang Anda baca?

Nikmati tulisan lainnya dalam rubrik Tutur Visual di bawah ini.